Oleh: maulanusantara | Oktober 7, 2010

Kisah Buram Timor Leste 1999

Tentera Interfet di bawah komando Ausie di Timor Timur pasca referendum 1999Tentera Interfet di bawah komando Ausie di Timor Timur pasca referendum 1999

Tak terasa Timorleste (dulu Timor Timur) sudah 11 tahun berpisah dengan NKRI. Tak terasa pula sejumlah pemain utama yg berperan besar dalam Integrasi Timor Timur kedalam wilayah NKRI pada pertengahan dekade 1970 seperti Pak Harto, Benny Moerdani, Ali Murtopo, Amir Machmud dan Presiden Amerika  Serikat Gerald Ford dll. Kesemuanya itu telah meninggalkan dunia fana ini selama-lamanya.

Indonesia masa sekarang pun telah memasuki era yg semakin terbuka & demokratis yg sudah jauh berbeda dengan Indonesia di masa  Integrasi Timor Timur pada pertengahan dekade 1970 – akhir dekade 1990. dalam konteks historis, saya berkeyakinan kuat tentang satu hal yaitu bahwa Timorleste yg ada sekarang adalah bagian yg tak terpisahkan dari sejarah kita. Kita bisa banyak belajar dari situ agar tidak tersandung hal serupa di masa datang. Buku retired Gen. Sintong Panjaitan sang Perajurit Komando misalnya. Dalam Buku ini ada sejumlah catatan penting tentang sejarah kelam integrasi Timor Timur kedalam wilayah NKRI.

Sebagaimana diketahui, sejarah di masa sekarang tidak lagi ditulis sebagai kisah tentang tokoh2 yg tampil tanpa cacad-cela. Kini sejarah ditulis sebagai sebuah kisah plus-minus. Begitulah yg ditulis Pak Sintong Panjaitan dalam buku biografinya yg sampai sekarang masih menjadi kontroversial bagi sejumlah orang. Mereka meradang justeru karena ditulis apa adanya oleh sang Jenderal asal Sipahutar Tapanuli Utara ini.

Dalam Study of History, Arnold Toynbee sudah mengingatkan kita bahwa jatuhbangunnya sebuah bangsa lebih banyak ditentukan oleh kualitas moral para elite penguasanya. Lihat kejatuhan Imperium Romawi; kejatuhan Regime Soeharto; kejatuhan imperium Uni Soviet dst. Semua kejatuhan itu tidak lain karena adanya Pembusukan Moral Elite yg berimbas terjadinya degradasi moral bangsa yg kemudian dengan sendirinya menghancurkan bangunan yg bernama negara itu.

Buku-buku sejarah yg ditulis secara jernih apa adanya adalah sebuah kejujuran bagi diri kita sendiri. Dengan demikian ke depan kita semakin cerdas dalam menentukan pilìhan tentang para elite yg pantas & layak memimpin negeri ini. Juga kita akan semakin pandai menentukan kebijakan agar bangsa ini dapat berkembang & maju seperti bangsa2 maju lainnya.

Saya pernah dinas di sebuah kantor pemerintah di Propinsi Timtim pada 1985-1999. Bahkan saya pernah menjalankan sebuah kewenangan instansional di Kabupaten Viqueque (baca Vikeke) yi sebuah “daerah merah” dimana Kay Rala Xanana Gusmao (sekarang PM Timorleste), Taur Matan Ruak (sekarang Panglima Angkatan Bersenjata Timor Leste) dan David Alex (tewas terbunuh pada 1992 di pedalaman Baucau dalam sebuah kontak senjata dengan TNI) menjalankan misi gerilyanya di belantara Timor Timur bagian timur menentang NKRI. Semua yg mengerti Timtim tahu persis bahwa Viqueque adalah salah satu daerah termerah di Timtim setelah Los Palos. Keduanya terletak di sektor timur Timtim. Jose Alexandre Xanana Gusmao, David Alex, Taur Matan Ruak & gembong2 Fretilin lainnya melancarkan operasi gerilya dari sektor timur yg merah ini.

Mengenang sekilas insiden Santa Cruz yg berdarah itu. Saya tahu persis. Saat insiden itu terjadi, saya bertempat tinggal di sebuah perumahan di bilangan Taibessi Dili. Berjarak hanya sepelemparan batu saja dari TPU Santa Cruz. Juga saya tahu apa & siapa Pak Prabowo Soebianto. Rumah di mana saya tinggal & Markas beliau (Prabowo) berseberangan jalan dipisahkan Jln Raya Taibessi Dili, yg apabila sedikit lagi ke arah timur kita akan melintasi Markas Yon 744 yg terkenal itu.

Khusus Timtim, catatan saya buat kita semua adalah bahwa Insiden Santa Cruz yg terjadi pada Nopember 1991 di Dili bukanlah karena kelalaian komando, melainkan karena ulah segelintir avontur haus pamor & haus kekuasaan di lingkungan TNI kita. Jatuhlah Pak Sintong, Pak Warrouw dll. Karena memang itulah salah satu tujuannya.

Keterjerumusan kita dalam petualangan militer yg begitu lama di Timtim akhirnya berujung fatal. Insiden Santa Cruz adalah sebuah persimpangan jalan menuju Referendum Timtim pada Agustus 1999.

Asal tahu, militer kita saat itu ibarat Gula yg larut dalam Teh Manis Politik. Semua kekuasaan di negeri ini disapu bersih oleh kelompok militer (saya yakin seorang militer sejati seperti Pak Sintong, Pak Warouw dan sebangsanya pasti tidak setuju dengan peran ganda yg keblinger seperti ini). Tak heran militer kita tidak lagi Spartan. Tak heran pula mereka jadi lupa dalil klasik dalam kemiliteran bahwa The Local War seperti di Timtim adalah Perang Terbatas.

Sebagai The Local War, seharusnya begitu kita masuk Timtim akhir 1975 (setelah Deklarasi Balibo 30 Nopember 1975), operasi militer harus rampung paling lama 1 tahun, termasuk menghabisi lawan2 kita di luar negeri seperti Jose Manuel Ramos Horta, Marie Alkatiri dll dengan sebuah Operasi Khusus. Mencontoh operasi serupa oleh agen2 khusus ala Israel misalnya. Mengapa tidak? Siapa negara yg tidak melakukan hal semacam ini untuk & atas nama kepentingan nasional.

Tapi yg terjadi justeru adalah pembalikan dalil klasik itu. Tak heran ongkos militer kita di Timtim benar2 menguras habis keuangan negara. Yang diuntungkan? Hanya segelintir orang saja yg terdiri dari para avontur & oportunis baik militer maupun sipil.

Dan yg lebih terkuras lagi adalah beaya politik. Betapa mahalnya beaya politik ini dapat kita lihat saat para avontur haus pamor & haus kekuasaan di kalangan militer itu menjerumuskan negara ini ke dalam insiden Santa Cruz (Insiden Santa Cruz pada kenyataan historis kemudian adalah sebuah prolog menuju Referendum 1999). Betapa mahal ongkos politik yg ditanggung rakyat Indonesia ini.

Insiden Santa Cruz sekaligus menjadi Starting Point bagi AS dkk untuk mencungkil Indonesia dari Timtim. Maklum kepentingan global AS berubah drastis begitu Uni Soviet rontok dari pentas politik dunia. Amerika Serikat yg Superpower dan selalu haus minyak bumi itu sadar bahwa Timor Gap di Laut Timor yg dipersengketakan Indonesia Vs Australia itu kaya akan minyak bumi, oleh karenanya Timor Timur harus segera dikuasai dengan menyingkirkan Indonesia dari wilayah itu. Pion politik yg dipercaya Amerika Serikat dalam menjalankan skenario ini adalah Pemerintah Australia dan Portugal.

Mari kita lihat apa yg terjadi di teater internasional. Sejak Insiden Santa Cruz tu tak habis2nya pamor kita digerogoti di pentas internasional, sampai2 seorang Ramos Horta & seorang Politisi berjubah Uskup bernama Carlos Filipe Ximenes Belo di-gadang2 oleh musuh kita (Amerika Serikat dkk) untuk kemudian diberi Penghargaan Nobel.

Dalam debat terbuka yg disiarkan langsung CNN, diplomat kita di PBB Nugroho Wisnumurti ter-gagap2 berhadapan dgn lawan yg tangguh yi Presiden Portugal Lemos Pires. Wisnumurti lupa berdiplomasi di media berpengaruh yg sedang ditonton dunia ketika itu bahwa Proyek Nobel Perdamaian untuk Ramos Horta & Ximenes Belo adalah Proyek Dunia Barat yg berbau Minyak Bumi Laut Timor dan sangat menghina rakyat Indonesia. Sayang seribukali sayang, Wisnumurti gagap dan tak pantas mewakili RI di PBB. Sungguh menjatuhkan pamor kita.

Klimaks dari semua itu adalah Referendum (bukan Jajak Pendapat) Timtim pada Agustus 1999. Kalau Jajak Pendapat, seperti pertamakali diperkenalkan oleh Menlu kita alm Ali Alatas, maka hasil akhir bagaimanapun pahitnya bukanlah untuk berpisah dgn Timtim, tetapi ada prasyarat politik yg harus ditempuh di situ. Hanya saja kita sudah kehabisan tenaga untuk menjalankan politik jajak pendapat. Apalagi kendali negara ada di tangan seorang Baharudin Jusuf Habibie yg sangat2 naif tentang urusan politik. Gayung pun bersambut untuk sebuah kepentingan global AS dkk bahwa Timtim harus direnggut dari NKRI dengan politik referendum yg digelontorkan Amerika Serikat melalui Dewan Kemanan PBB.

Ibarat Tragedi Julius Caesar. Kita benar2 ditikam dari berbagai arah. Yg membedakan kita dari Romawi di masa Caesar adalah kita ditikam mati di saat tidak bertenaga lagi karena bangkrut baik Moral, Ekonomi maupun Militer.

Setahu saya Tap MPR ttg Integrasi Timtim & UU No 16 thn 1976 ttg Integrasi Timtim ke dalam NKRI belum juga kita cabut sampai sekarang.

Catatan kenangan apa adanya ini adalah kristalisasi dari sebuah pengalaman nyata di dalam sejarah nasional kita. Generasi muda kita sekarang perlu belajar banyak dari sejarah buram Timorleste berpisah dengan NKRI. Mereka perlu belajar dari pengalaman empirik seperti ini, terlebih pengalaman sejumlah petinggi negeri ini seperti Pak Sintong Panjaitan dan Pak BJ Habibie yg telah meluangkan waktu untuk membukukan catatannya tentang sejarah kelam berpisahnya Timor Timur dari NKRI. Catatan sejarah seperti itu sungguh tak ternilai artinya dalam rangka pembelajaran anak bangsa di negeri ini.

Masalah Timtim belumlah selesai. Sebaiknya kita segera mengingatkan pemerintah untuk tidak menelantarkan para pahlawan kita yg telah gugur di Timtim baik yg gugur dalam Operasi Seroja maupun yg gugur setelah itu hingga masa referendum Agustus 1999. Kita harus memindahkan makam mereka dari Timor Leste ke Tanah Air. Kita harus ingatkan juga pemerintah untuk menyantuni keluarga para pahlawan itu dengan santunan yg layak & bermartabat. Juga pemerintah kita harus memperjuangkan assets warga Indonesia yg masih tercecer di Timtim. Jangan sampai kita dikelabui Undang2 Timor Leste yg baru yg enak saja merampas semua assets warga Indonesia itu. Adalah sebuah kesalahan besar apabila pemerintah kita lari dari tanggungjawabnya yg hakiki yi melindungi segenap warganegara Indonesia di mana pun mereka berada, termasuk hartabendanya. Dan akhirnya pemerintah harus mengevaluasi kembali seluruh pejabat publiknya yg telah menelantarkan para exodus Timor Timur pasca referendum 1999.

Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengingatkan agar mereka

Patung Kristus Raja di Areia Branca (Pantai Pasir Putih) Dili, TimorlestePatung Kristus Raja di Areia Branca (Pantai Pasir Putih) Dili, Timorleste

yg pernah bertugas di Timtim seyogyanya Bersaksi, Berbicara, Menulis atau apa pun itu tentang pelurusan semua hal yg perlu diluruskan dalam rangka merajut kembali keutuhan bangsa dari luka2 seperti yg kita alami bersama di Timtim.

Tanpa kesaksian seperti itu, dikhawatirkan ada sisi ekstrim yg menggoda yaitu lahirnya  Xanana-Xanana baru di negeri ini apabila negeri ini memang sudah tak memberi lagi tempat utk putera2 terbaiknya berkiprah merajut negeri ini dari segala macam luka sejarah. Untuk yg satu ini, banyak daerah yg sangat2 sanggup melahirkannya bahkan sekaliber Che Guevara sekalipun. Yg kita tuntut sekarang adalah mana kehormatan bagi putera terbaik bangsa untuk semuanya itu? Inilah yg harus disadari oleh Jakarta agar jangan lagi main2 dgn sistem nasional kita yg ternyata masih jalan di tempat dalam menjalankan misi welfare states. Ketersendatan mewujudkan welfare states akan mengundang hadirnya ekstrimitas yg menjadi bahaya latent di negeri ini. Atau memang ini pun dinafikan juga karena sebuah Glamourism Politik? Jakartalah yg tahu tentang itu.

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/09/19/secuil-kenangan-buram-jelang-referendum-timor-timur-1999/

About these ads

Responses

  1. Ahead of Someone said additionally strong delivery is actually remain i
    believe and i also grew to be interested in the idea.
    That which you folks looking to analyze because of this
    web-site? Can you talk about anything about
    it? Are you going to share its outcome whether really a
    Analyze.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: