Oleh: maulanusantara | Juli 10, 2010

Tentang Film: 3 Hati; 2 Dunia 1 Cinta

(Sebuah catatan atas film 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta)

Aku jatuh hati pada Laura Basuki!

Itulah yang kurasakan setelah menonton film 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta, persembahan Mizan Production pada tanggal 10 dan 15 Juni 2010. Ternyata tak hanya Rosid (Reza Rahadian) yang terpesona kepada Delia (Laura Basuki), aku pun meleleh dibuatnya. Perannya yang penuh konflik, baik internal maupun eksternal, nyaris tanpa cacat. Dalam mengukur sebuah film, bagus atau buruk, aku biasa menyiapkan rongga dada sebagai tabula rasa. Apabila sekat-sekat di dalamnya mulai bereaksi, sesak karena menanggung turbulensi perasaan, menyeret dan menghanyutkan, kuanggap film itu berhasil membawaku pada spektrum nilai positif.

Sebenarnya bercerita tentang apa, 3 Hati ini? Tak jauh dari persoalan cinta—yang menurutku belum selesai di bumi ini—sebagai tema paling universal. Namun dalam film karya Benni Setiawan (sebagai penulis skenario dan sutradara) ini, cinta diberangkatkan dari titik yang sejak awal sesungguhnya sudah disadari mengandung risiko. Rosid seorang pemuda idealis, muslim keturunan Arab yang memilih jalan hidup sebagai seniman dengan tokoh idola penyair besar Indonesia, WS Rendra. Sosok dan gayanya itu telah membuat Delia, seorang gadis Manado Katolik, terpikat. Mereka saling jatuh cinta dengan perbedaan keyakinan yang membawa pasang surut emosi. Sebab selanjutnya, keluarga, sahabat, dan bahkan lingkungan, turut campur dalam perjalanan cinta mereka.

Friksi dalam proses percintaan mereka berkembang dengan baik justru karena masing-masing keluarga berada pada kondisi taat, fanatik, jauh dari sikap moderat. Dan cerita dibuat lebih kompleks dengan masuknya 1 hati lagi, Nabila (yang diperankan oleh Arumi Bachsin), meskipun tidak didasari cinta yang natural. Upaya masing-masing orang tua untuk memisahkan Rosid dan Delia, justru kian memperkuat akar-akar cinta mereka. Walaupun kemudian kita tahu, perjuangan atas cinta itu lebih kerap muncul pada Delia. Dalam diri Rosid, tampak dibimbangkan oleh pelbagai pertimbangan, termasuk pengetahuannya yang mulai terbuka mengenai pernikahan antaragama. Dan aku sangat terkesan dengan pernyataan Delia: “…tapi gua tetap ingin menjalani hidup seperti yang gua mau.” Di tengah teman-temannya, di restoran temaram ketika hujan mengguyur di luar, dan mata berkaca, Delia tidak berteriak. Tetapi aku tahu, ia sedang berikrar.

Sebagai tontonan, film ini cukup komprehensif karena selain mengusung topik perbedaan keyakinan, di dalamnya ada pesan dan kritik tersirat yang diangkat dari kondisi masyarakat saat ini. Mungkin ada yang tersindir oleh adegan penggerebekan para pemuda Islam terhadap komunitas yang dianggap menganut aliran sesat. Di sisi lain, ada kepedulian seorang seniman terhadap pendidikan anak jalanan. Pun praktik mendekati musyrik yang kerap ditempuh justru oleh kalangan agamis demi mencapai hasrat tertentu.

Lebih dari sekadar mengelola perasaan antarmanusia dalam urusan cinta (yang kadang-kadang sampai pada batas sakit), film ini didedikasikan untuk WS Rendra sebagai penyair legendaris. Rosid yang tidak melanjutkan kuliah tetapi terjun sebagai jurnalis freelance dan aktif berkesenian itu sangat mengagumi Rendra. Ditandai dengan poster pertunjukan dan buku-buku Rendra yang dimilikinya, juga betapa gandrungnya ia terhadap puisi-puisi si Burung Merak itu.

Konon, film ini mengalami beberapa revisi adegan demi menghilangkan kejanggalan barang sedikit. Menurut Gangsar Sukrisno, sebagai co-produser yang terlibat cukup intens sepanjang proses, membocorkan beberapa hal, bahwa Haidar Bagir (direktur utama Mizan Group yang menjadi eksekutif produser) begitu jeli dalam mengemas film 3 Hati sampai hal-hal kecil. Menurutku, ia tentu menjadi narasumber terbaik mengenai tradisi dan budaya Arab di Indonesia. Mulai soal warrna peci, sebutan kepada orang tua, siapa saja kalangan yang boleh masuk ke ruang-ruang pribadi keluarga Arab, dan banyak lagi.

Seperti pertanyaan yang daijukan dalam teaser film ini: “Will they live happily ever after?” Adakah yang mampu menjawab? Perubahan sikap masing-masing tokoh, sesuai dengan karakter dasar mereka, cukup menarik. Arus itu mendorong pada pemahaman-pemahaman baru tentang perbedaan. Terlebih mengenai nilai pengorbanan perasaan yang paling hakiki. Dan itu dialami oleh semua yang berperan: Mansur dan Muzna (orang tua Rosid), Frans dan Martha (orang tua Delia), Nabila, dan yang paling merasakan konflik batin terdalam, Rosid dan Delia.

Humor di sana-sini telah menyegarkan perjalanan film dengan plot yang mengalir tanpa hambatan. Artistik demikian tepat mamadupadankan suasana hati dengan peristiwa, romantisme dihadirkan pada sisi-sisi yang tepat. Thoersi Argeswara, menghiasi dengan musik yang elegan.

Setelah dua kali menyaksikan film 3 Hati, perasaanku tidak sangsi lagi, aku memang jatuh hati pada Delia. Lihat mata Laura Basuki, di sana menggenang cinta. Lihat seluruh ekspresi wajahnya terutama saat ia berjuang melawan semua himpitan yang mengepungnya. Dan, akhirnya, bagaimana ketika ia bisa tersenyum, menertawakan takdir, sambil berurai air mata; tetapi di dalam sana, aku tahu, ada afirmatif yang sedang membangun setiap keping kegelisahannya menjadi sebuah keputusan terindah.

Aku ingin menutup kesan dan apresiasiku ini dengan sebuah puisi.

CINTA TANPA PRASANGKA

Aku berdiri di sini, ingin seperti matahari
Tulus membagi cinta kepada bumi dengan kekayaan cahaya
Berpegang teguh pada janji, menciptakan pagi demi pagi
Tentu tak seperkasa itu rentang kedua belah tanganku
Andai ingin merengkuh seluruh yang kukasihi

Sepanjang waktu bersamamu, dalam guguran berjuta rintik waktu
Ternyata tak cukup luas bengawan jiwaku untuk meletakkan perahu
Tempat kita berdayung dan selalu ingin menagih kasih
Hanya untuk memenuhi hasratku, sebagai milikku sendiri
Tanpa memahami ke hilir mana kita mengalir

Semoga tak terlambat menyadari perasaan-perasaan ini
Untuk sesegera mungkin melepaskan kutukan cinta yang angkuh
Membara di satu tempat dan padam di semesta yang lain
Kukatakan di sini: ingin kuhangatkan gairah kasih bagi seluruh mata angin
Semua akan kembali ke dalam pelukan lebih dari yang kuberikan

Aku berdiri di sini, ingin meniru keluasan samudra
Ikhlas menerima hibah masalah dari semua arus sungai
Membalas dengan kemurnian air hujan dari perasan tubuhnya
Tentu tak semegah itu himpunan rindu yang membentuk jiwaku
Bila selalu tergoda untuk mencintai dan menguasai

O betapa ringan langkahku menerabas hidup yang serbaragam
Telah kubebaskan diriku dari jerat pikiran yang sempit
Alangkah mahal harga kearifan untuk memahami perbedaan
Bukankah kita tak pernah tahu wujud kebenaran di tengah kebimbangan?
Selama masih berpilih kasih dalam mengulurkan jemari cinta

Selamat datang cinta yang tak terhalang prasangka
Cinta yang menyembuhkan luka,
menjalin yang terberai,
memadukan setiap perbedaan,
menyuarakan kedamaian dan menghapus permusuhan,
menumbuhkan silaturahmi,
melenyapkan batas keyakinan,
menghidupkan kepedulian

Cinta yang kini merekah di atas singgasana kemanusiaanku
Ingin kupandang dengan kejernihan matahati
Kenang, kenanglah kekasihku
Semua yang lalu tak kan hilang, menggenang kekal dalam keindahan

(Kurnia Effendi)

Sumber: isyraq@yahoogroups.com

About these ads

Responses

  1. Saya belum menonton nih film,makasih atas infonya

  2. wah jadi pengen euy nonton na…
    ad yg punya download link na kaga yg di hotfile atawa mediafire gituh?

    mbah google jawab na blm jelas nih…

  3. Aku juga jatuh hati pada Laura Basuki. Huft. Gimana nggambarinnya ya…? Hehehe


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: