Oleh: maulanusantara | Oktober 27, 2008

Sejarah Gedung Sumpah Pemuda

Menurut catatan yang ada, Museum Sumpah Pemuda pada awalnya adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung didirikan pada permulaan abad ke-20. Sejak 1908 Gedung Kramat disewa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechtsschool) sebagai tempat tinggal dan belajar. Saat itu dikenal dengan nama Commensalen Huis. Mahasiswa yang pernah tinggal adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana

Sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan. Bung Karno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir di Gedung Kramat 106 untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni Gedung Kramat 106. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, PPPI. Gedung ini juga menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI. Mengingat digunakan berbagai organisasi, maka sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan).

Pada 15 Agustus 1928, di gedung ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Soegondo Djojopuspito, ketua PPPI, terpilih sebagai ketua kongres. Kalau pada Kongres Pemuda Pertama telah berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia, Kongres Pemuda Kedua diharapkan akan menghasilkan keputusan yang lebih maju. Di gedung ini memang dihasilkan keputusan yang lebih maju, yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda.

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak penghuninya yang meninggalkan gedung Indonesische Clubgebouw karena sudah lulus belajar. Setelah para pelajar tidak melanjutkan sewanya pada tahun 1934, gedung kemudian disewakan kepada Pang Tjem Jam selama tahun 1934 – 1937. Pang Tjem Jam menggunakan gedung itu sebagai rumah tinggal. Kemudian pada tahun 1937 – 1951 gedung ini disewa Loh Jing Tjoe yang menggunakannya sebagai toko bunga (1937-1948) dan hotel Hersia (1948-1951). Pada tahun 1951 – 1970, Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawannya.[]

Source: http://www.museumsumpahpemuda.go.id/Sejarah_gdg.htm

About these ads

Responses

  1. Wah sekarang pas hari Sumpah Pemuda ya….
    Ayo bangkit pemuda & pemudi Indonesia…!!!!

    • setuju…
      Ayo pemuda indonesia…

      • setuju mari indonesia bangun semangat

  2. NIAT KEMBALI MEMBANGUN RUMAH BUNG KARNO

    Oleh Dasman Djamaluddin

    Saya termasuk di antara undangan yang hadir dalam Seminar Draft Garis-Garis Besar Pengembangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Selasa, 15 Desember 2009 lalu di Jakarta. Meski undangan terbatas, tetapi di dalam seminar tersebut muncul gagasan-gagasan menarik yang patut dikembangkan dan dilaksanakan demi generasi penerus bangsa yang cinta akan sejarah bangsanya sendiri.

    Ada dua gagasan pokok yang dapat saya tarik dari seminar tersebut. Pertama, betapa bangsa ini banyak yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Seakan-akan bangsa ini ingin melupakan sejarahnya dan lebih suka membaca sejarah-sejarah bangsa dari luar. Sebagai bukti banyak di antara peserta tidak mengetahui bahwa bangunan gedung yang berada di Jl.Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat yang di depannya berdiri megah rumah Dubes Amerika Serikat itu adalah Rumah Maeda, seorang Admiral Angkatan Laut Jepang yang mengizinkan para pendiri bangsa merumuskan naskah proklamasi, cikal bakal dari kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Tentang gambaran rumah Maeda ini pada malam 17 Agustus 1945, Burhanudin Muhammad Diah atau lebih sering namanya disingkat B.M.Diah yang hadir dalam persitiwa bersejarah penting malam 17 Agustus 1945 sebagai satu-satunya seorang wartawan, di dalam buku yang saya tulis pada tahun 1992, halaman 57 /Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, Diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka,1992), mengatakan:

    “Kalau bolehlah saya katakan udara fajar di luar rumah kediaman Laksamana Maeda Angkatan Laut Jepang itu sangat cerah. Langit merona agak keputihan. Udara terang karena langit ditabur bintang. Dan orang berpuasa masih boleh makan sahur. Bung Hatta yang berada di tempat naskah proklamasi dibuat, telah memesan makanan untuk sahur. Hari itu kaum Muslimin sedang berada dalam waktu puasa yang telah berjalan beberapa hari. Saya keluar ke pekarangan rumah besar Laksamana Maeda yang memberikan, pejuang kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sebuah ruangan untuk mempersiapkan satu proklamasi kemerdekaan…Daerah kita itu orang asing yang menguasai. Kita tidak berhak untuk berkumpul dan bermusyawarah di mana saja kita kehendaki. Kita tidak merdeka. Kita tidak memiliki sesuatu kekuasaan. Rumah yang didiaminya (Rumah Maeda), suatu daerah extra-territorial (satu daerah bebas yang berdiri sendiri) bagi kami untuk melaksanakan suatu tindakan sejarah, ketika bangsa Indonesia harus menentukan sendiri hari depannya.”

    Faktor kedua, menyoroti sejauh mana kepedulian Pemerintah Indonesia terhadap benda-benda bernilai sejarah (museum). Mungkinkan bangsa ini diingatkan kembali agar “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)”? Ketika kita melihat bangsa dan negara LAIN sangat menghargai sejarahnya, terbukti dengan berdirinya museum-museum megah yang sangat ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai negara di mana didukung penuh pemerintahnya masing-masing, ada di mana pemerintah kita ?

    Akhirnya seminar mengerucut kepada dua permasalahan pokok, di mana saya ikut mendukungnya:

    Pertama, banyak gagasan Bung Karno (Presiden Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI) di dalam rangka membuat bangunan-bangunan bersejarah tidak sesuai dengan rencana semula penggagasnya. Contoh konkrit yang dikemukakan adalah menganai bangunan Monumen Nasional (Monas).

    Kedua, menghimbau pemerintah agar rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur dibangun kembali, sehingga generasi penerus bangsa bisa mengenal lebih dekat dan mendalam tentang sejarahnya sendiri. Bahkan saya berkomentar: “MEMBANGUN KEMBALI RUMAH BUNG KARNO LEBIH BAIK DARI PADA MEMBANGUN PATUNG OBAMA DI MENTENG. Memang bangunan ini sekitar tahun 60-an dibongkar atas perintah Bung Karno, sang pemilik. Peristiwa ini hingga kini masih menjadi misteri mengapa Bung Karno yang dikenal cinta budaya, cinta sejarah, cinta peninggalan sejarah itu justeru menghancurkan rumah yang amat bersejarah dan penuh kenangan itu. Dari suatu sumber menyatakan bahwa dalam Sidang Dewan Perancang Pembangunan Nasional (DEPERNAS), bulan Agustus 1960, Bung Karno mengatakan bahwa rumah proklamasi akan dibongkar dan di atasnya akan dibangun Gedung Pola. Sedangkan menurut Harian Merdeka (9 September 1993) ada oknum-oknum yang tidak masuk dalam sejarah proklamasi menginginkan rumah itu dibongkar. Nah, mana yang benar ? Sebelum gedung ini dibongkar Henk Ngantung, Wakil Gubernur DKI waktu itu menghadap Bung Karno untuk memohon agar rumah TIDAK dibongkar. Dengan nada tinggi Bung Karno berkata: Apakah kamu juga yang termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku ?”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: