Oleh: maulanusantara | Maret 26, 2011

Perkembangan Pemikiran Agama berdasarkan Usia Agama

Setiap Agama besar di dunia mempunyai sejarahnya masing-masing. Terkadang karena jumlah umat yang begitu besar dan mempunyai kekuatan yang amat besar pula terhadap perubahan pada zamannya, agama bukan hanya bagian dari sejarah tapi ikut mewarnai sejarah itu sendiri. Dari masa sejak suatu agama lahir, secara alamiah mereka akan berkembang pula. Perkembangan ini tidak terjadi pada ranah tatanan
baku aturan nilai yang dibawa oleh agama, tapi lebih pada interprestasi dan aplikasi dari manusia yang menganut nilai-nilai dasar dalam agama tersebut.

Sebagai suatu proses yang alamiah, perkembangan agama berjalan segaris dengan usianya.  Selain itu, perubahan karakteristik dari sebuah agama juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, perkembangan zaman, serta kualitas dari para pemuka-pemuka agama  yang mempunyai fungsi sebagai pengendali arah jalannya hidup beragama. Bila kita mencermati sejarah dari agama-agama besar di dunia, dapat kita tarik benang merah  adanya kesamaan proses dan karateristik dalam tahap-tahap usia tertentu. Tahap-tahap itu antara lain :

1. 0 – 60 tahun :  Masa Kelahiran.

Agama ada fase ini sedang dalam proses kelahirannya. Lahirnya sebuah agama diawali dari para orang-orang terpilih yang mempunyai karunia tersendiri untuk bisa merumuskan risalah tentang cara hidup batin yang tepat, agar hidup ini bisa selaras dengan seluruh isi semesta maupun penciptaNya.

 

2. 60 – 200 tahun : Masa Perjuangan

Setiap pendiri agama selalu mempunyai orang-orang khusus yang menerima ajaran tersebut untuk pertama kali. Orang-orang ini adalah kelompok yang sering kita kenal sebagai, para sahabat, para murid, para rasul, dll. Kelompok inilah yang memulai perjuangan agar ajaran-ajaran agama dapat disebarluaskan ke berbagai pelosok dunia. Dalam fase ini, perjuangan dimulai dengan menyusun konsep-konsep hidup batin yang mulanya disajikan secara lisan menjadi risalah-risalah literal yang terangkum dalam sebuah Kitab Suci. Penyebarab nilai dan tatanan baru ke tengah masyarakat, tentu menimbulkan banyak pro dan kontra. Penolakan tidak hanya sebatas pada tataran pertentangan ide semata, tetapi buah penolakan dari sebuah ajaran baru bisa mengakibatkan para jemaat pertama mengalami pembunuhan, teror, pengejaran, terpenjara, disiksa, bahkan terlibat dalam berbagai peperangan. Perjuangan para anggota jemaat pertama tidaklah sia-sia. Walaupun berbagai rintangan hadir, mereka berhasil menarik lebih banyak orang untuk mengikuti ajaran dari agama yang mereka wartakan. Pada fase ini jumlah pengikut agama mengalami peningkatan yang sangat drastis.

 

3.      200 – 500 tahun : Masa Keemasan Pertama

Kegigihan para Jemaat pertama memang luar biasa. Kedekatan mereka dengan Sang Pembawa Sabda membangkitkan semangat luar biasa yang pantang menyerah. Buah dari kerja keras ini adalah perkembangan agama yang begitu pesat. Perkembangan ini berawal ketika agama sudah mulai diterima oleh para penguasa negara, secara suka rela maupun paksaan. Pada fase ini agama yang awalnya disebarkan secara sporadis kini mendapat bantuan dari para penguasa. Dari segala sisi kehidupan mengalami perkembangan pula. Agama mulai mempengaruhi berbagai sisi dalam kehidupan manusia dengan memunculkan ciri-ciri khususnya. Seni lukis, arsitektur, sastra, musik, ilmu pengetahuan, yang semuanya sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar religiositas muncul dan berkembang sebagai sebuah produk budaya yang premium. Produk – produk budaya pada zaman keemasan agama-agama besar di dunia tersebut, bisa kita nikmati sampai sekarang dan  terus menerus menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya.

 

4. 500 – 1000 tahun : Masa Keserakahan

Kedekatan para pemuka agama dengan pemegang kekuasaan mulai mengarah ke keserakahan. Keadaan ini semakin parah ketika pemuka agama merangkap juga sebagai pemegang kekuasaan. Umat beragama waktu mempunyai pikiran yang sangat sempit.  Mereka menganggap pemuka agama dan penguasa adalah pengejawantahan Tuhan di bumi. Dalam pandangan umat bahwa kata mereka adalah sabda, perintah mereka selalu benar, tindakan mereka selalu mulia, dan melawan mereka adalah dosa. Keadaan ini disadari sepenuhnya oleh koalisi antara pemuka agama dan penguasa. Ketundukan rakyat adalah alat yang sangat ampuh untuk menekan dan memeras mereka demi keuntungan pribadi kaum – kaum petinggi tersebut.  Ancaman kekerasan oleh penguasa dan doktrinisasi oleh pemuka agama membuat rakyat dalam posisi terjepit. Melawan penguasa dalam bentuk apapun pasti berakhir dengan hukuman mati, dengan dua tuduhan pasti pula, yaitu dianggap bid’ah atau berkhianat. Belum puas memeras kerajaannya sendiri, atas dasar agama mereka melakukan penaklukan ke kerajan-kerajan lain supaya semakin kaya. Perburuan terhadap relic-relic keagaman pada masa ini marak terjadi. Relic-relic digunakan sebagai pemerkuat legitimasi kekuasaan para elit negara.

 

5. 1000 – 1500 tahun : Masa Suram

Pada fase ini agama kehilangan identitas aslinya. Agama yang diharapkan sebagai penuntut manusia menuju ke arah kehidupan yang lebih beradab seakan kehilangan fungsinya. Ajaran agama ditafsirkan secara sepihak demi keuntungan kelompok elit dan demi mengalahkan kelompok yang menjadi musuhnya. Tafsir atas ajaran agama yang dikuasai oleh segelitir petinggi agama terlanjur merasuk ke benak umat kebanyakan. Ketika kekuatan penguasa mulai melemah dalam upayanya memperluas kekuasaan atas nama agama, maka tafsir yang salah ini terwariskan ke umatnya. pengsakralan yang dogmatis terhadap pemimpin agama dan kerasnya doktrinasi yang diterima umat pada masa sebelumnya, membuat umat takut untuk mengartikan ulang makna ajaran agama yang mereka jalani.  Pada masa sebelumnya agama rusak ditangan para petingginya, pada masa ini agama semakin rusak karena kesalahan para pendahulunya terus dijalankan dan diajaran secara turun temurun ketengah umat.

Ada dua kelompok pemikiran dalam fase ini. Kelompok yang hidup dengan pemikiran agama yang sempit dan kelompok lain yang lebih kecil, yaitu kelompok yang mulai kritis dalam memandang ajaran agama sendiri. Segelitir umat yang mulai sadar akan kemunduran dari nilai dan fungsi agama justru dianggap sebagai kelompok yang sesat oleh kaum fundamentalis. Tujuan dari dua kelompok tersebut bisa dibilang sama. Keduanya ingin kembali ke masa keemasan agamanya. Kelompok umat yang kritis berpandangan bahwa untuk mengembalikan ajaran agama sesuai fungsinya, maka harus diadakan reinterprestasi ajaran sesuai konteks zaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran yang hakiki. Sedangkan kelompok fundamentalis menganggap bahwa  masa keemasan bisa kembali tercapai bila umat terhindar dari penyelewengan nilai dalam ajaran agama. Nilai ajaran agama yang mereka maksud adalah ajaran dalam pandangan dan praktek yang serba tekstual. Pemahaman agama secara tekstual merupakan proyek pembodohan dari petinggi agama. Umat dikondisikan untuk menjalankan agama secara tekstual sehingga pengetahuan mereka terbatas. Keterbatasan ini akan membuat umat selalu tergantung kepada para petinggi agama.

Salah satu keuntungan lain dari proyek pembodohan ini adalah, ketika umat selalu ditakuti dengan memberikan lebel yang begitu sakral pada teks agama, para elit agama jadi lebih mudah dalam mengkontrol atau menyetir pemikiran umat. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan umat beragama. Karena nilai ajaran agama manapun yang dijalankan secara tekstual, akan berbenturan keras dengan ajaran agama lain, dengan keragaman budaya, dengan pemikiran – pemikiran maju, dengan HAM, dengan nilai dasar kemanusiaan, dengan perkembangan zaman dan dengan nilai-nilai beradaban. Benturan-benturan ini tak jarang menimbulkan konflik yang mengarah ke tindak kekerasan bahkan peperangan.  Agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian, tampil dengan wajah seram yang seakan-akan selalu haus darah. Agama dalam fase ini hadir sebagai antitesis dari kemajuan peradaban manusia. Kalau agama terlalu lama terjabak dalam fase gelapnya, agama yang tadinya (katanya) mulia, bisa berubah menjadi racun yang mencemari peradaban manusia. Agama yang terlalu nyaman berada dalam fase gelapnya, bahkan ada gerakan yang sistematis untuk mempertahankan fase tersebut, maka ia menuju kehancurannya sendiri.

 

 

6. 1500 – 2000 tahun : Masa Reformasi.

Reformasi adalah sebuah kelahiran kedua. Agama lahir kembali dengan langkah pemurnian nilai-nilai ajaran dari pengaruh kekuasaan, politik, materi dan ego sekelompok umatnya. Dalam fase ini agama dikembalikan ke akar fungsionalnya sebagai tatanan kehidupan manusia yang lebih indah, baik dan beradab. Untuk ke-efektifannya, reformasi ini harus lahir dari para petinggi agama. Bila gerakan perubahan tersebut hanya muncul dari segelintir umat tanpa dibarengi kesadaran dari para pemuka agama, maka gerakan tersebut akan sia-sia belaka. Hanya akan dipandang sebagai sebuah gerakan pemberontakan semata. Inti dari gerakan reformasi ini adalah menempatkan kepentingan umat manusia secara umum di atas kepentingan kelompok agama itu sendiri. Hal-hal teknis dalam ajaran agama yang kiranya dapat menghalangi peran agama dalam memperindah kehidupan manusia harus diberi pemaknaan ulang.

Agama harus menyadari bahwa ia hadir di dunia dengan ragam manusia yang sangat majemuk. Pagar-pagar tinggi yang sengaja diciptakan pada masa yang lalu untuk kepentingan ekslusifitas agama dan para pemukanya harus dirubuhkan. Agama tampil dengan lebih ramah, dengan meminimalisir sekat–sekat yang dapat menghalangi penyebaran nilai-nilai mulianya ke tengah umat manusia. Satu hal yang harus ditempuh agar hal itu dapat dilakukan adalah dengan tafsir ulang ajaran agama.  Ajaran agama tidak lagi terpaku pada hal-hal yang tekstual, tapi lebih pada pemaknaan secara kontekstual sesuai dengan manusia, kebudayaan dan zaman yang sedang dihadapinya.

 

7. Lebih dari 2000 tahun – Fase Peleburan.

Akibat dari keberhasilan pada fase sebelumnya, agama kini hadir dengan lebih universal. Ajaran-ajarannya tidak lagi berbenturan dengan kemajemukan manusia. Pada fase ini, inti ajaran mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari atribut keagamaan. Nilai-nilai dasar agama tidak hanya merasuk dalam umat yang mengimaninya tetapi juga dapat diresapi oleh umat manusia secara umum. Bahkan kelompok orang yang menentang atau memusuhi suatu agama, dapat secara tidak sadar tetap menerima dan menjalankan ajaran dari agama yang ditentangnya.  Ajaran agama menjadi milik umum dan bisa diamalkan tanpa harus ikut dalam keanggotaan dari suatu kelompok agama tertentu. Sebagai contoh, yoga, meditasi, kundalini, terapi holistic, dulunya adalah praktek agama, sekarang hal tersebut menjadi sesuatu yang umum sebagai bagian dari upaya kesehatan dan gaya hidup.

 

Menyadari dengan hati nurani yang bersih serta pemikiran logika yang waras tentang keadaan dari agama yang kita anut, membantu perkembangan pemikiran keagamaan untuk menuju ke tingkat yang lebih baik.  Rasa terlena karena menganggap ajaran agama sendiri adalah mutlak yang paling benar merupakan hal yang sangat berbahaya. Hal ini membutakan kemampuan kita untuk berintrospeksi dan melaukan perbaikan-perbaikan. Reformasi terhadap tafsir yang menuju ke arah yang lebih kontekstual tak akan melemahkan nilai-nilai dasar agama. Gerakan ini justru akan membawa agama sebagai sebuah tatanan yang lebih manusiawi dan beradab. Agama sebagai sumber konflik adalah buah dari kegagalan menempatkan ajaran agama secara kontekstual.  Jika agama yang anda anut lebih banyak menimbulkan peperangan, kematian, bencana, perselisihan, tindak kekerasan, kemunduran budaya dan bukannya menciptakan kasih, ketenangan serta kedamaian, anda harus segera bertindak untuk lepas dari fase kegelapan tersebut. Sebelum agama anda dinilai sebagai racun dunia dan akhirnya musnah ditelan masa.

Sumber

About these ads

Responses

  1. Permisi mas, maaf boleh saya Link artikelnya, karena saya nilai anda bijak dalam memandang keberagaman agama…

  2. anda memang bagus
    saya suka itu
    £$¥€§


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: