Oleh: maulanusantara | November 2, 2007

Salam

suplication_facesfromlifecom.gifAssalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Suatu saat, Daoed Joesoef ditanya kenapa dia lebih suka berucap “Selamat pagi” daripada “Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”? Katanya, mengucapkan salam itu sunah tapi menjawabnya wajib. Daoed tahu betul bahwa tidak semua orang (serius dan pasti) menjawab salamnya. Dia tidak ingin membebani orang dengan dosa hanya demi pahala sunah yang privat.
Menurut Gus Dur, ucapan “Selamat pagi”, bermakna doa semoga kita melalui pagi ini dengan keselamatan lahir batin, sama seperti “Assalamu alaikum”, “Syalom”, “Rahayu”, “Om swastiastu”, “Good pagi selamat morning” ala Kang Ebet Kadarusman, atau segala ucapan yang mengandung harapan dan doa dalam berbagai bahasa daerah. Tapi pada saat yang sama, tidak ada kewajiban membalasnya, apalagi bagi yang memaknainya bukan doa atau bagian dari teologi. Namun bagi yang memahaminya secara transenden, ucapan selamat pagi adalah apresiasi. Minimal dibalas dengan terima kasih karena masih ada orang yang mendoakannya.
Bagi yang memahaminya sebagai bagian dari teologi, ucapan assalamu alaikum tidak diucapkan sembarangan. Tidak heran, banyak kalangan yang sudah berucap “assalamu alaikum” masih merasa perlu menambahkan lagi kata-kata “Salam sejahtera kepada kita semua” ketika berada dalam forum yang plural. Padahal arti assalamu alaikum = salam sejahtera kepada kita semua.
Alasan normatif, tidak semua orang memahami arti assalamu alaikum. Bahkan bisa haram ketika diucapkan kepada orang yang bermaksud jahat kepada kita.
Tapi masalahnya bukan di situ. Saya mencurigai alasan lain. Bahwa assalamu alaikum hanya ditujukan kepada pendengar Muslim. Artinya dia hanya mendoakan umat Islam saja. Sedangkan umat lain cukup diucapkan salam sejahtera formalitas karena memang tidak dimaksudkan doa. Karena kenyataannya, umat lain tidak jahat.
Kenyataannya, ucapan assalamu alaikum belum tentu mendapat respon positif dari sesama umatnya, meskipun orang tersebut mengetahui makna dan hukumnya. Ucapan pembuka di surat, imel, yang sangat serius ditulis oleh penulisnya hanya ditanggapi pembaca dengan dingin, tanpa spontan menjawabnya dalam hati. Karena pembaca yakin bahwa ucapan tersebut, dalam alam bawah sadarnya, adalah sekadar formalitas, sebatas etika normatif, basa-basi.
Berbeda halnya dengan ucapan “profan” semacam selamat pagi. Ucapan “selamat pagi” adalah pemberian dan penyerahan, tanpa mengharap kembalian. Karena yang namanya kembalian biasanya cuma recehan. Tidak ada klaim kebenaran bahwa ucapan ini harus dibalas. Ucapan selamat pagi pun juga melintas sekat agama. Dia juga berlaku bagi umat lain, bahkan bagi tidak beragama sekali pun. tentu, perlu diingat, bahwa ini adalah bentuk kompromi kultural. Tidak ada maksud mengganti-ganti salam. Melainkan sekadar menggelitik alam bawah sadar kita, mengapa ucapan sosial ini berubah menjadi teologis yang menyekat hubungan kemanusiaan kita sendiri yang justru ingin direkatkan melalui kalimat salam tersebut.
Mengucapkan selamat pagi lebih bijaksana daripada mengucapkan assalamu alaikum karena hanya menjadi beban bagi pendengarnya. Ucapan assalamu alaikum baru baik digunakan kalalu kita bisa prediksi bahwa ucapan kita pasti dibalas oleh pendengarnya. Dalam agama, mendoakan orang lain itu pahala, tapi merepotkan orang lain bisa berdosa. Jangan sampai upaya meraih pahala sunah berubah jadi dosa karena menyusahkan orang lain.
Tabik. Merdeka! [andito]


Tanggapan

  1. great….

  2. tlg tafsirkan nama ini : Matsna Hamidah

  3. salam…sblm ni saya x tau pn ad blog psl nma2 dn erti ny…ap2 pn,tanx 4 da information….

  4. Terima kasih, nama2 Islami ini jd inspirasi saya yg Insya Allah akan di amanahi anak yg ke 2

  5. Waduh kacau mmbaca ocehan org yg tdk sadar, bisa gila, masa printah Allah dn rasul mau di ganti printah gusdur, tobat buruan mmpung d ksih nyawa.

  6. Wah dasar orang JIL, tobatlah..! Justru mengucap salam lbh universal, kt mengucap selamat pagi sm orang Arab nggak bakal di jawab. Memberi salam pd orang kafir tentu tdk boleh.

  7. mas, aku lagi hamil nih…
    mau tanu arti dari “FEIZA ANNAYA OKTARAYANI”

    MAKASIH YAA….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori