Oleh: maulanusantara | September 21, 2007

Manusia Kosmik dalam Sistem Ekonomi Berbasis Pengetahuan

dcp_0009.jpgABSTRAK: Strategi menghadapi abad 21 adalah meningkatkan kekuatan pengetahuan manusia. Untuk itu, manusia perlu mempunyai skenario, tertib, dan perencanaan. Growth (pertumbuhan) adalah perkembangan yang berkesinambungan menuju ke suatu titik keseimbangan dan kesempurnaan, bukan sekadar change (perubahan). Dengan menerapkan tradisi berfikir “berubah dan bertumbuh” dan “lengkap-sempurna,” manusia dapat memaksimalkan potensinya menuju insan kamil. Mereka yang punya kelengkapan knowledge culture (budaya pengetahuan) dalam hal reading culture (budaya membaca), learning culture (budaya belajar), dan spiritual culture (budaya ruhani) dipastikan dapat berkompetisi dalam arus globalisasi ini.


Jauh sebelum kita memasuki abad 21 para ahli telah mengingatkan bahwa era ini ditandai dengan banjir informasi yang menyeret negara dan institusi bisnis ke dalam situasi yang sangat mudah mengalami volatelity dan turbulence. Ikon utamanya adalah change (perubahan) dan growth (pertumbuhan). Negara dan institusi bisnis yang enggan berubah akan dipaksa berubah. Yang tidak mau berubah akan ditelan oleh situasi volatelity dan turbulence tersebut dan pada gilirannya akan hilang dari peredaran.
Indonesia adalah salah satu di antara sekian negara yang kini sedang mengalami proses “pemaksaan” untuk berubah. Negara-Indonesia “dipaksa” untuk bersikap egaliter, desentralistik dan demokratis. Pemerintah “dipaksa” meninggalkan cara-cara KKN (korupsi-kolusi-nepotisme). Lembaga-lembaga korporasi “dipaksa” untuk memperbaiki corporate-governence-nya agar lebih bersikap objektif, terbuka, dan transparan terhadap stakeholder-nya.
Negara yang kepala-batu terhadap desakan itu akan mengalami nasib seperti Yugoslavia atau Argentina. Koorporasi bisnis yang menolak “pemaksaan” itu akan mengalami nasib seperti Enron dan Barings. Perusahaan Akuntan publik yang bertaraf Internasional yang masuk kelompok The Big Five pun kini sedang mendapat sorotan luas karena adanya kecurigaan bahwa mereka sering bermain-mata dalam melakukan tugas-tugas akuntansi dan audisinya sehingga merugikan publik.
Pendeknya, memasuki abad 21, kelihatannya tidak ada lagi jalan untuk tidak berubah. Pameo eksekusinya cuma satu: “Do it or die” (berubah atau mati). Anda siap berubah berarti Anda akan survive. Anda tidak siap berubah berarti Anda memilih untuk collapse.
Tetapi persoalannya ialah, apakah setiap perubahan menjamin terjadinya perbaikan dan kemampuan untuk survive? Tentu saja tidak. Secara teoretis, perubahan tidak dengan sendirinya membawa perbaikan. Makanya yang benar bukanlah change for the sake of change (perubahan demi perubahan), tapi change for the sake of improvement (perubahan demi perbaikan). Yaitu change yang disertai dengan growth. Kalau perubahan seperti ini yang terus berlangsung maka yang terjadi kemudian adalah continuous improvement (perbaikan yang berkelanjutan), baik dalam skala individu ataupun dalam skala institusi.
Negara ataupun korporasi yang menerapkan prinsip continuous improvement selain dapat survive juga sekaligus kompetitif dalam menghadapi pesaing-pesaingnya. Hal ini bisa difahami mengingat perubahan yang didorong oleh informasi yang meluap meniscayakan wawasan pengetahuan (knowledge) yang sangat luas. Sementara kompetisi di era informasi bukan lagi berbasis pada modal uang yang kekuatannya terletak pada jumlah-nya, tetapi berbasis pada modal manusia yang kekuatannya terletak pada pengetahuan-nya. Ekonomi di milenium baru ini adalah ekonomi yang berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy). Sehingga persaingan yang terjadi di abad 21 ini bukan lagi business-to-business competition tapi telah berubah menjadi knowledge-to-knowledge competition.
Kalau begitu, strategi menghadapi abad 21 adalah meningkatkan kekuatan modal manusianya, yakni pengetahuannya. Sehingga investasi paling besar yang selayaknya dikeluarkan oleh negara dan korporasi yang ingin sukses adalah investasi di bidang sumber daya manausia dalam bentuk peningkatan pengetahuan. Budaya perusahaan (corporate culture) yang seharusnya disosialisasikan adalah knowledge-culture (budaya pengetahuan) yang mencakup tiga hal: reading culture (budaya membaca), learning culture (budaya belajar), dan spiritual culture (budaya ruhani). Dua yang pertama adalah dalam rangka meng-empower daya-cipta, sedang yang terakhir dalam rangka meng-enrich daya-laku.
Daya-cipta amat dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas negara atau perusahaan. Daya-laku penting bagi terciptanya safety dan business ethic. Kreativitas yang tidak disertai safety sama bahayanya dengan produktivitas yang tidak disertai business ethic.

Berpikir “Berubah dan Bertumbuh”
Hidup punya rute dan arah perkembangannya sendiri. Punya tertib dan hukumnya. Sama seperti tumbuhan; ada akar, batang dan daunnya. Seperti bangunan sebuah gedung: ada pondasi, ada pilar, dan ada atapnya. Perkembangan itu bergerak dari suatu keadaan menuju ke keadaan berikutnya — dari akar, batang kemudian daun, dari pondasi, pilar, lalu atap — hingga mencapai titik keseimbangan dalam kesempurnaan.
Kita tidak bisa meloncat-loncat, melangkahi suatu fase yang sudah menjadi urutan fase sebelumnya. Karena setiap fase pada dasarnya merupakan infrastruktur bagi fase berikutnya. Pondasi adalah infrastruktur bagi pilar, dan pilar adalah infrastruktur bagi atap. Anda tidak bisa begitu saja mendirikan pilar tanpa memancangkan pondasi terlebih dahulu. Atap juga mustahil terpasang bila tidak didukung oleh pilar.
Pengurutan seperti itu bersifat mutlak. Sebab yang kita harapkan terjadi dalam kehidupan ini bukan sekadar change (perubahan), tapi growth (pertumbuhan). Ini yang disebut “change-growing thinking” (berfikir “berubah dan bertumbuh”). Change tidak harus punya skenario, tidak mutlak punya tertib, tidak mesti punya planning. Tidak punya target jangka panjang. Dan karenanya makna yang dikandungnya bersifat material, benda, dan kasat mata. Makanya juga peristiwanya bisa terjadi secara instan. Karena hanya bendalah yang bisa berubah dan diubah dengan sangat cepat seperti yang diinginkan.
Kalau Anda tiba-tiba mendapat uang gusuran, harta warisan, atau durian runtuh lainnya, lalu Anda membeli mobil mewah, membangun rumah indah, menunaikan ibadah haji, apakah dengan begitu maka kepribadian Anda lantas menjadi matang, dewasa dan bijak?
Kalau Anda punya koneksi yang kuat di pemerintahan sehingga Anda bisa mendapat kucuran kredit untuk membangun perusahaan besar yang menggurita, mendirikan bank sendiri, kemudian mendapat perlakuan khusus dalam hal pajak, proteksi dan sebagainya, maka apakah dengan begitu Anda dengan serta-merta menjadi pengusaha besar yang berhasil?
Saya yakin Anda pasti sepakat dengan saya untuk memberi jawaban “tidak” terhadap kedua pertanyaan itu. Karena Anda, dengan kejadian yang sangat instan seperti itu, secara mental tidak mengalami pertumbuhan apa-apa. Menjadi pengusaha, apalagi diembel-embeli dengan frase “besar yang berhasil,” itu tidak bisa terwujud hanya dalam waktu satu dua tahun. Itu perlu kerja keras yang berkesinambungan.
Kalau sekadar berubah, tentu saja “ya.” Yaitu Anda telah mengalami change dari tidak punya mobil jadi punya, dari tidak punya rumah bagus jadi punya, dari tidak punya gelar haji jadi bergelar Pak/Bu Haji. Dari tidak punya perusahaan jadi punya.
Kesalahan Departemen Sosial selama ini adalah bahwa dia berpikir kalau masyarakat terasing dibangunkan rumah, diberikan lahan bercocok tanam, didrop pakaian dan kebutuhan pangan, serta-merta turut berbudaya sebagaimana penduduk normal pada umumnya. Akibatnya, hampir tidak ada proyek semacam itu yang berhasil. Mereka bisa dipaksa menghuni sumbangan pemerintah tersebut selama beberapa hari, tapi setelah itu mereka kembali ke hutan lagi.
Cara berfikir Depsos itu adalah contoh cara “berfikir berubah” (change thinking). Depsos agaknya lupa bahwa kebudayaan itu adalah hasil “berfikir tumbuh” (growing thinking). Cara bercocok tanam, cara bermukim, cara berpakaian, dan sebagainya adalah bagian dari kebudayaan yang harus ditumbuhkan dari waktu ke awaktu.
Ada yang pernah mengatakan, menjadi eksekutif itu gampang. Caranya: pakai pakaian bermerk dan rapi, pakai dasi dan jas, pakai parfum, sepatu mengkilap, kumis dicukur apik, mata sedikit “nakal,” terus mengendarai mobil sedan minimal 3000 CC plus supir berpakaian safari.
Argumen itu tidak salah. Yang salah adalah penggunaan kata “menjadi” (eksekutif). Seharusnya “berpenampilan” (eksekutif). Untuk “berpenampilan,” syarat yang dibutuhkan adalah change, dan itu bisa dilakukan seketika. Tetapi untuk “menjadi,” harus melalui growth, dan tidak bisa dipaksakan secara instan.
Makanya kita tidak sepakat dengan istilah “personal change” (perubahan kepribadian) yang banyak dipakai dalam buku-buku dan pelatihan-pelatihan motivasi. Istilah yang kita pakai di sini adalah “personal growth” (pertumbuhan kepribadian).

Gambar-1a. Perubahan Gambar-1b. Pertumbuhan

Growth adalah perkembangan yang berkesinambungan menuju ke suatu titik keseimbangan dan kesempurnaan. Perkembangan seperti itu mutlak punya skenario, tertib, dan planning. Karenanya targetnya bersifat jangka panjang. Peristiwanya tidak bisa terjadi secara kebetulan. Tetapi harus secara runtut dan sengaja. Harus tersusun secara rapih dari suatu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Dari infrastruktur lalu superstruktur. Dari pondasi, pilar, lalu atap. Dari akar, kemudian batang, terus daun.
Anda tidak bisa memetik daun kalau tidak ada batang. Anda tidak bisa menebang batang kalau tidak ada akar. Cobalah tebarkan benih apa saja. Lalu perhatikan dengan baik apa gerangan yang terjadi. Niscaya Anda akan menyaksikan bahwa yang menjamin kontinuitas pertumbuhan tanaman itu adalah akarnya, dan bukan daunnya. Jika daunnya dipangkas maka dengan cepat dan mudah daun baru tumbuh kembali, bahkan dalam keadaan yang lebih rimbun. Tetapi coba rusak akarnya. Maka Anda tidak akan pernah melihat tanaman itu lagi. Itulah yang disebut naturalitas kehidupan.
Naturalitas seperti itu berlaku untuk individu ataupun institusi, pribadi ataupun korporasi, warga ataupun negara. Dan itu tidak susah untuk dimengerti sebab yang bekerja pada semua itu adalah manusia. Institusi, koorporasi, dan negara hanyalah nama lain dari kolektivitas manusia yang punya kepentingan yang sama dan bertata hukum.
Tetapi perlu segera Anda ketahui kembali bahwa perubahan tidak harus ditolak. Perubahan juga bagus, asal ke arah yang positif. Cuma karena kehidupan manusia basisnya bukan benda, maka yang dibutuhkan paling utama adalah pertumbuhan. Maka yang diharapkan adalah bangkitnya tradisi berfikir “berubah dan bertumbuh.”

Berpikir “Lengkap-Sempurna”
Manusia adalah makhluk yang paling tinggi tingkat eksistensinya setelah hewan, tumbuhan-tumbuhan, dan benda mati. Benda mati hanya memiliki sifat sehingga kekuatannya hanya terletak pada sifatnya. Benda padat sifatnya keras, benda cair sifatnya lembut, dan benda gas sifatnya ringan. Sehingga kekuatan benda padat terletak pada kekerasannya, benda cair pada kelembutannya, sedang benda gas pada keringannya.
Tumbuh-tumbuhan, selain memiliki sifat — seperti yang dimiliki benda mati —juga memiliki insting atau naluri. Naluri inilah yang menyebabkan biji padi tumbuh dan berkembang tegak lurus dengan bumi hingga dewasa dan melahirkan bulir-bulir padi yang lebih banyak lagi jumlahnya.
Hewan, selain memiliki sifat dan naluri–seperti yang dimiliki tumbuh-tumbuhan–juga memiliki otak. Dengan otak inilah seokor binatang bisa memiliki mobilitas mencari makanan, membuat sarang sendiri, menyalurkan hasrat biologisnya, dan merawat anaknya yang baru lahir.
Tetapi nalurilah yang membuat seekor bayi hewan yang baru lahir berusaha untuk terus berdiri kemudian mencari dan menemukan puting susu ibunya, tanpa diajari oleh siapapun.
Sedangkan manusia, selain memiliki semua yang dimiliki makhluk-makhluk itu, juga memiliki jiwa yang dalam terminology al-Quran disebuat nafs. Dengan jiwa inilah kita bisa memiliki kesadaran dan sekaligus sadar akan kesadaran kita itu. Dengan jiwa itu pula manusia memiliki kekuatan yang menyebabkannya melampaui ketiga tingkat eksistensi tadi. Kekuatan tersebut adalah: sukma, rasa, dan rasio. Ketiganya secara berturut-turut masing-masing menjadi pusat grafitasi spiritual, sosial, dan intelektual. Kalau ketiga potensi ini bertumbuh secara terpadu dan sempurna, maka manusia memiliki kekuatan yang luar biasa.
Jika sifat kita simbolkan dengan S, naluri dengan N, otak dengan O, dan jiwa dengan J, maka kekuatan-kekuatan dari masing-masing eksistensi itu bisa diringkas sebagai berikut:
Kekuatan benda mati adalah S
Kekuatan tumbuh-tumbuhan S + N
Kekuatan hewan adalah S + N + O
Kekuatan manusia adalah S + N + O + J
Satu-satunya faktor yang muncul pada setiap eksistensi adalah S. Dan faktor S ini pulalah yang menyebabkan semua eksistensi bisa dilihat, diraba, dan dirasakan. Karena S, dalam lingkaran eksistensi, terletak pada lapisan paling luar.
Lingkaran eksistensi diurut berdasarkan kedalaman makna dan kecanggihan kemampuannya. Semakin ke dalam semakin sulit dijangkau, semakin misterius, dan semakin tinggi tingkat kemampuannya. Bahkan ada loncatan kemampuan yang luar biasa besarnya dari faktor O ke faktor J. Karena begitu besarnya loncatan ini sehingga para penganut teori evolusi menganggapnya ada the missing link (rantai evolusi yang menghilang) di antara keduanya.
Loncatan ini sebetulnya tidak harus membuat kita mencurigai adanya the missing link seperti itu. Karena pada faktanya manusia pun kalau kehilangan fungsi faktor J-nya maka dengan sendirinya kehilangan eksistensi kemanusiaannya. Perhatikanlah misalnya orang-orang gila baik yang ada di rumah sakit jiwa ataupun yang berkeliaran di jalan-jalan.. Mereka tidak punya nilai sama sekali. Binatang masih lebih berharga dari mereka. Makanya faktor J inilah yang menyebabkan manusia disebut the master of his/her destiny (penguasa nasibnya sendiri). Manusia mengembangkan peradabannya dari waktu ke waktu karena faktor J-nya.
Loncatan itu terjadi karena faktor J ini memiliki sifat yang bisa diasah dan ditumbuhkembangkan secara kuantum. Kemampuannya pun bisa didelegasikan dari generasi ke generasi sehingga kebudayaan dan peradaban manusia bisa berkembang dari masa ke masa. Secara kolektif, perhatikanlah, umpamanya, dimana perbedaan antara negara miskin dan negara maju. Sebab ditilik dari faktor S-N-O, manusia di antara kedua negara itu sama saja. Tetapi kenapa jarak peradabannya begitu sangat mencolok? Secara individual, dimanakah gerangan perbedaan antara Bill Gate (bossnya Microsoft) dan Robot Gedek (pemulung dan terpidana mati atas kasus sodomi dan pembunuhan anak-anak di bawah umur)? Lagi-lagi faktor S-N-O keduanya sama sekali tidak ada bedanya.Tetapi kenapa prestasi dan status sosial kedua orang itu seperti langit dan bumi?

Penjelasan atas polarisasi itu tidak bisa Anda temukan dalam teori the missing link. Yaitu bahwa negara maju usia evolusinya lebih tua ketimbang negara miskin. Bahwa usia evolusi Bill Gate lebih banyak angkanya dibanding usia evolusinya Robot Gedek. Tidak bisa. Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa faktor J diantara keduanya berjalan tidak seimbang tidak sejajar tidak seirama. Yang satu faktor J-nya mengalami loncatan pertumbuhan (yang terarah) secara kuantum sedangkan yang lainnya meloncat seperti katak dan tidak terarah.
Pertanyaanya sekarang ialah, bagaimana mungkin sehingga hanya manusia dengan faktor J-nya yang bisa bertumbuh seperti itu?
Benda mati tidak memiliki daya tumbuh. Tumbuhan daya tumbuhnya terletak pada faktor N. Hewan pada faktor N dan O, tetapi kekuatan utama dan penentu eksistensinya adalah faktor O. Daya tumbuh manusia terletak pada faktor N, O, dan J, tetapi kekuatan luarbiasanya dan sekaligus penentu eksistensinya terletak pada J.
Dengan demikian hanya ada tiga macam daya tumbuh, yakni N, O, dan J. Tetapi N dan O bersifat material, sehingga pertumbuhannya mustahil melampaui hukum-hukum materialnya. Semua hal yang sifatnya material maka pertumbuhannya hanya bersifat horizontal, yaitu hanya berada dalam lingkup material itu juga. Makanya walaupun binatang jauh lebih dulu menghuni planet bumi ini tetapi mereka tetap tidak bisa membangun kebudayaan dan peradabannya.
Sebaliknya manusia. Kendati merupakan makhluk paling bontot dan sekaligus paling lemah fisiknya — kumanpun bisa menghabisinya — di bumi tetapi karena faktor J-nya bisa bertumbuh dan ditumbuhkan tanpa batas maka manusia sanggup menaklukkan alam beserta makhluk-makhluk lain yang ada di dalamnya. Hal itu dimungkinkan karena faktor J ini bersifat immaterial atau adikodrati. Pertumbuhannya bersifat vertikal sehingga tidak bisa dihambat oleh batasan-batasan material.
Maksimal pertumbuhan faktor N dan O adalah bahwa hanya bisa dilatih dan diarahkan sebatas kemampuan materialnya tetapi tidak bisa sama sekali ditumbuh-kembangkan secara kuantum. Pernakah Anda melihat hewan atau tumbuhan berkumpul di suatu tempat lantas secara bersama-sama membentuk institusi, korporasi dan negara untuk mengangkat harkat dan martabat kehewanannya? Dengan bantuan manusia sekalipun, para hewan itu tetap tidak akan mampu.
Maka dari itu hukum growth yang bekerja pada manusia pun menjadi berbeda dengan yang bekerja pada tumbuhan dan binatang. Tumbuhan dikatakan bertumbuh jika ia berkembang dari biji, lalu menjadi batang dan seterusnya menjadi daun dan buah. Binatang dikatakan bertumbuh kalau berkembang dari janin kemudian lahir menjadi anak hewan, selanjutnya menjadi dewasa dan kembali melakukan tugasa-tugas reproduksi. Keduanya mentok di situ. Titik puncak pertumbuhan tumbuhan adalah pada buah. Batas akhir pertumbuhan hewan adalah reproduksi.
Karena hukum pertumbuhan manusia bekerja pada tataran vertikal-immaterial, dan karenanya abstrak, tidak mudah kelihatan, maka arah pertumbuhanya bukan pada complete (lengkap) tidaknya bagian-bagian atau instrumen-instrumen material yang dibutuhkan. Jika kelengkapan bagian-bagian atau instrumen-instrumen material seperti itu yang dimaksud maka hal itu pasti secara otomatis terbatasi oleh kodrat materi itu sendiri. Dan manusia kembali seperti hewan.
Makanya arah pertumbuhan manusia bukan hanya complete tetapi sekaligus perfect (sempurna). Sempurna mengacu kepada perkembangan faktor-faktor daya-tumbuh dari suatu keadaan kepada keadaan yang lebih baik lagi.
Kalau ada orang yang tubuhnya kekar, nafsu makannya baik, kemampuan reproduksinya normal, sarjana, punya istri punya anak punya pekerjaan punya rumah punya kendaraan, maka dengan mudah Anda menyebut orang itu lengkap. Tetapi belum tentu sempurna. Anda dikatakan sempurna kalau selain lengkap Anda juga menumbuhkan dimensi-dimensi spiritual-intelektual-sosial Anda secara harmonis dan simultan. Karena dengan tampilan seperti inilah manusia bisa dikatakan bahagia, berkebudayaan dan berperadaban.
Ingat! Peradaban adalah apa yang kita dapatkan; kebudayaan adalah apa yang kita berikan; kebahagiaan adalah apa yang kita rasakan.
Complete terjadi akibat adanya change. Sedangkan perfect terjadi sebagai hasil dari growth. Hidup ini sebetulnya indah, tidak kusut seperti yang kebanyakan orang persepsikan. Hanya saja indahnya hidup ini dapat Anda rasakan jika dapat mempertemukan dua tradisi berfikir sekaligus. Yaitu tradisi berfikir “berubah dan bertumbuh” dan tradisi berfikir “lengkap-sempurna.”

W N O J

Kepribadian Kosmik
Kegagalan kebanyakan manusia adalah lebih karena ketidakberhasilannya dalam memandang hidup ini. Prinsip yang mereka anut bahwa hidup ini harus dinikmati, sudah benar. Sayangnya meraka lupa bahwa kalau ada yang harus dinikmati, maka pasti ada pula yang harus menikmati. Dan fokus perhatiannya justru pada apa yang dinikmati. Sehingga, tanpa sadar, mereka terjebak dalam relativisme — anak kandung dari cara berpikir parsial “berubah dan lengkap” (change-complete thinking).
Cara berfikir “lengkap-sempurna”, turunan dari cara berfikir “berubah-bertumbuh,” memfokuskan perhatian pada yang menikmati. Yaitu pada bagian dalam dan bagian paling urgen dari diri manusia, yakni faktor J. Modusnya bukan memiliki tapi menjadi.
Modus memiliki arahnya dari luar ke dalam (outside-in); nilai benda-benda yang ada di sekitar seseorang yang menentukan kepribadian orang itu. Sedangkan modus menjadi adalah sebaliknya, arahnya dari dalam ke luar (inside-out); kepribadian seseorang yang menentukan nilai dari benda-benda itu.
Dalam keadaan senang-bahagia, tidak ada masalah, cobalah menyaksikan taman yang indah yang ada di pekarangan rumah Anda. Anda pasti sungguh-sungguh menikmatinya. Kembang-kembang yang ada di sana, ikan-ikan di kolam, seperti melantunkan tembang alam ke dalam relung jiwa Anda yang paling dalam.
Tetapi dalam keadaan sarat dengan masalah; istri berselingkuh, anak kena narkoba, promosi jabatan pendatang baru mendahului Anda, mobil keserempet angkot, cicilan mobil belum terbayar, orang tua di kampung sakit keras; datanglah kembali ke taman yang sama. Apa yang Anda rasakan? Kembang di taman, ikan di kolam, air yang jatuh di atas air seakan-akan mengejek dan mencibir Anda.
Kedua kejadian itu menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan tergantung pada objek yang kita nikmati. Kebahagiaan ditentukan oleh subjek yang menikmati

Gambar-4. Hukum menikmati-dinikmati.

Mungkin Anda berpikir, kalau begitu, untuk melanggengkan kebahagiaan hilangkan masalah. Secara teoretis mungkin Anda benar. Tetapi secara praktis, itu adalah tindakan yang absurd. Masalah tidak mungkin hilang. Selesai satu masalah datang masalah berikutnya. Hidup ini sendiri secara keseluruhan adalah masalah. Sehingga melarikan diri dari masalah adalah tindakan yang tidak realistis. Mungkin itu rahasianya sehingga setiap bayi yang lahir menangis.
Tindakan yang paling realistis adalah menumbuhkan personalitas Anda seluas dan sesempurna mungkin hingga dapat mengakomodasi semua masalah yang mungkin timbul. Hidup bukan menghindari masalah. Hidup menyikapi masalah. Kuncinya ada di faktor J.
Coba perhatikan kembali Gambar-2. Susunannya mirip tata surya dimana pusat orbitnya adalah faktor J. Semua faktor lain beredar di garis orbitnya mengitari faktor J. Kalau alam semesta ini dikenal sebagai makrokosmos, maka manusia adalah mikrokosmosnya. Di alam makrokosmos, matahari adalah pusat energi dan penentu kestabilan hidup planet-planet lain. Di dalam kehidupan manusia (mikrokosmos), peran matahari itu diperankan oleh faktor J.
Dan karena kekuatan faktor J terletak pada tiga unsur (sukma, rasa, dan rasio), maka setiap tahap penumbuhan personalitas nanti juga harus melibatkan ketiga unsur itu secara simultan. Tanpa melibatkan ketiga unsur itu, target “lengkap-sempurna” agaknya juga sulit tercapai.

Paradoks Pertumbuhan: Hukum Pertama
Pada Gambar-3 Anda dapat melihat bahwa yang namanya lengkap, perkembangan maksimalnya hanya sampai dan berhenti pada faktor J. Misalnya dengan mengkonsumsi vitamin tertentu, memperbaiki gizi makanan, olahraga yang teratur, istirahat yang cukup, dan sebagainya. Dan dengan begitu Anda bisa terlihat lebih muda daripada usia sebenarnya. Berpikir lebih cerdas. Penampilan lebih menarik, dinamis dan agresif. Ujung-ujungnya: bisnis lancar, kocek membesar, deposito menggelembung, investasi meningkat, anak cucu aman, semua bisa dibeli. Selesai.
Sempurna tidak berhenti sampai di situ. Arah perkembangannya ke atas, dan karenanya tidak terbatas. Satu-satunya hal yang membatasinya adalah ketidakterbatasan Tuhan. Karenanya “manusia sempurna” dalam pandangan kaum eksistensialis adalah menjadi Super Man. Bagi orang Kristen menjadi Citra Tuhan. Bagi orang Islam menjadi Khalifah (wakil Tuhan di bumi), bagi Mark Hamilton — dalam The Book-nya — menjadi Manusia Tuhan. Sedangkan EF Schumacher mengutip kearifan lama seperti ini:

Kebahagiaan manusia ialah bergerak menuju kepada yang lebih tinggi, mengembangkan bakat-bakatnya yang tertinggi, memperoleh pengetahuan tentang hal-ihwal yang lebih tinggi dan yang tertinggi serta, bila mungkin, ‘bertemu dengan Tuhan’. Kalau ia bergerak menuju kepada yang lebih rendah dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih rendah yang ada padanya seperti hewan, maka ia pun menjadikan dirinya sendiri sangat tak bahagia, bahkan sampai kepada titik putus-asa.

Bagi Schumacher, kearifan lama seperti itu sudah tak difahami lagi oleh kebanyakan orang moderen. Yang mereka fahami kini adalah bagaimana menjadi kaya, bagaimana bisa bergerak ke sana kemari dengan kecepatan yang terus makin tinggi, bagaimana melakukan perjalanan ke bulan dan ke ruang angkasa.
Sementara untuk “memahami” diperlukan kemampuan untuk melihat Kebenaran Besar tentang susunan tata-tingkat dunia, yang memungkinkan kita membedakan antara tingkat-tingkat eksistensi yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.
Bagi Kahlil Gibran, Kebenaran Besar itu adalah Api Cinta yang berasal dari Sorga yang serpihan-serpihan cahayanya menerangi manusia sehingga manusia menemukan arah pertumbuhannya menuju kesempurnaan.
Untuk itu ketidakberbatasan pertumbuhan menuju ke titik sempurna, bagi Gibran, disebabkan karena titik pusat pertumbuhan manusia itu memang mendapat sinaran cahaya yang berasal dari Api Cinta di surga tersebut.

Kekasih,
Api Cinta telah turun dari Surga dalam berbagai bentuk dan rupa
Tetapi kesan mereka tentang dunia adalah satu.
Api yang sangat kecil yang menyinari hati manusia
Bagaikan obor menyala
Yang turun dari surga
Untuk menerangi jalan-jalan umat manusia.

Pandangan Gibran tersebut diamini oleh Mahatma Gandhi. Dalam keadaan fisik-nya yang lemah, cita-cita lama akan “pembebasan diri” dan “kebenaran” — dua sisi dari satu mata uang pertumbuhan-tanpa-henti — bertemu. Seraya mengaku sebagai seorang Hindu sanatani — yaitu seseorang yang mengikuti sanata dharma (hukum abadi) yang pernah mewujud dalam diri dharma-raja, Yudhisthira — ia berjuang melalui cara ahimsa (tanpa kekerasan).
Makanya Tuhan yang diikuti Gandhi sama dengan Tuhan yang dipatuhi Yudhisthira. Pengakuannya, “Bagiku Tuhan adalah Kebenaran dan Cinta; Tuhan adalah etika dan moral; Tuhan adalah ketiada-takutan; Tuhan adalah sumber dari Cahaya dan Kehidupan….Tuhan adalah kesadaran moral.”
Dengan begitu pertumbuhan yang tiada henti itu sebetulnya adalah nama lain dari “gerakan pembebasan diri” menuju ke titik puncak kesempurnaan (complete-perfect) yang oleh Schumacher dan Gandhi disebut sebagai Kebenaran. Dan bagi Gandhi, setelah mencapai kesempurnaan seperti itu, maka Kebenaran dengan serta-merta menjelma menjadi kesadaran moral.
Kesadaran moral inilah yang harus mensifati seluruh aspek kehidupan manusia, individu ataupun institusi, agar kemenangan hidup (sukses dan bahagia) bisa langgeng dan menyeluruh.
Pembebasan apa? Pembebasan dari mana? Yaitu pembebasan (dari sesuatu) tanpa melepaskan (sesuatu itu). Yaitu pembebasan diri dari faktor-faktor S-N-O-J tanpa kehilangan faktor-faktor tersebut. Tanpa pembebasan, Anda tidak mungkin tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan. Dan Anda juga tidak mungkin memiliki kesadaran moral. Tetapi kalau Anda kehilangan, Anda juga menjadi tidak realistis, tidak berpijak di bumi. Anda kehilangan instrumen untuk bergerak secara horizontal dan vertikal sekaligus. Anda akan kehilangan media untuk mewujudkan kesadaran moral Anda.
Kalau Anda ingin menolong orang lain, misalnya, maka logikanya Anda memiliki sesuatu untuk menolongnya. Tetapi, pada saat yang sama, Anda juga tidak mungkin menolongnya jika sebelumnya Anda tidak “melepaskan diri” dari sesuatu itu. Inilah yang disebut hukum pertama dari paradoks pertumbuhan, yakni “membebaskan tanpa melepaskan.”

Gambar-5. Membebaskan tanpa melepaskan

Saya pernah aktif di bursa selama kurang lebih tiga tahun. Selama itu saya terus melihat dua kelompok tradaer (investor perseorangan) dalam menyikapi posisinya di pasar. Yang pertama, larut dalam kesedihan jika pasar tidak berpihak kepadanya alias mengalami kerugian. Semakin besar kerugiannya semakin mendalam “penderitaannya.” Berkeringat dingin. Menatap dengan mata yang kosong. Tanpa harapan. Tanpa masa depan. Baginya kerugian adalah kehancuran. Baginya kerugian adalah kiamat. Yang paling parah, ia kehilangan modal utama sebagai seorang trader: inovasi dan kreativitas.
Sedangkan kelompok kedua bersikap biasa-biasa saja. Kenapa bisa? “Namanya saja usaha. Kesedihan tidak menyelesaikan masalah, Bung!” Jawabnya dengan enteng. “Uang bisa dicari. Nasib memang kadang seperti bola. Yang penting usaha jangan berhenti di situ.”
Sayangnya trader yang masuk kategori kelompok kedua ini sedikit sekali. Bahkan pernah dalam suatu waktu ketika pasar berfluktuasi sangat kencang dan berlangsung beberapa hari sehingga tidak ada kesempatan untuk mengejarnya. Para trader hanya menjadi penonton, pasrah menyaksikan uangnya amblas begitu saja. Pada saat itu hanya satu orang trader yang masuk kelompok kedua.
Kalau Anda menonton pertandingan final Euro-2000 fenomena kelompok kedua ini juga pasti Anda saksikan. Yaitu saat Perancis dan Italia berhadapan. Sebagai pemegang Piala Dunia 1998, Perancis banyak diunggulkan orang. Makanya penonton di seluruh dunia menjadi tegang ketika di awal babak kedua Italia berhasil menggetarkan gawang Perancis. Di luar lapangan para penggemar Perancis menjadi “panik.” Hebatnya, para pemain Perancis justru bersikap biasa-biasa saja. Emosi menyerang yang biasa merusak strategi permainan sama sekali tidak terlihat. Dan ini berlangsung terus sampai menit-menit terakhir pertandingan. Tetapi pada 30 detik menjelang wasit meniup fluit panjang, sikap tenang seperti itu membuahkan hasil. Posisi menjadi 1-1. Dan lewat waktu tambahan, Perancis memperlihatkan kelasnya, menyatukan dua piala bergengsi sekaligus: Piala Dunia dan Piala Eropa.
Fenomena kelompok kedua adalah fenomena “membebaskan tanpa melepaskan.” Kalau kita merujuk kepada ajaran-ajaran Goethe, maka faktor S-N-O-J — faktor materi, profesi dan segala hubungan-hubungan posessive lainnya — diibaratkan sebagai sekuntum bunga dalam hutan. Supaya tumbuh subur dan bisa dinikmati oleh semua orang, bunga tersebut harus dicabut hingga ke akar-akarnya kemudian dipindahkan ke taman yang indah. Jadi “compelete-perfect thinking” bukan egoisme tapi juga bukan altruisme. Kalau Goethe membiarkan bunga tersebut di hutan untuk dia nikmati sendiri, maka dia bersikap egois. Kalau dia mencabutnya dan tidak menanamnya kembali maka dia bersikap altruis. Resapilah gubahan Goethe berikut ini:

Ditemukan
Aku berjalan-jalan dalam hutan
hanya seorang diri
tidak ada yang kucari
yang ada dalam pikiranku

kulihat dalam keteduhan
sekuntum bunga tegak berdiri
bagai bintang bersinar seri
bagai mata indah nian

Ingin aku memetiknya
namun bunga berkata sendu:
“Haruskah aku layu
haruskah aku dipatahkan?”

Aku mencabut bunga
sampai ke akarnya sekalian
kubawah ke suatu taman
dekat rumah nan indah rupa

Dan kutanam lagi bunga itu
di tempat nan sunyi
kini ia subur tumbuh semi
dan mekar berbunga selalu

Fenomena trader kedua dan kemenangan Perancis juga dapat kita terangkan dengan menggunakan pisau analisis Erich Fromm. Yaitu dengan menggunakan modus memiliki dan menjadi. Bagi trader kelompok kedua dan Perancis, uang dan profesi, tidak lagi berada dalam modus memiliki tapi telah meningkat ke modus menjadi.
Modus memiliki tidak menciptakan jarak antara pemilik dengan yang dimiliki. Maka psikologi orang seperti ini adalah psikologi orang terkepung. Tidak mampu melepaskan diri dari apa yang dimilikinya. Dan karenanya juga tidak mungkin bertumbuh sebab pertumbuhan harus diawali oleh gerakan pembebasan. Akibatnya ia tidak mampu menafsirkan lingkungannya (inside-out), tetapi lingkungannyalah yang menafsirkan dirinya (outside-in). Orang sepereti ini sepanjang hidupnya dilanda kecemasan, karena ia selalu merasa terancam kehilangan apa yang dimilikinya.
Dalam modus menjadi, pemilik berjarak dengan apa yang dimiliki. Sehingga psikologinya adalah psikologi orang merdeka. Paradigmanya adalah paradigma inside-out. Orang semacam ini dengan sangat mudah bertumbuh di dalam areal complete-perfect thinking. Hidupnya bahagia, tanpa dibayangi oleh rasa takut kehilangan sesuatu. Maka dengan sangat mudah melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan produktif.
Cobalah bayangkan bagaimana rasanya membawa uang dalam jumlah besar ke mana-mana. Anda pasti selalu gelisah. Tidak bisa berkonsentrasi. Seraya mencurigai setiap orang yang mendekati Anda. Dan coba bayangkan pula jika uang tersebut Anda simpan di sebuah bank. Kepemilikan Anda terhadap uang tersebut tidak hilang, tanpa perlu lagi mencemaskannya. Sikap Anda yang pertama adalah analogi modus memiliki sedangkan sikap yang kedua analogi modus menjadi.

Paradoks Pertumbuhan: Hukum Kedua
Maka sampailah kita pada hukum kedua dari paradoks pertumbuhan, yakni “bergumul tanpa terlibat.” Trader kedua dan para pemain Perancis tetap bergumul secara psikologis dengan uang dan profesinya, dengan faktor S-N-O-J-nya, tetapi tetap tidak terlibat secara emosional. Sehingga dengan mudah mengendalikan emosinya hatta dalam keadaan kritis sekalipun.

Gambar-6. Bergumul tanpa terlibat

Paradoks “bergumul tanpa terlibat” ini juga diamalkan oleh para ikan di laut. Ikan-ikan itu sepanjang hidupnya hanya di air asin, tetapi tak satupun bagian tubuhnya yang terasa asin. Luar biasa. Secara fisik, tubuh ikan-ikan itu tidak berjarak sama sekali dengan air laut, tetapi daya tumbuh dan kekuatan eksistensi yang bekerja dalam tubuh ikan tersebut menyebabkannya tidak terasinkan.
Ketika Karl Marx menyaksikan anak-anak muda berbondong-bondong penuh semangat mempelajari ajaran-ajarannya, Marx mulai curiga bahwa anak-anak ini suatu saat akan lebih marxian ketimbang dirinya. Maka ia pun mengeluarkan penyataan yang sangat terkenal, “Saya bukan seorang marxis.”
Pernyataan Marx itu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa bagaimanapun intensnya ia bergumul dengan pikiran-pikirannya sendiri, namun “diri”-nya tetap “tidak terlibat.”
Anda pasti pernah punya ide, yang menurut Anda cukup brillian, yang Anda ajukan kepada teman team-work Anda atau kepada atasan Anda. Seandainya ide tersebut ditolak lalu Anda bersungut-sungut, kecewa, bahkan marah, maka itu indikasi yang sangat jelas bahwa Anda masih “terlibat” dengan pikiran-pikiran Anda sendiri. Sikap seperti itu negatif karena pasti membuat Anda kapok dan merampas semangat inovasi, kreativitas dan produktivitas Anda. Ingat! Seandainya Than Shin, CEO ACER, bersikap seperti itu maka ACER tidak pernah ada. Karena bukankah Than Shin mendirikan ACER justru setelah ide-ide brilliannya tentang industri elektronik ditolak di perusahaan tempatnya bekerja?
Contoh lain dari penggunaan hukum kedua dari paradoks pertumbuhan ini dapat kita lihat pada saat kita dituntut menyikapi hasil-hasil teknologi.
Teknologi sekarang sudah menjadi realitas keseharian kita. Kita tidak mampu lagi lari dari padanya. Mau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus bergumul dengannya. Iklan di media cetak, televisi, dan billboard sarat dengan janji-janji teknologi. Ia menjanjikan kepada kita segala kemudahaan, hidup yang tenang, lebih baik, lebih smart, dan lebih murah. Teknologi juga menawarkan keamanan, stabilitas, kedamaian, dan privacy. Teknologi berjanji mampu menghubungkan kita dengan seluruh sumber data di seantero dunia secara real time dan dalam sekejap.
Janji-janji teknologi telah menjadi dasar bagi tata ekonomi dunia baru. Jani-ianji teknologi, bahkan, telah menjadi nyanyian merdu bagi telinga kita. Pendeknya semakin tinggi kemajuan teknologi semakin dalam dan semakin kuat pelukannya kepada kehidupan kita. “High Tech High Touch,” kata John Naisbitt. Kalau begitu, pertanyaanya ialah, apakah teknologi benar-benar menyelamatkan manusia atau justru menghancurkannya?
Jawabannya tergantung paradigma yang kita anut. “If we love technology we will be carefull with it,” kata Naisbitt. Dan saran Naisbitt tersebut hanya dapat kita laksanakan kalau kita mengamalkan hukum kedua dari paradoks pertumbuhan: “bergumul tanpa terlibat.” Karena mustahil kita berhati-hati dengan teknologi kalau kita terlibat dengannya. Perhatikanlah lingkungan sekitar Anda. Betapa banyak orang yang kehilangan kontrol waktunya karena kecanduan acara televisi. Bagi orang-orang seperti itu, alih-alih mempercepat pertumbuhannya menuju kesempurnaan, teknologi malah mengkerdil-kannya. Bagi mereka high tech adalah high touch.

Pusat Pertumbuhan Institusi
Apa yang berlaku pada manusia berlaku pula pada lembaga. Karena yang bekerja pada lembaga juga manusia. Lapisan-lapisan eksistensinya sama. Kalau kita artikan faktor S sebagai perangkat keras, maka bagi lembaga itu adalah tanggible asset-nya seperti kantor, pabrik, kendaraan, lahan dan sebagainya. Kalau kita artikan naluri atau faktor N sebagai media komunikasi antara subjek dan objek maka bagi lembaga itu adalah produknya. Jika faktor O kita anggap sebagai motor penggerak, maka dalam lembaga itu adalah manajemennya. Sedangkan faktor J sebagai pusat pertumbuhan dan penentu eksistensi maka itu adalah karyawan atau manusianya. Sehingga lapisan-lapisan eksistensinya dapat kita susun sebagai berikut:

Arah pertumbuhannya juga sama. Tidak sekadar complete tapi juga perfect. Sebuah korporasi bisa dikatakan complete bila sudah bisa berproduksi dan menjual produknya ke pasar. Tetapi nanti dikatakan perfec jika juga memikirkan kesejahteraan karyawannya, menjaga perasaan kastemernya, meningkatkan kualitas SDM-nya, menjamin kualitas produknya, dan memikirkan kontinuitas lembaganya.
Bahwa produksi penting. Bahwa marketing adalah ujung tombak. Bahwa manajemen menentukan efisien tidaknya perusahaan. Bahwa bagian pembelanjaan tidak boleh main-main. Jawabannya memang “ya.” Tetapi kalau manusia yang ada di semua bagian itu tidak memiliki sens of belonging dan self of ownership sehingga perusahaan tidak dirasakan sebagai instrumen pertumbuhan bagi dirinya, maka hanya ada dua kemungkinan yang mereka lakukan: meninggalkan perusahaan atau melakukan moral hazard yang merugikan perusahaan. Bagian proyek/produksi bisa bersekongkol dengan kontraktor memanipulasi kualitas produk. Bagian pembelanjaan bisa main mata dengan vendor untuk melakukan mark-up. Pihak manajemen bisa mengagendakan berbagai rupa kegiatan untuk mnguras kas perusahaan.
Jangan kira kalau karyawan meninggalkan perusahaan itu menguntungkan. Sama sekali tidak. Bahkan sangat merugikan. Sebab bagian personalia terpaksa harus melakukan rekrutmen. Di situ ada biaya iklan. Harus ada pelatihan. Dan pendatang baru biasanya tidak langsung bisa beradaptasi dengan team-work di mana mereka harus bergabung. Lazimnya terjadi dulu gesekan-gesekan dengan orang lama sebelum mencapai titik keseimbangan psikologis. Dan itu adalah waktu–asset yang tak ternilai bagi perusahaan.
Oleh karena itu perusahaan-perusahaan yang bisa bertahan di tengah-tengah turbulensi dan volatilitas ekonomi dunia serta persaingan yang ketat adalah perusahaan-perusahaan yang tidak merasa puas hanya dengan terjadinya change dalam lembaganya, tetapi perusahaan tersebut juga terus melakukan growth dengan titik episentrum pada manusianya. Mereka itu adalah perusahaan-perusahaan yang berhasil mengembangkan teradisi complete-perfect thinking.
Argumen inilah yang menerangkan mengapa korporasi asli Indonesia terlalu mudah jatuh berguguran dalam krisis ekonomi yang menerpa kawasan Asia Timur dan Tenggara sejak pertengahan 1997; dan susah bangkitnya. Mereka bahkan bukan hanya terkena krisis tapi oleh banyak pengamat dinilai sekaligus sebagai penyebab terjadinya krisis tersebut. Sehingga dalam waktu tiga tahun (1997-2000) ribuan perusahaan yang gulung tikar, ratusan perusahaan papan atas berganti manajemen secara mendadak, ratusan perusahaan besar lainnya yang beralih kepemilikan, dan ratusan triliun rupiah uang negara (rakyat) raib entah kemana dan tak bisa dipertanggungjawabkan.
Kasus yang sama juga terjadi pada institusi raksasa yang bernama Negara Republik Indonesia. Sejak merdeka pada 1945, tradisi complete-perfect thinking tidak pernah mendapat perhatian yang serius. Pertumbuhan yang diusahakan secara maksimal hanya pada bidang ekonomi — tingkat eksistensi negara lapisan kedua dari luar (lapisan paling luar adalah wilayah teritorial beserta sumberdaya alamnya, sedangkan lapisan ketiga adalah manajemen pemerintahan). Belum pernah diarahkan kepada rakyat atau manusianya — pusat pertumbuhan dan penentu eksistensi sebuah negara. Sehingga sangat terasa bahwa dalam lebih setengah abad kemerdekaan, pendidikan adalah sektor yang paling tertinggal.
Akibatnya, begitu saat regenerasi tiba–pemimpin lama terpaksa atau dipaksa lengser — mencari pemimpin baru sulitnya bukan main. Diantara 200 juta penduduk, calon pemimpin yang dianggap kapabel dan akseptabel hanya bisa dihitung dengan sebelah jari-jari tangan. Tidak lebih. Persoalan bangsa terpaksa didiktekan oleh pihak luar.
Di bidang birokrasi, Anda bisa melihat begitu lamban dan high-cost-nya cara kerja mereka. Semua harus diukur dengan “suap.” Mereka bekerja seenaknya. Ngobrol ngalor-ngidul, baca koran, main catur, cuek, adalah pemandangan yang tidak susah Anda temukan pada jam-jam kantor. Pada tingkat tertentu itu bisa dimengerti sebab bagaimana mungkin mereka memberikan pelayanan kepada publik dengan memuaskan kalau mereka sendiri tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari negara. Kalau negara sendiri tidak menganut tradisi complete-perfect thinking, maka bagaimana pula tradisi seperti itu dianut oleh aparatnya?

Kuantum: Percepatan Bukan Pemaksaan
Sudah dikatakan sebelumnya bahwa pertumbuhan punya hukum-hukumnya sendiri. Hukum pertumbuhan bisa diintervensi selama masih berada dalam koridor fleksibilitas hukum itu sendiri. Anda bisa mempercepat bekerjanya hukum pertumbuhan tapi Anda tidak bisa memaksanya apalagi meniadakannya. Anda tidak bisa memaksa orok berjalan, apalagi berlari. Tapi Anda bisa melatihnya sedikit sedikit sehingga ia bisa berjalan lebih cepat dari bayi-bayi yang lain. Anda bisa secara sistematis memperkenalkannya dengan huruf dan angka sehingga ia lebih cepat dapat membaca dan berhitung ketimbang anak-anak seusianya.
Memaksakan pertumbuhan kepada seseorang berarti menghancurkannya. Menghancurkan jiwanya. Menghancurkan raganya. Apalagi yang ingin kita tumbuhkan bukan faktor S tapi faktor J. Faktor yang paling krusial–tapi sekaligus paling atraktif–dalam diri manusia.
Kalau Anda memaksakan kehendak kepada sebatang ranting, niscaya akan patah. Tapi kalau Anda membiarkannya, ranting itu tidak akan pernah berbentuk seperti yang Anda inginkan. Atau Anda menekuknya tapi dengan cara yang sangat halus dan pelan, maka Anda akan kehilangan banyak waktu yang sangat berharga. Maka cara yang paling arif adalah dengan mempercepat tekukan semaksimal kemampuan daya tahan ranting tersebut. Itulah yang kita sebut seni menekuk secara kuantum.
Sebelum ditemukannya mesin penetas, peternak harus menunggu ayamnya yang mengerang sampai tiga minggu baru menetaskan telurnya. Tetapi dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh tenaga listrik, peternak tidak lagi menghitung minggu, melainkan jam. Seni kuantumnya terletak pada pemberian panas secara proporsional. Kalau intensitas panasnya kurang, telur lama baru menetas, bahkan mungkin membusuk. Tetapi kalau berlebihan, telur jadi matang.
Seni bertumbuh secara kuantum dapat dimiliki oleh siapa saja, termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini. Syaratnya gampang: Asal Anda mengetahui syarat-syarat hukum yang dibutuhkan oleh faktor J untuk bertumbuh. Syarat-syarat tersebut ada tujuh.
Pertama, harus ada niat. Niat harus dibedakan dengan keinginan. Niat adalah tekad yang kuat, yang mampu menggerakkan Anda untuk berubah serta tumbuh dan berkembang. Niat mengandung makna yang aktif dan impulsif. Sedangkan keinginan hanyalah kemauan biasa, yang datar-datar, yang bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga keinginan mengandung maknan yang statis.
Kedua, harus ada arah. Seperti pada tumbuh-tumbuhan dan hewan, arah pertumbuhannya sangat jelas. Satu biji cabe kalau ditanam akan bergerak secara pasti menjadi buah yang banyak. Sebutir telur ayam jika ditetaskan akan tumbuh secara meyakinkan menjadi ayam dewasa yang produktif.
Hanya saja karena yang hendak ditumbuhkan di sini adalah faktor J, yang memiliki free will dan free chioce, maka arah pertumbuhannya ditentukan oleh manusia itu sendiri. Arah pertumbuhan ini harus dipatok dengan kuat sejak dini. Arah yang berubah-rubah memboros banyak waktu dan tenaga.
Ketiga, harus ada model. Setelah ada arah yang jelas, maka tindakan selanjutnya adalah mencari model sesuai dengan arah yang dituju. Model itu haruslah orang atau tokoh yang menurut Anda cocok dengan arah yang telah Anda tetapkan tadi.
Keempat, harus ada pemicu. Untuk mempercepat proses pencapaian model Anda, maka Anda perlu motivasi yang berkesinambungan. Semangat pertumbuhan Anda bisa konsisten dan terjaga melalui bacaan-bacaan yang mendukung, termasuk biografi tokoh-tokoh yang sejalan dengan model Anda, menghadiri seminar, ceramah, pergaulan, dan sebagainya.
Kelima, harus ada penuntun. Aktivitas keseharian yang berjalan secara rutin cenderung membuat orang larut dan terlena. Sehingga tanpa disadari ternyata sudah terjadi penyimpangan yang jauh. Maka berhati-hatilah. Untuk menghindari penyimpangan seperti itu, Anda membutuhkan penuntun. Yaitu orang-orang atau buku-buku tertentu yang Anda percaya dapat membawa ke arah yang Anda kehendaki. Berkonsultasi terus dengan orang tersebut. Atau bacalah terus buku yang Anda jandikan sebagai penuntun.
Keenam, perlu ada energi. Proses pertumbuhan tidak bisa terjadi dalam satu dua tahun. Untuk menjaga stamina, Anda perlu mengatur penggunaan energi. Orang yang meluap-luap biasanya tidak bisa bertahan lama. Ingat pepatah lama: “jangan panas-panas tahi ayam”. Keterlibatan orang-orang dekat sangat membantu.
Ketujuh, harus ada struktur. Karena proses pertumbuhan arahnya ke atas, maka kita laksana menaiki tangga. Harus ada anak-anak tangga yang tersusun rapih dan teratur yang bisa mengantarkan kita ke puncak. Anda tidak boleh melangkahi anak-anak tangga di atasnya. Tapi Anda bisa mempercepat langkah.

Kunci
Setelah melihat begitu esensialnya posisi manusia dalam tatanan kosmos dan begitu substansialnya faktor J bagi eksistensi kehidupan manusia, serta setelah memenuhi ketujuh syarat tersebut, maka pertanyaan kuncinya ialah: Kultur apakah yang dibutuhkan seseorang agar berubah dan bertumbuh secara kuantum untuk menjadi manusia kosmik? Pertanyaan ini penting mengingat bahwa globalisasi dicirikan oleh sistem ekonomi dan persaingannya yang berbasis pada pengetahuan. Sehingga struggle for survival bukan lagi perang melawan seleksi alam (natural selection) melainkan perang melawan seleksi sosial (social selection) yang memilah dan sekaligus mengapresiasi manusia berdasarkan kemampuan pengetahuannya.
Jawaban kuncinya adalah knowledge culture (budaya pengetahuan) yang mencakup tiga hal: reading culture (budaya membaca), learning culture (budaya belajar), dan spiritual culture (budaya ruhani). Dua yang pertama adalah dalam rangka meng-empower daya-cipta, sedang yang terakhir dalam rangka meng-enrich daya-laku.
Daya-cipta dan daya-laku adalah dua kekuatan insani utama manusia yang melekat secara natural dalam faktor J. Artinya faktor J dikatakan aktual bila berhasil menyemburkan daya-cipta dan daya-laku. Makanya ada yang menilai bahwa rata-rata manusia baru dapat mengaktualkan sekitar 4 sampai 10 persen dari total potensi insaninya karena kurang dipahami atau kurang dikembangkannya kultur yang dapat mengaktualkan faktor J ini. Sekitar 90 persennya masih mengendap begitu saja.
Karena yang dituju al-Qur’an adalah manusia dalam rangka merespon sistem yang bersifat jahiliyah — yang ditandai dengan lumpuhnya daya-cipta dan daya-laku — maka jangan heran kalau kultur pertama yang dianjurkannya adalah learning culture dalam bentuk iqra’ (perintah belajar). Dari sinilah peradaban humanisme bermula.
Ketika pemikir Eropa menyadari ketertinggalan peradabannya dari bangsa Timur (Islam), maka untuk mengejar ketertinggalan itu mereka menganjurkan bangsanya untuk kembali ke masa-masa berjayanya learning culture di Yunan (renaissance). Dari sinilah peradaban humanisme Barat moderen bermula.
Saat Jepang dan negara-negara Asia Timur lainnya hendak mengejar kemajuan yang dicapai bangsa-bangsa kulit putih, maka lagi-lagi kultur yang mereka kembangkan adalah learning culture. Mereka simpulkan dalam satu kalimat: “If you want to know what they know, read what they read” (kalau Anda ingin mengetahui apa yang mereka ketahui, baca apa yang mereka baca). Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang.
Lalu bagaimana dengan umat Islam yang kini berada pada posisi paling belakang dalam percaturan peradaban di era globalisasi dengan knowledge-based economy-nya ini? [Muhammad Rusli Malik]

Daftar Pustaka

Albert J. Berntein, Sydney Craft Rozen, Dinosaur Brains, Dealing With All Those Impossible People at Work, (John Wiley & Sons, New York, 1989)
Anthony de Mello, S.J., Awarnes, Butir-butir Mutiara Pencerahan, (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999)
E.F. Schumacher, Keluar Dari Kemelut, Sebuah Peta Pemikiran Baru, (LP3ES, Jakarta, 1981)
Erich Fromm, Memiliki dan Menjadi, Tentang Dua Modus Eksistensi, LP3ES, Jakarta, Cetakan Kedua, 1988)
H. John Bernardin, Joyce E.A. Russell, Human Resource Management, An Experiental Approach, (McGraw-Hill, Singapore, 1993)
Howard Gardner, Multiple Intelligences, Kecerdasan Majemuk, Teori dalam Praktek, (Interaksara, Batam, tt)
Khoo Kheng-Hor, The Keeper of CEOs’ Conscience, (Pelanduk Publications, Selangor Darul Ehsan, Malaysia, 1997).
Mendy Kwestel, Michael Preston, Gary Plaster, The Road to Success, How to Manage Growth, (John Wiley & Sons, New York, 1998)
Mortimer J. Adler, Six Great Ideas, (Macmillan, New York, 1981)
Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna, (Mizan, Bandung, Cetakan III, 1993)
Murtadha Muthahhari, Fitrah, (Lentera, Jakarta, 1998)
—, Islam dan Tantangan Zaman, (Pustaka Hidayah, Bandung, 1996)
—, Manusia dan Alam Semesta, Konsepsi Islam tentang Jagat Raya, (Lentera, Jakarta, 2002)
—, Manusia Sempurna, Lentera, Jakarta, Cetakan Kedua, 1994)
Napoleon Hill, Napoleon Hill’s Keys to Success, (India Books Distributors, Bombay, 2000)
Norman Vincent Peale, The Power of Positive Thinking, (Vermilion, London, 2001).
Philip Kotler, Liam Fahey, S. Jatusripitak, The New Competition, Meeting the Marketing Challenge from The Far East, (Prentice/Hall International, New Jersey, 1986)
Robert C. Zaehner, Kebijaksanaan dari Timur, Beberapa Aspek Pemikiran Hinduisme, (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993)
Robert M. Bramson, Coping With Difficult People, (Doubleday, New York, 1981)
Stephen R. Covey, A. Roger Merrill, Rebecca R. Merrill, First Things First, (Simon & Schuster, New York, 1994)
—, The 7 Habits of Highly Effective People, (Simon & Schuster, New York, 1989)
Taufik Bahaudin, Brainware Management, Generasi Kelima Manajemen Manusia, (Elex Media Komputindo, Jakarta, 1999)
Zig Ziglar, Success for Dummies, (IDG Books Worldwide, Foster City, 1998)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: