Oleh: maulanusantara | Januari 5, 2012

Analisa “Fatwa” MUI tentang Syiah

Kutipan Fatwa MUI tentang Syi'ah

Kutipan Fatwa MUI tentang Syi'ah

Dalam pertemuannya dengan para pelajar Indonesia yang berada di Qom (28/4), Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab menyebutkan bahwa sampai saat ini MUI sama sekali tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah. Namun saat ini beberapa media dan situs yang memiliki tendensi negatif terhadap Syiah mempublikasikan selebaran fatwa MUI yang disebutkan menyatakan kesesatan Syiah dan bukan bagian dari Islam. Manakah yang benar dari keduanya?

Mana yang benar, pernyataan Prof. Umar Shihab yang notabene adalah Ketua MUI yang menyebutkan MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah atau media-media anti Syiah yang menyebutkan MUI pernah mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan belum dianulir sampai saat ini?

Berikut kami menyertakan sebuah analisa sederhana:

Prof. Umar Shihab sebagai ketua MUI tentu tidak akan mengeluarkan pernyataan secara gegabah hanya sekedar untuk menyenangkan pendengarnya, dengan mengorbankan reputasinya sebagai tokoh masyarakat, ulama dan pejabat negara. Sementara media-media anti Syiah, tentu akan melakukan banyak hal untuk tetap membenarkan pendapat mereka meskipun itu dengan cara manipulasi dan merendahkan kehormatan seorang muslim.

Media anti-Syiah mempublikasikan kembali hasil Rakernas MUI tahun 1984 yang mengeluarkan rekomendasi mengenai paham Syiah yang kemudian mereka menyebutnya sebagai fatwa MUI.

Berikut teks lengkap rekomendasi tersebut (http://www.mui.or.id/)

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

  1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.
  2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma’sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/ pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.
  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan: Jakarta, 7 Maret 1984 M

4 Jumadil Akhir 1404 H

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML (Ketua)

H. Musytari Yusuf, LA (Sekretaris)

Analisa

  1. Meskipun rekomendasi tersebut dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI dan terdapat dalam Himpunan Fatwa MUI namun tidak satupun teks yang menyebutkan bahwa apa yang tertulis di atas adalah Fatwa MUI. Di awal surat disebutkan bahwa teks di atas adalah rekomendasi MUI yang merupakan hasil dari Rakernas MUI tahun 1984 mengenai paham Syiah dan di akhir teks disebutkan himbauan MUI untuk mewaspadai Syiah, dan sama sekali tidak menyebutkan fatwa MUI apapun mengenai Syiah.
  2. Dalam surat rekomendasi tersebut disebutkan, “Faham Syiah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab suni (ahlusunah waljemaah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.” Pernyataan bahwa paham Syiah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam, menunjukkan pengakuan MUI bahwa Syiah adalah bagian dari dunia Islam. Tidak sebagaimana pengklaiman media anti-Syiah yang menyebutkan MUI mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan menganggap Syiah di luar Islam.
  3. Lima poin perbedaan yang dipaparkan MUI dalam surat rekomendasi tersebut adalah perbedaan antara paham Syiah dengan mazhab suni (ahlusunah waljemaah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia, bukan dengan ajaran Islam itu sendiri, dan bukan pula dengan mazhab suni (ahlusunah waljemaah) yang dianut umat Islam di luar Indonesia. Mengingat, jangankan pemahaman ahlusunah waljemaah dengan umat Islam di negara lain, dalam negeri Indonesia sendiri, antara sesama pengikut ahlusunah waljemaah terdapat perbedaan akidah dan amalan fikih yang mencolok. Antara pemahaman ahlusunah waljemaah yang dianut Nahdatul Ulama (NU) yang moderat terhadap tradisi lokal sangat berbeda dengan pemahaman ahlusunah waljemaah yang dianut ormas-ormas keagamaan yang berafiliasi ke Arab Saudi.
  4. MUI tidak menyebutkan lima poin perbedaan pokok antara paham Syiah dengan pemahaman ahlusunah waljemaah yang dianut (mayoritas) umat Islam Indonesia sebagai kesesatan Syiah dan pembenaran terhadap pemahaman ahlusunah waljemaah versi umat Islam Indonesia. Adanya perbedaan paham dalam dunia Islam adalah hal yang biasa, sebagaimana perbedaan paham dalam mazhab suni sendiri.
  5. Himbauan MUI agar waspada terhadap ajaran Syiah hanya dikhususkan kepada umat Islam Indonesia yang berpaham ahlusunah waljemaah bukan kepada seluruh umat Islam Indonesia. Karenanya, bukan menjadi persoalan kemudian jika ada ormas-ormas Islam ataupun tokoh Islam yang menyatakan menerima keberadaan Syiah di Indonesia. Dan statusnya sebagai himbauan tidak meniscayakan bahwa yang menerima keberadaan Syiah menentang MUI.

Dengan lima poin analisa sederhana tersebut di atas, kami menyatakan apa yang dinyatakan oleh Prof. Umar Shihab bahwa MUI tidak pernah menyatakan Syiah sesat adalah benar, sementara media-media ataupun ormas-ormas yang anti-Syiah yang mengklaim MUI pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah adalah kedustaan belaka dan upaya manipulatif untuk tetap menimbulkan perpecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.

Kami mengutip kembali pernyataan Prof. Dr. Umar Shihab, “Suni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah Swt. yang menghendaki umat ini bersatu.” Semoga Allah Swt. memperbanyak orang-orang seperti beliau.

Sumber: Lembaga Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam

Update: Saya coba membaca fatwa-fatwa MUI yang lain di bidang akidah dan keagamaan dan “membandingkannya” dengan penjelasan MUI di atas tentang Syiah. Apa yang saya temukan sejalan dengan analisa di atas. Dalam fatwa tentang pengajian Lia Aminuddin, MUI menyatakan agar jemaahnya kembali dan mendalami ajaran Islam. Tentang Islam Jama’ah, MUI menyatakan ajarannya sesat dan menyesatkan. Tentang Ahmadiyah, MUI menyatakan ajaran tersebut berada di luar Islam.

Tapi tentang Syiah, MUI menyatakan “Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam…” memiliki perbedaan dengan ahlusunah. Kemudian MUI menjelaskan perbedaan tersebut yang mana perbedaan tersebut tidak membuatnya keluar dari Islam; meskipun perbedaan tersebut masih dapat didiskusikan dalam kerangka ilmiah. Jadi, mengapa pernyataan Ketua MUI, PBNU, dan Muhammadiyah dikatakan dusta?

Source

About these ads

Responses

  1. sesat gak nih syiah?
    kalo gak, gw mo pindah nih jadi syiah

  2. masih aja ada orang yang kerjanya memecah belah umat ya…., umat islam jgn mo diadu domba to….., kita kan bukan domba…

  3. Syiah hanya berpatokan kepada Ali radiallahhu anhu, sedangkan khalifa yang lain mereka benci.. Apakah ini menunjukan keislaman mereka.

    • Saya mau tanya pd anda ,memilih pemimpin umat Islam itu karena Masanya banyak atau orang yg sudah jelas tingkat Ilmu pengetahuannya tentang Islam ? sebelum wafat apakah Rosulullah menunjuk Abu bakar Menjadi penggantinya, tunjukkan Dalilnya? padahal jelas Orang yg belum pernah jadi kafir hanyalah Ali Kw , SAMAKAH DERAJAT ORANG YG PERNAH KAFIR DENGAN ORANG YG BEGITU LAHIR SUDAH MENDAPAT HIDAYAH OLEH ALLAH DENGAN MENJADI PEMUDA PERTAMA MENGUCAP SAHADAT?

    • Mas Ardi, Sejarah Islam ditulis pada masa Kekholifahan yg Dlolim yaitu Bani muawiyah , yg merupakan pembenci Nabi dan Keluarganya (Bani Hasyim) mereka menulis ribuan hadis yg mengagungkan para Sahabat dan memfitnah keluarga Ali (Ahlul Bait Nabi) dan membantai para pingikutnya begitu juga Bani Abasyiah juga memperlakukan Ahlul bayt Nabi dan pengikutnya dgn kejam,sehingga sejarah Islam yg sampai kekita adalah rekayasa penguas Islam (MUAWIYYAH), tapi Keturunan Ahlul Bait dan pengikutnya masih ada sampai sekarang sehingga bisa membuka kebobrokan para sahabat,

  4. @Salam Migasborneo, Apakah berpatokan kepada ketiga khalifah (Abu Bakar, Umar Ibn Khatab, Ustman Ibn Affam) merupakan rukun Islam?,…mohon pencerahannya

  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan. Mereka tidak hanya tidak mengakui tp jg mencela, menghina, dsb. Bukan cm mereka ra. tp jg istri2 Rasulullah jg diperlakukan demikian.

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

    Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.

    Hadits ini dikeluarkan oleh :
    • Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Manaqib, Bab Qauluhu Lau Itakhadztu Khalilan, no. 3397 dan lafaz ini adalah lafazh Al Bukhari.
    • Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Fadhail Al Sahabat, Bab Tahrim Sabbi Ash Shahabat, no. 4610 dan 4611.
    • Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Manaqib ‘An An Nabi, Bab Fiman Sabba Ashabi An Nabi, no. 3796.
    • Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab As Sunnah, Bab An Nahyu ‘An Sabb Ashabi An Nabi, no. 4039.
    • Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Muqaddimah, Bab Fadhlu Ahli Badr, no. 157.
    • Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 10657, 11092 dan 11180.

    Pantaskah mereka(syiah) menyandang nama islam?
    Bagaimana jika ibu anda dihina, dicaci dsb. Dan mereka(syiah) menghina, mencaci ibu kita (umat muslim), bagaimana sikap anda?

    Silahkan jawab dg hati nurani anda

    • mengimani sahabat apakah masuk di dalam rukun iman?

    • Mohon maaf, anda tahu syi’ah dari buku / orang yg tidak tahu Syi’ah , Orang Syi’ah mengakui kalau Abu bakar , umar, Utsman itu Kholifah, tapi mereka bukan Imamah, karena Imamah yg milih bukan manusia, Tapi Allah SWT , Dan para Imam Syi’ah jelas dari Keturunan Rosulullah dan Ahlulbaitnya, jadi tolong belajar lagi sama orang Syiah jangan belajar sama ustad , kyai , Habib yg bisanya mengacaukan Umat.

  6. Salam Mas Ardi, terlepas dari benar tidaknya orang Syiah mencela sahabat dan Ummul Mukminin, saya sekali lagi ingin bertanya; Apakah berpatokan kepada ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar Ibn Khatab, Ustman Ibn Affam) merupakan rukun Islam?,…mohon pencerahannya,.Trims

    • kalo masuk rukun islam, jadi 6 donk rukun islamnya.
      aku mau murtad aja daripada jadi islam, banyak ributnya, banyak golongannya… capek liat orang berantem atas nama agama

    • bukan rukun islam tapi kalu kita mau meneladani rosulullah melaui para sahabatnya

  7. Kayanya ni orang belum sepenuhnya paham pada rujukan yang ia analisa:
    Dalam kalimat bagian akhir MUI menyatakan :
    Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar “meningkatkan kewaspadaan” terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.
    “Meningkatkan kewaspadaan”, artinya sudah ada kewaspadaan terlebih dahulu sehingga perlu ditingkatkan. Mengapa harus waspada?
    Sehingga perlu kita pertanyakan kepada penulis blog ini, mengapa MUI harus menyebutkan kata “waspada” jika sesuatu aliran atau keyakinan itu masih dianggap wajar?
    Kalau pun (mungkin) MUI belum mengeluarkan fatwa sesat atau semisalnya terhadap syiah, bukan berarti syiah sudah dianggap serupa atau sebanding dengan sunni. Karena wanti-wanti dari MUI sendiri sudah jelas, bahwa kaum sunni harus “waspada” yang juga bisa berarti berhati-hati atau perlu dihindari karena ada sesuatu yang tidak wajar.

  8. Bacalah kembali khotbah terakhirnya Rasulullah saw., di Ghodir Khum. Dari situ, ikhwan dan akhwan akan mengetahui siapa pendiri pertama Syiah.
    Jika sudah mengetahui siapa namanya, telusurilah latar belakangnya. Dari ia lahir sampai ia menjadi khalifah ke-4. Serta keutamaannya mendapatkan Dzulfiqar, diberi gelar sebagai Gerbang Kota Ilmu Agama.
    Pada pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, ia banyak menolong keselamatan agama Islam.
    Ia diumpamakan oleh Rasulullah saw., sebagai Bahtera Nuh. Ia dan Al-Qur’an akan kembali kepada kekasihnya, Rasulullah saw.
    Namanya dikalangan Yahudi ialah Ilyan dan dikalangan Nasrani ialah Ilya.

    • Ya Rasulullah, memang benar apa yang engkau katakan sepupumu, yaitu Abul Hasan. Bahwa agama yang engkau bawa kepadanya telah pecah.

  9. pusing

  10. Sebagimana Sunni, Syi’ah juga mengakui fakta kekhalifahan (kuasa pemerintahan) Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan. Tetapi karena Sunni meyakini ketiganya tidak makshum maka Syi’ah tak segan-segan mengungkap bukti-bukti ketidakmakshuman ketiganya dengan menceritakan fakta-fakta penyimpangan ketiganya. Syi’ah sama sekali tidak pernah mengada ada soal cerita penyimpangan tersebut. Sebagaimana Sunni, Syi’ah juga sangat tidak senang terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan tercela (kuasa pemerintahan zalim dan penyimpang). Syi’ah tidak berkepentingan untuk mencela orang-orang yang telah melakukan perbuatan tercela. Tanpa dicela pun mereka sudah tercela. Syi’ah hanya ingin meraih keteladanan dari orang-orang baik pilihan yang suci.

  11. Sebagimana Sunni, Syi’ah juga mengakui fakta kekhalifahan (kuasa pemerintahan) Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan. Tetapi karena Sunni meyakini ketiganya & ummul-mukminin A’isyah tidak makshum maka Syi’ah tak segan-segan mengungkap bukti-bukti ketidakmakshuman ketiganya dengan menceritakan fakta-fakta penyimpangan ketiganya. Syi’ah sama sekali tidak pernah mengada ada soal cerita penyimpangan tersebut. Sebagaimana Sunni, Syi’ah juga sangat tidak senang terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan tercela (kuasa pemerintahan zalim dan penyimpang). Syi’ah tidak berkepentingan untuk mencela orang-orang yang telah melakukan perbuatan tercela. Tanpa dicela pun mereka sudah tercela. Syi’ah hanya ingin meraih keteladanan dari insan-insan pilihan yang suci.

  12. Sebagimana Sunni, Syi’ah juga mengakui fakta kekhalifahan (kuasa pemerintahan) Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan. Tetapi karena Sunni meyakini ketiganya & ummul-mukminin A’isyah tidak makshum maka Syi’ah tak segan-segan mengungkap bukti-bukti ketidakmakshuman mereka dengan menceritakan fakta-fakta penyimpangannya. Syi’ah sama sekali tidak pernah mengada ada soal cerita penyimpangan tersebut. Sebagaimana Sunni, Syi’ah juga sangat tidak senang terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan tercela (kuasa pemerintahan zalim dan penyimpang). Syi’ah tidak berkepentingan untuk mencela orang-orang yang telah melakukan perbuatan tercela. Tanpa dicela pun mereka sudah tercela. Syi’ah hanya ingin meraih keteladanan dari insan-insan pilihan yang suci.

    • Orang orang suci seperti abdullah saba, pendiri syiah yang menganggap ali ra. sebagai tuhan …na’udzubillahi min dzalik

  13. @Salam Ardi, bagaimana bani Umayah menurut Anda. Apakah mereka juga layak disebut Islam? Karena kalau Anda tahu, Muawiyah selalu mencela Ali ra., begitu juga Yazid adalah pembunuh Husain ra.
    “Jgnlah kalian saling bermusuhan, sebab hanya iblislah yang suka bermusuhan”, begitu kata ust di mushalla.
    Anda bukan iblis kan?????

  14. yg ingin tahu benar2 perbedaan keduanya maka pelajari sampai tuntas kitab2 yg dijadikan rujukan oleh keduanya.. termasuk pendapat2 yg pro dan kontra antara keduanya…baru akan terlihat siapa yg benar siapa yg keliru.. forum ini sangat jauh dr memadai untuk menilai apa yg didiskusikan…

  15. Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah “Syi’ah Ali adalah ajaran Islam yang paling murni berasal dari Rosululloh dan ahlul baytnya yang suci. Yang menyatakan syi’ah Ali sesat maka dialah yang sesat sedang yang menyatakan syi’ah Ali kafir maka dialah yang kafir. Jika pernyataan ane ini salah maka ane akan diberi adzab oleh Alloh dengan siksaaan yang sangat pedih mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane.” Jika hal ini tikdak terjadi maka penghujat syi’ah dipastikan merupakan musuh Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci!

  16. Salam buat semua

  17. masih banyak PR umat islam yang lain kok masih seneng ributin syiah kafir apa g. Rasanya dah terlalu basi, dah banyak dipahmkan juga g pada mau ngerti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 98 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: