
Pak Harto; The Untold Story
Judul buku: Pak Harto The Untold Story
Penulis: Mahpudi, Bakarudin, Dwitri Walyu, Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari
Jumlah halaman: 603
Penerbit; Gramedia Penerbit Utama
Cetakan: I, Juni 2011
Saya mengetahui buku Pak Harto The Untold Stories dari website Gramedia. Kebiasaan saya sejak menjadi penulis buku non fiksi, sering melakukan penelitian melalui website penerbit dalam dan luar negeri. Kegiatan ini saya lakukan untuk mengetahui trend buku yang laris dan tema buku-buku baru yang diterbitkan.
Melihat buku ini pertama kali saya tertarik dengan keunikan kafernya. Pak Harto duduk di tanah bersandar di kandang yang terbuat dari susunan ranting dan kayu. Sayang sekali di dalam buku tidak dijelaskan atau tidak diberi keterangan tentang gambar kafer tersebut. Saya tertarik ingin memiliki buku ini bukan karena saya simpati pada Pak Harto. Selama ini saya yakin bahwa memang banyak ‘dosa-dosa’ Pak Harto selama memimpin Indonesia. Ditambah lagi dengan membaca banyak tulisan Ibrahim Isa seorang exhile mengenai peristiwa PKI. Melihat sendiri kekejaman zaman Orba dengan Petrus (penembak misterius), lalu tangan besi Benny Moerdani, korupsi, monopoli, konglomerasi, dll.
Sebelum membaca buku ini saya akui sama sekali tidak mengenal dekat figure Pak Harto. Yang saya ingat adalah Pak Harto yang sering mengadakan acara di teve wawancara dengan para petani dan disiarkan langsung oleh beberapa teve. Saya lupa nama acaranya. Saya juga sebagai saksi, bagaimana di zaman orde baru, partai Golkar memonopoli kekuasaan. Saya ingat ketika di SMA diminta menusuk Golkar dan diberi uang Rp25ribu. Zaman itu uang sebesar itu sangat banyak. Juga zaman saya bekerja di BUMN, harus memilih Golkar karena kalau ketahuan tidka memilih Golkar maka karir akan terancam. Konon akan diketahui pegawai mana yang tidak menusuk Golkar.
Buku ini diberi kata pengantar oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kemudian diikuti dengan Sekapur Sirih dari Mbak Tutut yang merupakan penanggung jawab buku ini. Bab I (satu) diberi tema Ksatria Cemerlang, jika saya boleh perpendapat seharusnya tidak perlu diberi judul Ksatria. Tidak sesuai dengan falsafah Pak Harto yang berkali-kali menolak pemberian gelar Doctor Honoris Causa dari berbagai Universitas.
Saya agak kesulitan saat membaca buku yang tidak bisa saya angkat sebagai layaknya buku normal. Sehingga membacanya saya baringkan buku di sofa dan membaca sambil duduk santai. Buku ini terasa berat, karena 603 halaman dicetak dengan kertas yang tebal. Saya timbang buku ini beratnya dua kilogram. Seharusnya buku ini dipisah menjadi beberapa bagian. Seperti bukunya Bung Hatta yang dihadiahkan ke saya dari putri beliau; Halida Hatta.
Kembali ke bab satu; saya membaca kesan-kesan dari mantan PM Malaysia; Mahathir Muhammad. Sangat menyenangkan membaca kesan dari tokoh pemimpin Malaysia yang pernah menolak bertemu dengan George Soros (konglomerat Yahudi asal Amerika). Dalam kesannya Mahathir menulis “Pandangan orang asing dari negara Barat terhadap saya dan Pak Harto tidak begitu baik. Seolah-olah mereka tidak ingin memajukan negara sendiri, bahkan mereka tidak ingin melihat hubungan baik kedua negara ini. Sebagai contoh, bagaimana mata uang Malaysia dan Indonesia dijatuhkan sehingga ekonomi menjadi rusak.” Dalam kesannya Mahathir menulis bahwa memang Pak Harto sengaja dijatuhkan dengan campur tangan IMF.
Membaca buku ini juga membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sempat anak bungsu saya bertanya “Mam, kenapa? Baca apa kok tertawa?” Saya membaca masih dalam bab satu kesan dari Muhammad Maftuh Basyuni yang pernah menjabat sebagai kepala protocol Istana setelah sebelumnya pernah menjadi perwira protokol penerjemah selama Pak Harto menunaikan ibadah haji di Mekah. Kisah Maftuh yang terpaksa makan siang yang hanya berlauk emping saja, padahal saat itu asam urantnya sedang kambuh. Juga kisah Anton Tabah yang bisa membuat Pak Harto tertawa, padahal saat itu Pak Harto sedang bersedih setelah putranya dipenjara. Juga ditulis tentang humor Bu Tien saat Pak Harto ingin pergi memancing, “Jangan sampai memancing yang rambutnya panjang, ya.”
Dari banyak pengakuan dan kesan tentang Pak Harto, semuanya menulis bahwa Pak Harto sangat rajin, disiplin dan semua surat dia periksa dan diberi komentar dengan tulisan tangannya langsung. Dalam buku ini juga diungkap keterlibatan putra-putri Suharto dalam saham-saham perusahaan besar dan kaitannya dengan Bank Indonesia.
Buku cukup lengkap memuat kesan-kesan tentang pribadi Pak Harto yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dari buku ini juga saya baru mengetahui bahwa Pak Harto pandai berbahasa Inggris dan bahasa sehari-hari dalam pergaulannya memakai bahasa Jawa. Isi buku bukan hanya ditulis oleh mereka yang pro pada Pak Harto, AM Fatwa yang pernah di penjara masa pemerintahan Pak Harto juga menulis kesannya dalam buku ini. Kisah AM Fatwa menjenguk Pak Harto di RS Pertamina. Kisah pertemuannya dengan Mamik putri almarhum Pak Harto.
Mantan aktovis Fadli Zon menulis kesannya, “ Pak Harto ramah dan selalu menghargai lawan bicaranya. Sulit membaca pikiran Pak Harto. Raut mukanya datar, sama saja eksperesinya dalam berbagai keadaan.” Fadli juga memuji Pak Harto dengan memilih untuk melakukan transisi secara damai, saat Pak Harto mengundurkan diri sebagai Presiden RI. Demikian juga Teguh Juwarno menulis kesannya bahwa Pak Harto tidak mau menumpahkan darah mahasiswa.
Buku ini juga banyak menampilkan foto keluarga Pak Harto koleksi pribadi putri-putri almarhum. Sayang sekali dalam buku ini tidak ada seorang pun putranya baik Bambang dan Tommy menulis kesannya. Almarhum Sudwikatmono juga ada kisahnya dan kesannya tentang Pak Harto. Hingga menambah keyakinan saya memang bisnis Sudwikatmo almarhum dari KKN. Yang tentu saja, zaman SBY kini pun masih banyak KKN, korupsi dan skandal.
Kesan saya sendiri dalam buku ini ada pesan kepada para menteri dan pejabat yang telah dibesarkan dan diberi jabatan, pangkat oleh Pak Harto. Terutama pada 14 Menteri yang ‘mbalelo’ dari 15 Menteri yang ditunjuk pada waktu krisis pengalihan kekuasaan 1998.
Terlepas tujuan penerbitan buku ini oleh Mbak Tutut sebagai tanda kasih sayangnya yang amat dalam kepada Pak Harto. Buku ini jika ingin dibeli dan dibaca khalayak banyak, sebaiknya diterbitkan dalam bentu buku normal dengan harga normal. Sebab yang senang membaca kini adalah para remaja dan generasi muda yang tidak kenal Pak Harto secara dekat. Generasi yang lahir setelah zaman reformasi. Daya beli masyarakat juga tidak dapat menjangkau buku yang dijual seharga Rp300ribu.
Suharto yang genius.Belum ada didunia ini seperti sosok Suharto. Seorang jawa yang rendah hati,murah senyum ( smile general) tapi kebijakan dan keputusannya mematikan lawan. Tidak hanya itu saja. Beliau merobohkan proklamator RI dng manisnya.( Aku iki dikapakno karo Harto, kata Sukarno). Menghancurkan satu ideologie(komunis), beserta manusianya dng sempurna. Tanpa ada perlawanan sedikitpun.Peristiwa 65/66 kata Aidit itu adalah intern angkatan darat, tapi kata Suharto sudahlah kamu diam saja , saya yang lebih revolusioner dari lu. Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.Sampai sekarang ini. Dng cara bagaimanapun, HIS mission achomplished . Suharto lebih revolusioner, daripada Aidit ( yang komunis) atau Sukarno (yang marhaenis). Padahal yang meng gembor2kan revolusie justru tidak mengerti apa itu revolusie. Lima ajimat ODJO.Odjo wedi, odjo bingung, odjo kaget, adjo dumeh ,adjo gede rumongso . Lima ajimat itu yang membawa keberhasilan Suharto.
Oleh: hadiah on Agustus 2, 2011
at 6:15 am