Oleh: maulanusantara | Agustus 30, 2011

Simbol dan Simbolisme dalam Ekspresi Keagamaan

OLEH NURCHOLIS MADJID

Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju  cita-cita reformasi   Islam  di  Indonesia,  beliau memperkenalkan  dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur’an dari Juz ‘Amma, yaitu  surat  al-Ma’un  (QS 107).  Surat  itu  sendiri  sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri, khususnya para imam shalat, dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. Tetapi,   sampai   dengan   tampilnya   Kyai   Dahlan dengan Muhammadiyahnya,  kaum  muslim  Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu, dan  tidak pula  menyadari  betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan  kemanusiaan   yang   besar   dan   mendalam   seperti Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya.
Seperti kita ketahui, surat al-Ma’un itu terjemahnya, kurang lebih adalah:
Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad), orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai, yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama, dan yang enggan memberi pertolongan. [1]

Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi  dalam  sikap  keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen  batin  kepada  usaha-usaha,  yang  menurut   istilah sekarang, menegaskan keadilan sosial. Disebutkannya anak yatim dan   orang   miskin,   adalah   karena    mereka    merupakan kelompok-kelompok  sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. Anak yatim  dan  orang  miskin mewakili  seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara.

Penilaian diri  kita  sebagai  pendusta  agama  atau  beragama secara  palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti  menjalankan ibadat formal, namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya. Dikatakan semakin diperburuk karena   kepalsuan  kita  dalam  beragama  memperoleh  bungkus kebajikan berupa  amalan  ibadat  lahiriah,  dan  bungkus  itu dengan  sendirinya  akan  mempunyai  dampak  penipuan.  Karena itulah Allah mengutuk orang  yang  menjalankan  ibadat  formal serupa  itu  namun  ia  lupa  atau  lalai  akan  ibadat mereka sendiri. Artinya, sementara  kita  mungkin  rajin  menjalankan ibadat-ibadat  formal  seperti  shalat, namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah  laku  kita  yang  lebih  mendalam,  yang
tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2].
Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa, kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata, seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok, misalnya, “kelompok orang-orang Islam.”  Artinya,  kita  melakukan  ibadat  karena menghayati  bahwa  shalat  adalah  perintah  Allah  lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan  luas.
Jadi  sesungguhnya  kita  menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya’, sekurang-kurangnya  mungkin  sekali  kita  sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. Indikasinya ialah keseganan untuk  berkorban  guna  memberi  pertolongan  kepada orang yang perlu, biarpun sedikit. [3]
AGAMA DAN AKHLAQ
Surat al-Ma’un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah  cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi  formal keagamaan  seperti  shalat,  puasa,  haji, dll. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi  ibadat,  yaitu budi  pekerti  yang  luhur,  yang  dibidikkan oleh ibadat itu.
Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan  bahwa  tujuan tugas  suci  atau  risalah  dibangkitkannya Nabi s.a.w. adalah untuk menyempurnakan  berbagai  keluhuran  budi.  [4]  Sejalan dengan  ini  Nabi  juga  menggambarkan  bahwa  diantara  semua kualitas manusia, tidak ada yang timbangan  atau  bobot  nilai kebaikannya  lebih  erat daripada budi pekerti luhur. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan  manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. [6]
Penegasan-penegasan  Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur’an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan  (al-birr atau ‘amal shalih). Allah swt. menegaskan “Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum  kamu  mendermakan  sebagian dari  (harta)  yang  kamu cintai.” [7] Dan penegasan-Nya lagi, yang lebih terinci:
Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu
    ke timur dan ke barat.Tetapi kebajikan ialah (jika)
    orang yang beriman kepada Allah, Hari kemudian, para
    malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi;
    dan orang yang mendermakan hartanya, betapapun cinta
    orang itu kepada harta tersebut. Untuk kerabat,
    anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang terlantar di
    perjalanan, peminta-minta, dan untuk membebaskan para
    budak; dan orang yang menepati janji jika membuat
    janji, serta mereka yang tabah dalam kesulitan,
    kesusahan dan masa perang. Mereka itulah orang-orang
    benar (tulus), dan mereka itulah orang-orang yang
    berbakti (bertaqwa). [8]

Dalam kaitan itu  menarik  sekali  memperhatikan  komentar  A. Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. Dikatakannya:

    Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan
    formalisme yang mematikan, kita diberi gambaran yang
    indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan.
    Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa
    kebaikan, tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada
    cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. Kita diberi empat
    pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus; (2) kita
    harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan
    kebaikan kepada sesama kita; (3) kita harus menjadi
    warga masyarakat yang baik, yang mendukung
    organisasi-organisasi sosial; dan (4) jiwa pribadi kita
    sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala
    keadaan. Keempat pokok itu saling berkaitan, tapi masih
    dapat dipandang secara terpisah.

    Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. Kita harus
    menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. Jika kita
    sadari itu, hal-hal besar menjadi kecil di depan mata
    kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini
    akan tidak lagi memperbudak kita, sebab kita melihat
    Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. Kita
    juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya, dan
    ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari
    kita, melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri.

    Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai
    hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari
    motif-motif yang lain. Dalam hal ini, juga, kewajiban
    kita dapat berbentuk berbagai macam, berujud jenjang
    yang wajar; sanak keluarga kita, anak-anak yatim
    (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup
    atau bantuan); orang yang benar-benar memerlukan
    pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita
    menemukan mereka itu), dan mereka didahulukan sebelum
    orang yang meminta, dan memang berhak untuk meminta,
    yakni, bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang
    yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu
    (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka); dan
    budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat
    kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan
    mereka). Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang
    tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di
    situ. [9]

    Dalam menafsir firman itu, Muhammad Asad menegaskan
    bahwa al-Qur’an menekankan prinsip yang semata-mata
    mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi
    persyaratan kebajikan. Disebutnya masalah menghadapkan
    wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah
    kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan
    ayat-ayat sebelumnya.[l0] Dan memang menghadapkan muka
    ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal
    lahiriah semata dari sebuah amalan, sehingga tidak
    seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan
    dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya
    terlupakan.

Jadi, agama kita mengajarkan bahwa  formalitas  ritual  belaka tidaklah  cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju  kebahagiaan,  sebelum  kita  mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Justru sikap-sikap membatasi  diri  hanya kepada   hal-hal  ritualistik  dan  formal  akan  sama  dengan peniadaan tujuan agama yang  hakiki.

Seorang tokoh Islam Indonesia, Prof. A. Mukti Ali, pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada  masalah-masalah  keagamaan  daripada   masalah-masalah sosial.  Yang  dimaksud  ialah,  banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala  yang  dinilai  menyimpang dari  ketentuan  lahiriah keagamaan, seperti soal pakaian atau tingkah “tidak sopan” dan  “tidak  bermoral”  tertentu,  namun reaksi   kepada  masalah-masalah  kepincangan  sosial  seperti kemiskinan dan kezaliman masih  lemah.  Maka seperti apa yang dikatakan Prof. Mukti Ali itu, sebagaimana Nabi saw yang justru  lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah  formal  keagamaan  semata yang simbolik.

TAUHID ESENSI, BUKAN TAUHID NAMA

Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu  bentuk  ritus yang  amat penting dalam agama Islam. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr), yang secara  langsung atau  tidak,  dapat  dipahami  dari berbagai sumber suci dalam al-Qur’an dan Sunnah. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal, seperti pengucapan atau pembacaan  kata-kata  atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan,  khususnya kata-kata  atau  lafal  yang  berkaitan  dengan  Tuhan seperti “Allah” dan “La  ilaha  illa  ‘l-lah”.  Selain  lafal  “Allah” sebagai  lafal  keagungan  (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama  juga  terdapat  lafal-lafal lain  yang  merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu, seperti al-Rahman, al-Rahim, al-Ghaffar, al-Razzaq, dll,  dari  antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan.

Dalam Kitab Suci al-Qur’an terdapat yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang  musyrik  Arab yang menolak adanya nama lain, selain nama “Allah” untuk Wujud Maha Tinggi.  Sebab  pada  saat  itu  al-Qur’an  mulai  banyak menggunakan  nama  al-Rahman,  yang  selama  ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan  nama  Allah  (al-Lah). Karena salah paham, kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham  Ketuhanan  Yang  Maha  Esa. Dalam  pandangan mereka yang keliru itu, jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain, berarti Ia tidak Maha Esa,  melainkan berbilang  sebanyak  nama yang digunakan. Maka turunlah firman Allah, memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka:
“Katakan (hai Muhammad), “Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman,   nama manapun yang kamu serukan, maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik”. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu, jangan pula kau lirihkan, dan carilah jalan tengah antara keduanya.” [12]
Menurut Sayyid Quthub, firman Allah itu mengandung makna bahwa
manusia  dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan
mereka sekehendak  mereka  sesuai  dengan  nama-nama-Nya  yang
paling  baik  (al-asma  al-husna).  Firman  itu juga merupakan
sanggahan  terhadap  kaum  Jahiliah  yang   mengingkari   nama
“al-Rahman”, selain nama “Allah”. [l3] Berkenaan dengan alasan
turunnya firman itu, tafsir-tafsir  klasik  menuturkan  adanya
Hadits  dari  Ibn  Abbas, bahwa di suatu malam nabi beribadat,
dan dalam bersujud beliau mengucapkan: “Ya Allah, ya  Rahman”.
Ketika  Abu  Jahal,  tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi
kaum beriman, mendengar tentang ucapan Nabi dalam  sujud  itu,
ia berkata: “Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan,
dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain  lagi.”  Ada
juga  penuturan  bahwa  ayat itu turun kepada Nabi karena kaum
Ahl  al-Kitab  pernah  mengatakan   kepada   beliau,   “Engkau
(Muhammad)  jarang  menyebut  nama  al-Rahman,  padahal  Allah
banyak menggunakan nama itu dalam Taurat.”

Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa
kedua  nama  itu  sama  saja,  dan  keduanya  menunjuk  kepada
Hakikat, Dzat atau Wujud  yang  satu  dan  sama.  Zamakhsyari,
al-Baidlawi  dan  al-Nasafi  menegaskan  bahwa kata ganti nama
“Dia” dalam kalimat  “maka  bagi  Dia  adalah  nama-nama  yang
terbaik” dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama “Allah” atau
“al-Rahman”, melainkan kepada sesuatu yang dinamai, yaitu Dzat
(Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. Sebab suatu nama tidaklah
diberikan kepada nama yang lain, tetapi kepada suatu dzat atau
esensi.  Jadi,  Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama “Allah”
dan atau “al-Rahman” serta nama-nama terbaik lainnya, bukannya
“Allah” bernama “al -Rahman” atau “al-Rahim”.

Jadi  yang  bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya, melainkan
Dzat atau Esensi-Nya, sebab Dia mempunyai banyak nama.  Karena
itu   al-Baidlawi   menegaskan  bahwa  pahan  Tauhid  bukanlah
ditujukan kepada nama, melainkan kepada  esensi.  Maka  Tauhid
yang  benar  ialah  “Tawhid  al-Dzat”  bukan  “Tawhid  al-Ism”
(Tauhid Esensi, bukan Tauhid Nama). [l4]

Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan  dengan
jelas  sekali  oleh  Ja’far al-Shadiq, guru dari para imam dan
tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam, baik untuk kalangan
Ahl  al-Sunnah  maupun  Syi’ah.  Dalam  sebuah  penuturan,  ia
menjelaskan nama “Allah” dan  bagaimana  menyembah-Nya  secara
benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam:

“Allah” (kadang-kadang dieja, “Al-Lah”) berasal “ilah”
dan “ilah” mengandung makna “ma’luh’, (yang disembah),
dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai
(al-musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa
makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah
apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna
(sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan
menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna
tanpa nama maka itulah Tawhid. Engkau mengerti, wahai
Hisyam?” Hisyam mengatakan lagi, “Tambahilah aku
(ilmu)”. Ja’far al-Shadiq menyambung, “Bagi Allah Yang
Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan
nama. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang
dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan.
Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah
suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu,
sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah
sama dengan Dia …” [15]

Kalau kita  harus  menyembah  Makna  atau  Esensi,  dan  bukan
menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai
suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja’far  al-Shadiq  itu,  berarti
kita  harus  menunjukkan  penyembahan  kita  kepada  Dia  yang
menurut  al-Qur’an  memang  tidak  tergambarkan,   dan   tidak
sebanding  dengan  apapun.  Berkenaan dengan ini, ‘Ali Ibn Abi
Thalib ra. mewariskan penjelasan  yang  amat  berharga  kepada
kita Dia mengatakan,

“Allah” artinya “Yang Disembah” (al-Ma’bud), yang
mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya’lahu) dan
dicekam (yu’lahu) oleh-Nya. Allah adalah Wujud dan
tertutup dari kemampuan penglihatan, dan yang
terdinding dari dugaan dan benih pikiran. [16]

Dan Muhammad al-Baqir ra. menerangkan,

“Allah” maknanya “Yang Disembah” yang agar makhluk
(aliha, tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya
(Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). Orang
Arab mengatakan

“Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung
(tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya,
dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut
(fazi’a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri.
Jadi “al-Lah” ialah Dia yang tertutup dari indera
makhluk. [17]

Jadi, menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud
yang  tak  terjangkau dan tak terhingga, yang Hakikatnya tidak
dibatasi oleh nama-nama-Nya, betapapun nama-nama itu nama-nama
utama (al-Asma al-Husna). Sebab, betapapun, seperti ditegaskan
oleh Ja’far al-Shadiq yang dikutip di atas, antara nama  (ism)
dan  yang  dinamakan  (musamma) tidak identik. Jadi, jangankan
sekedar  simbol   dan   ritus,   Nama   Tuhan   pun,   menurut
Hadits-hadits  di  atas,  tidak  benar  untuk dijadikan tujuan
penyembahan, sambil melupakan Makna dan Esensi di  balik  Nama
itu.  Maka  sebenarnya  yang  boleh  dikatakan  “ideal”  dalam
kehidupan  keagamaan  ialah  jika  ada   keseimbangan   antara
simbolisasi dan substansiasi. Artinya, jika terdapat kewajaran
dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga  agama
memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum), namun tetap
ada  kesadaran  bahwa  suatu  simbol  hanya  mempunyai   nilai
instrumental,  dan  tidak  intrinsik (dalam arti tidak menjadi
tujuan dalam dirinya sendiri, melainkan  menuju  kepada  suatu
nilai yang tinggi).

Bersamaan  dengan  penggunaan  simbol-simbol diperlukan adanya
kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif,  yang  justru
mempunyai  nilai  intrinsik. Justru segi ini harus ditumbuhkan
lebih  kuat  dalam  masyarakat.  Agama  tidak  mungkin   tanpa
simbolisasi,  namun  simbol  tanpa makna adalah absurd, muspra
dan malah berbahaya. Maka agama ialah pendekatan  diri  kepada
Allah  dan  perbuatan  baik kepada sesama manusia, sebagaimana
keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita, dalam
makna takbir (ucapan “Allah-u Akbar”) pada pembukaan dan dalam
makna    taslim    (ucapan,’assalamu’alaikum    …”)     pada
penutupannya.

CATATAN

1. QS. al Ma’un/107:1-7. Perkataan “yahudldlu” yang diterjemahkan dengan “berjuang” di sini mempunyai asal arti “menganjurkan dengan kuat”. A. Hassan dalam Al-Furqan, menerjemahkan perkataan itu dengan “menggemarkan,” Departemen Agama menerjemahkan dengan “menganjurkan” sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur’an Karim menggunakan perkataan “menyuruh”. Dan Muhammad Asad, dalam The Message of the Qur’an, menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan “feels no urge” (tidak merasakan adanya dorongan), karena baginya perkataan “yahudldlu” mempunyai makna “mendorong diri sendiri” (sebelum mendorong orang lain). Jadi, perkataan “yahudldlu” menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi, yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan.

2. Yang diterjemahkan dengan “lupa” atau “lalai” dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) “sahun”. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan, misalnya, terlalu sibuk bekerja. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah, tidak dikutuk. (Lihat, Ibn Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah, 4 jilid, Riyadl, Maktabat al-Riyadl al-Haditsah, tt., Jilid 3, hal. 46). Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri, dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya, sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. Apalagi jika lebih buruk!

3. Jadi bergaya hidup egoistis, tidak peduli kepada orang lain sekitar, khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. Kata-kata Arab “al-ma’un” yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad, berdasarkan berbagai tafsir klasik, sebagai “comprises the small items needed for one’s daily use, as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one’s fellow-men with such item. In its wider sense, it denotes “aid” or “assistance” in any difficulty” (… kata-kata “al-ma’un” mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari, juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. Dalam maknanya yang lebih luas, kata-kata itu berarti “bantuan” atau “pertolongan” dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur’an, hal. 979.

4. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal, [tulisan Arab] “Innama bu’its-tu li-utammim-a makarim-a ‘l-akhlaq-i- Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi.”

5. Yaitu sabda Nabi saw, [tulisan Arab] “ma min syay-in fi ‘il-mizan-i atsqal-u min husn-i ‘l-khulaq-i- (“Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi”).

6. Sebuah Hadits otentik, [tulisan Arab], “Aktsar-u ma yudkhil-u ‘l-jannat-a taqwa ‘l-Lah-i wa husn-u ‘l-khuluq-i “Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi”.

7. QS.’Ali ‘Imran 3:93.

8. QS. al-Baqarah 2:177.

9. A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H), hal. 69.

10. Muhammad Asad, hal. 36.

11. Dikutip oleh Roger Garaudy, dalam Integrismes, terjemah bahasa Arab oleh Dr. Khalil A. Khalil, Al-Ushuliyyat al-Mu’ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn, 1992), hal. 93:

12. QS. al-Isra’/17:110.

13. Sayyid Quthub, Fi Zhilal al-Qur’an, Jil. 5, Juz 15, hal. 73.

14. Untuk pembahasan ini, lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil oleh al-Baidlawi, al-Kasysyaf al-Zamaksyari, Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi, Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil oleh al-Nasafi, dll.

15. Lengkapnya, riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian; [tulisan Arab].

16. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r.a., menurut sebuah penuturan; [tulisan Arab].

17. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir; [tulisan Arab].

About these ads

Responses

  1. subhanalah…
    tambahan ilmu tauhid lagi di sini….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: