Oleh: maulanusantara | Februari 25, 2010

Akulturasi dalam Gerakan Koreri

Cenderawasih

Cenderawasih

Oleh: Bas Nanlohy

PENDAHULUAN
Wacana agama dan ‘perubahannya’ saat ini menjadi penggalan pendek dari garis sejarah peradaban. Hubungan agama dengan negara; hubungan Agama dengan kebudayaan; gerakan keagamaan, theology social, Liberalisme hingga fundamentalisme agama dan pembaharuan pemikiran bisa jadi merupakan daftar grand wacana hubungan panjang dan (mungkin) tidak pernah selesai antara agama dengan perubahan sosial. Hubungan tersebut dibangun dari rumusan pertanyaan dan ragam kajian mengenai letak agama dalam perubahan sosial hari ini.
Khususnya dalam membahas wacana agama dan kebudayaan, maka term akulturasi menjadi perhatian dalam melihat perubahan sosial. Akulturasi secara luas mengacu pada pengaruh satu kebudayaan terhadap kebudayaan lain atau saling mempengaruhi antara dua kebudayaan, yang mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan[1]. H. G. Barnett, mendefinisi­kan akulturasi sebagai “perubahan kebudayaan yang dimulai dengan berhu­bungannya dua sistem kebudayaan atau lebih yang masing-masing otonom”.[2]
Yang menjadi unit analisisnya adalah bahwa setiap kebudaya­an yang dimiliki masyarakat tertentu. Individu anggota masyara­kat itu jelas adalah pendukung kebudayaan, dan karena itu men­jadi perantara yang menyebarkan kebudayaannya kepada individu yang berasal dari masyarakat lain. Dalam analisis akulturasi, individu tidak menjadi pusat perhatian, walaupun individu yang mengubah kebiasaan \ berperilaku dan keyakinan mereka ka­rena pengaruh bentuk kebiasaan dan keyakinan asing, namun di­katakan adat masyarakatnyalah yang mengalami akulturasi”.[3]
Menurut Lauer, Akulturasi dianggap terjadi sebagai akibat pe­ngaruh kebudayaan yang kuat dan bergengsi atas kebudayaan yang lemah dan terkebelakang. Selanjutnya, akulturasi bukan hanya di­hasilkan dari interaksi saja, tetapi dari rencana yang disengaja oleh kebudayaan yang kuat.[4] Dalam proses terjadinya akulturasi hal yang perlu dieperhatikan adalah apakah merupakan proses sukarela atau dipaksakan, dan tingkat ketimpangan sosial dan politik antara kedua kelompok bersang­kutan[5]. Dengan pemahaman demikian maka akulturasi dapat dikatakan sebagai suatu unit analisis untuk melihat pola perubahan social yang diakibatkan oleh adanya pertemuan antara dua kebudayaan.
Dari kenyataan tersebut, dalam makalah ini, penulis hendak mendeskripsikan proses akulturasi yang terjadi pada suku Biak di Papua, khususnya menyangkut sistem religi yang dianut dalam Gerakan keagamaan yang dikenal dengan nama Koreri.[6]
Hemat penulis, religi suku Biak ini menarik untuk dikaji, karena seiring dengan perjalanan waktu gerakan ini kemudian mengalami perubahan dan perkembangan yang sangat mendasar sebagai akibat dari pertemuannya dengan budaya-budaya diluar dirinya. Diakatakan demikian karena sejak kehadiran kekristenan di Papua dengan proses penginjilan khususnya terhadap suku Biak, ternyata orang Biak yang yang tadinya memiliki kepercayaan Koreri telah beralih dari kepercayaannya. Dan perkembangannya seakan-akan gerakan ini telah terkubur. Namun pada awal tahun 1998-an sejak reformasi di Indonesia digulirkan hingga sekarang, gerakan ini kembali muncul dengan format baru yang disebut “Farkankin”[7]. Hal tersebut sangat mengejutkan berbagai kalangan, baik itu di dalam gereja maupun pemerintah. Format yang ditampilkan gerakan itu pun sangat spektakuler, dikarenakan gerakan tersebut mampu mengorgansasikan diri secara moderen. Gerakan ini tidak saja hanya berganti nama, tetapi juga dalam pengajarannya.
Terlepas dari kenyataan di atas, dalam kajian Antropologi, Gerakan ini dapat dikategorikan sebagai bentuk ”gerakan nativistik Movement”. Gerakan nativistik Movement menurut Ralph Linton[8], sebagai: “usaha yang sadar/sengaja dari kelompok masyarakat untuk mempertahankan atau menghidupkan terus-menerus aspek-aspek budayanya”. Menurutnya Semua masyarakat berupaya untuk menghidupkan terus-menerus budaya mereka sendiri, tetapi mereka biasanya melakukannya secara tidak sadar dan merupakan bagian dari proses yang umum dari budaya dalam latihan dan sosialisasi. Upaya menghidupkan kembali terus-menerus sebuah budaya dapat berkembang hanya ketika sebuah masyarakat sadar bahwa ada budaya lain dari budayanya sendiri dimana eksistensi dari budayanya sendiri sedang terancam. Kesadaran itu tumbuh sebagai hasil dari kontak yang terus-menerus dan terbuka dengan masyarakat lain.
Definisi Ralph Linton, tersebut mengantar kita kepada pertanyaan apa sebenarnya “Gerakan Koreri” itu, latar belakang tumbuhnya Gerakan Koreri?

LATAR BELAKANG GERAKAN KORERI
Salah satu gerakan mesianis yang cukup terkenal dan mempunyai pengaruh yang luas di Papua ialah, gerakan Koreri.[9] Gerakan ini timbul di Biak dan beberapa daerah lainnya di Papua, seperti Raja Ampat, Manokwari, Yapen. Gerakan ini berdasarkan cerita rakyat atau mite[10] mengenai seorang tokoh yang memiliki pengetahuan mengenai rahasia Koreri.
Tokoh itu ialah Manarmakeri. Nama itu berarti, lelaki kudis (man: laki-laki; armakeri: kudis). Sebutan-sebutan lain yang dikenakan untuk nama tersebut adalah, Kayan Byak (Kekayaan Biak), Kayan Sanau (Kekayaan Kudis), Mansern Manggundi (Tuhan Sendiri).
Menurut mite Biak, suatu hari Manarmakeri menombak babi di kebunnya. Babi yang sudah kena itu lari dengan tombak di tubuhnya lalu masuk ke gua. Manarmakeri mengejar babi itu. Akan tetapi ketika tiba di gua itu ia tidak menemukan babi, melainkan mendengar suara yang menyapanya. Suara ini menunjukkan kepada Manarmakeri suatu kampung yang indah sekali. Dan diantara para penghuni ada teman-teman Manarmakeri, yang dulu telah meninggal dunia, dan kini telah hidup kembali; yang dulu renta, kini menjadi belia. Suara itu bertanya: maukah kau seperti mereka itu? Manarmakeri menjawab: ya ! Tapi suara itu berkata lagi: waktumu belum sampai; kau masih berada dalam dunia sasor.[11] Kemudian kampung yang indah itu – dunia koreri – lenyap dari pandangan Manarmakeri. Maka ia kembali ke rumahnya.
Sesudah kejadian tersebut, di kampung Sopeng (Biak Barat), tempat asal Manarmakeri, diadakan pesta yang cukup meriah. Banyak orang yang hadir di pesta itu, sehingga ada yang tak kebagian makanan, termasuk Manarmakeri. Ia marah lalu meninggalkan kampungnya menuju ke arah timur pulau Biak dan tiba serta menetap di Meokbundi.
Di tempat yang baru ini Manarmakeri membuat tuak dari kelapa. Suatu hari tuak itu dicuri oleh Bintang Pagi. Ia berhasil menangkap si pencuri itu, dan terjadilah perkelahian diantara mereka. Perkelahian itu berakhir ketika bintang pagi itu memberitahu rahasia kehidupan koreri. Dengan rahasia koreri itu, suatu hari Manarmakeri membakar diri, namun tidak terbakar. Tetapi ia menjadi seorang muda, tanpa kudis lagi. Ia memperoleh makanan dan minuman tanpa harus bekerja. Ketika ia menginginkan sebuah perahu, ia membuatnya dengan cara menggambar perahu di pasir, maka perahu itu pun jadi. Dengan perahu itu Ia bersama Insoraki, istrinya, dan Manarbeu (raja damai), anaknya, berlayar ke Numfor dengan melalui Krawi dan Mamberamo. Tapi di tempat-tempat ini mereka ditolak oleh penduduk setempat.
Di Numfor Manarmakeri menciptakan manusia. Ia berpesan bila ada yang meninggal dunia jangan ditangisi. Tetapi hal ini tak dihiraukan. Ia marah lalu meninggalkan Papua menuju barat dengan membawa rahasia Koreri yang dimilikinya. Namum ia berjanji akan datang kembali membawa Koreri itu.
Perjanjian Manarmakeri itu tetap hidup dalam masyarakat Biak-Numfor. Ia memberikan harapan dan gairah hidup, terutama dalam situasi sosial yang memprihatinkan. Orang Biak yakin betul bahwa Manarmakeri suatu saat akan kembali koreri, yang dahulu pernah diperlihatkan pada orang-orang Biak. Karena itu sampai sekarang mereka masih menunggu kedatangan Manarmakeri.
Pengharapan mesianis orang Biak-Numfoor biasanya dihubungkan dengan tokoh Yawi Nusyado alias Manarmakeri, yang kemudian hari diberi gelar “Manseren Manggundi” (Tuhan Sendiri). Tokoh ini dianggap penting karena ia mampu memberikan kemerdekaan, kesejahteraan dan kehidupan baru bagi orang Biak-Numfoor. Manarmakeri adalah orang yang sudah dipersiapkan oleh Manseren Nanggi (Dewa Langit) untuk menjadi pemeran utama dalam drama kedatangan “Koreri Syeben” yang dinanti-nantikan orang Biak-Numfoor.
Manseren Manggundi membawa Koreri yang di dalamnya terkandung: kehidupan baru, kebahagiaan, kesejahteraan, kekayaan ke arah Barat. Akibatnya, orang Biak-Numfoor hidup dalam penderitaan, kemiskinan, kematian dan lain-lain.
Pengharapan terhadap kedatangan Manseren Manggundi dari arah Barat merupakan hal yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Biak-Numfoor, baik pada masa lampau maupun masa kini. Karena menurut pesanan dari Manseren Manggundi bahwa setelah tujuh generasi, ia akan kembali untuk memenuhi janjinya yaitu memberikan koreri kepada orang Biak-Numfoor.[12] Pada saat itu, mulailah suatu kehidupan baru karena manusia menikmati hidup kekal, kebahagiaan dan kesejahteraan, kekayaan yang tidak pernah berakhir. Kedatangan “mesias” menandakan koreri syeben, karena juru selamat akan tiba dan semua orang mati akan dibangkitkan dan hidup bersama-sama dengan kita yang masih hidup. Selanjutnya, kita yang masih hidup akan mengalami keadaan “rer” (kulit baru) dengan tubuh yang baru, sama seperti keadaan orang mati yang dibangkitkan dalam tubuh yang baru. Perjanjian ini, merupakan harapan Manarmakeri yang bersifat pengharapan mesianis, yang masih ada dan dapat mempengaruhi masyarakat Biak-Numfoor hingga saat ini. Biasanya pengharapan mesianis mereka dapat dihubungkan dengan kondisi ekonomi, sosial dan budaya, politik yang stabil, bahkan kondisi yang tidak sesuai lagi dalam kehidupan masyarakat secara umum.
Kedatangan Manseren Manggundi akan diumumkan oleh utusannya, yang dalam bahasa Biak disebut “konor” (pembawa berita atau perintis jalan). Konor mendapat perintah dari Manseren Manggundi melalui mimpi atau suatu penglihatan untuk memberitahu bahwa tokoh mesias akan segera tiba kembali.[13] Namun sebelum Manseren Manggundi tiba, para pengikutnya harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut[14]:
a. Membangun rumah baru untuk Manseren Manggundi;
b. Memperbesar rumah masing-masing untuk menampung orang-orang yang akan dibangkitkan kembali;
c. Mempersiapkan segala sesuatu, termasuk kayu bakar, sebab akan terjadi kegelapan selama tiga hari, yang mendahului kedatangan Manseren Manggundi.
d. Jangan memakan sayur labu dan babi. Alasannya ialah karena sayur labu dan babi, yang menjadi penyebab Manarmakeri meninggalkan kampung Sopen.
e. Jangan makan daging ular dan udang. Alasannya ialah karena hewan-hewan yang bertukar kulit mempunyai sangkut pautnya dengan peristiwa perubahan kulit dari Manarmakeri.
Melalui penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pengharapan mesianis orang Biak-Numfoor bermuara pada seorang tokoh mistis, yang dianggap mempunyai kuasa untuk memberikan kehidupan baru, baik secara jasmani maupun rohani. Artinya, Manseren Manggundi mempunyai kuasa ilahi dari Manseren Nanggi, sehingga ia dapat “menyelamatkan” manusia pada masa kini dan masa yang akan datang. Permasalahan kita bahwa kedatangan Manseren Manggundi belum terwujud. Meskipun demikian seringkali muncul seorang konor (pembawa berita) sehingga banyak orang mengikuti dan mempercayainya. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan akan Manseren Manggundi begitu mendalam dan berakar pada sebagian masyarakat Biak-Numfoor.
ANALISIS.
Bertolak dari berita koreri itu, maka orang Biak melakukan gerakan koreri (Biak: frur koreri), agar kehidupan bahagia itu menjadi kenyataan dalam hidup sekarang ini. Sesudah gerakan yang terjadi 8161, maka terjadi pula berbagai gerakan yang lain. Bukan hanya di Biak dan Numfor, tetapi juga di daerah-daerah lain seperti Manokwari, Yapen dan Raja Ampat. Gerakan koreri terkhir terjadi pada 1974 dan 1975 di Biak yang dipimpin oleh dua tokoh wanita, Anna dan Yuli Wokrar.[15] Dan pada tahun 1998 hingga sekarang muncul di daerah Urfu, Biak Barat dalam bentuk tradisonal dan Nabire dalam bentuk moderen. Tokoh gerakan ini adalah Enos kafiar. Gerakan yang dikenal sebagai Farkankin, lahir seiring dengan bergulirnya reformasi yang terjadi di Indonesia[16]. Isu utama yang dibawah adalah Papua merdeka. Berbeda dengan gerakan koreri masa lalu, dalam gerakan Farkankin tidak lagi mengharapkan datangnya barang atau kargo tetapi lebih mengarah kepada tercapainya Papua Merdeka. Gerakan ini pun telah membuka diri ”inklusif” bagi setiap suku yang memiliki visi yang sama[17]. Gerakan ini telah mendirikan ”Gereja” dengan nama gereja ’kemah suci di Nabire, dengan sistem organisiasi yang moderen dan dikelolah oleh para pengikutnya yang berpendidikan tinggi.
Menarik bahwa gerakan Farkankin, dalam ajaranya telah terjadi percampuran dan pergeseran makna dengan kekristenan. Di dalam gerakkan ini, pengikutnya melihat Manarmakeri sebagai Kristus sendiri. Pujian yang dilakukan dengan menggunakan lagu gereja seperti Nyanyian Rohani, Kidung Pujian, kemenangan Iman, tetapi pujian itu ditujukan kepada Manarmakeri[18].
Sehingga dapat dikatakan berbeda dengan dengan dimasa lalu, di mana gerakan-gerakan itu melibatkan banyak orang. Mereka datang dari berbagai kampung. Di bawah pimpinan seorang konor,[19] masa yang berkumpul itu bernyanyi dan menari, dengan harapan bahwa koreri akan terwujud ditengah-tengah mereka. Sedangkan dimasa sekarang telah terbentuk dalam sebuah oraganisasi keagamaaan moderen.
Bertolak dari kenyataan di atas, dapat dikatakan bahwa Gerakan koreri itu tidak muncul begitu saja. Kemunculannya senantiasa dirangsang oleh kondisi-kondisi sosial, ekonomi pun politik yang memprihatinkan dan tidak sesuai dengan kehidupan yang diharapkan dalam koreri itu.
Hal yang sama terjadi di Papua, beban kehidupan ekonomi yang berat, sukarnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, dapat menjadi titik api yang membakar emosi sehingga memunculkan gerakan koreri.[20] Dalam keadan di mana kebebasan serta hak asasi manusia tidak dihargai, maka idealisme koreri dapat menjadi suatu gerakan revolusioner yang menentang kekuasaan asing. Gerakan koreri di Biak tahun 1942-1943, dan Gerakan Farkankin di Urfu Biak Barat dan Nabire pada tahun 1998, merupakan contoh dari dimensi politis koreri guna menentang kekuasaan asing ”represif pemerintah Indonesia” atas orang-orang Biak dan Papua Umumnya..
Jelaslah, pengharapan yang terkandung di dalam gerakan koreri dan yang menjiwai gerakan itu bukanlah semata-mata kerinduan akan kehidupan bahagia secara rohani, bebas dari tekanan batin ketakutan dan sebagainya. Pengharapan koreri itu memuat pula kerinduan akan kehidupan bahagia secara jasmani dimana kebutuhan sehari-hari terpenuhi dimana; kelaparan, kesakitan, kemiskinan bahkan kematian tidak lagi dialami, dimana ketidakadilan telah dimenangkan oleh keadilan, kekacauan oleh keharmonisan, ketidakamanan oleh ketentraman. Semuanya diharapkan berlaku pada masa ini. Gerakan koreri itu adalah upaya mempercapat datangnya kebahagiaan itu.
Dalam perkembangannya, gerakan tersebut mengalami perubahan penekanan yaitu dari cargo kepada kepada masalah politik. Menurut pengamatan penulis ada tiga tahapan perkembangan gerakan Koreri sebagai akibat akulturasi.
1. Gerakan Koreri sebagai Agama suku Asli Biak. Pada tataran ini gerakan koreri masih bersifat tradisional eklusif; hanya diulakukan oleh suku Biak. Kemunculan gerakan ini biasanya disebabkan oleh situasi alam seperti bencana gempa bumi, kegagalan panen / kelaparan, kekalah dalam perang / pengayauan, wabah penyakit.
2. Gerakan Koreri Bertemu dengan Kekristenan. Pada tataran ini terjadi pertemuan dua bentuk sistem nilai yang saling melakukan elaborasi dan benturan yang pada akhirnya muncul kekristenan menjadi “pemenang”. Jadi dalam proses ini, pe­ngaruh kebudayaan yang kuat dan bergengsi secara sengaja mendominasi kebudayaan yang dianggap lemah dan terkebelakang. Yang pada akhirnya menyebabkan para pengikutnya beralih menganut kekristenan dan sekaligus menandakan melemahnya gerakan Koreri.
3. Gerakan koreri muncul kembali dalam format baru dan lebih moderen akibat bertemu dengan situasi yang lebih luas lagi, yakni dengan kemunculan berbagai nilai-nilai dari berbagai suku bangsa yang hadir di Papua, disertai sistem pemerintahan yang dianggap represif. Kerinduan akan adanya kebahagiaan dari rasa penindasan politis, ketidak adilan, pelanggaran HAM, eksploitas sumber daya alam merupakan kemasan yang diusung gerakan koreri moderen / Farkankin.

PENUTUP
Dengan mengacu uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa gerakan Koreri merupakan salah satu bentuk gerakan Nativistik Gerakan yang intinya mendambakan masa kebahagiaan dan kini telah mengalami perkembangan dengan wajah baru sebagai akibat akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Kelihatan bahwa dengan mengadobsi sebagian nilai-nilai kekristenan, maka ada kemungkinan untuk berteologi secara kontekstual. Oleh sebab itu perlu dilakukan evaluasi terhadap pendekatan dan pelayanan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga keagamaan khususnya gereja terhadap masyarakat.
BIBLIOGRAPHY
Jenbise, Diana Binkor, Kebangkitan kembali agama asli di Papua, (tesis) Jayapura: STT GKI ”Izaak Samuel Kijne”2003.
Kamma, F. C., Koreri, Messianic Movements in The Biak-Numfor Area, The Hague, Martinus Nijhoff, 1972.
…………………,Religious Texts of the Oral Tradition From New Guinea, Leiden: E. J. Brill, 1975
…………………, Ajaib di Mata Kita, I, Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1981.
Kapisa, S., “Dari Puteri Koreri ke Nyora Pindah-pindah”, Lokakarya Gerakan Mesianis 30 April – 5 Mei 1981, dikeluarkan oleh: Komisi Pembinaan Jemaat Klasis Jayapura, 1981
Lauer, Robert H, Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Jakarta: Rieneka Cipta: 2003)
Lessa, William A and Evon Z Vogt, “Reader Comparative Religion”, Harvard University, 1979, edisi ke-4, hal. 415-421
Patty, Semuel, Kebatinan Jawa, Apakah Agama atau Kebudayaan” (pidato Pengukuhan Jabatan Fungsional Akademik Guru bersar madya Ilmu Antropologi Agama), Salatiga: UKSW. 2000.
Schwarz, B. Introduction to Melanesian Religions, Goroka PNG : Melanesian Institute 1984
Strelan, J. G. dan Godschalk, J. A., Kargoisme di Melanesia, Jayapura : Pusat Studi Irian Jaya.1989
Thimme, Hans Martin, Koreri: Tafsiran Dan Evaluasi Teologia Tentang Mite Manarmakeri. Jayapura : Bintang Mas, 1988
Ukur, F., Benih Yang Tumbuh VIII, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1977
William A. Lessa and Evon Z Vogt, Reader Comparative Religion, edisi ke-4, Harvard University, 1979

[1] Robert H. Lauer, Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Jakarta: Rieneka Cipta: 2003) 402.
[2] Ibid. 403. band. H. G. Barnett, dkk., “Acculturation: An Exploratory Formulation”, American Antropoogist 56, 1954: 974
[3] Ibid
[4] Ibid. 404
[5] Ibid
[6] Istilah Koreri (Biak) terbentuk dari kata ko artinya “kita”, dan kata rer , artinya “ganti kulit”. Imbuhan “i” menjadikan kata Koreri itu sebagai kata sifat. Secara harafiah koreri berarti “kita ganti kulit”. Atau, dalam pengertian lain, “kita hidup baru”. Perubahan itu bersifat eksistensial, menyangkut segenap aspek hidup. Maka dalam pengertian yang populer Koreri berarti kehidupan tanpa ada penderitaan fisik pun batin, tanpa ada tekanan ekonomi atau pun politik, tidak ada penyakit dan kematian, tidak ada duka dan air mata. Yang ada ialah kesejahteraan dalam arti yang luas.
[7] Farkankin berarti peresekutuan, band. Diana Binkor Jenbise, Kebangkitan kembali agama asli di Papua, (Jayapura: STT GKI, 2003). 79
[8] Ralph Linton, dalam, William A. Lessa and Evon Z Vogt, “Reader Comparative Religion”, Harvard University, 1979, edisi ke-4, hal. 415-421
[9] Studi memadai mengenai gerakan ini telah dilakukan oleh F. C. Kamma. Lih. Koreri. Lihat juga Strelan-Godschalk, Kargoisme, h. 34-39; H. M. Thimme, Koreri, (Abepura: STT-GKI, 1976).
[10] B.Schwarz, Introduction to Melanesian Religions, (Goroka PNG : Melanesian Institute, 1984), h. 243 : Dari banyak gerakan mesianis di Melanesia (termasuk Papua) diketahui bahwa mite merupakan dasar timbulnya gerakan, dan memberikan dorongan dinamis untuk mengusahakan pembaruan dalam masyarakat. Bnd. F. C. Kamma, Religious Texts of the Oral Tradition from New Guinea, (Leiden: E. J. Brill, 1975), h. 2 : “Myths are religious conviction laid down in dramatic expression and symbols limited by tradition, which determine and accompany the comunnity”.
[11] Kata sasor berarti semu. Maka dunia sasor berarti dunia semu. Pengertian dari sasor ini menunjuk kepada sifat manusia yang fana, yang ditandai oleh kematian. Dengan demikian dunia sasor berarti pula dunia yang fana.
[12] Bnd. Hans Martin Thimme, Koreri, hlm 143.
[13] F.C. Kamma, Koreri, hlm 97-98
[14] F. Ukur, Benih Yang Tumbuh VIII, (jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1977)
[15] Lihat S. Kapisa “Dari Puteri Koreri ke Nyora Pindah-pindah”, Lokakarya Gerakan Mesianis 30 April – 5 Mei 1981, dikeluarkan oleh: Komisi Pembinaan Jemaat Klasis Jayapura, 1981, h. 61-85.
[16] Diana B. Jenbise. Ibid. 80
[17] Ibid. 81
[18] Ibid. 87.
[19] Kata konor dibentuk dari kon dan or. Kon berarti “menduduki”, ”menguasai”, sedangkan or berarti “matahari” (lambang kehidupan). Maka konor berarti penguasa matahari, penguasa kehidupan. Karena or juga berarti “kuasa gaib”, maka konor mengandung pula makna “pemilik kuasa gaib”. Tak heran bila ke-konora-an berhubungan dengan kegiatan perdukunan atau pemimpin ritual.
[20] Kamma, 1981 Ajaib di Mata Kita, I. Jakarta: BPK Guning Mulia. 306.

Sumber: http://teologipapua.blogspot.com/2008/08/akulturasi-dalam-gerakan-koreri.html

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: