Oleh: maulanusantara | Mei 28, 2008

Dialog Peradaban dan Globalisasi Spiritualisme

Dialog peradaban adalah kemestian ketika globalisasi juga menyatukan spiritualitas masyarakat dunia. Ia harus merekatkan antara klaim merasa benar sendiri yaitu bahwa kita sendiri yang merepresentasikan nilai-nilai demokrasi dan menghormati kebebasan individu, dengan klaim masa lalu dan kurang terlibat secara kreatif memikirkan isu-isu yang kita hadapi saat ini. Dialog yang diperlukan hari ini bukanlah tentang pembagian wilayah iman dan kekafiran melainkan antara orang-orang yang berdiri di sisi kemanusiaan sejati dan orang-orang yang berada dalam Jahiliyah murni hari ini. Di akhir tulisan penulis mengharapkan, akan muncul Islam yang mengejawantahkan kesucian dan fleksibilitas, tanggung jawab, keadilan dan kasih sayang, menggantikan imaji sistem yang berat, legalistik, dan tidak toleran.

DUNIA Gonjang-ganjing

Seluruh dunia kita saat ini sedang gonjang-ganjing, sedang keluar dari keseimbangan: baik secara ekologi, ekonomi, sosial dan spiritual. Padahal kita adalah satu umat manusia.

Ada banyak ramalan yang menyebutkan bahwa kita sedang berada pada titik krisis global. Di samping itu, ada berbagai suara dari para penduduk dunia, dan terutama di Benua Amerika Utara saya sendiri, sedang berusaha menyeru perhatian kita kepada sebuah kebenaran yang tidak terelakkan: dunia sedang berada dalam ketidakseimbangan yang tidak pernah dialami sebelumnya dalam sejarah manusia. Bukan hanya umat daratan, tetapi umat langit dan laut menderita dan sekarat karena berbagai ketidakseimbangan ini. Kita benar-benar telah melupakan kesucian kehidupan dan kita sekarang telah terjerat di dalam kehidupan egoistik, nasionalistik kita dan bahkan terjerumus dalam ikatan-ikatan sektarian.

Izinkan saya untuk menyebutkan beberapa isu yang sedang kita hadapi:

Globalisasi budaya konsumerisme dan nilai-nilai komersial secara luas menggantikan nilai-nilai spiritual tradisional. Semakin lama, dunia semakin dikuasai oleh sistem kapital finansial yang meluaskan dirinya bagi keuntungan-keuntungan singkat para elit tertentu. Hasil akhirnya adalah seperti kanker yang memakan sistem tempat semua kehidupan yang bergantung kepadanya. Dampak kehancuran sosial dan derita ekologis sangat nyata bagi semua orang.

Orang-orang kaya itu ada yang tidak peka atau malah senang dengan kesalahan. Orang-orang miskin bahkan mencoba lebih keras untuk mendapatkannya dalam etika materialistik atau mereka bergantung kepada berbagai macam ekstrimisme. Bahkan dalam tingkat tertentu, bangsa-bangsa miskin menjadi budak dari sebuah industri senjata internasional, sementara negara adikuasa masih memandang perlu menghabiskan banyak dana untuk senjata ketika bagian dunia lain digabungkan.

Tampaknya, pemerintahan-pemerintahan dunia ini tidak berjalan pada level keadilan yang sangat tinggi. Bagi saya, kadang rata-rata orang memiliki lebih banyak rasa keadilan dan moralitas daripada pemerintah mereka, dan sebagian besar orang baik mereka ditipu oleh kebenaran semu atau ditipu oleh apa yang dilakukan oleh pemerintah mereka atas nama mereka. Saya menyakinkan kepada Anda bahwa hal ini terjadi di Amerika Serikat. Pelaksanaan kebijakan-kebijakan kekuasaan terlihat hanya satu arah baik dalam televisi atau surat kabar; pada landasan dan pada realitas kejelekan yang mengerikan dan penderitaan yang menakutkan yang tidak bisa dihindari.

Secara berkala, kita menyaksikan satu fenomena yang sangat aneh di antara sesama kita. Tampaknya, secara regular kita perlu masuk secara bersama ke dalam sebuah periode tanpa hati untuk saling membunuh di antara kita. Semua pembunuhan ini dimotivasi oleh ketakutan-ketakutan irasional dan dorongan-dorongan ketidaksadaran yang kita kenakan dalam pakaian ideologi fantasi.

Manusia, yang diberikan oleh alam 2000 cc otak, adalah seperti mahasiswa kekanak-kanakan yang tinggal serumah dengan seekor sapi jantan dan buaya. Sapi jantan adalah kehidupan emosional kita; dan buaya adalah insting kita. Sayangnya, tak ada seorang pun yang mengajarkan kepada mahasiswa ini bagaimana berkomunikasi dengan yang lain. Suasana di dalam rumah ini sangat tidak nyaman dan chaos karena ketiganya mencoba hidup bersama. Bayangkan ada jutaan orang seperti ini hidup bersama, maka kita akan memiliki situasi yang sangat tidak stabil.

Kita di sini mencoba mempertimbangkan kemungkinan dialog antara Islam dan masyarakat-masyarakat lain, dan sejuah ini masyarakat-masyarakat kita berada di dalam ketidakseimbangan. Bukan sebuah pertanyaan sederhana mengenai Islam dan Barat, iman lawan materialisme. Kami benar-benar memahami bahwa hal ini sangat rumit daripada sekadar itu.

Ada dialog antar pemerintah, yang jarang mewakili elemen-elemen terbaik masyarakat kita, dan ada kemungkinan dialog di antara pikiran-pikiran terbaik di dalam masyarakat kita. Pada yang terakhir, kita bisa meletakkan beberapa harapan kita.

Meski sulit, dialog telah dimulai sampai beberapa tingkatan yang signifikan, atau kalaupun itu sudah diniatkan, itu disulitkan dengan fakta-fakta politis yang menghalangi tempat kita meletakkan landasan bersama kita. Tetapi kita tidak bisa memiliki dialog yang efektif kecuali kita bisa mengidentifikasi tujuan-tujuan dan nilai-nilai bersama kita. Pada titik ini, salah paham sangat besar. Apakah kita ini Muslim, Hindu, Kristen atau Yahudi, apakah kita ini orang Amerika, Eropa, Rusia, Iran, Pakistan, Saudi, India dan Cina: tangan-tangan kita kotor.

Di pihak Barat, ada kejahilan umum mengenai budaya dan ajaran-ajaran Islam, dan terkadang merasa benar sendiri yaitu bahwa kita sendiri yang merepresentasikan nilai-nilai demokrasi dan menghormati kebebasan individu. Di pihak Islam, mereka masih dikuasai oleh masa lalu dan kurang terlibat secara kreatif memikirkan isu-isu yang kita hadapi saat ini.

Dialog belum dimulai karena pemikir terbaik dunia Islam sudah meninggal pada masa lalu, dan pikiran-pikiran terbaik saat ini seringkali dikuasai dengan konfrontasi permusuhan terhadap ide-ide segar. Energi-energi mereka terserap dalam perlawanan dengan kekuatan-kekuatan regresif di dalam masyarakat mereka sendiri, sementara intelektual-intelektual Muslim di Barat cenderung perhatian dengan ikatan-ikatan etnis dan parokial.

Sekilas pandang dunia Muslim hari ini terkait tanda-tanda intelektual dan keterlibatan spiritual, di manakah tanda-tanda kehidupan? Pada saat dunia sedang mengalami ledakan pengetahuan dan sedang menghadapi perubahan-perubahan belum pernah terjadi sebelumnya pada skala global, siapakah di Dunia Islam yang bisa menawarkan kepemimpinan spiritual dan intelektual? Di manakah kepemimpinan intelektual dan spiritual di hadapan bencana lingkungan, pelucutan senjata, dan hak-hak asasi manusia? Di manakah kontribusi artistik dan budaya seniman-seniman Islam saat ini? Jika Rumi adalah salah seorang penulis yang terkenal di Amerika, di manakah Rumi saat ini?

Dialog yang diperlukan hari ini bukanlah terutama antara Islam dan Barat, yang di dalamnya Islam merepresentasikan iman dan Barat merepresentasikan kekafiran. Tetapi ini adalah antara orang-orang yang berdiri di sisi kemanusiaan sejati dan orang-orang yang berada dalam Jahiliyah murni hari ini.

Kami akan menyebutkan Jahiliyah hari ini: Pertama, Jahiliyah besar adalah kepercayaan bahwa kekerasan bisa menyelesaikan masalah, apakah melalui taktik menakuti-nakuti oleh kekuasan nasional atau pun melalui taktik teror yang menjustifikasi pembunuhan non-combatan (sipil). Orang-orang ini tidak memahami bahwa kekerasan tanpa dasar, yang merupakan kekerasan mayoritas saat ini, adalah lingkaran menurun yang membawa kita dari cahaya kepada kegelapan. Lebih daripada itu, setan selalu siap menyetir dorongan-dorongan jahat yang ada di dalam hati orang-orang, terlepas dari mereka menyebut diri mereka sendiri. Ada orang-orang dari setiap iman, di dalam setiap bangsa yang terlalu cepat menyuruh anak-anak muda untuk membunuh dan akhirnya mereka mati.

Kedua, Jahiliyah hari ini meletakkan uang di atas nilai-nilai kemanusiaan. Jahiliyah ini mempromosikan cara hidup pasar dan merendahkan sebagian besar aspek kehidupan kepada permintaan-permintaan pasar. Kesuksesan diukur dari kesuksesan di dalam pasar. Bahkan agama diwarnai dengan pasar.

Ini adalah huru-hura penimbunan, takatsur, yang mengotori jiwa manusia. Huru-hara menuju materialisme ini terjadi di Timur dan di Timur Tengah meski tidak sesukses yang terjadi di Barat. Sementara di Barat sudah ada kekecewaan di dalamnya, saat ada sejumlah persen orang yang cukup banyak beralih dari konsumerisme dan materialisme kepada kesederhanaan dan nilai-nilai manusiawi. Obat bagi takatsur ini adalah irfan, atau tasawuf, yang saya maksud adalah ‘ilm, atau penyucian diri, yaitu, pengetahuan operatif bagi pendidikan jiwa.

Ketiga, Jahiliyah hari ini adalah perusakan struktur hidup itu sendiri, karena kita memiliki di dalam daya kita kekuatan untuk mengonsumsi lingkungan yang menjaga kita seperti yang dilakukan kanker yang memakan tempat hidupnya. Daya-daya yang mendukung kanker ini berkembang termasuk institusi perusahaan globalisasi yang tidak demokratis dan raksasa, seperti IMF dan Bank Dunia, yang merepresentasikan tidak adanya republik yang berdaulat dan tradisi suci, tetapi hanya ada kekuatan-kekuatan dari elit yang rakus dan berkuasa.

Ada gerakan-gerakan di dunia ini yang mulai menghadapi daya dari kekuatan-kekuatan ini dan kekuatan sistem finansial internasional. Islam memiliki alasan rasional bagi bagaimana dan kenapa kesejahteraan harus melayani kebutuhan-kebutuhan manusia dan tidak hanya sekadar perkembangbiakan kapital.

Arogansi Muslim

Kaum Muslim harus sudah mulai melepaskan diri mereka dari segala bentuk spiritualitas reaksioner yang fitur-fiturnya adalah tidak toleran, literalisme, perlunya mengontrol dan membatasi pemikiran dan ekspresi kreatif. Spiritualitas reaksioner seringkali mengklaim bagi kelompok tertentu hak ekslusif untuk menafsirkan kebenaran. Al-Quran, sebaliknya, sepanjang yang saya ketahui, tidak menyerahkan satu monopoli pada kebenaran kepada otoritas manusia mana pun.

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS. al-Maidah [5]: 48)

Kaum Muslim harus sadar bahaya-bahaya dari penyederhanaan berlebih-lebihan yang akan menjerumuskan kepada pembenaran diri sendiri dan penyepelean orang lain.

Kaum Muslim juga sudah gagal dalam beberapa abad belakangan ini ketika mereka mengasumsikan sikap arogan sebagai sebuah minoritas korban, yaitu “kita melawan mereka.” Komunitas masyarakat Islam yang lebih luas, umat, bisa dan harus mengasumsikan posisi tepatnya sebagai yang dewasa, dermawan, dan penuh kasih kepada semua manusia, semua anak Adam.

Kita bisa mengatakan kepada jiwa-jiwa yang sakit ini yang terjerumus ke dalam ideologi al-Qaidah, misalnya, bahwa Islam berarti damai dan kasih-sayang. Islam mengajak kita ke surga, kepada peradaban surga. Islam sejati adalah sebuah keadaan, sebuah hal, sebuah portal kasih-sayang Allah. Orang-orang yang memerangi orang yang tidak pernah memerangi mereka adalah penghuni neraka yang sebenarnya, bukan penghuni surga.

Dialog yang mendesak mungkin bukan merupakan dialog antara Islam dan Barat, secara umum, tetapi antara elemen-elemen di dalam masing-masing peradaban yang bisa membangkitkan kembali ideal-ideal peradaban tertinggi masing-masing mereka. Ada sejumlah besar orang di Barat yang akan siap bekerjasama dengan tujuan-tujuan manusiawi, progresif, dan spiritual Islam jika mereka disambut sebagai partner. Konflik terjadi ketika kedua belah pihak melupakan bahwasanya kesabaran, keberanian, dan keagungan terletak dalam jantung peradaban sejati, sementara reaksi, ketakutan, dan keakuan merupakan motivasi manusia yang terendah.

Basis dialog

Pada basis apakah dialog antar peradaban bisa terjadi? Dari perspektif Islam, kita bisa bergandeng tangan dengan semua kelompok iman, sesama Mukmin. Rumi mengatakan, “Ketika kepercayaan berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain, iman pada hakikatnya adalah sama.”

Jika kita melihat kepada akar ide-ide dan nilai-nilai dari peradaban utama, dalam banyak kasus, kita mendapatkan bahwa mereka berdasarkan kepada ide korespondensi di antara ranah manusia dan ranah spiritual. Kristianitas mengekspresikannya dengan menyatakan bahwa manusia diciptakan sebagai citra Tuhan. Islam mengakui bahwa manusia adalah khalifah; kewilayahan dan perwalian ranah manusia.

Republik Amerika, juga dibangun di atas prinsip-prinsip spiritual: “Kami menyakini kebenaran ini sebagai swabukti, bahwa semua manusia diberkahi oleh Penciptanya berbagai hak absolut, dan di antaranya adalah hak hidup, merdeka, dan meraih kebahagiaan.”

Thomas Jefferson, yang menulis kata-kata ini, adalah seorang yang berpikiran terbuka, manusia yang berkesadaran spiritual yang meyakini teologi sederhana yang sejalan dengan apa yang kita sebut dengan Islam. Kenyataannya, dia melakukan hal yang aneh, bagi masa dan budayanya, yaitu bahwa dia bangun pagi dan mencuci tangan, muka dan kakinya dengan air dingin dan segar —kegiatan yang mungkin ia pelajari dari para budak Afrika.

Sebagaimana kaum Muslim akan merujuk kepada al-Quran ketika mereka merasa teraniaya, rakyat Amerika akan merujuk kepada konstitusi mereka dan Bill of Rights yang mengekspresikan pandangan berkah kemuliaan Ilahiah yang diberikan kepada manusia. Sayangnya, pada saat ini kedua dokumen ini diabaikan, didistorsi, dan dalam beberapa kasus, dicampakkan oleh beberapa orang yang mengklaim memiliki otoritas.

Penawar Islamophobia

Kaum Muslim di luar Barat tampaknya memiliki sedikit kesadaran terhadap sejenis ketakutan-ketakutan yang dimiliki kaum non-Muslim terhadap Islam, mereka memiliki sedikit pemahaman mengenai pertanyaan penting bahwa orang-orang Barat sedang bertanya tentang Islam. Saatnya sekarang bagi kaum Muslim, terutama di Barat, untuk mengklarifikasi nilai-nilai dan iman yang mereka yakini di wilayah-wilyah kritis tertentu.

Apakah hubungan mereka dengan iman-iman yang lain? Apakah Islam menoleransi agama-agama lain ketika berkuasa? Apakah ada basis pluralisme agama di dalam ajaran islam?

Bagaimanakah ajaran Islam terkait posisi wanita? Apakah mereka adalah warga kelas dua dalam hukum Islam? Apakah mereka harus berada di bawah dominasi pria? Apakah mereka memiliki hak yang kurang dibandingkan dengan pria?

Apakah Islam mengakui kebebasan berpikir, berekpresi dan berkesadaran serta perbedaan pendapat? Apakah batas kebebasan beragama? Mengapa ada orang yang mengajukan hukuman mati ketika ada seorang Muslim yang berpindah agama?

Apakah Islam membolehkan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik? Apakah yang dimaksud dengan kafir? Apakah al-Quran mengizinkan membunuh orang kafir?

Bisakah Islam bekerjasama dengan demokrasi sekular atau apakah dunia seharusnya melawan kehendak Islam untuk mendomisi dunia?

Saya percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab sedemikian rupa yang akan menyebabkan pikiran-pikiran dan hati-hati dunia non-Muslim akan menemukan hubungan positif dengan Islam. Tetapi saya belum melihat ada presentasi yang relatif jelas dan singkat yang meliputi masalah-masalah ini. Kaum Muslim telah gagal mempresentasikan Islam dalam dimensi manusiawi dan universalnya dan mereka terlalu sering mempresentasikannya dalam sistem yang berat, legalistik, dan tidak toleran.

Kaum Muslim juga belum mengambil sikap yang jelas melawan distorsi terhadap Islam dan ketidakadilan atas nama Islam. Sementara kaum Taliban telah membunuh kaum Muslim Syi’ah lebih banyak daripada pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina. Imam lokal di sini, di California, mengumumkan, setelah beberapa bulan setelah peristiwa pengeboman WTC di New York 11 September 2001, bahwa Taliban dianggap sebagai “Muslim Hanafi Biasa” oleh sekelompok pencari fakta yang berangkat ke Afganistan.

Kita harus menunjukkan bahwa kita bisa menyembuhkan tubuh umat dari penyakit-penyakit tidak toleran, penindasan gender, dan terorisme; kita harus menunjukkan bahwa Islam adalah masyarakat yang terbuka dan toleran dalam sebuah kerangka moral universal yang dikemukakan di dalam al-Quran.

Lebih jauh, Islam mungkin bisa menawarkan pandangannya bagi beberapa masalah krisis kemanusiaan yang dihadapi saat ini:

Bagaimana Islam bisa menggarisbawahi krisis lingkungan? Al-Quran menawarkan kritik radikal terhadap tendensi-tendensi manusia yang telah mengarahkan manusia hari ini kepada krisis lingkungan. Kita perlu mengekspresikan sebuah wawasan lingkungan Islam yang jelas dan rasional.

Bagaimana Islam menngarisbawahi daya dari kapital yang tidak terkendali? Dari semula Islam menawarkan sebuah kritik yang jelas terhadap penyalahgunaan kapital. Al-Quran menunjukkan jalan kepada sebuah tatanan ekonomi yang adil. Tetapi hari ini, banyak orang berpikir bahwa sistem ekonomi Islam mustahil diterapkan dalam dunia saat ini. Mereka membayangkan, misalnya bahwa ia akan melarang pegadaian.

Haruskah ada kritik Islam atas industri senjata yang telah memakan sumber-sumber dan bakat dunia? Mengapa kita tidak mendengar lebih banyak gerakan perdamaian Islam dan strategi-strategi non-kekerasan Islam. Ya, saya mengetahui ada muncul cahaya di sana sini, tetapi Islam tetap diasosiasikan dengan pelegalan pembunuhan tehadap rakyat sipil yang tidak bersalah.

Di bawah Islam, al-Quran bahkan tidak akan terbayangkan membunuh tanpa pandang bulu atau membunuh dengan senjata. Karena itu, Islam melarang menggunakan semua perlatan perang modern. Kaum Muslim harus bersatu dengan kekuatan-kekuatan perdamaian dan keadilan pada masyarakat-masyarakat lain dan melampui semua batasan-batasan sehingga bisa sampai kepada hati-hati manusia yang ikhlas yang siap untuk mengakui bahwa semua manusia adalah manunggal.

Saya yakin bahwa semua jawaban ini akan mulai menyebabkan perubahan paradigma terhadap Islam dan membantunya menjadi daya vital bagi transformasi masyrakat. Kaum Muslim harus meletakkan iman dan pengetahuan mereka untuk pelayanan kepada kemanusiaan, bergabung dengan kelompok mana pun yang bekerja untuk tujuan-tujuan yang sama. Dengan kata lain, mereka akan mulai menunjukkan bahwa Islam melayani kemanusiaan, bukan hanya kepentingan dari orang-orang yang secara nominal adalah Islam.

Karena Islam harus menempati tempatnya sebagai masyarakat ‘tengah’ atau ‘optimal’ yang bergabung dengan semua yang baik. Islam harus mengibarkan bendera kasih-sayang, agar semua orang bisa melihatnya.

Saya juga sangat berkeinginan melihat negara saya sendiri kembali kepada prinsip-prinsip esensial yang menginspirasi para pendiri republik agung ini, yang dibangun di atas dasar takwa, dan yang mengakui bahwa manusia memiliki ‘hak absolut’ karena mereka diciptakan di dalam citra Tuhan.

Ancaman terbesar kepada perdamaian dunia dan kepada lingkungan adalah bukan nilai-nilai Barat. Konsumerisme, materialisme keduanya bukan nilai-nilai tradisional Barat; keduanya adalah penguasaan dunia, keduniaan yang dibesarkan oleh bentuk-bentuk mahadahsyat teknologi. Barat telah melewati jauh di depan menyusuri jalan konsumerisme, materialisme dan budaya pop yang memenuhi dorongan-dorongan terendah manusia. Tetapi masyarakat Timur dan Timur Tengah secara cepat terjerumus menjadi mangsa penyakit yang sama dan tampaknya tidak memiliki daya tahan terhadap penyakit ini daripada beberapa persen penduduk Eropa dan Amerika Utara. Banyak orang di Barat sekarang menjadi tidak tertarik dengan apa yang ditawarkan budaya konsumerisme, dan sekarang sudah sadar kembali.

Sementara itu, banyak negara Islam telah kehilangan arah dan menjadi tidak fleksibel, terjerumus ke dalam pola-pola baku pemikiran dan tidak mengenal secara tepat problem-problem hari ini. Kaum muda melihat Islam semakin lama semakin tidak menarik, karena Islam sendiri sudah kehilangan kontak dengan sumbernya. Manusia membutuhkan sebuah penghubung hidup bagi kehadiran Tuhan, bukan kontrak legal yang jika mereka gagal akan mengirimkan mereka kepada neraka selamanya.

Hampir setiapkali saya pergi ke masjid di kota saya, saya mendengar khotbah sama yang menjemukan mengenai dosa dan hukuman di neraka. Apakah ini Islam? Atau, apakah Islam adalah sebuah keadaan, mengenai kesadaran hubungan dengan Tuhan? Setiap kali kesadaran saya atau pemahaman moral saya berkembang atau menjadi dewasa, saya akan kembali kepada al-Quran dan saya akan menemukan kebenaran di suatu tempat di halaman-halaman dalam kata-kata yang sebelumnya saya tidak pahami. Apakah kemanusiaan saat ini lebih siap bagi pesan sejati Islam daripada berabad-abad sebelumnya. Dan jika ya, adakah seseorang di luar sana yang bisa mengkomunikasikannya?

Spiritualitas Terapan

Kita memerlukan beberapa jenis Institut Islam bagi Spiritualitas Terapan. Kita perlu menerapkan kebijaksaan Islam terdalam bagi masalah-masalah kontemporer. Kita harus menggalang kerjasama di antara para praktisi spiritual, para cendekia, aktivis sosial, penulis-penulis populer, para pembuat film, dan para musisi. Pondasi bagi semua ini harus termasuk juga penyucian hati dan transformasi diri. Ada banyak kebijakan praktis yang telah dimarjinalkan dan disudutkan oleh kaum modernis, juga oleh kaum literalis dan fundamentalis.

Islam bukan Islam jika tidak mentransformasikan manusia. Transformasi yang kita perlukan bukan hanya sekadar kecocokan perilaku, tetapi transformasi mendalam dari kehendak manusia: taslim dinamis. Kita memerlukan pendidikan jiwa yang akan mengembangkan manusia yang memiliki kapasitas sejati bagi niat suci, takwa, dan selalu ingat kepada Allah. Bahkan bisa dibayangkan, ilmu ini bisa digunakan oleh semua manusia terlepas dari agama formal yang mereka peluk. Kebenaran adalah kebenaran. Sesuatu tidak akan menjadi Islam hanya karena ada kata Islam ditambahkan kepadanya.

Islam bukanlah nama merek. Islam adalah segala yang sesuai dengan realitas. Islam bukanlah identitas, atau sebuah kartu anggota klub; ini adalah hal, keadaan seseorang yang menyerahkan diri kepada Kebenaran. Sebanyak mungkin dia harus mengejawantahkan kesucian dan fleksibilitas, tanggung jawab, keadilan dan kasih sayang. Dialog antar peradaban sejati akan mulai berjalan apabila kaum Muslim dengan pemahaman spiritual sejati menempatkan diri mereka di dalam hati semua manusia. Dalam beberapa kasus mereka akan memberi instruksi; dalam kasus lain lagi mereka harus belajar, terutama dari beberapa orang Barat tertentu yang telah secara mendalam terlibat dalam masalah-masalah ekologi, anti-kekerasan, kesederajatan gender. Orang Barat sudah lama hidup dengan beberapa penyakit kontemporer seperti materialisme, konsumerisme, dan depersonalisasi, dan mereka mampu menawarkan beberapa penawarnya.

Empat belas abad yang lalu pada permulaan era Islam sejumlah besar kemanusiaan menjadi terwarnai secara spiritual oleh sebuah kekuatan moral dan spiritual yang menciptakan sebuah budaya baru. Tetapi tampak jelas sekarang, peradaban itu mengalami penurunan dalam banyak aspek. Apa yang bisa kita selamatkan sekarang? Masalah-masalah yang sedang kita hadapi hari ini tidak bisa diatasi oleh apa pun kecuali oleh revolusi kesadaran yang sama dengan yang terjadi empat belas abad yang lalu. Mudah-mudahan revolusi kesadaran ini, globalisasi spirit ini, merupakan hasil dari konvergensi dari semua umat manusia.

Spiritualitas mewujudkan konteks yang mungkin terluas. Pengetahuan bukan pengetahuan jika dia bukan pengetahuan mengenai Semesta. Kebijaksanaan adalah bukan kebijaksanaan jika dia mengecualikan dan membagi. Islam yang saya percaya adalah agama Semesta, penyerahan diri alam itu sendiri, dari seluruh alam (alamin), alam semesta. Hari ini kita perlu, Islam yang mahakasih dan maha meliputi, yang tidak membagi, tetapi menyatukan.

Sains modern telah membawa kita kepada satu titik tempat kita harus mengakui bahwa semua eksistensi melayang di atas sebuah dimensi energi manunggal, lautan non-eksistensi, sains mengatakan itu adalah “Zero Point Field.” Pondasi eksistensi adalah manunggal; di sana hanya ada Keesaan, dan segala sesuatu yang tampak ada secara terpisah hanyalah sekadar modulasi dari Yang Esa itu.

Kehakikian hubungan manusia kepada yang Ilahi, yang bersifat timbal-balik, cinta yang saling berbalas, adalah sebuah hakikat kebenaran yang tidak akan pernah menjadi usang atau dikalahkan oleh kebenaran yang lebih rendah. Tidak akan ada tatanan sosial manusia yang bisa menjadi komplit atau sederajat jika dia kehilangan Pusat Ilahinya. Jika kita mengakui dan setuju dengan Kebenaran ini, maka kita harus mengulang perjalanan kita dari Yang Esa ini, melawan semua kesulitan yang menghalangi kesedarajatan manusia, bahkan kita harus mewujudkan kerendahhatian, penghambaan, kesabaran, dan kasih-sayang yang merupakan bukti kita mengingat Allah. Apa yang Islam telah tawarkan, yang terbaiknya, adalah kebenaran metafisik yang dalam dan jelas yang menempatkan Keesaan Tuhan pada pusat kesadaran. Dalam syair Rumi dikatakan:

Hatimu adalah muridmu

Karena cinta satu-satunya jalan kita belajar

Malam tidak punya pilihan kecuali merengkuh kaki siang

Seolah-olah aku melihat Wajah-Mu kemana pun akau berpaling

Seolah-olah sinar Cinta-Mu tidak akan pernah berhenti bersinar

Bagi sebuah lampu yang membakar.[]

Dialihbahasakan oleh Salman Parisi dari artikel Kabir Helminski, “The Dialog of Civilizations and The Globalization of Spirit” dalam http://www.sufism.org

About these ads

Responses

  1. [...] Dialog Peradaban dan Globalisasi Spiritualisme « Maula [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: