Posted by: maulanusantara | Februari 4, 2008

Nabi Muslim Lahir di Bethlehem

jesus01.jpg 

Kisah tentang Yesus menempati posisi yang istimewa di awal Islam. Tidak ada kebutuhan untuk “benturan peradaban” (clash of civilization).

 Pada 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus. Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu. 

Kisah ini boleh jadi akan mengejutkan orang-orang di Barat, yang kadung memandang Islam sebagai musuh yang tidak dapat didamaikan dengan Kristen sejak Perang Salib. Namun, adalah sangat konstruktif untuk mengingat kisah tersebut, terutama selama Natal, ketika kita dikepung oleh gambar-gambar yang serupa tentang Sang Perawan dan Anak Sucinya. Kisah itu mengingatkan kita bahwa apa yang disebut “benturan peradaban” sama sekali bukan tidak bisa dielakkan. Selama berabad-abad, Muslim mencintai figur Yesus yang dihormati di dalam al-Quran sebagai salah satu nabi terbesar dan, di dalam tahun-tahun perkembangan Islam, menjadi salah satu bagian utama dari identitas Muslim.

Terdapat pelajaran penting di sini, baik bagi orang Kristen maupun Muslim—terutama barangkali pada saat-saat Natal seperti ini. Al-Quran tidak meyakini Yesus sebagai tuhan tetapi ia mempersembahkan lebih banyak ruang bagi kisah tentang konsepsi dan kelahiran sucinya dibandingkan apa yang dikisahkan Perjanjian Baru. Al-Quran menyajikannya dengan kekayaan simbolis mengenai kelahiran Roh Kudus di dalam setiap manusia (QS. 19:17-29; 21:91). Seperti para nabi agung lainnya, Maria menerima Roh Kudus dan mengandung Yesus, yang pada gilirannya akan menjadi sebuah bukti (ayat): sebuah pesan perdamaian, kelembutan, dan kasih sayang kepada dunia.

Al-Quran dikejutkan oleh klaim-klaim Kristen bahwa Yesus adalah “putra Allah”, dan kemudian dengan bersemangat melukiskan Yesus demi menyangkal ketuhanannya dalam upaya “membersihkan” dirinya dari proyeksi-proyeksi yang tidak layak tersebut. Berkali-kali, al-Quran menekankan bahwa, seperti juga Muhammad sendiri, Yesus adalah seorang manusia biasa yang sempurna dan bahwa orang Kristen sama sekali telah salah dalam memahami teks-teks suci mereka sendiri. Namun, al-Quran juga mengakui bahwa orang-orang Kristen yang paling setia dan terpelajar—terutama adalah para pendeta dan imam—tidak meyakini ketuhanan Yesus; dari semua hamba Tuhan, merekalah yang paling dekat dengan Muslim (QS. 5:85-86).

Harus dikatakan bahwa beberapa orang Kristen mempunyai pemahaman yang sangat sederhana dari apa yang dimaksud dengan penjelmaan. Ketika para penulis Perjanjian Baru, Paulus, Matius, Markus, dan Lukas menyebut Yesus sebagai “Anak Allah”, mereka tidak memaksudkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka menggunakan istilah itu dalam makna Ibraninya: di dalam Alkitab Ibrani, sebutan tersebut biasa dianugerahkan kepada manusia biasa yang fana, seperti seorang raja, imam, atau nabi—yang telah diberi tugas khusus oleh Allah dan menikmati keakraban yang tidak biasa dengan-Nya. Di seluruh Injilnya, Lukas justru selaras dengan al-Quran, sebab ia secara konsisten menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Bahkan Yohanes, yang memandang Yesus sebagai penjelmaan Firman Allah, membuat suatu pembedaan, sekalipun hanya dalam satu ungkapan yang sangat bagus, antara “Firman” dengan Allah Sendiri—seperti halnya kata-kata kita yang terpisah dari esensi keberadaan kita.

Al-Quran menekankan bahwa semua agama yang benar dan terbimbing berasal dari Allah, dan Muslim diwajibkan untuk mengimani wahyu-wahyu dari setiap kata para utusan Allah: Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri” (QS. 3:84). Dan, Yesus—yang juga disebut Mesiah—Sang Firman dan Roh Kudus—mempunyai status khusus.

Yesus, bagi al-Quran, mempunyai hubungan yang dekat dengan Muhammad, dan telah meramalkan kedatangannya (QS. 61:6), sama seperti para nabi Ibrani yang dipercaya oleh orang Kristen sebagai telah menubuatkan kedatangan Kristus. Al-Quran menolak bahwa Yesus telah disalibkan dan memandang kenaikannya ke surga sebagai pernyataan keberhasilan dari misi kenabiannya. Dengan cara yang serupa, Muhammad suatu ketika secara mistik naik ke Singgasana Tuhan. Di samping Muhammad, Yesus juga akan memainkan suatu peran yang sentral dalam drama eskatologis pada hari akhir.

Selama tiga abad pertama dari Islam, Muslim telah menjalin hubungan yang dekat dengan orang Kristen di Irak, Syiria, Palestina, dan Mesir, dan mulai mengoleksi ratusan riwayat dan perkataan yang berhubungan dengan Yesus; suatu koleksi yang tidak ada bandingannya di dalam agama non-Kristen manapun. Sebagian ajaran tersebut dengan jelas berasal dari Injil—terutama Khotbah di atas Bukit yang sangat populer tetapi ditampilkan dengan gaya Muslim. Yesus digambarkan melakukan ritual haji, membaca al-Quran, dan melakukan sujud dalam doanya.

Dalam riwayat-riwayat yang lain, Yesus mengartikulasikan secara terperinci apa yang menjadi perhatian Muslim. Dia telah menjadi salah satu teladan agung bagi para sufi Muslim, yang mengajarkan hidup sederhana, kerendahan hati, dan kesabaran. Kadang-kadang Yesus memihak satu kelompok dalam sebuah perselisihan teologis atau politis: membariskan dirinya bersama mereka yang mendukung kehendak bebas di dalam perdebatan mengenai takdir; memuji Muslim yang berdamai dengan prinsip politiknya (“Ketika para raja memberikan kebijaksanaan kepada kalian, maka sebaiknya kalian tinggalkan dunia untuk mereka”); atau mengecam para ulama yang melacurkan ajarannya demi keuntungan politis (“Janganlah kamu hidup dari Kitab Tuhan”).

Yesus telah diinternalisasi oleh Muslim sebagai teladan dan inspirasi dalam pencarian spiritual mereka. Muslim Syiah merasa bahwa ada suatu koneksi kuat antara Yesus dengan imam-imam mereka yang menerima ilham, memiliki kelahiran-kelahiran yang ajaib, dan mewarisi pengetahuan propetik dari ibu-ibu mereka. Para Sufi terutama mengabdikan diri mereka kepada Yesus dan menyebutnya sebagai “nabi cinta”. Mistikus ternama Abad ke-12 M, Ibn al-Arabi, menyebut Yesus sebagai “penutup orang-orang kudus”—secara sengaja disandingkan dengan Muhammad sebagai “penutup para nabi”.

Cinta Muslim kepada Yesus adalah contoh yang luar biasa dari cara bagaimana sebuah tradisi dapat diperkaya oleh tradisi yang lain. Ini tidak berarti bahwa orang-orang Kristen harus membayar pujian tersebut. Sementara Muslim mengoleksi riwayat-riwayat mereka mengenai Yesus, sarjana-sarjana Kristen di Eropa justru menghujat Muhammad sebagai seorang pemuja seks dan penipu ulung, yang sangat menyukai kekerasan. Namun, pada hari ini, baik Muslim maupun orang Kristen sama bersalahnya atas sikap fanatik semacam itu dan seringkali juga lebih suka untuk melihat hanya bagian terburuk dari satu sama lain.

Cinta Muslim kepada Yesus menunjukkan bahwa hal itu tidak harus selalu menjadi situasinya. Pada masa lalu, sebelum terjadinya kekacauan politik dari modernitas, Islam selalu mampu melakukan koreksi diri. Tahun ini, pada hari kelahiran Jesus, mereka mungkin dapat bertanya kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka dapat menghidupkan kembali tradisi panjang mereka berkaitan dengan pluralisme dan penghargaan kepada agama-agama yang lain. Ketika merenungi empati Muslim terhadap iman mereka, orang-orang Kristen sebaiknya melihat kembali masa lampau mereka sendiri dan mempertimbangkan apa yang mungkin dapat mereka lakukan untuk membalas rasa hormat ini.[Karen Armstrong, adalah penulis buku The History of God. Artikel ini diterjemahkan oleh Irman Abdurrahman dari harian Inggris the Guardian edisi 23 Desember 2006]

Dua riwayat tersebut dan riwayat-riwayat yang bermakna serupa dapat ditemukan dalam Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Harvard University Press, Cambridge, 2001. 

Source: http://husainku.wordpress.com/2007/12/26/nabi-muslim-lahir-di-bethlehem/

Tanggapan

Salam, ada kabar bagus untuk bangsa Indonesia dan agama-agama dunia. Lihat di http://www.atlan.org
Di situ Prof.Dr. Arysio Santos memaparkan hasil penelitiannya selama 30 tahun, yang menyimpulkan bahwa Benua Atlantis yang Hilang, sbgm Plato katakan, ternyata adalah Indonesia, 11.600 tahun yang lalu, sebelum sebagian besarnya ternggelam, karena bencana Letusan Gunung Karakatau, Toba, Semeru, dll. serta gempa, tsunami raksana dan naiknya air laut sampai 150 meter, akibat mencairnya selubung es di Wilayah Utara dan selatan Bumi. Dan ternyata Peradaban Atlantis di Indonesia itu adalah Peradaban pertama umat manusia, tempat tinggal pertama Nabi Adam dan Hawa (di Sumatra), tempat para leluhur nenek moyang peradaban-peradaban besar lainnya di dunia seperti Mesir, India, Persia/mesopotamia/ babylonia, dan Yunani, bahkan Maya & Aztec di Amerika.
Coba deh baca dan teliti dengan seksama, kamu akan dapatkan bahan yang sangat berharga untuk Dialog Antar Agama.

@ahmad smantho: masak sih, jadi penasaran. cek dulu ah

jangan kau tipu kami umat islam, kami mencintai Nabi Isa tapi dia itu bukan Tuhan, Tapi Allah SWT menunjukkan kekuasaannNYa dengan menghidupkan seorang hamba tanpa ayah, itu yang kami percayai, jangan tipu kami wahai kalian orang orientalis dengan blog kampungan ini

Apapun yang anda lakukan mudah-mudahan demi kemaslahatan umat, dan semoga tidak membuat penafisiran sendiri karena terkadang akal tidak selamanya dapat menerima segala sesuatu dengan benar. Mudah-mudahan selalu mendapat petunjuk jalan yang lurus.

Banyak-banyaklah belajar tentang Islam…agar lebih jernih memandangnya…salam kenal

mas.
jujur nih ya.
mata saya sakit mbaca tulisan di atas..
tulisan sepanjang itu hanrusnya dibagi dalam beberapa paragraf agar lebih mudah dilihat dan dibaca..
tulisannya bagus..
:-)

test

Salam kenal pak,
terimaksih atas artikelnya yang menarik

Ingat juga pak, yang namanya Bethlehem itu hanya sekedar plesetan bahasa barat. Aslinya nama itu adalah Baitul Laham yang artinya rumah daging. Jadi memang Baitul Laham itu sejak dulu adalah daerah muslim. Wajar jika nabi lahir disana. Nabi Isa pun memang nabinya orang muslim. Belum beriman seseorang jika ia tidak beriman kepada nabi-nabi Allah. Termasuk nabi Isa yang lahir di Baitul laham. Sekarang mengapa umat muslim tidak patuh kepada nabi Isa? Karena sekarang bukan jamannya dia. Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad. Itulah yang harus diikuti. Tks.

try to learn more about ISlam. then u will find the way out to the whole world. Islam doesnt means that u must to explain anything about its teaching. the truth is u must to believe that Allah is one and Muhammed is the messenger of Allah. thank u

mungkin perlu ada referensi yang dapat dipercaya..
dan siapa yesus.. di Al-Qur’an gak ada nama yesus..

bohong tuh. dah jelas nabi kita yang terakhir nabi muhammad saw, tertera dalam al-quran kita umat muslim

ada tanggapan pada blog saya mengenai yesus dalam versi alkitab biar gak ada salah paham dan memojokkan anda. dan saya rasa banyak para pembaca blog hanya membaca sekilas. dan saya tau tulisan ini juga bukanlah hasil riset anda. jadi, supaya dapat mempertanggunjawabkannya dan memberikan informasi ini. mungkin tujuan anda adalah untuk membuat dan menghilangkan batasan namun banyak orang yang tidak paham akan hal itu.

baca tanggapan di http://satyasembiring.wordpress.com/2008/02/05/nabi-muslim-lahir-di-betlehem-tangapan/

cerita ngawur

atau analisis sangat ngawur, tidak bisa dipertanggung jawabkan (jawab bisa nanggung gak bisa)

Nama Yesus dari bahasa Yunani yaitu Iesus, yang mana merupakan nama Yunani untuk “Isa”, dalam Al Qur’an tentu tidak ada, karena Al Qur’an tidak ditulis dalam bahasa Yunani.

Kesalahpahaman ini muncul karena rekayasa Romawi yang hendak menguasai Eropa dengan menyodorkan produk baru yaitu agama.

Ajaran Nabi Isa ini direkayasa Romawi dengan dicampurkan dengan kepercayaan Romawi dan Paganisme, sehingga agama Kristiani yang saat ini ada di dunia bisa dibilang malah masih jauh dari ajaran Nabi Isa atau Yesus yang sebenarnya, karena Romawi sudah merombak habis2an.

Istilah “Putera Allah” adalah kepercayaan Romawi/Yunani di mana dewa2nya bisa punya anak, seperti Hellios punya anak.. atau dewi anu punya anak dst.

Saya sendiri kebetulan beragama Katolik, dan saya lebih percaya kepada ajaran Yesus yang asli ketimbang versi Romawi yang beredar saat ini di mana isi injilnya hanya memuat 10% kata2 yang benar2 keluar dari ajaran Nabi Isa sendiri. 90% lainnya dikemanakan wahai Romawi? hehehe..

Vatikan sendiri sebetulnya sudah mengakui hal ini. Secara rahasia, Vatikan pada era Paus Yohannes Paulus II sudah sering mengadakan pertemuan dengan Ulama Besar Arab dan Afrika dan secara tak resmi Vatikan mengakui bahwa kata2 Yesus yang berbunyi sbb, “Akan datang Dia yang bernama Ahmad (Muhammad SAW) 600 tahun lagi setelah Aku. Belajarlah kepadaNya apa yang Aku belum ajarkan kepadamu?” dihapus oleh Romawi, sedangkan temuan Injil dalam bahasa Koptik di Mesir masih memuat kata2 Nabi Isa tersebut.

Coba kita pelajari sejarah dengan benar terutama tentang laju ekonomi dan politik Romawi hingga jaman Dark Ages di Eropa. Jika kita memahaminya, maka (maaf) kita bisa dengan hati lapang mengakui bahwa ajaran Kristen dan Katolik yang beredar masa kini sudah jauh dari ajaran Yesus sendiri melainkan lebih dekat ke budaya dan kepercayaan Romawi kuno.

Banyak yang beranggapan bahwa Vatikan juga mengetahui hal ini, namun tidak bisa mengumumkan secara resmi. Jika diumumkan resmi, maka ada berapa ratus juta orang yang kehilangan pegangannya karena tidak siap. Vatikan lebih suka membiarkan masing2 umatnya melihat kebenaran sendiri dengan mata dan hatinya bahwasanya memang benar bahwa Yesus atau Nabi Isa datang ke dunia untuk menyiapkan kita menyambut Islam, namun di tengah jalan Romawi mengacaukannya.

to : Lukas

Sy tertarik dgn ulasan saudara. Tapi kalo berkenan, mohon dicantumkan juga referensi saudara, krn saya pun pernah membaca ulasan2 seperti ini, tapi tidak didukung oleh fakta2 yang dapat menguatkan sehingga terkesan ini hanyalah opini/asumsi belaka. Jadi mohon disertakan referensinya. Makasih sebelumnya.
Salam damai

Referensi:

Buku karangan Maurice Bucaille
Judul: The Bible, The Qur’an and Science

Maurice adalah seorang profesor Katolik yang mempelajari Sastra Arab hingga 10 tahun, kemudian ia membaca Qur’an selama 2-3 tahun selanjutnya, kemudian ia menulis buku tersebut dan memeluk Islam

Referensi lainnya saya ambil dari sejarah Romawi, sejarah Yunani (Greek City States), sejarah Dark Ages (semuanya dari Osprey Publishing) lalu ada referensi lain dari Sejarah Soviet, Sejarah WW2, Hitler’s Pope (ada di Gramedia) dan beberapa lainnya dari National Geographic

Dalam membaca buku, saya baca dari 3 sudut pandang berbeda, yaitu yang pro, yang kontra, dan yang netral.. dari situ saya bisa mereka-reka “benang merah”nya..

Ulasan saya jangan dianggap 100% tepat, mohon dikoreksi kalau ada yang tidak benar

Ceritanya banyak rekayasa…capeee dehhh

Aku Nhias dari TORAJA, yakinilah agama yang anda anggap benar misalnya agam ISLAM yakinilah agama itu tetapi jangan menghujat agama lain seperti agama kami (KRISTEN) karena bagaimanapun dan apapun yang akan terjadi kami akan tetap percaya kepada KRISTUS YESUS

Leave a response

Your response:

Kategori