Al-‘alam adalah sebuah kata derivatif yang diambil dari kata “al-‘alamat” –tanda - ( ﺔﻤﻼﻌﻠﺍ ) yang berarti “ma bihi yu’lamu al-shai’” ( ﺀﻲﺷﻟﺍ ﻢﻠﻌﻳ ﮫﺒ ﺎﻣ - sesuatu yang melaluinya akan diketahui sesuatu yang lain). Tetapi dalam perspektif ‘Irfan, alam adalah segala sesuatu selain Allah yaitu “ma siwa Llah” atau segala sesuatu selain “the Real” yaitu “ma siwa l-Haq”. Ini berarti bahwa “ma siwa Llah” semuanya adalah tanda yang menunjuk kepada Allah. Maka itu sebagian para ‘Arifin menyatakan bahwa “Al-‘alam adalah sesuatu yang dengannya Allah akan diketahui.” Dengan kata lain, alam akan menyebabkan kesadaran dan pengetahuan mengenai Allah. Karena Alam adalah manifestasi Allah.
Setiap eksistent yang ada dalam alam ini adalah tanda yang menyebabkan kesadaran kepada sebuah Nama dari Nama-Nama Ilahiyyah. Karena ia adalah mazhar sebuah Nama khas. Maka itu kata, “al-‘alam” yang berasal dari “al-‘alamat” yakni tanda, mempunyai arti khas dalam perspektif ‘Irfan. Karena sebenarnya yang ada hanyalah Realitas Al-Haq dan manifestasiNya. Dari itu tanda, adalah manifestasi yang tidak terpisah dari Al-Haq. Dengan kata lain, seluruh alam adalah Al-Haq yang memanifestasikan DiriNya dalam form alam, baik dalam form universal maupun dalam form partikular. Tidak ada satupun didalam alam ini yang tidak menandakan Al-Haq.
Al-‘Aql al-Awwal (the First Intellect), yang meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) haqiqat-haqiqat ‘alam termasuk form-formnya secara “al-ijmal” (undifferentiated), adalah sebuah alam universal yang dengannya akan dikenali Nama Al-Rahman. Dengan kata lain, al-‘Aql al-Awwal adalah mazhar Nama Al-Rahman. Nama Al-Rahman memanifestasi dalam bentuk al-‘Aql al-Awwal.
Al-Nafs Al-Kulliyyah (universal soul), adalah haqiqat yang meliputi seluruh partikularitas (juz-iyyat) yang terkandung didalam al-‘aql al-awwal, secara “al-tafsil” (differentiated). Ia juga adalah sebuah alam universal yang merupakan mazhar Nama Al-Rahim.
Al-Insan al-Kamil, yang menggabungkan kesemuanya secara ijmal (undifferentiated) dalam martabat ruhnya dan secara tafsil (differentiated) dalam martabat qalb, adalah sebuah alam universal yang dengannya akan dikenali Nama Allah yang meliputi seluruh Nama-Nama. Insan kamil adalah mazhar Nama Allah.
Kemudian Qaysari, menjelaskan bahwa setiap eksistent individual adalah tanda bagi sebuah Nama Ilahi. Dan setiap Nama pula, terkandung didalamnya Al-Dhat. Sementara Al-Dhat pula meliputi segala Nama-Nama. Dari itu, setiap eksistent individual sebenarnya adalah sebuah alam yang dengannya seluruh Nama-Nama akan dikenali.
Sebenarnya alam tidak terbatas banyaknya, tetapi karena al-Hadarat al-Ilahiyyah al-Kulliyyah ( Kehadiran Ilahiyyah Universal – Universal Divine Presences ) ada lima, maka itu alam-alam universal yang meliputi seluruh alam selainnya, juga menjadi lima. Dan lima alam ini dalam ‘Irfan diistilahkan sebagai Al-Hadarat Al-Khams (the Five Presences) . Kata al-‘alam digunakan dalam dua konteks; pertama alam secara menyeluruh dan kedua alam dalam derajat-derajatnya yang berbeda. Alam secara menyeluruh adalah “ma siwa Llah” yaitu “selain Allah”. Tetapi istilah al-hadra lebih sering digunakan untuk alam dalam derajat-derajatnya. Maka itu, alam spiritual, imaginal dan corporeal juga dipanggil sebagai al-hadra. Dan kata al-hadra mengindikasikan, kehadiran Al-Haq dalam berbagai derajat alam . Tetapi sebenarnya hanya ada satu Kehadiran Tunggal yaitu Al-Hadrat al-Ilahiyyah, yang meliputi segala sesuatu. Dan Kehadiran ini adalah Dhat, Sifat serta Perbuatan Al-Haq.
Al-Hadarat Al-Khams al-Ilahiyyah (the Five Divine Presences):
Qaysari menjelaskan,
“Pertama dari al-hadarat al-Kulliyyah adalah hadrat al-Ghaib al-Mutlaq dan alamnya adalah alam al-a’yan al-thabita di al-hadrat al-‘ilmiyyah. Dan yang bertentangan dengannya adalah hadrat al-shahadat al-mutlaqah dan alamnya adalah alam al-mulk dan hadrat al-ghaib al-mudhof yang terbagi kepada yang lebih dekat pada al-ghaib al-mutlaq dan alamnya adalah alam al-arwah al-jabarutiyyah dan al-malakutiyyah yakni alam al-‘uqul dan al-nufus al-mujarradah dan kepada yang lebih dekat kepada al-shahadat, dan alamnya adalah alam al-mithal. Sesungguhnya al-ghaib al-mudhof terbagi kepada dua bagian karena al-arwah mempunyai form-form mithaliyyah yang sesuai dengan alam al-shahadat al-mutlaqah dan (ia juga mempunyai) form-form yang ‘aqliyyah mujarradah yang sesuai dengan al-ghaib al-mutlaq. Dan kelima adalah al-hadrat yang meliputi keempat-empat alam yang disebut. Dan alamnya adalah al-alam al-insani yang meliputi seluruh alam-alam dan seisinya. Maka itu alam al-mulk adalah mazhar alam al-malakut dan ia adalah al-alam al-mithali al-mutlaq dan ia pula adalah mazhar alam al-jabarut yaitu alam al-mujarradat, dan ia pula adalah mazhar alam al-a’yan al-thabitah, dan ia adalah al-asma al-ilahiyyah dan al-hadrat al-wahidiyyah dan ia pula adalah mazhar al-hadrat al-ahadiyyah.”
Dari penjelasan ini, Qaysari memisahkan antara al-hadra dan al-‘alam. Setiap al-hadra mempunyai alamnya tersendiri. Dan lewat alam itulah, al-hadra masing-masing akan dikenali. Dengan kata lain, lewat alam tertentu, kehadiranNya akan diketahui.
Qaysari menjelaskan al-hadarat ini, mulai dari dua titik ekstrim, yaitu yang paling tersembunyi (al-Ghaib) dan yang paling nyata (al-Shahadat). Kemudian, hadrat yang terdekat pada al-Ghaib dan juga hadrat yang terdekat dengan al-Shahadat. Dan terakhir adalah hadrat yang meliputi semua hadarat yang telah disebutkan.
Pertama dari Al-Hadarat al-Kulliyyah yaitu Kehadiran Universal adalah al-Hadrat Al-Ghaib al-Mutlaq. Dan alamnya adalah ‘alam al-a’yan al-thabitah di maqam al-Wahidiyyah. Dengan kata lain al-a’yan al-thabitah adalah tanda kehadiran Al-Ghaib al-Mutlaq atau kehadiran Al-Dhat.
Kedua, adalah al-hadrat al-shahadat al-mutlaqah. Dan alamnya adalah ‘alam al-mulk. Alam mulk adalah alam “corporeal” yang tertakluk dalam ruang dan waktu. Alam yang nyata dengan persepsi inderawi. Alam ini adalah tanda, kehadiran Ilahi yang nyata akan tersaksi.
Kemudian al-hadrat al-ghaib al-mudhof yang terbagi kepada dua hadrat, pertama hadrat yang lebih dekat kepada al-ghaib al-mutlaq dan kedua yang dekat kepada al-shahadat al-mutlaqah. Alam untuk bagian yang pertama adalah alam al-‘uqul dan al-nufus al-mujarradah. Dan alam untuk bagian keduanya adalah alam al-mithali.
Terakhirnya adalah al-hadarat al-jami’ah (the all-comprehensive presence), yakni kehadiran yang meliputi seluruh kehadiran-kehadiran yang disebut sebelumnya. Dan alamnya adalah al-‘alam al-insani yang meliputi seluruh alam-alam selainnya. Insan adalah tanda kehadiran yang “all-comprehensive”.
Hadrat al-Ghaib al-Mutlaq —— ‘alam al-A’yan
‘alam al-Arwah
Hadrat al-Ghaib al-Mudof al-hadrat al-jami’ah — ‘alam al-insani
‘alam al-Mithali
Hadrat al-Shahadat al-mutlaq —— ‘alam al-Mulk
Qaysari menyatakan bahwa al-a’yan adalah alam untuk al-hadrat al-ghaib al-mutlaq. Kemudian alam al-arwah, dan setelah itu alam al-mithal, dan alam al-hiss dan terakhir adalah alam insan yang meliputi seluruh alam selainnya. Berdasarkan pernyataan ini, alam al-Hiss adalah mazhar kepada alam shahadat al-mudof (atau bisa juga alam ghaib al-mudof). Dan alam al-mithal adalah mazhar alam al-arwah dan al-‘uqul. Dan alam al-arwah adalah mazhar ghaib al-mutlaq yaitu alam al-a’yan. Sepertinya, menurut Qaysari ghaib al-mutlaq adalah maqam al-Wahidiyyah. Sedangkan ghaib al-mutlaq sebenarnya adalah maqam al-Ahadiyyah, dan dari satu sudut ia adalah maqam al-Dhat itu sendiri. tetapi karena tiada tajalli dalam al-Dhat, maka itu beliau tidak melihatnya sebagai alam.
Al-Hadarat al-Khams Al-Ilahiyyah dalam perspektif lain:
Sebagian dari para ‘Arifin menerangkan al-hadarat al-khams seperti demikian;
Hadrat yang pertama adalah Al-Haq yang masih belum termanifestasi, yaitu al-hadrat al-ghaib al-mutlaq. Kedua, adalah al-Uluhiyyah yaitu al-hadrat al-Asma’ wa l-sifat. Ketiga adalah Al-Rububiyyah yaitu al-hadrat al-af’al dan keempat adalah al-hadrat al-amthal wa l-khayal. Kelima adalah hadrat al-hissiyyah.
Al-Ghaib al-Mutlaq
Al-Uluhiyyah
Al-Haqq Al-Rububiyyah
Al-Amthal wa l-Khayal
Al-Hissiyyah
Hubungan antara alam-alam universal:
Setiap alam diderajat bawah adalah mazhar dan tanda bagi alam diderajat atasnya. Maka itu, alam al-mulk adalah mazhar alam al-malakut yaitu al-‘alam al-mithali al-mutlaq. Ini berarti bahwa alam al-mithali akan termanifestasi didalam alam al-mulk. Dan alam al-mulk pula akan menjadi tanda kepada alam al-malakut. Imam Ali al-Rida pernah bersabda:
ﻙﻟﺎﻧﻫ ﺎﻣﻟ ﺔﻳﺁ ﻚﺎﻧﻫ ﺎﻣ ﻞﻜ ﻦﺍ ﺐﺎﺑﻠﻻﺍ ﻮﻠﻮﺍ ﻡﻠﻋ ﺪﻗ
artinya: “Sesungguhnya ulu l-albab mengetahui bahwa semua yang ada disini adalah tanda bagi apa yang ada disana.”
Dan alam al-malakut yaitu alam al-mithali pula adalah tanda dan mazhar bagi alam al-jabarut yaitu alam al-mujarradat. Dan alam al-jabarut adalah mazhar bagi alam al-a’yan yaitu hadrat al-Asma dimaqam al-Wahidiyyah. Dan hadrat al-Wahidiyyah pula adalah mazhar bagi al-hadrat al-Ahadiyyah.
Seluruh Alam adalah al-Kitab Al-Ilahi:
Para ‘Arifin melihat lafaz atau kata-kata dengan perspektif yang amat luas sekali. Walaupun sebuah kata adalah bentuk dan form yang mengurung makna didalam form tersebut, tetapi para ‘Arifin sepertinya tidak terperangkap didalam kurungan itu. Mereka melihat setiap kata itu telah ditentukan untuk sebuah makna secara universal. Kata “kitab” untuk mereka tidak terbatas hanya pada sebuah objek yang berhalaman dengan dua jilid saja. “Kitab” bagi mereka adalah sesuatu yang bisa dibaca dan darinya kita bisa memahami banyak sekali. Seluruh alam ini adalah halaman-halaman dan kata-kata serta kalimat-kalimat wujudi yang ditulis dengan “al-Qalam” (the Divine Pen). Maka itu kata Qaysari, seluruh alam ini, universal dan partikularnya, semuanya adalah kitab-kitab Ilahiyyah karena ia mengandungi kalimat-kalimat sempurna.
Al-‘Aql al-Awwal dan al-Nafs al-Kulliyyah adalah dua form bagi Umm al-Kitab, yaitu al-hadrat al-‘ilmiyyah. Maksudnya Umm al-Kitab akan termanifestasi dalam form al-‘Aql al-Awwal dan juga dalam form al-Nafs al-Kulliyyah. Dari satu sudut, al-‘Aql al-Awwal adalah Umm al-Kitab karena ia meliputi segala sesuatu secara ijmal (undifferentiated). Dan al-Nafs al-Kulliyyah adalah Al-Kitab al-Mubin karena manifestasi segala sesuatu didalam al-nafs al-kulliyyah secara tafseel (differentiated). Haqiqat-haqiqat yang mujmal didalam al-Aql adalah haqiqat-haqiqat yang sama didalam al-nafs tetapi secara mufassal. Maka itu perbedaan antara al-‘Aql dengan al-Nafs al-Kulliyyah adalah perbedaan antara al-jam’ dan al-farq atau al-ijmal dan al-tafseel.
Kitab al-Mahw wa l-Ithbat adalah Al-Nafs al-Muntaba’ah yakni al-nafs yang terikat pada al-jism al-kulli. Ia sebenarnya adalah form dan partikularisasi (al-ta’ayyun) dari al-nafs al-kulli, dalam keterikatannya pada al-hawadith (kejadian-kejadian). Dan al-mahw wa l-ithbat ini terjadi pada form-form individual yang terkandung didalamnya dari sudut al-ahwal al-lazimah bagi al-a’yan nya menurut isti’dad aslinya yang mana manifestasinya akan terjadi tergantung pada posisi-posisi falakiyyah. Dan posisi falaki ini adalah al-‘ilal al-mu’iddah (preparatory causes) yang membuat al-a’yan itu terbungkus dalam berbagai form yang mutajaddid (ever changing). Dan sumber yang menyebabkan termanifestasinya al-a’yan dalam berbagai form ini adalah Nama-Nama al-Af’al seperti Nama Al-Mudabbir dan Al-Mahi dan Al-Muthbit dan Fa’alun li ma yasha’ dan sebagainya.
Insan Kamil adalah kitab yang komprehensif karena ia meliputi segala kitab-kitab Ilahiyyah. Insan mempunyai dua dimensi atau martabat; lahiriah dan batiniah. Dua martabat ini sering juga diistilahkan sebagai al-kathifah ( ﺔﻔﻳﺜﻜﻟﺍ )dan al-latifah ( ﺔﻔﻴﻃﻠﻠﺍ ). Al-Kathifah adalah dimensi insan yang “kasar” atau “corporeal” atau “sensible”, yaitu dimensi “al-jism”. Kemudian mulai dimensi batinnya yang halus yaitu al-latifah yang “beyond-senses” dan “subtle”. Martabat al-latifah ini ada tujuh; dari al-nafs ( ﺱﻔﻧﻠﺍ ), al-‘aql ( ﻞﻗﻌﻠﺍ ), al-ruh ( ﺡﻮﺭﻠﺍ ), al-qalb (ﺏﻠﻗﻠﺍ ), al-sirr ( ﺭﺴﻟﺍ ), al-khafi ( ﻲﻔﺧﻟﺍ ) dan al-akhfa ( ﻰﻓﺧﻷﺍ ). Insan dalam martabat al-ruh dan al-‘aql adalah umm al-kitab, karena semua kitab-kitab ilahiyyah ada didalam kitab takwini ini dengan wujud aqli. Dan juga karena maqam al-‘aql adalah maqam universal yang meliputi semuanya. Insan dalam martabat al-qalb adalah kitab lawh al-mahfuz. Dan dalam martabat al-nafs yang memiliki hubungan pengurusan ( al-ta’alluq al-tadbiri ) dengan badan adalah kitab al-mahw wa l-ithbat. Karena maqam bawah al-nafs adalah maqam penyatuan dengan badan bahkan ia adalah badan, maka itu ia juga akan berada dibawah pengaruh hukum badan. Insan yang memiliki derajat-derajat ini sebenarnya adalah halaman-halaman transenden yang mulia lagi suci ( ﺓﺭﻬﻄﻣﻠﺍ ﺔﻋﻮﻓﺭﻣﻠﺍ ﺔﻣﺭﻜﻣﻠﺍ ﻑﺣﺼﻠﺍ ) yang tidak akan bisa menyentuh rahsia-rahsia serta makna-maknanya kecuali al-mutahharun yakni mereka yang telah disucikan dari al-hujub al-zulmaniyyah yaitu hijab-hijab kegelapan.
Qaysari menyatakan, semua yang telah disebutkan disini adalah usul al-kutub al-ilahiyyah (the principles of the divine books). Tetapi furu’ atau cabangnya, kata Qaysari, adalah segala sesuatu yang ada dalam al-wujud dari al-‘aql, al-nafs, fakultas ruhaniyyah dan jasmaniyyah dan selainnya. Karena semuanya adalah sesuatu yang tertulis dan tercatat padanya hukum-hukum al-maujudat, baik universal maupun particular, atau al-mujmal maupun al-mufassal.
Perspektif lain mengenai Kitab-Kitab Ilahiyyah:
Menurut sebagian para ‘Arifin, Kitab Ilahi yang pertama adalah kitab yang “all-comprehensive”, kitab yang meliputi segala kitab-kitab ilahiyyah. Kitab ini adalah maqam al-Ahadiyyah yang sering diistilahkan sebagai maqam “aw adna” ( ﻰﻧﺪﺍ ﻮﺍ ) atau “al-ufuq al-a’ala” ( ﻰﻟﻋﻻﺍ ﻖﻔﻻﺍ ) dan “al-haqiqat al-muhammadiyyah” dan sebagainya. Kitab ini adalah asal segala kitab-kitab ilahiyyah dan sumber seluruh halaman-halaman Ilahiyyah serta alwah al-haqqi dan al-khalqi. Al-Haq dalam maqam ini akan menyaksikan semua haqaiq hanya dengan shuhud tunggal yang komprehensif.
Martabat kedua kitab ilahi adalah maqam al-wahidiyyah atau martabat “qa-ba qawsayn” ( ﻥﻴﺴﻮﻗ ﺐﺎﻗ ) dan “al-barzakh al-thani” dan “al-haqiqat al-muhammadiyyah al-baydaiyyah”. Martabat kedua ini adalah manifestasi kedua dari huruf-huruf al-basitah al-ilahiyyah ( the simple/indivisible Divine letters ) yang mana tertulis padanya kalimat al-tamm al-ilahiyyah (the complete Divine Words). Sebagain ‘Urafa’ menyatakan bahwa martabat ini adalah Umm al-Kitab.
Martabat ketiga adalah maqam al-fayd al-muqaddas, dimana Al-Haq akan memanifestasi dengan tajalli al-ijadi dan al-rahmat al-imtinaniyyah dan kalimat kun al-wujudi serta al-ma-shi-at al-sariyah dan haq al-makhluq bihi. Al-Haq dalam martabat ini akan termanifestasi dalam form-form al-Asma dan al-Sifat dengan manifestasi konkrit. Dan dengan Nama Al-Rahman seluruh halaman-halaman al-ufuqi dan al-anfusi serta dua qaws al-su’udi dan al-nuzuli, semuanya akan maujud secara konkrit.
Maratib kitab yang disebut Qaysari sebenarnya dimulai dari martabat ketiga. Sepertinya Qaysari hanya menganggap maratib kitab itu hanya berada dalam martabat al-khalqi dan tidak termasuk maratib al-rububi.
Pembagian Kitab dari sudut lain:
Dari sudut lain kitab terbagi kepada al-afaqi ( ﻲﻗﺎﻔﻵﺍ ) dan al-anfusi (ﻲﺴﻔﻧﻻﺍ). Dan kitab al-Afaqi dari sudut keluasan wujud dan tafsil form-form serta ayat-ayat dan hokum-hukumnya, juga dikenali sebagai kitab al-Furqani. Sementara Kitab al-Anfusi dari sudut ketunggalan dan “indivisibility” dan “comprehensiveness” dikenali sebagai kitab Al-Qurani.
Kitab al-Afaqi akan terbagi kepada kitab al-Jabaruti al-‘Aqli al-Ilahi yang juga dipangil sebagai Um al-Kitab dan Fasl al-Khitab. Dan ia adalah al-‘Aql al-Awwal, malah seluruh martabat-martabat al-‘aql dari yang vertikal hingga ke horizontal dan juga al-muthul al-Aflatuni. Al-‘Uqul al-Tuliyyah (Vertical Intellects) adalah al-jabarut al-A’ala ( higher Jabarut ) sementara al-‘Uqul al-‘Ardiyyah ( Horizontal Intellects ) adalah al-Jabarut al-Asfal ( lower Jabarut ) dan Qada’ al-Tafsili Umm al-Kitab. Semuanya ini adalah alam jabarut.
Dan ia juga terbagi kepada kitab al-Malakuti yaitu alam barzakh dan al-khiyal al-munfasil. Dan juga kitab “masturun fi riqqi manshur” yaitu alam al-ajsam dan al-hayula.
Kitab al-Anfusi pula akan terbagi kepada al-‘illiyyini dan al-sijjini. Dan kitab al-‘illiyyini kepada A’ala al-‘Illiyyin yaitu kitab wujudnya haqiqat muhammadiyyah dalam martabat al-Ahadiyyah hingga ke asfal al-‘Illiyyin yaitu alam “sensible” dimana haqiqat itu akan menjelma dalam form bashariyat. Tetapi al-Sijjin adalah kitab mereka yang fasiq dan kafir yang tidak pernah sampai kepada malakut tinggi kecuali hanya kepada malakut asfal barzakhi.[muhammad baqir]
Ditulis dalam Teosofi