Oleh: maulanusantara | Juli 26, 2009

Nasib Nelayan : Antara Industri Perahu dan Kemiskinan

Nasib Nelayan

Boleh dibilang, keluarga nelayan umumnya lebih miskin daripada keluarga petani atau pengrajin (Mubyarto, Sutrisno dan Dove, 1984). Dan salah satu hal penting untuk meningkatkan kualitas hidup mereka adalah dengan meningkatkan kualitas perahu tradisional mereka.

//

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau dan garis pantai sepanjang 81.000 km, memiliki wilayah laut (yang terdiri dari perairan teritorial, nusantara dan ZEE) seluas 5,8 juta km persegi atau lebih dari 70% luas total wilayah Indonesia. Namun potensi laut yang demikian besar sampai sekarang baru dimanfaatkan sekitar 48% dari total potensi lestarinya (6,7 juta ton per tahun).

Dan sampai saat ini nasib nelayan masih belum terangkat. Pendapatan nelayan tradisional di Pantai Utara Jawa, rata-rata hanya antara Rp.50.000 – Rp.100.000 per bulan saat musim panen, serta di bawah Rp.50.000 saat musim paceklik (Suyanto,1993). Sementara itu tingkat kerusakan terumbu karang tahun 1996 sudah mencapai 52,38% di kawasan Barat dan 41, 78% di kawasan Timur (Sutjipto, 2000).

Dan kondisi inilah yang membuat Daniel Mohammad Rosyid Phd, pembantu Rektor IV ITS tengah mengadakan penelitian untuk meningkatkan kualitas perahu-perahu tradisional yang memegang peran penting dalam dalam pelayaran di tempat-tempat terpencil.

Salah satu ciri penting menyangkut perahu tradisional adalah pemasangan mesin penggerak dengan begitu saja. Padahal pemakaian perahu tradisional tidak pernah dirancang untuk pemakaian mesin. Perahu tradisional, sepanjang sejarah industri perahu, dirancang untuk menggunakan layar. Karena pemasangan mesin yang asal saja akan menimbulkan dampak-dampak, paling tidak getaran mesin akan meyebabkan usia perahu menjadi lebih pendek.

Pemasangan layar bagaimanapun rancangannya akan lebih kuat pada bagian geladak dengan adanya tarikan tiang layar. Sedangkan dengan mesin harus memperkuat bagian dasar karena adanya dorongan mesin dari belakang.

Kegiatan rancang-merancang sebuah kapal yang sederhana seharusnya bagi ITS sudah bukan merupakan persoalan besar lagi. Pengembangan perahu tradisional akan sangat membantu menghidupkan industri perahu tradisional yang tampaknya bisa dilayani dengan sarana laboratorium milik Fakultas Teknologi Kelautan, ITS.

Bahkan institut ini juga pernah membangun laboratorium hidrodinamika yang pernah diklaim merupakan laboratorium terbesar di Asia Tenggara. Laboratorium yang dibantu dengan dana bantuan dari Jepang ini merupakan proyek kerjasama antara ITS dengan BPPT. Laboratorium ini tidak hanya untuk penelitian, tapi juga untuk melayani permintaan dari dalam dan luar.

Bahkan laboratorium ini sudah mampu menguji sebuah model kapal dengan ongkos jauh lebih murah dibanding jika diuji di luar negeri dengan standar ketelitian yang sama.

Dan nampaknya meski ada Departemen Kelautan dan Perikanan, nasib nelayan masih jauh dari kesejahteraan dan amat perlu diperhatikan. Karena mereka tetap harus berlomba dengan kapal besar yang notabene kebanyakan milik kapal asing dan sering lolos sensor dari pantauan.Mudah-mudahan perbaikan di bidang industri perahu tradisional akan membawa perbaikan pada hasil tangkapan yang juga berpengaruh pada pendapatan nelayan, semoga.

Sumber: http://www.kamusilmiah.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: