Oleh: maulanusantara | Juni 10, 2010

Sajak-sajak Sufi Rumi

Oleh Abdul Hadi W. M.

Jalaluddin Rumi adalah penyair sufi terbesar sepanjang zaman. Nama lengkapnya Jalaluddin Muhammad bin Husayn al-Khattibi al-Bahri. Banyak gelar yang disandangnya, yang paling popular ialah Khudawandagar, yang dalam bahasa Turk artinya Tuan Besar. Dalam sajak-sajaknya dia menggunakan takhallus (nama pena) Khamsuy, yang artinya Diam. Di Turki dia dipanggil Mevlana atau Mevlevi, artinya sama dengan Syekh. Beberapa muridnya seperti Aflaki menyebutnya Sirr Allah al-A`zam (Rahasia Agung Tuhan). Gelar al-Rumi atau Mulla yi-Rum diberikan karena dia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Asia Kecil, yaitu Turki atau Anatolia, yang pada awal abad ke-13 sebagian besar dari wilayahnya masih merupakan bagian dari kekaisaran Rumawi atau Bizantium.
. Rumi lahir pada 6 Rabi`ul Awwal 604 H bertepatan dengan 30 September 1207 M di Balkh, kini Afghanistan, sebuah kota yang pada abad ke-13 merupakan pusat kebudayaan Parsi. Beliau wafat pada 5 Jumad il Akhir 672 H bertepatan 16 Desember 1273 M di Qunya, Turki
Ayah Rumi, Muhammad ibn Husyain al-Khatibi alias Bahauddin Walad ialah seorang ulama terkenal di Balkh dan bergelar Sultan al-`Ulama. Ibu beliau ialah ahli keluarga raja Khwarizmi. Pada tahun 1210, beberapa tahun sebelum kerajaaan Khwarizmi ditakluk tentara Mongol, keluarga Rumi pindah ke Khurasan, kemudian Nisyapur. Pada ketika tentara Mongol menakluki kerajaan Khwarizmi pada tahun 1220 keluarga Rumi mengungsi ke Baghdad dan kemudian ke Mekkah. Dari Mekkah mereka pindah ke Damaskus, Syria, dan akhirnya menemui tempat tinggal yang selamat di Kunya, Turki.

Tidak diketahui secara pasti mengapa Bahauddin Walad dan keluarganya pindah dari Balkh, provinsi Parsi bahagian Timur, menuju Khurasan. Ada dua pendapat mengenai sebab-sebab keluarga itu mengungsi ke Barat: pertama ialah invasi tentara Mongol. Kedua, masalah politik dalaman kerajaan Khwarizmi.Menurut anlisis beberapa ahli sejarah pada masa itu raja Khwarizmi yang sangat berkuasa Muhammad Khwarazmisyah menentang Tariqat Kubrawiyah yang dipimpin oleh Bahauddin Walad.
Namun pendapat ini diragui karena pada waktu itu Bahauddin Walad mempunyai kedudukan yang tinggi dalam lingkungan kerajaan Khwarizmi. Para sufi sendiri berpendapat bahwa invansi Mongollah yang mendorong Bahauddin Walad pindah ke Khurasan, kemudian ke Nisyapur. Di Nisyapur keluarga Bahauddin Walad bertemu dengan Fariduddin `Attar. `Attar sangat terkesan pada Rumi yang pada waktu itu berusia 7 tahun, malahan `Attar meramalkan bahwa pada suatu ketika nanti Rumi akan menjadi seorang guru spiritual agung yang masyhur. `Attar memberi hadiah buku Asrar-namah (Kitab Rahsia Ketuhanan) kepada Rumi kecil.

Kedatangan Bahauddin Walad karena mendapat jemputan dari Sultan `Ala`uddin al-Kayqubad, penguasa Anatolia. Keluarga Bahauddin Walad tinggal mula-mula tinggal di Laranda selama 4 tahun pada tahun 1211-1215. Di Laranda Jalaluddin Rumi menikahi Jauhar Khatun, putri seorang ulama terkenal. Dari perkawinannya itu Rumi memperolehi anak lelaki yang kemudiannya masyhur sebagai seorang sufi dan pemimpin Tariqat Maulawiyah, iaitu Sultan Walad.

Pada tahun 1215 Sultan Kayqubad mengundang Bahauddin Walad tinggal di Kunya, ibukota kerajaan Anatolia. Pada waktu Kunya merupakan pusat kebudayaan Islam menggantikan peranan Baghdad yang pada tahun 1256 M diduduki dan dihancurkan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan panglimanya Hulagu Khan. Sebagai pusat kebudayaan Kunya merupakan tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur, serta pusat pertemuan berbagai agama khususnya Yahudi, Kristen dan Islam. Sebagai pusat pengajian ilmu Kunya menarik perhatian kaum cerdik cendekia dan pelajar dari berbagai-bagai negeri.. Selepas Baghdad ditaklukkan oleh tentara Mongol pimpinan Jengis Khan, banyak golongan terpelajar dari negeri Islam bahagian Timur mengungsi ke Kunya, sehingga kota ini segera berkembang menjadi pusat pengajian yang penting pada akhir abad ke-13 M. Di kota ini banyak sekali terdapat lembaga-lembaga pendidikan Islam dan Kristian. Penduduk Kunya, sebagaimana penduduk Anatolia (Turki), terdiri dari berbagai bangsa. Di kota ini dapat dijumpai banyak orang Arab, Parsi, Turk, Yunani, Armenia dan Kurdi.

Pada waktu Bahauddin Walad tiba di Kunya beliau mendapat sambutan hangat dari masyarakat Muslim. Dengan mendapat bantuan dari Sultan Kayqubad Bahauddin Walad mendirikan sebuah madrasah yang cukup besar. Dalam masa satu tahun ratusan murid berdatangan untuk belajar kepada ulama terkenal itu. Pada tahun 1331 M Bahauddin Walad meninggal dunia. Pengurusan madrasahnya dipegang oleh Jalaluddin Rumi yang baru berusia 24 tahun.
Pada tahun 1232 M seorang ulama sufi terkenal bernama Syeikh Burhanuddin al-Muhaqqiq al-Tirmidhi datang di Kunya dan mendapat sambutan hangat penduduk yang ingin mempelajari tasawuf. Rumi yang baru satu tahun menggantikan ayahnya juga tertarik untuk belajar kepada Burhanuddin al-Tirmidhi. Maka beliau menyerahkan pengurusan madrasahnya kepada orang lain, dan beliau sendiri belajar ilmu tasawuf di bawah bimbingan Syekh Burhanuddin al-Tirmidhi. Selama sembilan tahun lamanya Rumi mengamalkan kehidupan sebagai seorang ahli sufi, dan selama itu beliau meluangkan masa mempelajari ilmu-ilmu agama di Madrasah Halawiyah, Aleppo, Syria. Pada umur 33 tahun Rumi sudah menguasai ilmu tasawuf, tafsir al-Qur`an, Hadits, usuluddin, ilmu syariat dan fiqih, sejarah dan kesusasteraan Islam, serta falsafah dan teologi.

Pada tahun 1241 Rumi kembali ke Kunya dan membina sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu agama, termasuk tasawuf. Beliau segera masyhur sebagai guru agama yang berpengetahuan tinggi dan mempunyai anak murid ratusan orang. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu syariat dan fiqah, tetapi juga ilmu tasawuf Untuk kebanyakan murid beliau mengajar ilmu formal, namun untuk murid-muridnya yang terpilih beliau mengajar ilmu tasawuf. Pergaulan Rumi juga sangat luas. Murid-muridnya bukan hanya orang Arab dan Parsi yang datang ke Kunya, tetapi juga orang-orang Turk dan Yunani. Pengalaman beliau mengajar ratusan murid dari berbagai kalangan dan kaum selama lima tahun memberi banyak hikmah kepada Rumi. Pada akhirnya beliau menyedari bahwa pengetahuan formal (ilmu-ilmu syariat dan fiqah) tidak mudah mengubah jiwa manusia, Menurut Rumi pengajaran formal ternyata tidak sanggup membuat kepribadian seseorang berkembang sebagaimana diharap. Tingkah laku manusia, menurut Rumi, dapat berubah apabila sikap jiwa dan fikiran mereka berubah terhadap dunia dan Tuhan. Manusia akan mendapat kepribadiannya yang baik apabila fikiran dan jiwanya terang, serta memiliki perasaan positif terhadap segala sesuatu. Memeluk agama apa pun seseorang, tidak berbeda. kecuali apabila mereka menyadari potensi tersembunyi dari dirinya sebagai makhluk spiritual yang memancarkan cahaya ilahiyah

Sejak Rumi menyedari hal tersebut beliau selalu berpendapat bahwa undang-undang (hukum), pemikiran dan pengetahuan tidak cukup bagi pendidikan seseorang. Beliau pun mulai jemu kepada berbagai-bagai bentuk formalisme dan dogmatisme yang diajarkan para ulama, pendeta dan rabbi. Rumi menyedari bahwa dalam diri manusia ada suatu tenaga tersembunyi, yang apabila digunakan sungguh-sungguh dengan cara yang benar, dapat membawa manusia ke dalam kebahagiaan dan pengetahuan yang luas dan tak terbatas Tenaga tersembunyi itu ialah Cinta Ilahi (`Ishq).
Pada tahun 1224-5 M. seorang guru kerohanian yang kharismatik dari Tabriz, Iran, Syamsiuddin al-Tabrizi atau Syamsi Tabriz, muncu di kota Kunya.. Kedatangan Syamsi Tabriz inilah yang membawa perubahan besar dalam kehidupan Rumi. Selama bertahun-tahun Rumi mengikuti sufi pengembara ini dan meninggalkan sekolah yang telah beliau bina selama 4 tahun.

Syamsi Tabriz ialah seorang darwsih besar yang kharismatik. Pemikiran beliau sangat kritis dan radikal. Khutbah-khutbahnya memikat dan kandungan khutbah-khutbahnya sangat mendalam. Beliau ialah seorang sufi yang sangat berbeza dengan sufi konvesional pada zamannya. Rumi mendapati dalam diri tokoh Syamsi Tabriz keperibadian manusia yang berpengetahuan tinggi dan telah lama pula beliau dambakan. Gambaran kepribadian apakah yang dijumpai Rumi dalam diri Syamsi Tabriz? Gambaran peribadi seorang Insan Kamil, itulah jawabnya. Syamsi mengembara ke pelbagai negeri Islam yang penduduknya sedang putus asa dan kebingungan disebabkan penjarahan tentara Mongol dan peperangan Salib yang menghancurkan negeri-negeri kaum Muslimin. Beliau pergi mengembara untuk mengkhutbahkan perlunya manusia mencintai Tuhan agar kepercayaan dirinya tumbuh kembali. Beliau pula mengajarkan umat Islam agar berikhtiar sekuat tenega memeerangi kelemahan diri mereka dan bangkit menegakkan kembali keimanan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Syamsi mengembara tanpa memikirkan harta dan keselamatan jiwanya hanya dengan maksud: mengajarkan perlunya manusia mengembangkan tamadun yang sepenuhnya didasarkan atas cinta.

Demikianlah perjumpaan Rumi dengan Syamsi Tabriz sejak awal memberi kesan mendalam terhadap kedua-dua tokoh spiritual tersebut. Rumi tidak dapat berpisah dari gurunya, kemana saja gurunya pergi beliau mengikutinya. Lambat laun persahabatan tersebut merubah kepribadian Rumi. Tokoh yang sebelumnya dipandang oleh penduduk Qunya sebagai seorang guru syariat dan ilmu fiqah yang saleh dan pendiam itu kini berubah menjadi seorang darwish dan penyair yang gemar akan ekstase kerohanian. Perubahan itu lebih dirasakan lagi pada tahun 1246 ketika Syamsi Tabriz tiba-tiba menghilang dan meninggalkan Qunya menuju Damaskus, tanpa memberi kabar kepada Rumi Menurut setengah-setengah riwayat Syamsi Tabriz meninggalkan Qunya karena diusir oleh murid-murid Rumi yang tidak menginginkan persahabatan antara Rumi dan Syamsi berlangsung lebih lama. Hal ini dapat dimengerti karena sejak bertemu Syamsi Tabriz, Rumi tidak pernah lagi hadir di kelas untuk mengajar. Rumi menghabiskan seluruh waktunya untuk mendengarkan khutbah-khutbah Syamsi Tabriz dan mempraktekkan disiplin kerohanian.
Pada ketika Syamsi Tabriz pergi ke Damaskus, Rumi mengutus beberapa muridnya untuk menemui guru kerohanian itu. Pada tahun 1247 Syamsi Tabriz berjaya dibujuk untuk kembali ke Qunya, tetapi tak lama kemudian beliau menghilang untuk selama-lamanya. Rumi berikhtiar untuk mencarinya sendiri ke merata tempat. Semakin lama kerinduan Rumi akan kehadiran gurunya semakin mendalam. Dalam ekstase Rumi selalu membayangkan kehadiran gurunya dan pada saat-saat sedemikian itu puisi-puisi mistikal Rumi dihasilkan.

Pada tahun 1249 Rumi kembali ke Qunya sebagai seorang penyair dan memulai tugas barunya sebagai guru kerohanian. Beliau mencipta tarian spiritual, iaitu tari-tarian berputar seperti gazing yang oleh orang Eropah disebut “the Whirling Dervish’s Dance”. Tarian ini dipertunjukkan oleh para pengikut Tariqat Maulawiyah dalam upacara sama`, konser kerohanian sufi yang terdiri dari pembacaan azan, zikir, wirid, diiringi musik (suling), rawatib (nyanyian kudus) dan pembacaan puisi keagamaan. Dalam upacara sama` inilah biasanya para sufi mengalami ekstase mistikal dan apabila yang mengalaminya seorang penyair maka dia akan dapat menghasilkan sajak-sajaknya. Rumi sendiri menghasilkan kebanyakan sajak-sajaknya pada ketika beliau mengalami ekstase, atau selepas meditasi (tafakkur). Sajak-sajak itu diucapkan oleh penyair dan dirakam oleh beberapa orang murid atau temannya.

Rumi dan Karya-karyanya
Rumi ialah seorang penyair sufi yang prolifik. Menurut A. J. Arberry beliau menulis kurang lebih 34.662 bait puisi dalam bentuk ghazal (diwan), ruba`i dan mathnawi.
Di samping itu beliau juga menulis beberapa risalah tasawuf berdasarkan khutbah-khutbah yang disampaikan kepada murid-muridnya dan penduduk Qunya. Karya-karya Rumi yang terkenal ialah:
1. Diwan-i Shamsi Tabriz (Sajak-sajak Pujian Kepada Shamsi Tabriz).
2. Mathnawi-i Ma`nawi
3. Ruba`iyat
4.. Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya Ada Seperti Yang Ada Di Dalamnya)
5.. Makatib
6. Majalis-i Sab`ah

1. Diwan Syamsi Tabriz. Antologi ini terdiri dari 36.000 bait puisi, sebahagian besarnya berbentuk ghazal. Dalam setiap maqta` (bait akhir) Rumi selalu mencantum nama Shamsi Tabriz sebagai pengganti nama dirinya. Nampak bahwa dalam Diwan-nya itu Rumi, sebagai penyair, mengidentifikasi dirinya dengan guru spiritualnya. Sebahagian besar sajak dalam antologi ini ditulis pada ketika penyairnya mengalami ekstase kerohanian. Sajak-sajak dalam Diwan sangat musikal dan kaya akan ritme, sedangkan image-imagenya sangat hidup. Pengaruh ekstase dan tarian mistikal Tariqat Maulawiyah besar terhadap sajak-sajak dalam buku ini. Karena penyairnya menumpukan perhatian pada makna, maka ghazal-ghazal dalam Diwan banyak yang menyimpang dari prosodi dan metrum ghazal konvensional.

2. Mathnawi-i Ma`nawi. Kitab ini disebut juga Husami-namah (Kitab Husam). Apabila Diwan-i Shamsi Tabriz diilhami oleh Shamsi Tabriz, Mathnawi ditulis untuk memenuhi permintaan Husamuddin, salah seorang murid Rumi. Husamuddin meminta gurunya agar bersedia memaparkan rahsia-rahsia ilmu tasawuf dalam sebuah sebuah karya sastera seperti Hadigah al-Haqiqah karya Sana`i dan Mantiq al-Tayr karya Fariduddin `Attar. Buku ini dikerjakan selama 12 tahun, dibahagikan kepada 6 jilid, terdiri dari 35.700 bait sajak. Terjemahan dalam bahasa Inggeris tebalnya 2000 muka surat. Abdurrahman Jami, penulis sufi abad ke-15 menyatakan bahwa Mathnawi-i Ma`nawi merupakan Tafsir al-Qur`an dalam bahasa Persia (Hast Qur`an dar zaban-i Pahlavi). Yang dimaksud tafsir di sini ialah ta`wil atau tafsir spiritual terhadap ayat-ayat al-Qur`an yang ditulis dalam bentuk prosa-puisi yang indah atau mathnawi. Buku ini dipandang oleh para penilai sebagai karya sastra sufi terbesar sepanjang zaman. Nilai didaktik dan sasteranya amat mengagumkan. Setiap jilid memuat pendahuluan dalam bahasa Arab, dan selanjutnya Rumi menggunakan bahasa Parsi. Rumi menghuraikan luasnya lautan semangat kerohanian dan perjalanan manusia menuju dunia dan dari dunia menuju kebenaran hakiki.

3. Ruba`iyat.Walaupun tidak masyhur sebagaimana kedua-dua karya Rumi di atas, namun sajak-sajak dalam buku ini tidak kurang indah dan agung. Ruba-iyat terdiri dari 3.318 bait puisi. Melalui bukunya ini, sebagaimana melalui sajak-sajaknya dalam Diwan, Rumi menunjukkan diri sebagai penyair lirik yang agung.

4. Fihi Ma Fihi. Himpunan percakapan Rumi dengan rakan-rakan dan murid-muridnya. Buku ini kaya dengan hikmah dan membicarakan persoalan-persoalan yang dipertanyakan oleh murid-murid atau sahabat-sahabat dekat Rumi tentang berbagai perkara kemasyarakatan dan keagamaan.

5. Makatib. Himpunan surat-surat Rumi kepada sahabat-sahabat dekatnya, terutamanya Shalaluddin Zarkub dan seorang menantu perempuannya. Dalam buku ini Rumi mengungkap kehidupan spiritualnya sebagai seorang penempuh jalan kerohanian. Di dalamnya juga terkandung nasihat-nasihat Rumi kepada murid-muridnya berkenaan perkara-perkara praktikal dalam jalan tasawuf.

6. Majalis-i Sab`ah.. Himpunan khutbah Rumi di masjid dan majlis-majlis keagamaan.

Sajak-sajak dalam “Diwan”
Sudah pun dijelaskan bahwa sajak-sajak Rumi dalam Diwan-i Shamsi Tabriz memiliki ritema dan kualiti musik yang kaya karena kebanyakan sajak-sajak itu dicipta dalam suasana ekstase mistikal. Sudah pun dijelaskan pula bahwa sebagaimana penyair sufi yang lain gagasan yang diungkap Rumi dalam sajak-sajaknya ialah cinta transendental (`ishq), iaitu sejenis cinta mistikal yang dapat menembus bentuk formal dan membawa pecinta kepada hakikat kehidupan yang bersifat spiritual. Cinta jenis ini, menurut Rumi, dapat menerbitkan kegairahan spiritual terhadap sesuatu yang dicintai dan dengan itu mendorong seseorang berikhtiar mengenal lebih dalam dan secara langsung yang dicintai.

Dalam sajak-sajaknya Rumi menggunakan banyak kisah-kisah yang bersifat kesejarahan atau legenda. Kisah-kisah tersebut digunakan sebagai perumpamaan (tamsil) untuk melukiskan pengalaman mistikalnya yang berkenaan cinta transendental. Image-image visual dan simbolik sajak-sajak Rumi juga kata, diambil dari alam, peristiwa sejarah, kehidupan sehari-hari dan bentuk peribadatan. Image anggur dan cawan, alam tetumbuhan dan khaywan, kosmologi dan anthropologi. sangat digemari Rumi. Image simbolik yang juga sangat sering digunakan ialah yang berkenaan cahaya, misalnya matahari, bulan, lampu, pelita dan api. Cinta sering dilukiskan api yang nyalanya dapat menerangi kegelapan, tetapi juga api yang dapat membakar keinginan atau nafsu rendah.

Ciri lain puisi Rumi yang khas ialah pada setiap baris terakhir penyair menggunakan kata-kata Diam! atau menyebut nama Shamsi Tabriz, yang dikaitkan dengan Matahari Kebenaran, sebab kata Shams sendiri bermakna matahari dan kepribadian Shamsi Tabriz memancarkan cahaya kebenaran. Diam merujuk kepada rahsia terdalam penciptaan ialtu ‘cinta ilahi’ (`ishq-i ilahi), atau sikap jiwa yang selalu memusatkan pandangan (tafakkur, meditasi) kepada Sang Pencipta.

Rumi berpendapat bahwa untuk memahamkan kehidupan dan asal-usul kewujudan dirinya manusia mesti menggunakan jalan Cinta, bukan hanya jalan Pengetahuan. Cinta, menurut Rumi ialah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan di dalamnya. Di sini cinta dapat bermakna kehendak yang kuat untuk mencapai sesuatu atau menjelmakan sesuatu. Cinta juga dapat diberi makna pengetahuan intuitif yang bersifat langsung, yang didasarkan pada gerak hati terdalam. Dalam kehidupan beragama cinta dapat diberi erti sebagai keimanan yang mendalam dan kukuh kepada Yang Maha Kuasa. Kalau saja cinta yang menggerakkan perputaran alam semesta dan kehidupan makhluq-makhluq di dalamnya, maka cinta pulalah yang menggerakkan kehidupan manusia menuju kebehagiaan dan kebenaran.

Cinta juga sering diberi erti sebagai kecenderungan hati seseorang yang kuat terhadap sesuatu. Cinta pada akhirnya membawa seseorang mengenal sesuatu secara mendalam, iaitu hakikat kehidupan yang terselindung di sebalik bentuk-bentuk zahir yang aneka ragam dan memukau. Karena cinta dapat membawa manusia kepada Kebenaran Tertinggi maka Rumi berpendapat bahwa cinta merupakan sayap yang dapat membawa terbang seseorang kepada Sang Pencipta (Khaliq):

Inilah Cinta: Terbang tinggi ke langit
Setiap saat mencampakkan ratusan hijab
Pertama kali menyangkal hidup (zuhud),
Pada akhirnya (jiwa) berjalan tanpa kaki (tubuh)
Cinta memandang dunia telah raib
Dan tak mempedulikan yang nampak di mata

Ia memandang jauh ke sebalik dunia bentuk-bentuk
Menembus hakikat segala sesuatu

Dalam sajak di atas nampak bahwa Rumi memandang cinta sebagai suatu dorongan luhur dan tak tereralakkan, suatu dorongan yang membawa seseorang mencapai hakikat kehidupan yang baqa’. Hidup di dalam Yang Baqa merupakan kebahagiaan tertinggi, bebas dari bentuk-bentuk yang memukau mata.

Semua agama, menurut Rumi, mengajarkan pentingnya cinta, iaitu cinta kepada alam kerohanian yang merupakan asal-usul kehidupan manusia. Cinta kerohanian semacam itu dapat menembus perbezaan ras, bangsa dan agama. Dalam sebuah sajaknya Rumi mengatakan bahwa hakikat manusia sebenar ialah kediriannya yang bersifat spiritual atau rohani. Diri spiritual manusia tidak berasal dari tanah atau api, tetapi dari Sang Maha Pencipta.

Apa yang mesti kulakukan o Muslim? Karena aku tak mengenal diriku.
Aku bukan Kristian, Yahudi, Majusi dan bukan pula Muslim.
Aku tak berasal dari Timur atau Barat, tidak dari darat atau lautan.
Aku tidak dari alam, atau angkasa biru yang berputar-putar.
Aku tidak dari tanah, air, udara atau api.
Tidak dari bintang zuhra atau debu, tidak dari kewujudan dan wujud.
Aku tidak berasal dari India, China, Bulgar atau Saqsin.
Tidak dari kerajaan Iraq atau Khurasan.
Aku tidak berasal dari dunia ini, tidak dari alam akhirat,
Tidak pula dari syurga atau neraka;
Tidak dari Adam dan Hawa, atau Taman Eden dan Malaikat Ridwan
Tempatku tidak bertempat, jejakku tidak berjejak.
Aku bukan milik tubuh dan jiwa, aku milik jiwa Kekasih.
Kubuang dualitas, kupandang dua alam satu semata;
Satu sahaja yang kucari, Satu yang kukenal, kulihat dan kuseru
Dialah Yang awal dan yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin.

Dalam sajak di atas Rumi pertama-tama menyatakan bahwa cinta sejati dapat membawa manusia menembus bentuk-bentuk zahir dan mencapai hakikat tertinggi kemanusiaan. Kerat terakhir sajak di atas merupakan petikan ayat al-Qur`an yang menjelaskan bahwa Tuhan itu Abadi, serta Maha Nyata dan sekaligus Maha Gaib. Tuhan itu Maha Nyata apabila manusia dapat membaca tanda-tanda kebesaran-Nya dalam penciptaan alam semesta dan diri manusia. Tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri manusia ialah penciptaan roh, yang merupakan pusat kehidupan manusia. Menurut al-Qur`an roh manusia itu dihembuskan Allah ke dalam tubuh, dan dengan rohnya itu manusia menjadi khalifah Tuhan di atas bumi. Tanda kebesaran Tuhan yang lain dalam diri manusia ialah adanya akal dan fikiran yang merupakan fakulti kejiwaan utama, dan akal fikiran tidak dimiliki oleh makhluq lain kecuali manusia. Karena memiliki akal dan cinta manusia dapat menyerap berbagai pengetahuan tentang alam nyata mahupun alam kerohanian.

Dalam sajak di atas Rumi melihat hakikat manusia dari dalam, dari alam batin. Sememangnya secara hakikinya manusia itu makhluq spiritual dan asal penciptaan manusia bukan dari tanah atau syurga, melainkan dari Yang Maha Gaib. Melalui sajak di atas Rumi memperlihat dirinya sebagai penyair universal. Di dalam kerat pertama sajak di atas Rumi mengatakan bahwa mengenal hakikat diri sangat penting untuk setiap Muslim, sebab dengan mengenal hakikat dirinya manusia akan mengenal Tuhannya sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis. Dengan mengenal Tuhan secara mendalam, manusia dapat mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Sumber: http://kampoengsufi.wordpress.com/2010/05/05/rumi-dan-sajak-sajak-sufi-1/

About these ads

Responses

  1. tak ada kata yang dapat mewakili untuk cinta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: