Oleh: maulanusantara | April 19, 2010

Optimalisasi Peran Wanita di Keluarga dalam Membentuk Sumber Daya Manusia Berkualitas

Kartini

Kartini

Pendahuluan

Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan terkecil sebagai inti dari suatu sistem sosial yang ada di masyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia. Suasana keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang baik karena di dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan bermasyarakat.
Perkembangan peradaban dan kebudayaan, terutama sejak iptek berkembang secara pesat, telah banyak memberikan pengaruh pada tatanan kehidupan umat manusia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kehidupan keluarga pun, banyak mengalami perubahan dan berada jauh dari nilai-nilai keluarga yang sesungguhnya. Dalam kondisi masa kini, yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi, banyak pihak yang menilai bahwa kondisi kehidupan masyarakat dewasa ini khususnya generasi mudanya dalam kondisi mengkhawatirkan, dan semua ini berakar dari kondisi kehidupan dalam keluarga. Oleh karena itu, pembinaan terhadap anak secara dini dalam keluarga merupakan suatu yang sangat mendasar. Pendidikan agama, budi pekerti, tatakrama, dan baca-tulis-hitung yang diberikan secara dini di rumah serta teladan dari kedua orangtuanya akan membentuk kepribadian dasar dan kepercayaan diri anak yang akan mewarnai perjalanan hidup selanjutnya. Dalam hal ini, seorang ibu memegang peranan yang sangat penting dan utama dalam memberikan pembinaan dan bimbingan (baik secara fisik maupun psikologis) kepada putra-putrinya dalam rangka menyiapkan generasi penerus yang lebih berkualitas selaku warga negara (WNI) yang baik dan bertanggung jawab termasuk tanggung jawab sosial.
Sebagai makhluk hidup, setiap anggota keluarga setiap saat akan selalu beraktivitas atau berperilaku ( baik yang nampak ataupun yang tidak tampak) untuk mencapai tujuan tertentu ataupun sekedar memenuhi kebutuhan. Adakalanya tujuan atau kebutuhannya itu tercapai, tetapi mungkin juga tidak, atau adakalanya perilaku yang nampak itu selaras dengan yang tidak nampak, adakalanya tidak. Dalam kondisi seperti ini, bukan hal yang mustahil akan menimbulkan masalah/konflik dan akan mengakibatkan beban mental/stress. Tentu diperlukan pemahaman dan bimbingan yang tepat unuk membantu mereka.
Berkaitan dengan hal-hal di atas, dalam tulisan akan dibahas secara singkat mengenai: (1) Pengertian Psikologi Keluarga; (2) Optimalisasi peran sebagai istri dan ibu; dan (3) Pendidikan dalam keluarga yang baik mendasari perilaku WNI yang cinta tanah air dan sadar bela negara.

Pengertian Psikologi Keluarga
Sebelum pembahasan lebih lanjut, akan dibahas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Psikologi. Dahulu, para ahli mendefinisikan Psikologi sebagai ilmu jiwa tetapi sekarang definisi tersebut sudah tidak dipakai lagi manakala jiwa itu tidak dapat dibuktikan dimana adanya dan bagaimana bentuknya. Sekarang, Psikologi diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungan.1
Pengertian di atas mengandung makna bahwa apa yang dilakukan oleh individu, mengapa melakukan perilaku tersebut dan bagaimana membina perilaku tersebut kearah yang berdaya guna. Perilaku, dalam hal ini mengandung makna yang luas, yaitu sebagai manifestasi hayati — yang nampak maupun tidak nampak, perilaku tersirat maupun tersurat, perilaku sadar maunpun tidak sadar —, seperti proses berfikir, lupa, motivasi, bernafas, konflik, stress, dan lan-lain. Justru perilaku inilah yang seyogyanya kita pahami dan kita ketahui untuk akhirnya dapat kita arahkan dengan baik.2

Dalam lingkup keluarga dimaksudkan bagaimana tingkah laku individu dalam keluarga berinteraksi dengan lingkungannya (baik dengan anggota keluarga sendiri maupun anggota masyarakat lainnya)
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat terbentuk sebagai akibat adanya perkawinan berdasarkan agama dan hukum yang sah. Dalam arti yang sempit, keluarga terdiri dari ayah, ibu (dan anak) dari hasil perkawinan tersebut. Sedangkan dalam arti luas, keluarga dapat bertambah dengan anggota kerabat lainnya seperti sanak keluarga dari kedua belah pihak (suami dan istri) maupun pembantu rumah tangga dan kerabat lain yang ikut tinggal dan menjadi tanggung jawab kepala keluarga (ayah).

Kehidupan keluarga pada dasarnya mempunyai fungsi sebagai berikut:3
1. Pembinaan nilai-nilai dan norma agama serta budaya.

2. Memberikan dukungan afektif, berupa hubungan kehangatan, mengasihi dan dikasihi, mempedulikan dan dipedulikan, memberikan motivasi, saling menghargai, dan lain-lain.
3. Pengembangan pribadi, berupa kemampuan mengendalikan diri baik fikiran maupun emosi; mengenal diri sendiri maupun orang lain; pembentukan kepribadian; melaksanakan peran, fungsi dan tanggung jawab sebagai anggota keluaraga; dan lain-lain.
4. Penanaman kesadaran atas kewajiban, hak dan tanggung jawab individu terhadap dirinya dan lingkungan sesuai ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Pencapaian fungsi-fungsi keluarga ini akan membentuk suatu komunitas yang berkualitas dan menjadi lingkungan yang kondusif untuk pengembangan potensi setiap anggota keluarga. Hal ini akan membentuk ketahanan keluarga yang mejadi landasan untuk ketahanan masyarakat, ketahanan wilayah dan lebih jauh lagi mendukung ketahanan nasional yang berpengaruh positif sebagai daya tangkal terhadap pertahanan negara.

Optimalisasi Peran sebagai Istri dan Ibu
Untuk membangun generasi yang sadar dan siap menjalankan fungsi sosialnya, ibu mempunyai peranan sangat penting dalam keluarga karena ibu mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan setiap anggota keluarga. Dengan naluri keibuannya, secara psikologis ibu mempunyai kedekatan dengan anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain.
Dalam sebuah rumah tangga, ibu mempunyai peran antara lain sebagai : (1) Istri bagi suami; (2) Ibu bagi anak-anaknya serta (3) Ibu Rumah Tangga.4

Peran sebagai Istri bagi Suami dalam Hubungannya dengan Ketahanan Negara
Keberhasilan seorang suami dalam karirnya (pangkat dan jabatan) banyak sekali didukung oleh motivasi, cinta kasih dan doa seorang istri. Oleh karena itu, dalam perannya sebagai seorang istri, banyak sekali yang seyogyanya dilakukan untuk suami, diantaranya:

a. Berbagai rasa suka dan duka serta memahami panggilan tugas, fungsi dan kedudukan suami, misalnya: sifat kepemimpinan yang keras, dalam operasi tempur dituntut sampai mati mempertahankan medan/bangsa dan negara, dan lain-lain.

b. Memposisikan sebagai istri sekaligus ibu, teman dan kekasih bagi suami. Suami adalah manusia biasa yang sekali waktu perlu dimanja, butuh perhatian/kasih sayang. Butuh tempat berlindung dan mengadukan atas kesulitan/problem yang dialaminya.

c. Menjadi teman diskusi seraya memberikan dukungan motivasi, semangat dan do’a bagi suami ketika menghadapi tugas berat dari negara.

Dalam hubungan suami-istri, diperlukan keserasian dalam hal:
a. Keyakinan, agama dan menjadikannya sebagai tuntunan hidup dalam berkeluarga .
b. Kepribadian:
– Mempunyai kepribadian yang matang ditandai dengan tanggung jawab, mandiri, percaya diri, dan lain-lain.
– Memiliki citra diri yang positif, ditandai dengan berfikir positif, terbuka, toleran, tidak gampang curiga, dan lain-lain.
c. Gaya hidup (penampilan, manajemen keuangan, cara mengatur rumah, dan lain-lain).

Untuk kelanggengan kehidupan berkeluarga, diperlukan pendukung sebagai berikut :
a. Kasih sayang disertai dengan keinginan untuk saling membahagiakan.
b. Kesetiaan dalam keadaan apapun
c. Bersikap terbuka dan saling percaya
d. Memberikan motivasi dalam bekerja
e. Tidak menuntut sesuatu diluar batas kemampuan suami.

Bilamana peran istri sebagaimana dimaksud dapat dijalankan dengan baik, akan berpengaruh terhadap perangai dan perilaku suami di tempat bekerja, karena hal itu akan menumbuhkan rasa cinta suami terhadap istri dan anak-anaknya. Hal ini juga akan mencegah keinginan suami untuk berbuat hal-hal negatif seperti : korupsi, mabuk-mabukan, selingkuh, dll. Sebaliknya dia akan didorong untuk berbuat hal-hal positif untuk membangun citra diri dan kariernya dalam rangka menyenangkan keluarga.

Peran sebagai Ibu bagi anak-anaknya
Anak-anak dalam sebuah keluarga merupakan amanat dan rahmat dari Tuhan, generasi penerus serta pelestari norma yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karenanya, keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi anak seyogyanya mampu menjadi peletak dasar dalam pembentukan karakter yang baik sebagai landasan pengembangan kepribadian anak yang akan membentuk karakter bangsa di kemudian hari.

Berbagai keterampilan kehidupan dikembangkan pada anak sejak dini di lingkungan keluarga dalam suasana kasih sayang. Keteladanan dalam suasana hubungan yang harmonis serta komunikasi yang efektif antar anggota keluarga merupakan hal yang fundamental bagi berkembangnya kepribadian anak.

Dorothy Rich, mengemukakan berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang anak. Dia menyebutnya sebagai keterampilan mega (mega skills), yaitu:5 (1) Percaya diri; (2) Motivasi disertai dengan keinginan yang kuat; (3) Daya juang disertai dengan kerja keras; (4) Tanggung jawab; (5) Keuletan; (6) Kepedulian; (7) Team work; (8) Positive thinking; dan (9) Problem solving. Seorang ibu dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan untuk menjadikan anak-anaknya memiliki Mega Skills. Hal tersebut dapat dicapai dengan memberikan latihan dan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan anak sejalan dengan perkembangan usianya.

Peran ibu bagi anak-anaknya, antara lain: 6
a. Membina keluarga sejahtera sebagai wahana penanaman nilai agama, etik dan moral serta nilai-nilai luhur bangsa, sehingga memiliki integritas kepribadian dan etos kemandirian yang tangguh.

b. Memperhatikan kebutuhan anak (perhatian/ atensi, kasih sayang, penerimaan/ acceptance, perawatan/care, dan lain-lain)

c. Bersikap bijaksana dengan menciptakan dan memelihara kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan yang berkualitas dalam keluarga serta pemahaman atas potensi dan keterbatasan anak.

d. Melaksanakan peran pendamping terhadap anak, baik dalam belajar, bermain dan bergaul, serta menegakkan disiplin dalam rumah, membina kepatuhan dan ketaatan pada aturan keluarga

e. Mencurahkan kasih sayang namun tidak memanjakan, melaksanakan kondisi yang ketat dan tegas namun bukan tidak percaya atau mengekang anggota keluarga.

f. Berperan sebagai kawan terhadap anak-anaknya, sehingga dapat membantu mencari jalan keluar dari kesulitan yang dialami anak-anaknya.

g. Memotivasi anak dan mendorong untuk meraih prestasi yang setinggi tingginya.
Semua itu dilaksanakan dengan ketulusan, kesabaran dan konsisten dengan komitmen semata-mata demi kesuksesan dan kebahagiaan anak. Usia anak dalam sebuah keluarga sangat bervariasi. Setiap tahap perkembangan individu mempunyai karateristik tersendiri sehingga membutuhkan pola asuh dan pola didik yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap karateristik anak, baik fisik maupun psikologis. Yang akan dibahas lebih mendalam dalam makalah ini adalah bagaimana karateristik dan pola pendekatan terhadap anak yang berada dalam usia remaja, karena masa remaja merupakan masa kritis. Bilamana anak berhasil melewati masa remaja dengan baik, dia akan menjadi orang dewasa yang baik pula, tetapi bilamana gagal melewati masa tersebut, dia akan mengalami beberapa masalah di kemudian hari.

Masa remaja merupakan masa transisi dan kelanjutan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Sebagai suatu proses transisi, masa remaja ditandai dengan berbagai perubahan dalam aspek-aspek: fisik, psikomotorik, bahasa, kognitif, sosial, moral, keagamaan, kepribadian dan emosi. 7
Untuk anak laki-laki, masa remaja merupakan persiapan dari boy menjadi man, dan bagi anak perempuan dari girl menjadi woman. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa ini demikian pesatnya sehingga menimbulkan kejutan-kejutan, baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi lingkungannya. Kalau perkembangan itu diumpamakan sebagai gelombang lautan, maka masa remaja merupakan lautan dengan gelombang tertinggi. Disebut juga dengan masa badai dan topan

Masa remaja ditandai dengan 3 ciri utama:
a. Ciri primer berupa matangnya karateristik seksual primer dalam bentuk menstruasi bagi wanita dan keluarnya sperma pertama pada laki-laki. Organ-organ seksual primer sudah berfungsi untuk reproduksi;
b. Ciri sekunder: membesarnya buah dada, melebarnya pinggul, kulit menjadi halus (perempuan); perubahan suara dan otot-otot (laki-laki), tumbuhnya bulu-bulu, pertambahan berat badan, dan lain-lain;
c. Ciri tertier: perubahan emosi, sikap, jalan fikiran, pandangan hidup, kebiasaan, minat dan lain-lain.

Berangkat dari ciri-ciri umum tersebut, maka masa remaja ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:
a. Meningkatnya intensitas emosi-onal sehubungan dengan perkem-bangan fisik dan mental;
b. Perubahan kematangan organ seksual membuat remaja menjadi kurang yakin akan dirinya;
c. Perubahan fisik, minat dan peran-peran sosial membuat remaja untuk mampu mengkreasi cara-cara menghadapi masalah; dan
d. Perubahan nilai karena perubahan pola hidup dan perilaku.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja ini seringkali menimbulkan masalah psikologis pada remaja seperti mengalami stress, depresi, rendah diri, dan bingung dalam memposisikan diri serta gamang dalam berbuat sesuatu. Dalam upaya menghadapi remaja, secara psikologis ada hal-hal yang dapat dijadikan sebagai pangkal tolak yaitu: berusaha memahami perasaan dan situasi remaja dan memahami perasaan diri sendiri.

Untuk ini beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: 8

a. Perlu mengetahui pengalaman mereka di masa lalu (seperti perkembangannya, penerimaan dirinya, perlakuan masa kecil yang dia alami, kepuasan dirinya, dan lain-lain).
b. Perlu mengetahui dorongan-dorongan (motives) yang menyebabkan mereka berbuat sesuatu (misalnya kebutuhan untuk disayangi, ingin meniru, ingin diperhatikan, ingin disayangi dan lain-lain).
c. Bersikap jujur dan terbuka kepada mereka dan jangan pura-pura.
d. Hidup bersama mereka dan bukan hidup untuk mereka.
e. Memberi kesempatan terhadap mereka untuk mengemukakan pendapat secara bebas, penuh pengertian, dan perhatian dalam suatu komunikasi dialogis.

Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak dan remaja bermasalah (terlibat perkelahian/tawuran,pergaulan bebas, perkosaan, narkoba, miras, dll.) pada umumnya adalah anak-anak yang tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak menerapkan pola pembinaan yang kondusif. Keluarga broken home dan sering mengalami percekcokan/pertengkaran menyebabkan anak-anak tidak betah di rumah, menjadi anak liar dan mencari kompensasi kasih sayang di luar rumah. 9 Anak-anak seperti itu akan cenderung sangat mudah dipengaruhi untuk berbuat hal negatif . Mereka akan mudah dimanfaatkan sebagai pion-pion pelaku tindakan anarkis, sabotase, kerusuhan dan pemberontakan.
Anak-anak dan remaja yang dimanja dan terlalu dikekang akan tumbuh menjadi generasi yang kurang percaya diri, cengeng, dan tidak survive dalam menghadapi masalah, lambat untuk dewasa, mudah dibujuk dan ditipu serta kurang dapat menghargai orang lain dan kurang memiliki kepedulian sosial. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang terlalu bebas, akan tumbuh menjadi generasi yang kurang bertanggung jawab, permisif, liar, semau gue, masa bodoh dan tidak memiliki tatakrama/sopan santun.
Generasi (muda) negatif seperti tersebut di atas sekarang makin tumbuh berkembang. Generasi yang bukan saja tidak/kurang memiliki kepedulian sosial melainkan kepedulian terhadap masa depan dirinya sendiri, generasi jalan pintas yang ingin memperoleh sesuatu tanpa kerja keras, generasi peminta-minta. Generasi seperti itu cenderung menjadi robot yang mudah diadu domba. Mereka tak dapat diharapkan memiliki kesadaran bela negara dan cinta tanah air. Generasi seperti itu diyakini sangat minim mendapatkan sentuhan kasih sayang dan perhatian ibu serta tidak mendapatkan bimbingan dan pengasuhan keluarga yang memadai.

Peran sebagai Ibu Rumah Tangga
Seorang ayah selalu dikatakan sebagai kepala keluarga maka yang menjadi Kepala Rumah Tangga adalah seorang istri. Dalam perannya sebagai kepala rumah tangga terkandung fungsi pengelolaan/ manajemen. Peran yang utama adalah mengatur dan merencanakan kebutuhan rumah tangga, hidup sederhana, tidak kikir dan berorientasi ke masa depan.
Dari peran di atas, yang harus dikelola adalah barang, manusia dan uang. Dalam pengelolaan barang tercakup di dalamnya mengurus rumah (terlepas apakah dikerjakan sendiri atau oleh pembantu), sirkulasi barang, pemenuhan kebutuhan berdasarkan skala prioritas, dan lain-lain. Dalam pengelolaan orang, tercakup di dalamnya pembagian tugas, kewajiban, hak dan wewenang setiap anggota keluarga. Dalam pengelolaan uang tercakup di dalamnya penggunaan berdasarkan kebutuhan prioritas, sumber keuangan dan keluarga sebagai muara penggunaan.
Agar peran ibu lebih terarah dan berdaya guna maka diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan termasuk pengetahuan/wawasan mengenai situasi dan kondisi lingkungan lokal, nasional hingga internasional. dalam rangka meningkatkan pelaksanaan perannya itu. Apabila peran-peran yang diberikan kepada seorang ibu/istri dijalankan sebaik mungkin maka akan memberikan dukungan kepada setiap anggota keluarga untuk dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. Sebaliknya persoalan akan muncul manakala ketiga peran tersebut diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya bahkan mungkin akan mengganggu ketentraman setiap anggota keluarga terutama mengganggu suami/beban tugas suami dan akhirnya akan menjadi beban mental/stress.
Masalah-masalah yang mungkin akan muncul sebagai akibat dari kondisi di atas dapat berupa konflik dan bahkan mungkin berupa stress.

Konflik
Konflik dapat diartikan suatu keadaan saling bertentangan yang dialami oleh seseorang karena adanya dorongan-dorongan yang sama kuat baik yang terjadi di dalam dirinya maupun dengan suatu yang berada di luar dirinya. Konflik dapat terjadi karena individu tidak mampu membuat pilihan yang tepat membuat keputusan.10

Konflik dapat terjadi:
a. Intra pribadi, yaitu konflik yang terjadi dalam diri individu sendiri. Misalnya: memilih sekolah, memilih pekerjaan, memilih barang, menduduki jabatan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan, dan lain-lain.

b. Antar pribadi, yaitu konflik yang terjadi dengan orang lain. Misalnya: pertentangan kemauan antara suami dengan istri terhadap suatu keadaan, kompetisi/persaingan yang tidak sehat dengan teman sejawat, pertentangan antara ibu dengan anak, dan lain-lain.

Sumber konflik dalam keluarga, antara lain: 5 (1) Ketidakmatangan dalam kepribadian; (2) Perbedaan sikap dan pandangan (falsafah hidup dan keyakinan); (3) Keuangan; (4) Tidak ada saling pengertian; (5) Perbedaan agama; (6) Penyimpangan/penyelewengan seksual (ketidakpuasan seksual, takut hamil, kelainan seksual, impotensi, homoseksual, sadistis, dan lain-lain).

Banyak dampak yang ditimbulkan konflik keluarga, antara lain : (1) Para anggota keluarga sulit berkembang dan tidak bahagia; (2) Anak-anak tidak betah di rumah; (3) Kehilangan tokoh idola; (4) Kehilangan kepercayaan diri; (5) Berkembang sikap agresif dan permusuhan; (6) Rendah diri; (7) Tidak mempunyai cita-cita; (8) Mengisolasi diri; dan (9) Tak acuh.
Upaya yang seyogyanya dilakukan seorang ibu dalam menanggulangi konflik:
a. Meningkatkan iman dan taqwa, yakin bahwa segalanya berasal dari Tuhan.
b. Memahami diri dan lingkungan.
c. Membuat keputusan secara tepat dilandasi dengan berbagai pertimbangan
d. Pengendalian diri disertai sikap yang matang.
e. Keterampilan sosial pribadi dengan memiliki pribadi yang mantap disertai dengan interaksi sosial yang baik.
f. Menciptakan lingkungan yang kondusif (tenang, damai dan adil).

Apabila konflik yang dialami oleh individu tidak segera dapat diatasi, maka individu yang bersangkutran akan mengalami suatu kekecewaan yang amat mendalam dan akhirnya akan mengalami suatu tekanan bathin yang disebut dengan stress.

Stres/Stress
Stress dapat diartikan sebagai suatu keadaan dalam tekanan baik dari dalam dirinya maupun luar dirinya. Setiap orang potensial untuk mengalami stres karena pada dasarnya setiap orang selalu dihadapkan pada tantangan baru setiap saat. 10 Akan tetapi yang perlu diwaspadai adalah bagaimana dampak dari stres itu terhadap diri kita baik secara fisik maupun psikis.
Pada saat individu mengalami stres, ada yang menghadapinya dengan cara berfikir sehat sehingga ia tetap bahagia dengan stresnya itu dan menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang harus dilalui bukan dihindari. Tetapi adapula yang tidak mampu menghadapinya sehingga mengakibatkan gangguan. Stres tidak selamanya berdampak negatif tetapi adakalanya justru dapat berakibat positif bila dihadapi dengan benar.

Hal-hal yang dapat menjadi penyebab stres, antara lain: 5 (1) Frustasi atau kekecewaan yaitu situasi yang terjadi karena kegagalan individu mencapai tujuannya; (2) Konflik atau pertentangan; (3) Desakan adalah sesuatu keadaan yang mendesak individu untuk melakukan sesuatu; (4) Perubahan yang terjadi dalam hidup individu; dan (5) Kekeliruan dalam berfikir, (misalnya: merasa dirinya paling sial, paling hebat, merasa orang lain membenci, dan lain-lain).
Beberapa reaksi yang ditimbulkan dari stres: (1) Reaksi jasmaniah, seperti: tekanan darah, pencernaan, pernafasan, syaraf tertentu dan alergi ; (2) Reaksi emosional, seperti: kecemasan, ketakutan, marah tanpa penyebab yang jelas, rasa bersalah, depresi, rasa terisolasi, dan rendah diri; (3) Bentuk perilaku pertahanan diri, seperti: proyeksi, kompensasi, rasionalisasi, fantasi, kecemasan tak berdaya, represi, dan (4) Bentuk perubahan dalam cara berfikir, seperti: kurang percaya diri, sangat berhati-hati dan lain-lain.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres, antara lain:
a. Memperkecil dan mengendaikan sumber-sumber stress.
b. Menetralkan dampak yang ditimbulkan oleh stress.
c. Meningkatkan daya tahan pribadi.
d. Memperkuat diri sendiri dengan keterampilan diri, olah raga, ibadah, manajemen waktu, dan lain-lain

Pendidikan Keluarga yang Baik Mendasari Perilaku WNI yang Baik, Cinta Tanah Air dan Sadar Bela Negara
Pendidikan keluarga yang baik adalah pendidikan kepada anak yang diselenggarakan dengan landasan potensi (bakat dan minat) dan keterbatasan anak sesuai kaidah psikologi anak / psikologi perkem-bangan serta kebutuhan anak atas perhatian dan kasih sayang. Untuk dapatnya pendidikan seperti itu dilaksanakan, perlu ada beberapa prasyarat, antara lain adanya :
a. Kerukunan/kedamaian dalam keluarga,
b. Kecukupan kebutuhan hidup (kebutuhan dasar),
c. Pemahaman istri/ibu terhadap kaidah-kaidah ilmu mendidik anak, dan
d. Kepedulian seorang ibu untuk membekali anak dengan sikap, moral, nilai-nilai dan perilaku yang baik.

Apakah untuk itu ibu harus belajar ilmu mendidik dan psikologi anak secara formal? Seorang ibu yang tidak pernah belajar ilmu mendidik dan psikologi secara formal dapat menjadi seorang pendidik, pembimbing dan pengasuh anak yang berhasil. Banyak pejabat dan cendekiawan terkenal ternyata orang tuanya (ibunya) hanya berpendidikan (formal) rendah. Sesungguhnya nilai moral dan budi pekerti yang merupakan fondasi utama perilaku baik dapat dimiliki oleh setiap orang dari keteladanan orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat yang diidolakan. Yang kedua, dengan pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang dianut/diyakini akan membentangi seseorang dari perilaku amoral dan kriminal serta budaya asing yang negatif.
Nilai moral, agama dan budi pekerti yang diberikan secara dini akan tertanam dengan kuat menjadi keyakinan/keimanan sehingga menjadikan seseorang tidak mudah tergoda melakukan perbuatan negatif yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan agama yang dianutnya. Kunci utama keberhasilan seseorang ibu dalam mendidik anak-anaknya bukan terletak pada tingkat pendidikan atau ilmunya tetapi terletak pada kepeduliannya yang konsisten dalam mengajarkan hal-hal yang baik (ma’ruf) dan mencegah/melarang perbuatan buruk (mungkar) kepada anak-anaknya.
Era globalisasi yang berbarengan dengan liberalisasi oleh tidak ada melonggarnya pendidikan/pengasuhan keluarga di rumah karena ibu terlalu sibuk bekerja, arisan, nonton sinetron dan infotainment di TV. Akibatnya, perhatian terhadap anak jadi terabaikan. Sebagian dari orang tua (ibu) beranggapan dengan memberikan sejumlah uang dan fasilitas/mainan sudah merasa cukup memberikan perhatian kepada anak. Padahal yang dibutuhkan anak adalah sentuhan kasih sayang dan perhatian dalam bentuk komunikasi langsung yang intensif. Anak/remaja butuh bimbingan yang menuntun perilaku mereka dan dapat membedakan mana yang boleh dan yang tidak boleh, mana yang baik dan yang buruk.
Remaja sebagai usia pra dewasa membutuhkan pendidikan/pengajaran tentang hak dan kewajiban sebagai anak. Mereka juga perlu diajari tentang tanggung jawab, oleh karena itu anak harus diberi tugas sesuai dengan tingkat kemampuan dan kematangan usianya.
Boleh jadi anak bermasalah juga dikarenakan salah asuh. Contoh ; anak yang terlalu dimanja dapat mengakibatkan dia kurang percaya diri, dan cengeng. Anak yang terlalu dikekang (over protective), menyebabkan dia bertindak liar, binal dan lepas kendali ketika jauh dari rumah. Sebaliknya, anak yang selalu dibebaskan (dimasabodohkan), dia juga akan masa bodoh (permisif) tentang apa-apa yang terjadi di sekitarnya, dia akan sulit membedakan sesuatu yang benar daripada yang salah serta apa arti sebuah tanggung jawab.
Ketika gejala negatif anak dan remaja semakin meningkat sungguh sangat mencemaskan, karena hampir tidak ada upaya signifikan untuk mengatasinya. Seharusnya masalah anak dan remaja itu menjadi perhatian kita bersama, pemerintah dan semua komponen masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga. Perlu ada upaya penyadaran guna merevitalisasi peran ibu dalam pendidikan, bimbingan dan pengasuhan keluarga (anak), karena ibulah yang memiliki kelembutan dan paling banyak berhubungan dengan anak. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata sebagian besar orang terkenal dan berhasil dalam kariernya adalah mereka yang di masa kecil banyak mendapatkan curahan perhatian dan kasih saying dari keluarga, khususnya dari ibunya. Dengan kedekatannya seorang ibu dan anak, ibu akan tahu persis potensi dan kelemahan anak sehingga seorang ibu akan dapat mengarahkan pendidikan anak selanjutnya ke jurusan yang tepat dan atau pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat anak.
Seorang anak/remaja yang sejak kecil mendapatkan pendidikan moral, agama, budi pekerti dan pengetahuan umum yang seimbang serta keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, cenderung menjadi seorang yang berkepribadian baik, bermanfaat bagi sesama, siap mengabdi bagi nusa dan bangsa serta bela negara. Karena mencintai nusa, bangsa dan bela negara merupakan sebagian dari iman dan kewajiban (right or wrong is my country). Generasi seperti itulah yang diperlukan untuk membangun “Indonesia Bangkit” yang siap menghadapi tekanan globalisasi , khususnya liberalisasi ekonomi dan westernism (ancaman budaya). Demikian juga dengan ancaman dan tantangan internal, seperti pengangguran, melemahnya daya saing, masalah narkoba dan miras, dll. di tengah-tengah masyarakat. Masalah-masalah tersebut hanya mungkin dapat diatasi dengan kebersamaan, kebulatan tekad dan kerja keras yang sinergis dalam suasana yang adil, aman dan damai di bawah kepemimpinan orang-orang yang jujur, berani dan bersih.
Masyarakat bawah yang semakin lemah daya belinya dan merasa aspirasinya tidak diakomodasi oleh wakil-wakil mereka di DPR/DPRD telah menjadikan mereka merasa kehilangan gairah hidup, kepedulian sosial dan masa bodoh serta mengalami tekanan mental/stres. Mengharapkan kesadaran bela negara dan cinta tanah air dari masyarakat mereka yang terdegradasi seperti itu hanyalah sebuah mimpi. Kondisi itu patut diwaspadai dan segera mendapat perhatian karena akumulasi warga msyarakat yang mengalami stres berkepanjangan akan melahirkan depresi massa yang sangat mudah disulut untuk melakukan tindakan anarkis dan kerusuhan sosial. Membiarkan masalah orang-orang miskin mengidap stres/depresi sama artinya dengan memelihara “bom waktu”.

Beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman dalam gerakan revitalisasi ibu dalam pendidikan dan pengasuhan anak adalah sebagai berikut :
1. Adakan komunikasi (langsung dan tidak langsung) setiap hari dengan anak, berikan komentar (pujian dan celaan) terhadap hal-hal yang anak lakukan,
2. Responsif terhadap pertanyaan anak dalam keadaan sesibuk apapun,
3. Sediakan waktu untuk berceritera /mendongeng untuk anak dengan ceritera yang edukatif atau kepahlawanan yang bersumber dari dalam negeri. Dalam hal ini dapat juga ceritera dari pewayangan,
4. Adakan pendampingan ketika anak menonton TV, khususnya untuk balita dan batasi kesempatan nonton TV anak,
5. Sediakan mainan yang merang-sang kecerdasan, keterampilan dan kreativitas anak,
6. Belikan anak buku-buku bacaan yang bermutu/bernilai edukatif dan arahkan anak agar gemar membaca,
7. Tanamkan kehidupan demokratis, kebersamaan dan saling menghargai dengan sesama anggota keluarga dan lingkungan terdekat sedini mungkin. Berikan tugas/pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan anak, hal ini penting dalam rangka menanamkan kemandirian.
8. Sekali-kali ajaklah anak ke panti asuhan atau panti jompo guna menumbuhkan rasa syukur bagi anak, dan
9. Berwisata ke tempat-tempat bersejarah, pantai, pegunungan, tempat-tempat yang menarik untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan kebanggaan dan cinta tanah air bagi mereka.

Penutup
Mengingat begitu penting dan mendasarnya pendidikan, bimbingan dan pengasuhan anak secara dini oleh para ibu di rumah dalam memberikan landasan, pola hidup dan perilaku anak di kemudian hari, seyogyanya pendidikan, bimbingan dan pengasuhan anak di rumah menjadi perhatian kaum ibu dan calon ibu rumah tangga. Untuk itu psikologi keluarga sebagai pengetahuan dasar bimbingan dan pengasuhan anak perlu disosialisasikan melalui berbagai media komunikasi.

Daftar Referensi
*    Daradjat, Z. (l994). Remaja Harapan dan Tantangan.Jakarta : Rineka Cipta.
*    Daniel Goleman, (1995), Emotional Intellegence. Jakarta: Gramedia Pustaka.
*    Hurlock, E.B. (l973). Adolescence Development. Fourth Edition. New Delhi : Mc Graw Hill.
___________ (l978a). Child Growth and Development. Fifth Edition. New Delhi : Mc Graw Hill Inc.
*    Mappiare, A. (l982), Psikologi Perkembangan. Surabaya : Usaha Nasional
*    Natawidjaja, R. (l978), Penyuluhan di Sekolah. Bandung : Firma Hasman.
*    Lerner, L.M. and Hultsch, D.F. (l983). Human Development : A Life-Span Development Perspective. Mc Graw Hill Inc.

1 Surya, M. (l990). Pengantar Psikologi Perkembangan. Publikasi Jurusan PPB FIP IKIP Bandung.

2 Monks, F.J. et.al. (l994). Psikologi Perkembangan. Alih Bahasa : Siti Rahayu Haditono. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

3 Nashih, A.U. (l998). Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam. Solo : Pustaka Amanah.

4 Perez, J.F. (l979). Family Counseling. Van Nostrand Reinhold. New York : Company.

5 Surya, M. (l997). Bimbingan untuk Mempersiapkan Generasi Muda Memasuki Abad-21 (Pendekatan Psiko-Pedagogis). Pidato Pengukuhan Guru Besar FIP. Jurusan PPB IKIP Bandung.

6 Begner, J.J. (l979). Parent Child Relations. Mc Milan Publishing : Co. Inc New York.

7 Surya, M. (l998). Perilaku Sek-sual. Bandung : Makalah.

8 Wirawan, W.S. (l986). Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks. Jakarta : Rajawali Pers.

9 Santrock, J.W. (2000), Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup. Alih Bahasa : Juda Damanik dan Achmad Chusairi. Jakarta : Erlangga

10 Agoes, Y.A. (l993). “Meningkat-kan Hubungan Remaja dengan Orang Tua” Mengenal dan Memahami Masalah Remaja. Jakarta : Pustaka Antara.

Sumber: http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=16&mnorutisi=10

Redaksi MAULA mengucapkan semoga dengan memperingati Hari Lahir Kartini, perempuan Indonesia dapat maju dan lepas dari berbagai intimidasi dan penyelewengan yang kerap dilakukan oleh sistem.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: