Al-Kanz Al-Makhfi: The Hidden Treasure:
Haqiqat Al-Wujud yang “unconditionally absolute”, menurut para ‘Arifin diistilahkan sebagai “al-kanz al-makhfi” ( ﻲﻔﺨﻣﻠﺍ ﺯﻧﻜﻟﺍ ), “al-‘unqa al-mughrib” - (ﺐﺭﻐﻣﻠﺍ ﺀﺎﻘﻧﻌﻠﺍ ), “ghayb al-ghuyub” ( ﺐﻮﻳﻐﻠﺍ ﺐﻳﻏ ), “haqiqat al-haqaiq” (ﻖﻴﺎﻗﺣﻠﺍ ﺔﻘﻴﻘﺤ) dan sebagainya. Haqiqat dalam EsensiNya, berada “beyond all comprehensions and contemplations”. Ia transenden dari segala pemahaman dan juga penyaksian (al-musyahadah). Malah para ‘urafa’ menyatkan Haqiqat ini “la isma lahu wa la rasma lahu” yaitu ia sama sekali tidak ada nama dan juga tidak ada definisi. Maka itu istilah-istilah yang digunakan untuk mengekspresikan Haqiqat ini, tidak lebih sebagai ekspresi semata. Istilah itu tidak dimaksudkan sebagai nama dan definisi yang definitive.
Al-Ta’ayyun al-Awwal: Al-Ahadiyyah
Haqiqat Al-Ghaib ini ketika memanifestasikan diriNya, manifestasi ini adalah tajalli pertama yang dinamakan sebagai “al-tajalli al-ahadiy al-Dhati”. Dan ia juga sekaligus adalah partikularisasi pertama atau “al-ta’ayyun al-awwal” – “the First Entification” (ﻞﻮﻻﺍ ﻦﻳﻌﺘﻠﺍ ) dari Haqiqat al-Wujud. Ta’ayyun ini adalah “ahadiyyat al-jam’” ( ﻊﻣﺠﻠﺍ ﺔﻴﺩﺤﺍ ) atau “martabat al-ahadiyyah” ( ﺔﻳﺩﺣﻷﺍ ﺔﺑﺗﺮﻣﻠﺍ ). Dimartabat ini, semua Asma’ dan Sifat hilang ( al-mustahlak ﻚﻟﻬﺘﺴﻤﻠﺍ ) dan tenggelam dalam arti asma dan sifat tidak distinct didalam martabat ini. Atau dengan kata lain, Asma dan sifat ‘belum’ menjadi nyata. Semuanya berada didalam martabat ini secara sintesis dalam wujud tunggal. Qaysari mejelaskan seperti ini;
“Haqiqat al-wujud ketika dilihat sebagai haqiqat yang disyaratkan tidak bersama dengan apapun, maka ia dinamakan oleh kaum sufi sebagai ‘al-martabat al-Ahadiyyah” yang mana seluruh Asma’ dan Sifat hilang didalamnya. Dan ia juga dinamakan sebagai “jam’ al-jam’” ( ﻊﻤﺠﻠﺍ ﻊﻣﺟ ) atau “haqiqat al-haqaiq” atau “al-‘Ama’” ( ﺀﺎﻤﻌﻠﺍ ).”
Al-Asma yang mustahlak
Al-Ghaib al-Mutlaq dalam maqam ini.
Al-ta’ayyun al-awwal
Maqam Al-Ahadiyyah
Mengenai Al-‘Ama’:
Maqam al-Ahadiyyah dipanggil al-‘Ama’. Dan martabat al-‘Amaiyyah ini sebenarnya berasal dari hadith Nabi ketika seorang arab datang kepada Rasul dan bertanya;
“Dimanakah Rabb kami sebelum Dia mencipta ciptaan? Nabi menjawab: Dia berada di awan (al-‘Ama’ ﺀﺎﻣﻌﻠﺍ ) yang diatasnya tiada udara ( al-hawa’ ﺀﺍﻮﻬﻠﺍ ) dan dibawahnya juga tiada hawa’.”
Para sufi mempunyai tafsiran yang berbeda mengenai haqiqat al-‘Ama’ . Mulla Abd al-Razzaq Al-Qashani menyatakan bahwa al-‘Ama’ adalah maqam al-Ahadiyyah atau al-ta’ayyun al-awwal. Karena maqam al-Ahadiyyah berada dalam hijab keagungan dan dilangit transenden sehingga tiada akses sama sekali untuk mengenalinya. Sebagian ‘Urafa’ selainnya menyatakan, martabat al-‘Imaiyyah adalah maqam al-Wahidiyyah, karena ia berada diantara langit kemutlakan dan bumi relatif. Sebagaimana awan berada antara langit dan bumi, begitu juga maqam al-Wahidiyyah yang merupakan barzakh diantara wahdat al-Haq (ketunggalan Al-Haq) dan katsrat al-khalq (ke-banyakkan al-khalq).
Mulla ‘Abd al-Razzaq mengkritik pendapat kedua karena menurut beliau, pendapat itu tidak konsisten dengan hadith Nabi. Dalam hadith itu, orang a’arabi bertanya kepada Nabi tentang Tuhan sebelum Dia mencipta ciptaan. Dan ketika Nabi menjawab “Dia berada di ‘Ama’.” Jelas maqam ‘Ama’ seharusnya berada diatas dan sebelum ciptaan. Sedangkan maqam al-wahidiyyah menurut Qashani, adalah maqam yang “muta’yyan” yaitu determinasi dan manifestasi. Dan setiap yang “muta’ayyan” adalah makhluk (created). Maka itu. Maqam ‘Ama’ harus berada diatas maqam al-Wahidiyyah, yaitu al-Ahadiyyah.
Tetapi, kritikan Qashani telah disangkal oleh Ibn Fanari, penulis kitab Misbah al-Uns. Beliau berkata:
“(memang benar) martabat Ahadiyyah, Wahidiyyah, Uluhiyyah, Nafas al-Rahmani, Umm al-Kitab, dan semua maratib Uluhiyyah selainnya nisbah pada wujud al-Haq, semuanya adalah “muta’ayyan”. Tetapi tidak semua “muta’ayyan” adalah makhluk. Sebenarnya, setiap maujud yang berada didalam wawasan Fayd Munbasit, adalah makhluk. “
Persoalan dan kritikan diatas, sepertinya terfokus pada ukuran “makhluqiyyah” (kemakhlukan) atau “ma’luliyyah” (al-ma’lul yaitu efek dari satu sebab). Apakah yang menyebabkan sesuatu itu menjadi makhluk? Menurut sebagian guru ‘Irfan, ukurannya adalah al-wujud al-khariji (external concrete existence) setiap haqiqat. Al-Haqaiq dalam martabat al-Ahadiyyah dan al-Wahidiyyah semuanya disaksikan al-Haq, tetapi masih berada dalam level wujud al-‘ilmiyyah. Kemudian al-Haq akan mewujudkan mereka dalam level wujud al-khariji atau al-‘ainiyyah. Jika dalam sebagian riwayat haqaiq yang berada dalam level ‘ilmiyyah dikatakan “al-khalq” atau sebagian Asma dianggap makhluk, kata “khalq” disitu sebenarnya artinya adalah “taqdir” yaitu sesuatu yang ada kadarnya.
Tetapi, sebenarnya kedua-dua maqam al-Ahadiyyah dan al-Wahidiyyah bisa dikatakan sebagai “al-‘Ama’”. Para ‘Arifin seperti Qunawi kadang-kadang menyatakan bahwa al-Ahadiyyah adalah “al-‘Ama’”, dan kadang-kadang al-Wahidiyyah adalah “al-‘Ama’”.
Huraian:
Dimaqam al-Ahadiyyah, dimana belum ada “katsrah” secara “distinctive”, semua Asma dan Sifat tenggelam secara sintesis, disini Al-Haq menyaksikan haqiqat dalam martabat ini dengan syuhud dhati ahadi, yaitu “syuhud al-mafassal fi l-mujmal” ( ﻝﻣﺠﻣﻠﺍ ﻲﻔ ﻞﺼﻔﻣﻠﺍ ﺩﻮﻬﺸ - witnessing the differentiated in the undifferentiated) yang dita’birkan juga sebagai “ru’yat al-mufassal mujmalan” ( ﻼﻣﺠﻤ ﻞﺻﻔﻤﻠﺍ ﺔﻳٷﺭ - witnessing the differentiated as the undifferentiated ) seperti penyingkapan “pohon dalam benih” ( ﺓﺍﻮﻧﻠﺍ ﻲﻓ ﺓﺮﺟﺸﻠﺎﻜ ).
Tajalli ini yang dinamakan sebagai “kamal al-Jala’” ( ﺀﻼﺠﻠﺍ ﻞﺎﻣﻜ - the perfectness of disclosure ) adalah “origin” tajalli selanjutnya dan sebab yang membangkitkan manifestasi distinctive semua haqiqat dalam maqam al-Wahidiyyah. Tajalli dalam Al-Wahidiyyah ini sebenarnya berasal dari “raqiqat al-‘ishqiyyah al-tanzihiyyah” ( ﺔﻳﻬﻴﺯﻧﺗﻠﺍ ﺔﻴﻗﺸﻌﻠﺍ ﺔﻗﻳﻘﺮ - the subtle love which causes incomparableness ) yang menghubungkan antara dua kesempurnaan yaitu al-Ahadiyyah dan al-Wahidiyyah. Tajalli dalam al-Ahadiyyah sebenarnya berserta dengan cinta pada Dirinya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadith “..maka Aku cinta agar Aku dikenali..”. Cinta inilah sumber semua “katsrah” yang tenggelam dalam ahadiyyah termanifestasi dalam wahidiyyah. Dan ia dinamakan sebagai “kamal al-istijla’” (ﺀﻼﺟﺘﺴﻻﺍ ﻝﺎﻣﻜ - the perfectness of disclosurenesss ).
Al-Ghaib Tajalli Awal raqiqat al-‘ishqiyyah tajalli Tsani
(Asma tenggelam-sintesis) (Asma ternyata distinctive)
Maka itu, raqiqat al-‘ishqiyyah ini yang dita’birkan sebagai “kamal al-istijla’” yang menyebabkan termanifestasi haqiqat al-Wujud dalam form Asma dan Sifat secara distinctive dalam maqam al-Wahidiyyah.
Al-Ta’ayyun al-Tsani: Al-Wahidiyyah:
Dalam maqam al-Wahidiyyah seluruh Asma dan Sifat akan termanifestasi secara distinctive. Disini kata Qaysari;
“Ketika haqiqat al-wujud dilihat sebagai haqiqat yang disyaratkan bersama sesuatu, baik ia disyaratkan dengan segala yang lazim bagiNya, universal (kulli) maupun partikular ( juz’i), disini Ia dinamakan sebagai Al-Asma’ dan al-Sifat yaitu al-martabat al-Ilahiyyah ( ﺔﻳﻬﻠﻵﺍ ﺔﺑﺗﺭﻣ ) yang diistilahkan disisi mereka sebagai Al-Wahidiyyah ( ﺔﻴﺩﺤﺍﻮﻠﺍ ) dan “maqam al-jam’” ( ﻊﻣﺠﻠﺍ ﻢﺎﻘﻣ ). Dan martabat yang sama ini ketika dilihat sebagai haqiqat yang menyampaikan mazahir al-asma’ ( ﺀﺎﻣﺴﻷﺍﺭﻫﺎﻇﻣ ) yaitu al-A’ayan ( ﻦﺎﻴﻋﻷﺍ ) dan Al-Haqaiq (ﻕﻳﺎﻗﺤﻠﺍ ) kepada kesempurnaan yang layak untuknya sesuai dengan isti’dad mereka dilevel konkrit, ia dinamakan sebagai martabat al-Rububiyyah (ﺔﻴﺑﻮﺑﺭﻠﺍﺔﺒﺘﺮﻤ ).”
Haqiqat al-Wujud ketika memanifestasikan DiriNya dalam form al-Asma dan Al-Sifat secara distinctive dalam maqam al-Wahidiyyah, juga dipanggil sebagai martabat al-Ilahiyyah. Dimartabat ini, al-Asma akan ternyata ( mazahir al-Asma’) dan termanifestasi dalam form al-A’ayan al-Thabitah atau al-Haqaiq. Al-A’yan disini masih berada dalam wujud ‘ilmiyyah. Kemudian, Al-A’yan akan dimanifestasikan dari level wujud ‘ilmiyyah kepada level wujud konkrit sesuai dengan isti’dad mereka. Dari sisi ini (yaitu mewujudkan al-A’yan dari level ilmu kepada level konkrit), martabat ini diistilahkan sebagai martabat al-Rububiyyah.
Sampai disini, sudah dijelaskan “origin” manifestasi al-Asma dan al-Sifat secara distinctive di maqam al-Wahidiyyah. Qaysari juga menjelaskan “origin” multiplicity al-Asma.
Mafatih al-Ghaib; origin multiplicity al-Asma:
Haqiqat Al-Wujud dalam kemutlakannya (Absoluteness) adalah haqiqat yang tidak terbatas (Infinite). Dan dalam ketidakterbatasanNya ia akan memanifestasikan DiriNya (Self-Disclosure). Manifestasi ini didalam istilah ‘Irfan adalah “al-Tajalliyyat” ( ﺕﺎﻳﻠﺠﺘﻠﺍ ) dan “al-syu’unat” ( ﺕﺎﻧﻮﯝﺷﻠﺍ ). Tajalli terjadi dalam berbagai rupa dan juga dalam berbagai derajat atau al-maratib (ﺐﺘﺍﺮﻣﻠﺍ ).
Rupa atau kualitas manifestasi adalah al-sifat ( ﺔﻔﺼﻠﺍ ), sementara Essensi dalam rupa atau kualitas adalah al-ism ( ﻡﺴﻻﺍ ). Dengan kata lain, Esensi ketika termanifestasi dengan satu sifat tertentu adalah nama. Seperti, Esensi yang termanifestasi dengan al-rahmah (yaitu sifat keasayangan) akan terlihat sebagai al-Rahman (yaitu Penyayang), atau al-qudrah ( yaitu sifat kekuasaan) akan terlihat sebagai al-Qadir (yaitu Penguasa). Maka itu banyaknya (multiplicity) Nama akan terjadi karena ada banyaknya Sifat. Dalam manifestasi inilah terjadinya “multiplicity” atau “al-katsrah” (ﺓﺭﺛﻜﻟﺍ ) distinctive yang pertama dalam Realitas.
Qaysari menjelaskan, multiplicity al-sifat sebenarnya terbangkit dari maratib al-ghaibiyyah al-sifat. Ketika dimaqam al-Ahadiyyah, al-Asma dan al-Sifat sebenarnya belum ada secara distinctive, tetapi bisa dikatakan ia sudah ada secara sintesis dalam keberadaan tunggal maqam tersebut. Al-Asma dan al-Sifat dimaqam itu masih ghaib, dan belum ternyata. Dalam keghaiban ini, al-Asma dan al-Sifat diistilahkan sebagai Mafatih al-Ghaib (ﺐﻴﻐﻠﺍ ﺡﻳﺘﺎﻔﻣ ).
Qaysari menerangkan bahwa keberadaan Mafatih al-Ghaib ini dalam batin Dhat al-Wujud tidak distinctive dari keberadaan Dhat. Ia adalah Makna-makna yang “intelligible’ (al-ma’qulah) dalam ghaib al-wujud al-Haq. Semua “al-ta’ayyunat” dan “al-syu’unat” Dhat akan menjadi “muta’ayyan” lewat Mafatih al-Ghaib ini. Dan ia sama sekali tidak akan menjadi maujud (existent) dengan keberadaan konkrit. Maka itu, ia hanya maujud dengan keberadaan ilmiyyah dan ma’dum (non-existent) dalam level wujud konkrit. Namun, ia tetap mempunyai “al-atsar” (effect) dan “al-hukm” (property).
Qaysari menyatakan; multiplicity al-Asma dari satu sisi, berasal dari “al-‘ilm al-Dhati”. Ilmu ini adalah ilmu atau kesadaran Dhat terhadap DiriNya, yang diisyaratkan dalam hadith al-kanz al-makhfi dengan kata “Kuntu” yaitu “Aku adalah” (I am). Kesadaran Al-Haq terhadap DiriNya adalah sebab kesadaranNya terhadap semua kesempurnaan DiriNya dalam martabat al-Ahadiyyah. Dhat Al-Haq nisbah kepada kesempurnaan tersebut adalah sumber empat Nama-Nama. Dan empat nama ini diistilahkan sebagai “Mafatih al-Ghaib al-mudof” yakni mafatih ghaib yang berelasi kepada Dhat al-Haq. Dan empat nama ini adalah “al-‘ilmi” yaitu al-zuhur atau manifestasi, “al-wujudi” yaitu al-wijdan atau penemuan, “al-nuri” yaitu al-izhar atau menyatakan dan al-syuhudi yaitu al-hudur atau kehadiran. Setelah kesadaran terhadap kesempurnaan tersebut, mahabbah dan ‘Ishq Ilahi (Divine Love) akan melazimkan manifestasi Dhat dalam form al-Asma dan al-Sifat secara distinctive.
wujudi
ilmi syuhudi
nuri
Mafatih al-Ghaib al-Mudof
Asma’ al-Asma:
Dari penjelasan Qaysari mengenai al-Asma, tidak ragu lagi bahwa al-Asma adalah manifestasi Dhat Al-Haq, dan ia bukanlah nama yang disebut, seperti sebutan al-Rahman, atau Al-Ghafur. Karena ia hanyalah sebutan yang mengindikasi kepada realitas al-Rahman atau al-Ghafur. Maka itu Nama atau al-Ism dalam metaphysic adalah realitas atau manifestasi Al-Haq. Jadi, nama yang disebut sebenarnya adalah nama bagi Nama.
Al-Ism adalah Al-Musamma:
Setiap ada Nama (al-Ism) pasti ada yang dinamakan (al-Musamma). Para ‘Arifin sering menyatakan bahwa Nama adalah identik dengan yang dinamakan. Dengan kata lain, nama adalah satu dengan yang dinamakan. Jelas maksud mereka dari Nama dalam pernyataan ini, bukanlah nama sebutan tetapi Nama sebenarnya yaitu manifestasi.
Nama adalah sesuatu yang mengindikasikan atau lebih tepat lagi merefleksikan objek yang dinamakan. Setiap refleksi seperti yang ada pada cermin akan merefleksikan seluruh objek refleksi. Ketika diletakkan satu bunga merah didepan cermin, sudah pasti didalam cermin akan ada refleksi bunga merah yang persis identik dengan bunga merah (objeknya). Dan jelas sekali bahwa refleksi itu tidak pernah mempunyai identitas sendiri. Identitasnya adalah identitas objek yang direfleksikan. Maka itu refleksi adalah identik dengan objek refleksi. Namun, antara dua ini masih ada perbedaan, karena satu adalah refleksi dan yang satu lagi adalah objek refleksi.
Pembagian dan Klasifikasi Al-Asma dan al-Sifat:
1) Qaysari mengisyaratkan kepada pembagian Sifat. Ada Sifat al-ijabiyyah dan sifat al-Salbiyyah. Dan Ijabiyyah terbagi kepada haqiqiyyah dan idafiyyah. Dan idafiyyah pula terbagi kepada idafiyyah murni dan idafiyyah yang berelasi dengan lain.
Al-Idofah (murni)
Al-Ijabiyyah
Al-Sifat Al-Idofah ( berelasi dengan lain)
Al-Salbiyyah
Sifat al-Ijabiyyah adalah sifat yang “affirmative” bagi Dhat al-Haq. Konsep atau mafhumnya tidak mengandungi sembarang aspek non-eksistensi. Dan sifat ini terbagi kepada 1) haqiqiyyah seperti al-hayat dan al-wujub.
Huraian:
Ketika mafhum suatu sifat bisa diabstraksi dari haqiqat atau objek tanpa memerhatikan yang lain dan tanpa menyertakan yang lain, sifat ini adalah sifat haqiqiyyah. Seperti al-hayat yaitu sifat hidup. Ketika sifat ini diabstraksikan dari Haqiqat al-Wujud (dalam maqam al-Wahidiyyah) ia tidak memerlukan pada perhatian selainnya. Cukup hanya dengan memerhatikan Haqiqat, sifat itu sudah bisa diabstraksikan.
dan 2) idafiyyah,
Huraian:
Idafiyyah berarti ketika mengabstraksi suatu sifat dari Haqiqat Al-Wujud, harus ada perhatian kepada selainnya. Dan perhatian kepada selain ini bisa terjadi kepada selain sifat itu (yang masih berada “within” Dhat) atau selain Dhat sendiri (perhatian “diluar” Dhat).
Maka itu ia akan terbagi kepada 2a) idafiyyah murni seperti al-awwaliyyah dan al-akhiriyyah dimana dua sifat ini diperhatikan antara satu sama lain. Karena al-awwal adalah awal ketika diperhatikan dengan al-akhir dan vice versa. dan 2b) idafiyyah yang berelasi dengan lain; lebih tepat lagi relasiNya dengan mumkin al-wujud seperti al-rububiyyah dan al-‘ilm dan al-iradah, sifat-sifat ini bisa diabstraksikan dari Haqiqat al-wujud hanya ketika diperhatikan dengan selain Dirinya. Dia tidak akan bersifat rububiyyah jika tidak ada marbub. Dan juga tidak akan bersifat alim jika tidak ada ma’lum.
Sifat al-salbiyyah adalah sifat yang mana mafhum atau artinya terkandung arti non-eksistensi, seperti al-ghina yang diartikan secara negatif yaitu Dhat yang tidak ada kebutuhan kepada selainnya, atau al-quddusiyyah yaitu Dhat yang tidak ada kekurangan. Sebenarnya semua sifat al-salbiyyah kembali kepada arti positif.
2) Sifat Jalaliyyah dan Jamaliyyah;
Sifat Jalaliyyah adalah sifat yang berkaitan dengan al-qahr yaitu keagungan. Sementara sifat Jamaliyyah adalah sifat-sifat yang berkaitan dengan al-rahmah dan al-lutf yaitu kasih-sayang dan kehalusan. Dengan kata lain, sifat Jalali adalah transendensi al-Haq, dan ini berarti Dia akan terhijab dengan hijab Keagungan. Dan sifat Jamali adalah immanensi yang berarti Dia sangat dekat sekali kepada segalanya, dan Dia akan mendekat dengan manifestasiNya.
Tetapi dibatin setiap sifat Jalal ada Jamal, begitu juga dalam batin setiap sifat Jamal ada Jalal. Ketika Sifat Jalal yang tajalli dan termanifestasi, ini berarti yang Maha Agung telah memanifestasi dan mendekatkan DiriNya. Seorang ‘arif yang menyaksikan Keagungan ini akan menjadi hampir hancur kalau tidak karena al-rahmah yang Jamali yang ada dibatin Al-Jalal.
Dan ketika sifat Jamal yang tajalli dan termanifestasi, ini berarti yang Maha Indah tetapi sekaligus Maha Agung telah menampakkan DiriNya. seorang ‘arif yang menyaksikan Keindahan ini, ketika mendekati Al-Haq akan semakin heran karena tidak bisa meraihNya.
3) Sifat yang al-muhit total dan yang tidak total (partial)
Al-Muhit yang berasal dari kata “al-ihatah” ( ﺔﻃﺎﺣﻻﺍ ) yaitu “encompassing” atau meliputi. Sifat yang al-muhit total berarti ia meliputi segala sesuatu dan tidak sesuatupun yang terkeluar dari wilayahnya. Dan sifat ini adalah induk sifat atau “al-ummahat” (secara literal artinya ibu-ibu sifat), yang dinamakan sebagai “al-Aimmah al-Sab’ah” ( ﺔﻌﺑﺴﻠﺍ ﺔﻣﺌﻷﺍ - Tujuh Imam); al-hayat (kehidupan), al-‘ilm (ilmu), al-iradah (kehendak), al-qudrah (kuasa), al-sam’ (pendengaran), al-basar (penglihatan) dan al-kalam (perbicaraan).
Walaupun, Nama-Nama ini adalah asas bagi nama-nama selainnya, diantara tujuh Nama ini, ada yang tergantung pada sebagian lainnya. Seperti keberadaan al-‘ilm yang tergantung atau bersyaratkan kepada al-hayat dan al-qudrah, begitu juga al-iradah yang bersyaratkan kepada al-hayat dan al-qudrah. Tetapi al-sam’, al-basar dan al-kalam pula bersyaratkan kepada al-hayat, al-qudrah, al-‘ilm dan al-iradah. Tetapi diantara tujuh Nama ini, nama al-hayat adalah yang paling universal, karena semua enam nama-nama selainnya tidak bisa termanifestasi tanpanya.
4) Ummahat al-Asma
Ummahat al-Asma adalah Al-Awwal, Al-Akhir, Al-Zohir dan Al-Batin. Dan semua empat Nama ini berada dalam satu Nama yaitu Allah atau Al-Rahman. Seprti yang diisyaratkan dalam firman Ilahi:
“Katakan: serulah Allah atau Al-Rahman. Yang mana saja kamu seru, maka Dia mempunyai al-Asma al-Husna.” ( 17:110)
Setiap satu dari Nama Allah dan Al-Rahman mempunyai Nama-Nama dibawah naungannya. Dan setiap nama adalah mazharnya (yaitu tempat zohirnya) secara azali dan abadi. Maka keazalianNya itu dari nama Al-Awwal, dan keabadianNya dari nama Al-Akhir, zuhurNya dari nama Al-Zohir dan kebatinanNya dari nama Al-Batin.
Nama-Nama yang berkaitan dengan al-ibda’ ( ﺀﺍﺩﺑﻻﺍ - memulaikan) dan al-ijad ( ﺩﺎﺟﻳﻹﺍ - mewujudkan) berada dibawah naungan Nama Al-Awwal, dan nama-nama yang berkaitan dengan al-i’adah ( ﺓﺪﺎﻋﻹﺍ - mengembalikan) dan al-jaza’ (ﺀﺍﺯﺠﻠﺍ - penganjaran) berada dibawah Nama Al-Akhir. Nama-nama yang berkaitan dengan kezohiran dan kebatinan berada dibawah naungan Al-Zohir dan Al-Batin. Maka itu segala seusatu tidak kosong drai empat perkara ini; kezohiran, kebatinan, keawalan dan keakhiran.
5) Al-Asma al-Dhatiyyah, Sifatiyyah dan Af’aliyyah
Ketika Dhat memanifestasi dalam Nama-Nama, Nama itu adalah al-Asma al-Dhatiyyah. Ketika sifat yang termanifestasi dalam Asma’, Nama itu adalah al-Asma al-Sifatiyyah dan ketika perbuatan yang termanifestasi dalam Asma, Asma’ itu adalah Al-Asma al-Af’aliyyah.
Jika al-Asma al-Dhatiyyah yang termanifestasi dalam mazhar, tajalli itu disebut sebagai al-tajalli al-dhati. Jika al-Asma al-Sifatiyyah yang termanifestasi dalam mazhar, tajalli itu dipanggil al-tajalli al-sifati. Dan jika al-Asma al-Af’aliyyah yang termanifestasi dalam mazhar, tajalli itu diistilahkan sebagai al-tajalli al-fi’li.[muhammad baqir]