Posted by: maulanusantara | September 17, 2007

Makrokosmos sebagai Form Mikrokosmos

transcendence2.jpg

Dalam pembahasan mengenai al-Asma’, sudah dijelaskan bahwa al-ism atau Nama adalah manifestasi dari Dhat. Dan Nama mencerminkan Dhat. Nama “Allah” adalah Nama yang “all-comprehensive”. Allah adalah Nama untuk Dhat sebagai Dhat yang bersifat dengan segala Sifat dan Asma . Maka itu ia berada di maqam al-Wahidiyyah. Ia meliputi semua Nama-Nama.


Dan Nama Allah akan termanifestasi dalam setiap Nama-Nama di martabat Ilahiyyah. Maka itu semua Nama-Nama adalah manifestasi dan form bagi Nama Agung (Supreme Name). Dan Ia juga adalah batin dan ghaib semua Nama-Nama. Justeru itu, haqiqat pertama yang akan muta’ayyan dari tajalli al-fayd al-aqdas didalam alam rububiyyah adalah Nama Agung – Allah.

Dan dengan termanifestasinya Nama ini, maka termanifestasilah semua Nama-Nama selainnya. Dan oleh karena Nama ini adalah ta’ayyun Al-Haq yang pertama dan dengan tajallinya semua Nama-Nama termanifestasi, maka itu Esensinya lebih terdahulu dari semua Nama-Nama. Dan sudah tentu martabatnya lebih terdahulu dari semua martabat Nama-Nama selainnya.

Nama Agung - Allah – mempunyai mazharnya tersendiri. Mazharnya adalah haqiqat insan . Karena lewat insan semua Nama dan Sifat Al-Haq akan termanifestasi. Dan sudah tentu mazhar Nama –Allah - lebih terdahulu dari semua mazhar Nama-Nama selainnya.

Dan sebagaimana Nama – Allah- termanifestasi dalam semua Nama-Nama, begitu juga mazharnya akan termanifestasi dalam semua mazhar. Dan karena al-Zahir (yaitu Nama Allah) dan al-mazhar (yaitu haqiqat insan) adalah satu haqiqat , maka itu mazhar-mazhar Nama-Nama selainnya adalah mazhar Nama Agung. Berarti mazhar Nama Al-Salam adalah mazhar Nama Allah. Dengan kata lain, mazhar Nama Al-Salam, Al-Mu’min dan Al-Muhaimin adalah haqiqat insan dan seterusnya dengan Nama-Nama yang lain.

Dari itu, Nama Agung Allah adalah Nama yang komprehensif (all comprehensive) karena ia meliputi semua Nama-Nama. Dan mazharnya juga yaitu haqiqat insan adalah mazhar yang “all-comprehensive” karena ia meliputi semua mazhar-mazhar Nama-Nama. Kekomprehensifannya adalah kekomprehensifan satu haqiqat terhadap semua individual-individualnya (seperti kekomprehensifan insan terhadap semua individual-individualnya seperti Zaid, Hasan, Muhsin dan sebagainya atau kekomprehensifan hewan atas semua spesisnya).

Maka itu Nama Allah akan hadir didalam semua Nama-Nama. Ia adalah satu haqiqat yang termanifestasi dalam berbagai manifestasi. KetunggalanNya adalah esensial sementara “multiplicity”nya adalah aksidental.

Dan tentu sekali Al-Dhat yang termanifestasi dalam Nama Allah akan termanifestasi juga dalam Nama-Nama. Dan Ia akan teranifestasi pada Nama-Nama dalam martabat Ilahiyyah. Kekomprehensifannya adalah kekomprehensifan “al-kull al-majmu’i” (a collective whole) terhadap “al-ajza’” (parts). Tetapi “al-ajza’” disini adalah identik dengan Al-kull dan vice versa.

Al-A’yan al-Thabitah adalah ta’ayyunat al-Asma al-Ilahiyyah. Al-‘ayn al-thabit haqiqat insan adalah pusat dan kepala kepada semua al-a’yan. Dan al-A’yan pula akan termanifestasi secara konkrit dalam form yang dinamakan sebagai alam. Sumber manifestasi Al-A’yan sebagai alam adalah haqiqat universal insan kamil. Karena haqiqat insan termanifestasi dalam semua Nama-Nama dan juga mazhar Nama-Nama, maka itu semua Nama-Nama adalah “bagian-bagian” dari haqiqat insan dan juga adalah manifestasi haqiqat tersebut.

Dengan kata lain haqiqat insan akan termanifestasi dalam semua haqiqat-haqiqat serta lawazimnya dan cabangnya. Maka itu insan adalah al-alam al-kabir sementara semua alam-alam nisbah kepada insan adalah al-alam al-saghir. Dan dengan sebab ini haqiqat insan adalah al-Khalifah dalam semua al-maratib al-wujudiyyah (ontological degrees). Sebagian para ‘arifin mengistilahkan haqiqat ini sebagai al-haqiqat al-muhammadiyyah. Dengan penjelasan ini al-haqiqat al-muhammadiyyah adalah sumber tajalli al-A’yan dan manifestasi al-mahiyyat al-imkaniyyah didalam al-hadrat al-wahidiyyah dan juga aktualisasinya didalam level konkrit.

Qaysari menjelaskan;

“ketika kamu sudah mengetahui haqiqat ini, kamu akan ketahui sesungguhnya haqiqat-haqiqat al-alam dalam (martabat) ilmu dan konkrit, semuanya adalah mazahir bagi haqiqat insan yang ia sendiri adalah mazhar bagi Nama Allah. Dan arwah mereka juga adalah “al-juz’iyyat” yaitu partikular-partikular al-Ruh al-A’zam al-Insani, baik ia adalah al-ruh al-falaki atau al-ruh al-‘unsuri atau al-ruh al-haiwani. Dan form-formnya juga adalah form haqiqat tersebut dan lawazimnya adalah lawazim insan.

Berdasarkan ini, al-alam al-mufassal (the detail and elaborate world) dinamakan sebagai al-insan al-kabir disisi Ahl l-Lah karena manifestasi haqiqat insan dan lawazimnya didalam alam itu. Dan dengan ini, kekomprehensifan serta manifestasi al-asrar al-Ilahiyyah (Divine secrets) semuanya ada didalamnya (yaitu haqiqat insan) dan tidak pada selainnya. Maka itu teraktualisasi (maqam) al-khilafah (pada insan) diantara semua haqiqat-haqiqat.”

Haqiqat insan adalah sumber tajalli semua Al-A’yan dimaqam ilmu dan juga maqam konkrit. Malah haqiqat insan adalah Al-A’yan al-Thabitah (di maqam ilmu) dan juga Al-A’yan al-Kharijiyyah (di maqam konkrit), karena al-zahir adalah al-mazhar dan juga karena al-kull adalah al-juz’. Secara ringkas seluruh alam dalam berbagai derajatnya dan juga beragam lawazimnya adalah manifestasi haqiqat insan.

Manifestasi-manifestasi Haqiqat Insan:

Haqiqat insan akan termanifestasi pertamanya di dalam form al-‘Aql al-Awwal karena al-‘ayn al-thabit al-‘aql al-awwal akan ternyata dari tajallinya haqiqat tersebut. Dan al-‘Aqal al-Awwal adalah form ijmal (undifferentiated form) bagi martabat al-‘Ama’iyyah. Dan martabat al-‘Ama’iyyah yang dimasudkan disini adalah maqam al-Wahidiyyah.

Semua haqiqat berada dimaqam ini secara transenden dan sempurna. Dan tanazzul al-Haq yang pertama dalam form imkani (the form of a possible existence) dan keberadaan khalqi (created existence) adalah al’aql al-awwal. Dan al-‘aql al-awwal adalah perantara dalam emansi (al-wasitah fi l-fayd) nisbah kepada semua eksistensi. Maka itu semua kesempurnaan eksisten-eksisten ada didalam al-’aql al-awwal secara transenden dan lengkap. Hadith Nabi mengisyaratkan; “Awal yang Allah ciptakan adalah Cahayaku.”[muhammad baqir]

Leave a response

Your response:

Kategori