Posted by: maulanusantara | Januari 14, 2008

Anak dan Minat Budaya: Di Manakah Usaha dan Tanggung Jawab Kita?

learning-thai-culture.jpg

Saya bukanlah seorang ahli teori budaya, melainkan seorang praktisi di lapangan yang menaruh perhatian kepada anak-anak dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mereka. Karena itu, makalah ini tidak akan diisi dengan teori-teori budaya yang canggih dan mutahir. Wawasan saya tentang budaya untuk anak adalah dari pengalaman bergaul dan bekerja untuk anak. Pengalamanlah yang menjadi pengetahuan saya dan kesimpulan yang saya ambil didasari dari fakta-fakta lapangan

 

Memperkenalkan Budaya

Memperkenalkan budaya pada anak-anak dapat melalui banyak cara, yang penting menyenangkan dan dinikmati mereka. Bisa melalui buku (cerita yang dituliskan), bisa melalui cerita (mendongeng), bisa melalui permainan, bisa melalui musik, bisa pula melalui teater (drama), film, animasi, nyanyian, pantun, peribahasa, tata-krama, dan sebagainya. Anak-anak terbuka untuk mengenal budaya apapun, baik dari lingkungannya sendiri maupun dari luar.

Berbicara tentang kebudayaan harus dilihat dan diperbincangkan dari berbagai aspek. Makalah ini hanya mengetengahkan sebuah kasus, yaitu bagaimana cerita rakyat yang sesungguhnya adalah bagian dari kebudayaan dan tradisi Nusantara, dapat kita sosialisasikan, aktualkan, dan dayagunakan untuk memperkenalkan tradisi atau budaya Nusantara pada anak-anak masa kini.

Sayang sekali bahwa seringkali cerita rakyat disalahgunakan dengan dibebani oleh ideologi negara secara sewenang-wenang, ada pula yang “diporakporandakan” semau-maunya dengan alasan agar terlihat modern dan kekinian, yang sebenarnya malahan menjadikan cerita rakyat (budaya) sebagai sampah gagasan yang dikesankan cemerlang. Ada pula sementara kaum dewasa yang karena tidak menguasai bidang sastra anak menganjurkan untuk melakukan dekonstruksi cerita rakyat, sehingga hilanglah norma dan nilai budaya yang dapat diwariskan.

 

Terlalu banyak yang dikatakan dan terlalu sedikit yang dikerjakan untuk anak-anak. Itulah kondisi bangsa kita. Di Amerika, kepada siapa kita sering kali merujuk “tidak sesuai dengan norma bangsa”, cerita rakyat mereka terus digali dan disosialisasikan pada generasi mudanya. Begitu banyak penelitian tentang folklor yang dapat didayagunakan untuk pewarisan budaya kepada anak-anak. Mudah-mudahan presentasi saya untuk Seminar Internasional Tradisi Lisan IV, 2-5 Oktober 2003 di Jakarta baru-baru ini, memberi inspirasi pada banyak peneliti tradisi lisan Indonesia untuk menggali banyak ragam budaya yang dapat digunakan dan dinikmati anak-anak. Kemanakah pantun anak-anak kita, nyanyian, permainan, peribahasa, teka-teki yang berkaitan dengan budaya dan dunia anak-anak? Penelitian dan upaya nyata untuk mempromosikan budaya kepada anak-anak hanya dilakukan oleh segelintir orang saja.

Sekali lagi, di Amerika, 5.000 anggota pendongeng bergabung dalam sebuah wadah bernama The National Storytelling Association (MacDonald, 1999: XIII). Banyak dari mereka adalah para peneliti dan folkloris yang bergelar doktor yang tidak segan untuk mendongeng di depan anak-anak dan masyarakat dengan maksud untuk merevitalisasi kebudayaan. Mereka hanya menggunakan materi-materi tradisi (bukan karangan sendiri).

Setiap tahun secara teratur diadakan festival mendongeng bersifat nasional dengan nama Tellabration (Storytelling Magazine, 2002 : 5). Di Amerika, ada pendidikan untuk Storytelling

(mendongeng) dengan tingkat pascasarjana. Bahkan di India ada Saneguruji

Storytelling Academy (Storytelling Magazine, 2002 : 37). Suatu usaha untuk mengantisipasi perubahan zaman yang mau tidak mau menyebabkan materi kebudayaan harus atau perlu mengalami transformasi untuk dapat diterima oleh masyarakat masa kini. Di Thailand, sudah ada upaya untuk membangkitkan kembali bahasa-bahasa yang hampir punah dengan menggunakan sarana mendongeng.

Seperti diketahui, memperkenalkan budaya kepada anak-anak masa kini tidak hanya melalui kegiatan mendongeng, tetapi dapat melalui berbagai cara, yaitu dengan konsep mendongeng dan bermain, mendongeng dengan bermusik, festival mendongeng dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, membacakan cerita secara maraton dengan meniru konsep pagelaran wayang, membacakan cerita dengan konsep membaca massal di taman, dan berbagai kemungkinan lain. (lihat makalah Murti Bunanta, 2003 dengan judul Contemporary Storytelling Sebagai Sarana Promosi, Sosialisasi, dan Pendayagunaan Tradisi).

 

Minim Pelaku, Minim Apresiasi

Cobalah kita tengok, berapa orang yang dapat kita sebut telah melakukan usaha-usaha untuk memperkenalkan budaya Nusantara pada anak. Saya merasa pasti, orang-orang ini samasekali tidak bertindak demi “ketahanan budaya dan melawan budaya dari luar”. Mereka (kami) hanya ingin berbagi budaya yang mereka (kami) yakini akan membuat bangsa ini kokoh dan dapat menjauhi atau mengurangi konflik antar sukubangsa yang mungkin timbul karena salah pengertian dan ketidakpahaman antara satu dengan lainnya.

Saya akan menyebut di antaranya. Pak Raden yang dengan cerdik telah menciptakan tokoh-tokoh boneka yang memperlihatkan ragam budaya. Selain itu untuk memperkenalkan wayang, Pak Raden bernarasi sambil menggambar cerita dengan menggunakan spidol di atas white board. Sayang pertunjukannya mendapatkan banyak intervensi.

Made Taro dengan konsepnya Mendongeng Sambil Bermain (Bali), ternyata dapat merevitalisasikan bahasa lokal kepada anak-anak. Syukrie Ramzan dengan konsep Mendongeng Sambil Bermain Musik dapat membangkitkan budaya lokal dan menembus budaya lain. Kelompok Pencinta Bacaan Anak (non profit independen) yang saya dirikan tahun 1987, telah menyelenggarakan dua tahunan festival Mendongeng sejak sepuluh tahun terakhir. Berbagai konsep telah dicoba dengan hasil dan respon yang baik.

Sujiwo Tejo dan kawan dari EKI (Eksotika Karmawibhangga Indonesia) serta juga Slamet Gundono adalah dua seniman yang telah beberapa kali berkolaborasi dengan Kelompok Pencinta Bacaan Anak untuk menggelar pementasan cerita rakyat berdasarkan cerita rakyat yang saya tulis kembali dan sudah terbit menjadi buku (tahun 2001). Mereka mengadakan modifikasi secara kreatif tanpa merubah struktur dasar cerita.

Saya sungguh beruntung; ketika saya menyelenggarakan acara Membaca Maraton (tahun 1999), saya mendapat banyak bantuan dari seniman, budayawan, artis, dan juga guru besar yang bersedia menjadi relawan untuk membacakan buku pada ratusan anak-anak.

 

Buku Sebagai Sarana Penunjang Utama

Buku (cerita) adalah sarana yang utama yang harus diadakan, karena sarana ini dapat digunakan sebagai sumber pertama untuk mengenalkan budaya yang dapat dikerjakan sendiri oleh orang tua dan guru, kaum dewasa pertama yang berhubungan dengan anak. Sayang secara umum, mutu buku cerita rakyat masih harus ditingkatkan dan buku-buku yang mengetengahkan keragaman budaya amat sedikit. Pengarang bangsa ini belum pandai mengungkapkan dan menuliskan masalah ini dengan menarik. Persoalan budaya belum menarik perhatian mereka, selain dari mutu kepengarangan yang memang masih rendah. Komik, komik, dan komik menjadi andalan pengarang Indonesia.

Menuliskan kembali sumber oral menjadi bahan tulisan yang menarik amat tidak mudah. Segudang masalah timbul, belum lagi kalau pengarang tidak pandai menafsirkan makna cerita yang ada (lihat Bunanta, 1998). Tanpa meningkatkan dan memperbanyak buku dan penelitian tentang budaya yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat (anak-anak), maka budaya dan tradisi akan perlahan-lahan menghilang.

Budaya akan lestari dan menjadi dinamis kalau dia juga dituliskan yang kemudian dapat dijadikan sumber oral kembali. Parahnya, ada pula yang beranggapan bahwa cerita rakyat atau tradisi sudah ketinggalan zaman dan perlu digantikan dengan yang lebih modern, padahal bangsa lain banyak yang mengambil manfaat dan menggali budaya kita.

Buku saya, sebuah kumpulan cerita rakyat Indonesia baru saja terbit di Amerika bulan Oktober ini, dengan judul Indonesian Folktales, dikemas dengan sangat mewah untuk ukuran Indonesia. Orang lain menghormati budaya kita dengan mengiklankan buku ini sebagai berikut : “Build your multicultural collection or expand your repertoire with tales that provide a moving and colorful image of the diversity and richness of the people and lands of Indonesia.”

 

Festival Anak-Anak

Setelah merdeka 58 tahun pun, di Indonesia, tak ada satu pun institusi pemerintah yang pernah mengadakan acara kebudayaan untuk anak-anak. Kalau pun ada hanya merupakan kasus musiman saja. Tidak pernah ada penyelenggaraan Festival Anak-Anak yang berkesinambungan secara teratur dan bersifat nasional melibatkan seluruh masyarakat (sekolah, organisasi swasta non-profit, sponsor, d.s.b.nya). Kita tidak peduli tentang musik untuk anak, permainan anak, cerita untuk anak, dan semuanya yang bersifat budaya. Lebih sering festival diselenggarakan dengan menempatkan anak sebagai objek konsumen suatu usaha yang bersifat dagang.

Saya berkesimpulan bahwa anak adalah “agen” yang ampuh dan efektif untuk mengenalkan budaya kepada kelompok sebayanya sendiri (dari anak untuk anak). Mereka dapat mengenal adanya keragaman budaya dan dapat menghormati keragaman tersebut. Selain itu, ternyata mereka bersih dari arogansi kebudayaan lingkungannya (rumah) sendiri. Anak-anak adalah penikmat budaya yang amat toleran. Melalui Festival Anak kita sekaligus “mencerahkan” orang tuanya.

Sayang sekali kalau antusiasme anak-anak dan minat budaya mereka tidak dapat berkembang atau dikembangkan dengan optimal. Ini, karena kita tidak pernah memikirkan untuk menyelenggarakan sebuah “ruang” untuk anak-anak berekpresi dengan budaya dan bersentuhan serta berinteraksi dengan berbagai budaya.

 

Lembaga Budaya Untuk Anak dan Sistem Pendidikan

Berapa lama lagi anak-anak Indonesia harus menunggu? Akankah kita biarkan saja anak-anak mengalami konflik etnis berkali-kali dan berulang-ulang?

Bangsa ini memerlukan kegiatan budaya untuk anak-anak yang selalu secara teratur diselenggarakan dan memungkinkan anak terekspos dengan budaya, terlepas dari persoalan budaya yang mana. Alangkah indahnya melihat musik kamar dan musik tradisional diajarkan dan diperkenalkan kepada anak-anak oleh sebuah kesempatan yang diciptakan untuk itu. Kita memerlukan sebuah institusi, tempat, gedung, museum, balai budaya, festival anak, yang tersebar di mana-mana serta mudah dipergunakan untuk siapa saja demi kepentingan mengajarkan budaya pada anak.

Tidakkah kita tahu bahwa anak dengan usia yang amat muda sekali pun (kurang dari satu tahun) dapat menikmati musik gamelan, musik dol, dan musik barongsay? Tidakkah kita ingin memberi kesempatan mereka hidup dengan damai melalui budaya?

Mungkin kita dapat meniru negara Slovakia, yang mempunyai Bibiana, sebuah institusi kebudayaan yang dipersembahkan bagi anak-anak di bawah asuhan para profesional, seniman, artis, penulis untuk mengembangkan imaginasi, rasa seni, cara berpikir, dan ketrampilan anak-anak. Museum Anak-Anak, Zoom, di Austria mempunyi motto “all senses come into play”, yang dengan sendirinya secara teratur juga mengadakan program-program budaya untuk anak-anak.

Amerika, adalah negara yang paling progresif dan terkemuka dalam mendirikan museum dengan konsep “Hands-On”, artinya anak-anak pengunjung dapat dan dianjurkan untuk menyentuh dan mengeksplorasi apa yang disuguhkan (paling tidak ada 225 Museum – lihat Cleaver, 1988).

Museum seperti ini tidak hanya memamerkan benda-benda sejarah, tetapi justru banyak memberi kesempatan pada anak-anak untuk merasakan pengalaman multikultural. Anak-anak diajak memakai kostum berbagai budaya, belajar menabuh berbagai alat musik dari berbagai suku bangsa, mencoba membuat makanan daerah, bermain dengan beragam mainan tradisional, memakai gaya rambut dari berbagai etnik, mempelajari kata-kata dari berbagai bahasa, menyentuh benda-benda seni dari yang tradisional sampai yang modern.

Singkatnya, semua dan apa saja yang berkaitan dengan budaya anak dan mengembangkan minat budaya pada anak dapat kita laksanakan kalau saja ada tempat dan “ruang” untuk itu. Bahkan ironisnya, bangsa ini juga sama sekali belum memikirkan sistem pendidikan yang memungkinkan anak didik kerap bersentuhan atau sengaja didekatkan dan dilibatkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan budaya. Adakah guru-guru yang terdidik untuk itu?

 

Catatan Penutup

Anak Indonesia memerlukan kesempatan menjadi pelaku kebudayaan. Mereka ingin berekspresi dalam kebudayaan, mengenal, dan menikmati kebudayaan apa saja, sekaligus terbuka untuk menerima kebudayaan dan menjadi agen yang mentransmisikan kebudayaan. Tidakkah akan kita ajarkan dan tumbuhkan perdamaian melalui budaya? Di manakah usaha dan tanggung jawab kita untuk masa depan anak-anak kita? Adakah masa depan tanpa budaya?

Anak-anak siap untuk berbudaya dan menjadi bangsa yang berbudaya, akan tetapi kita, kaum dewasa, tidak memberikan jalan pada mereka. Jadi, jangan salahkan anak-anak bila mereka lebih banyak mengenal budaya yang datang dari luar (tentu tidak salah), karena kita sendiri yang tidak memikirkan untuk menyelenggarakan dan menyediakan budaya sendiri bagi anak-anak. Padahal mereka sangat ingin dan sungguh terbuka untuk menerima warisan budaya dari kita.

Dengarkanlah suara anak-anak Indonesia. Saya yakin anak dari golongan manapun sesungguhnya dapat mencintai dan bangga akan kebudayaan sendiri bila mereka memang diberi jalan untuk itu. Persoalannya, tak ada upaya kita untuk melakukan usaha nyata guna mewariskan kekayaan budaya kita.[]

 

Jakarta, 14 Oktober, 2003

DR. Murti Bunanta SS,MA.

Makalah ini dibawakan pada Kongres Kebudayaan V, 20 –22 Oktober, 2003 di Bukittinggi

 

 

Daftar Pustaka:

 

Bunanta, Murti

1998 Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak di Indonesia. Jakarta, Balai Pustaka

2001 Kancil dan Kura-Kura, Cerita Rakyat Kalimantan Barat. Jakarta, Kelompok Pencinta Bacaan Anak

2001 Senggutru, Cerita Rakyat Jawa. Jakarta, Kelompok Pencinta Bacaan Anak

2001 Suwidak Loro, Cerita Rakyat Jawa. Jakarta, Kelompok Pencinta Bacaan Anak

2001 Si Kecil, Cerita Rakyat Sulawesi Selatan. Jakarta, Kelompok Pencinta

Bacaan anak.

2003 Indonesian Folktales. Westport, Libraries Unlimited

 

Cleaver, Joanne

1988 Doing Children’s Museum. A Guide to 225 Hands-On Museums, Vermont, Williamson Publishing

 

Margaret Read MacDonald

1999 Traditional Storytelling Today. Chicago, Fitzroy Dearborn Publishers, hlm.XII

 

Storytelling Magazine

2002 Storytelling Magazine, Volume 14. Issue 2, Maret/April 2002. Hlm. 5 dan hlm. 37

 

Source: http://www.kongresbud.budpar.go.id/murti_bunanta.htm

Tanggapan

Banyak anak dibangun secara terbalik.
Dimualai dari hal-hal supernatural,
Yang dikontraskan dengan dirinya.
Lalu beranjak ke hal-hal emosional,
Yang bercermin pada junjungannya.
Kemudian baru belajar hal-hal natural,
Yang tersepelekan, terabaikan,
Terburu DEWAsa anak itu!
http://myquran.org/forum/index.php/topic,18268.msg892599.html#msg892599

Salam Damai!

Leave a response

Your response:

Kategori