Oleh: maulanusantara | September 23, 2010

Pangeran Papak; Pesan Sang Kyai menjaga Tradisi

Raden Wangsa Muhammad hidup dipertengahan abad ke-19 M. Dikenal dengan nama Pangeran Papak atau Sunan Papak. Beberapa ratus tahun yang lalu di Kampung Cicunuk hidup seorang kiyai bernama Raden Muhammad Juari dari keluarga keturunan bangsawan Balubur Limbangan. Ia menikah dengan Nyi Raden Siti Injang dan berputera 7 orang, salah satunya (bungsu) bernama Raden Wangsa Muhammad. Putera yang inilah kelak menjadi seorang kiyai mengikuti jejak ayahnya.

Menurut versi silsilah Pangeran Papak, Pangeran Papak atau Raden Wangsa Muhammad adalah keturunan dari Prabu Laya Kusumah (putera Prabu Siliwangi/Sri Baduga Maharaja), Nalendra Pakuan Raharja, yang menikah dengan seorang puteri Prabu Layaranwangi (Sunan Rumenggong) dari Keprabuan Kerta Rahayu bernama Nyi Puteri Buniwangi. Raden Hande Limansenjaya dan Prabu Wastu Dewa. Prabu Hande mempunyai seorang putera bernama Raden Wijaya Kusumah (kemudian terkenal dengan Sunan Cipancar).

Selanjutnya Raden Wijaya Kusumah berputera 14 orang, diantaranya yang sulung bernama Raden Wangsanagara yang melanjutkan keadipatian Galih-Pakuan menggantikan ayahnya itu. Raden Wangsanagara berputera 6 orang, salah satunya Raden Aria Jiwanata yang berputera Dalem Adipati Arya Rangga Megatsari Suryakusumah. Dalem Adipati Rangga Megatsari berputera 9 orang, diantaranya Dalem Adipati Suta Jiwanagara, yang wafat di Mataram dan berputera Dalem Emas di Sukadanah, Sadang, Wanaraja. Sedangkan Dalem Emas berputera 10 orang, diantaranya Dalem Sutanagara di Cinunuk.

Dalem Sutanagara, leluhur keturunan Cinunuk, berputera 8 orang diantaranya seorang perempuan bernama Nyai Rd. Teja Kiyamah, yang menikah dengan Raden Noer Chasim dan berputera 5 orang, diantaranya bernama Rd. Muhammad Aliyam. Raden Muhammad Aliyam menikah dengan Nyi Mas Domas dan dikaruniai putera 3 orang, salah satu diantaranya Raden Muhammad Juwari yang mempunyai putera Raden Wangsa Muhammad.

Raden Wangsa Muhammad dilahirkan di sebuah kampung bernama Cinunuk, kira-kira pada abad ke-18 M (tanggal, bulan dan tahun belum diketahui secara pasti karena belum ditemukan data, baik lisan maupun tulisan). Beliau tumbuh menjadi anak yang cerdas, cekatan dan penurut pada kedua orang tuanya. Hormat pada yang lebih tua, sayang pada teman sebaya. Dalam pergaulan tidak pernah bersikap membedakan dengan anak sebaya dari keluarga apapun walaupun sebenarnya ia sendiri dari keluarga terah menak. Hal tersebut tampak manakala dalam bergaul tidak pernah bersikap mengambil jarak dengan siapapun. Memiliki perilaku demikian Raden Wangsa Muhammad sangat disenangi dan disayangi kalangan orang tua dan anak-anak sebayanya. Karena lahir dari keluarga kiyai maka dengan sendirinya iapun menunjukan tanda-tanda yang agamis.

Ketika Raden Wangsa Muhammad dewasa dan benar-benar telah menunjukan diri sebagai seorang kiyai sikap dan sifatnya yang terpuji semakin nampak, sehingga tak pelak lagi ia menjadi tokoh kharismatik. Hal itu, terutama ditunjukan oleh kearifan dan keluhuran budi pekertinya membuat ia disegani, dihormati dan dijadikan panutan masyarakat sekitar.

Semasa hidup sebagai seorang kiyai Raden Wangsa Muhammad selalu menuntun dan mengajarkan kepada masyarakat agar selalu berbuat kebenaran demi mencapai cita-cita hidup di dunia serta di akhirat kelak. Dalam ajarannya sering diungkapkan agar kita tidak lupa, yaitu ungkapan: Guru Ratu Wong Atua Karo Wajib Sinembah. Artinya kepada guru, pemimpin dan terutama kapada kedua orang tua kita harus selalu menghormati untuk menuju jalan bahagia dan selamat dunia akhirat.

Sikap tidak pernah membeda-bedakan derajat manusia berdasarkan ajaran agama Islam yang menjadi prinsip Raden Wangsa Muhammad. Tidak ada perbedaan antara golongan ningrat dengan golongan cacah. Hal terpenting adalah berakhlakul karimah dan mempunyai niat suci. Atas prinsip dan sikap inilah Raden Wangsa Muhammad mendapat julukan Pangeran Papak.

Pangeran Papak artinyan seorang yang berbudi luhur dan tidak pernah membedakan harkat derajat manusia (papak-Sd.= rata, sama-Ind). Anjuran kepada masyarakat agar hati selalu tentram ialah ulah ngingu kabingung, miara kasusah, sangkan aya dina kagumbiraan manah (agar hati selalu tetap gembira).

Ketertarikannya dalam menghaluskan rasa melalui kesenian tradisi melahirkan karya seni monumental, yaitu kesenian tradisional Boyongan. Terdapat beberapa jenis kesenian tradisi yang selalu dipagelarkan waktu itu, diantaranya: wayang golek, reog, pantun, wawacan (beluk), tembang, karinding, terbang, tari dan boboyongan. Dalam pementasan semua kesenian itu senantiasa diselipkan ajaran Islam berupa petuah, suri tauladan, gambaran bagi orang-orang yang mau berbuat kebenaran, dan larangan-larangan bagi orang yang berbuat kedhaliman. Semasa hidup Raden Wangsa Muhammad banyak didatangi orang yang berkecimpung dalam dunia seni (seniman), para pelajar, dan orang-orang yang bergerak dalam bidang usaha lain untuk belajar ilmu/ budi pekerti yang dimilikinya.

Kecintaannya dalam bidang ilmu pengetahuan melahirkan sebuah karya naskah sastra Sunda kuno berjudul Wawacan Jakah dan Wawacan Aki Ismun. Melalui dua media ini, Pangeran Papak menyebarkan syiar Islam kepada masyarakat luas.

Pada suatu sore, dalam keadaan usia yang sudah uzur, Pangeran Papak merasakan firasat bahwa dirinya tidak akan lama lagi hidup di dunia fana ini. Segera beliau memanggil para sanak saudara dan kerabat dekat hendak menyampaikan wasiat terakhirnya.

Konon, setelah semua hadir Raden Wangsa Muhammad dalam keadaan berbaring di tempat peristirahatan menyampaikan tiga pesan. Pertama, bahwa sebagai manusia kita harus dan mesti percaya pada takdir, percaya bahwa umur telah ditentukan oleh Allah SWT. Kedua, jangan sekali-sekali melupakan dari mana kita berasal dan hendak kemana kembali. Jika kita tidak pernah melupakan hal itu maka akan selamat hidup di dunia dan akhirat nanti. Dan itulah sajatining manusia, hidup sempurna. Ketiga, harus selalu ingat pada Allah sebagai Al-Khalik (pencipta), dengan cara berkomunikasi dengan- Nya melalui ibadah shalat lima waktu. Kehidupan manusia di dunia tidak akan abadi, suatu saat akan dipanggil kehadapan-Nya. Dan di Yaumal Kiamah nanti manusia harus mempertanggung jawabkan segala apa yang pernah perbuat selama hidup di dunia.

Sementara semua yang hadir dengan keadaan tertunduk khusuk mendengarkan pesan-pesan itu, tiba-tiba terdengar ucapan “Lailahaillallah” dari mulut Raden Wangsa Muhammad. Seketika, hadirin terserentak kaget, masing-masing mengangkat kepala seraya melihat kepada Raden Wangsa Muhammad, dan terlihat jelas beliau telah menghembuskan nafasnya terakhir, berpulang ke Rahmatullah. Semua serentak mengucap: “Innalillahi wainna llaihi Roojiun”.

Raden Kiyai Wangsa Muhammad atau Pangeran Papak wafat pada Senin malam tanggal 17 Safar tahun 1317 H, atau tahun 1819 M (tanggal dan bulan masehi belum diketahui) dan dimakamkan keesokan harinya. Dimakamkan disebelah Barat Desa Kecamatan Cinunuk hingga sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah dari luar Kabupaten Garut. Makam tersebut terletak di sebelah barat Desa Cinunuk dalam sebuah bangunan (gedung) makam di atas sebidang tanah seluas 221 m2. Bangunan makam itu terdiri dari bangunan pokok, yang dijadikan tempat pekuburan Pangeran Papak luasnya 96 m2. Bangunan lainnya (satu suhunan) seluas 25 m2 digunakan pekuburan keluarga.

Raden Kiyai Wangsa Muhammad meninggalkan putera dan puteri, yaitu: Rd. Wangsadinata, Rd. St. Satrimah, Rd. Wangsadirya, Rd. Danudiwangsa, Rd. St. Gandaningrum, Rd. Natadiwangsa, Rd. St. Surtiyah, Rd. Satria, Rd. Jayadiwangsa, Rd. Wiradiwangsa, Rd. Wigenadiwangsa, Rd. Atmadiwangsa, Rd. Tisnadiwangsa, Rd. St. Lengkawati.

Sumber: http://garutpedia.garutkab.go.id/index.php?title=Wangsa_Muhammad%2C_Raden

About these ads

Responses

  1. i see what you did there

  2. sungguh bagus biograpi sosok pangeran papak dan menjadi contoh sikap dan perilaku yang baik bagi kita semua.

  3. sekali waktu saya pernah ke makam raden papak dan menginap di desa cinunuk terasa ajaran beliau masih ada dengan tidak ada perbedaan di antara sesama warga,suasana agamis begitu terasa sungguh ini menjadi suri teladan dan contoh yang positif bagi kita semua.terimakasih kepada penulis yang sudah mengangkat sejarah raden papak

  4. menelusuri sejarah penyebaran Islam di Nusantara, merasakan keharuan, kebanggaan.Persoalannya apakah di era ini kita mampu meneladani perjuangan dan keimanan mereka.. subhanallah..

  5. saya keturunan dari pangeran papak,
    tapi saya tidak pernah ziarah ke sana karena saya tidak tahu,.,.
    klo boleh tau pemakamannya di candi cangkuang th sebelah mana dari garut ya?

    • eric,,,klo dr cangkuang lewat situ bagendit lebih dekat, trus tanya makamnya eyang papak d desa cinunuk

      • maaf nih…. bukan nya saya ingin mengaku2… nenek saya berasal dari garut tepat nya di deket makam “cinoenoek”… yg tepat nya desa “sindang heula”…

  6. raden patmo & anak nya bernama raden suntari.
    klo blh tau bgai mna sjarah nya sehinga raden suntari lari dari kraton.

  7. terima kasih.

  8. hehe…. ada biogapi mama. aku dan keluargaku deket banget sama mama. dan sering ke makam mama disuruh mandi 7 pancuran sama ziarah dan suruh tidur di makam mama.
    waw ternyata mama hidup di abad 19…………… ajaran mama yang sekarang kapad aku dan keluargaku sama dengan waktu di abad yang ke 19 hehehee…… makasih yang sudah membuat biograpi mama, sekarang aku jadi tau sejarah mama hehehehe………….

    • Mama??

  9. terima kasih telah menuliskan biografi pangeran papak,,insya Allah nanti ada rejki dan waktu saya akan silaturahmi ke garut khususnya cicunuk (makom Raden Wangsa Muhamad)

  10. salam kenal dari saya … makasih,,,

  11. alhamdulilah,weweling/ajran eyang papak tetap lestari diajarkan kpd umat lwt slh seorang cucu beliau dari garis nenek/ibu G alkajorani dgn mendirikan sarana majelis syiar ahlakul karimah*paguyuban lembah manah (lembah/dibawah:manah/rasa)

  12. Assalamualaikum………mohon ijin share, Tabe

  13. trimakasih,saya tinggal didaerah sana tapi belum pernah ziarah kesana pingin sih tapi tidak kesampaian terus

  14. sering dengar dari abah kalau sebelum meninggalnya beliau berpesan supaya selalu tawadhu dan tidak mengelu-elukan gelar…

  15. aku juga masih ada keturunan raden papak insya allah idul fitri 1433H saya ziarah kembali dan sya pernah sekali ziarah ke sena tepatnya di kampung cinunuk

  16. ass….
    hapunten satacana….
    putra dari Rd Wangsa Muhamada yg bernama Rd WangsaDinata di kuburkan di Kec Cikoneng bukan…….

  17. se ingat saya…ada juga makam beliau di jakarta tepat nya di dr rawa mangun ke arah pulo gadung…di sebelah kiri jalan raya ada warung kopi dengan pohon beringin rindang….makam beliau di depan nya tepat dibawah pohon beringin…

  18. cicunuk?? atau cinunuk ??

  19. saya pernah belajar dari almarhum mama Zaenal karim didaerah sekitar makam eyang Papak ,yang katanya ilmu tsb ,dari eyang .dan saya rasakan bahwa ilmu tsb,memang benar faedahnya ,untuk lahir maupun bathin,

  20. maaf sebelumnya putra pertama dari beliau bernama wangsadinata ataw wangsadirana…

  21. alhamdulillah ternyata kramat ane org hebat…

  22. Keluarga saya dr RH.Panji natakusuma di bojong gede … Apakah RH.Panji merupakan keturunan pangeran papak , nuhun wswrb

  23. saya mengira pangeran papak satu jaman dengan kyian santang

  24. Semoga,yang masuk ke jaman sekarang,tau tentang sejarah pangeran papak atau,raden wangsa muhamad,marii kita teladani,ajaran beliu semoga tidak tegerus keadaman jaman,seoga penerus keturunun beliau,tetap menanamkan ajaran beliau amin

  25. adakah yg pny silsilah keturunannya sampai saat ini dari garis keturunan Beliau….??

    • Nenek Moyang istri saya ada turunan dari sana tapi tidak paham soalnya kakek neneknya sudah pada meninggal semua untuk peninggalan seperti keris dll tadinya ada tapi sekarang pada ilang semua maaf sebelumnya

      • Seingat saya papah saya punya garis keturunan dari beliau.. siapa tau bisa silaturahmi, saudara jauh :D

  26. Terima kasih banyak atas tulisannya.. sangat membantu saya :)

  27. Terima kasih banyak. Atas tulisannya. Sangat membantu saya lebih mengenal Pangeran Pakpak.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: