Oleh: maulanusantara | Januari 12, 2012

Sejarah Islam di Nusantara; Membuka Hijab Sejarah

Batu Nisan di daerah Sandai, Ketapang, Kalimantan Barat dengan tarikh 127 H atau 745 M

Batu Nisan di daerah Sandai, Ketapang, Kalimantan Barat dengan tarikh 127 H atau 745 M

Saya orang Jawa, walaupun begitu saya tertarik sekali dengan asal-usul bangsa Indonesia dan keislamannya, berangkat dari situ saya melakukan literatur research pada wilayah Aceh dan Jawa. Pada akhir penelitian saya dapatkan kesimpulan bahwa yang pertamakali mengislamkan pribumi Nusantara adalah kaum muslimin keturunan Rasulullah yang bermazhab syiah. Suku-suku Pribumi Nusantara yang Islam atau yang telah memiliki tradisi Islam yang lama, seperti Aceh, Banjar, Makasar, Jawa, Sunda, Minang, Gorontalo, Lombok, Palembang, Kutai, Lampung, Ternate, dan daerah-daerah lain yang telah memiliki tradisi Islam yang lama sebenarnya merupakan orang-orang yang moyang mereka adalah keturunan Rasulullah yang bermazhab Syiah yang pertamakali mendarat di Nusantara di Aceh.

Sebenarnya saya sudah susun hasil penelitian ini menjadi sebuah buku, saya ingin sekali menerbitkannya. Akan tetapi kendalanya kemudian muncul disini. banyak penerbit yang khawatir dengan kontroversi yang ditimbulkan dari tulisan saya. terutama kekhawatiran mereka dengan tulisan saya yang mengetengahkan bahwa asal-usul nenek moyang kita adalah keturunan Rasulullah yang bermazhab Syiah dan bahwa orang Syiah lah yang mengislamkan penduduk Nusantara di Aceh dan Jawa untuk pertamakalinya. Hal ini akan mengganggu ketenangan para penganut islam mainstream (ahlus sunnah), apalagi penganut wahabi dan demikian pula ketenangan para habaib, yang mana sementara ini para habib-lah yang merasa bahwa mereka adalah satu-satunya kelompok yang merupakan keturunan Rasulullah di Nusantara.

Penelitian saya mengambil metode arkeologis dan antropologi sejarah. pokok inti permasalahan yang menghasilkan kesimpulan diakhir penelitian yang saya ambil berawal dari fakta-fakta yang seharusnya akan sudah sejak dahulu menggelitik rasa penasaran para ahli sejarah Nusantara jika mereka mau membuka mata pikiran dan mata hatinya. diantara fakta-fakta yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Sejarah kisah Perlak Pesisir yang Syiah, kenapa tidak terekspos secara luas?

2) Kisah Perlak Pesisir dan Perlak Pedalaman serta serangan Sriwijaya ke kedua Perlak

3) Mengapa Penduduk Tapanuli Utara (orang-orang Batak) tidak menganut agama Islam?

4) Mengapa Islam di Pulau Sumatera Selain Aceh (Aceh telah Islam terlebih dahulu) masuk melalui arah selatan (melalui/ berasal dari Jawa)?

5) sebabnya orang-orang Batak tidak memeluk Islam adalah karena dakwah Perlak Pedalaman (yang Sunni) ke arah wilayah-wilayah disebelah selatan Aceh atau wilayah-wilayah sebelah selatan pulau Sumatera mengalami kemacetan, mengapa mengalami kemacetan?

6) Benarkah penduduk Nusantara sebelum masuknya Islam adalah penganut Hindu atau Budha?

7) mengapa tempat-tempat peribadatan Hindu dan budha di pulau Jawa yang sedemikian megahnya malah diabaikan dan tidak dipedulikan oleh masyarakat Jawa?

8) Makam Fatimah Binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 1082 Masehi,

9) Makam Tralaya di Majapahit

6) kejanggalan-kejanggalan kisah kerajaan Demak versus Majapahit.

7) Benarkah Walisanga adalah penyebar agama Islam di Pulau Jawa? mengapa hampir tidak ada kisah khusus perjuangan mereka yang detail ketika mengislamkan suatu penduduk di suatu daerah atau wilayah tertentu? padahal tentunya kisah kesuksesan pengislaman suatu wilayah adalah kisah keteladanan yang penting dan dapat menjadi dakwah di tempat yang lain

8) Benturan budaya dan akidah antara penduduk Pesisir Utara Pulau Jawa dengan Penduduk Pedalaman Pulau Jawa

9) Kerajaan Mataram Sufi/Irfani yang didirikan Panembahan Senopati di Pulau Jawa yang sangat bernuansa Syiah

Apabila kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas maka akan dapat kita menemukan fakta baru bahwa penduduk pribumi Nusantara berasal-usul dari moyang mereka yang masih merupakan keturunan Rasulullah Muhammad yang bermazhab Syiah dari Persia.

pertamakali yang harus dibahas adalah pertanyaan pertama, yaitu kisah tentang kerajaan Perlak.

C. Kerajaan Perlak
Nama Perlak berasal dari kata peureula, mengacu pada wilayah Aceh bagian timur. Mengenai komunitas Persia atau Arab yang tinggal pertamakali di daerah Nusantara diantaranya yang diberitakan oleh I-Tsing. I-Tsing mengatakan bahwa ia menumpang kapal orang Persia ke wilayah Nusantara pada tahun 672 Masehi. Pada tahun itu pelaut Persia sudah memeluk islam.
Sedangkan G.B. Groneveldt yang menerjemahkan demografi penduduk Nusantara menurut berita China pada masa dinasti T?ang, pada hikayat dinasti T?ang tercerita bahwa di pantai sebelah barat Sumatera (Aceh atau Samudera) telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa Ta-Shi.
Menurut Ustaz M. Jamil Djamil seorang pakar sejarah Aceh, dalam pekan kebudayaan Aceh yang pernah dilangsungkan di tahun 1959. Beliau mengungkapkan bahwa islam telah masuk ke Peureula pada tahun 790 Masehi. Sumber beliau dapatkan dari kitab Zubdatu?l Tawarikh karya Nurul-Haq Al-Masyriqiyal-Duhlawy, dan kitab Idhahu?l Fi Mamlatatu?l Peureula karya Abul-Ishaq Al-Makarany. Kemudian berdirinya sebuah kerajaan yang berasal dari masyarakat muslim Peureula adalah pada tahun 840 Masehi. Perlak atau Peureula adalah nama yang mengacu pada wilayah bagian timur laut Aceh.
Suatu petunjuk tentang adanya suatu kerajaan di Banda Aceh sekarang dan sekitarnya telah diperoleh dari suatu prasasti yang telah dibuat oleh Rajendra Cola I di Tanjore (India Selatan) pada tahun 1030 Masehi. Di mana Rajendra Cola mengerahkan mempersiapkan pasukan besar-besaran untuk menaklukan wilayah-wilayah Nusantara. Salah satu tempat yang dalam prasasti adalah Ilmauridecam (Lamuri) yang diceritakan telah menghunjamkan kehebatan pasukannya melawan pasukan Rajendra Cola sehingga invader India ini harus mengerahkan seluruh pasukannya untuk menaklukannya. Apabila berita ini kita konfrontir dengan nukilan buku: ?Early Muslim Traders in South East Asia? karya G.R. Tibbets yang menceritakan riwayat dari Buzurgh tentang Lamuri yang lebih tua dari prasasti Rajendra Cola I, yaitu tahun 955 Masehi. Maka dapat kita simpulkan bahwa kerajaan Perlak dan kerajaan Lamuri berhubungan erat dengan Persia.
Buzurgh seorang muslim Persia menceritakan bahwa dari pantai Barus di sebelah barat Aceh terdapat jalan darat yang menghubungkan Barus dengan Lamuri. Ia menceritakan bahwa orang-orang Persia yang berlabuh atau kandas kapalnya di Barus akan selalu berusaha ke Lamuri. Karena disana dapat diharapkan akan bertemu dengan kawan-kawan senegara (Persia) dan supaya dapat diperoleh pengangkutan untuk pulang ke kampung.

Perlak adalah kerajaan Islam yang pertama di Nusantara. Sultan Alaidin Syed (sayyid) Maulana Abdul Aziz Syah adalah rajanya yang pertama. Sebelum berdiri kerajaan Islam, daerah Perlak dipimpin oleh orang yang masih keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Pho He La. Lalu pada tahun 840, datanglah rombongan kafilah Islam dari Persia. Tujuan mereka berdakwah agama Islam di Perlak. Dengan segera para pemimpin dan masyarakat negeri Perlak pun meninggalkan agama lama mereka (monotheisme rakyat lapisan bawah Elam) untuk berpindah ke agama Islam. kemudian salah satu anggota kafilah dari timur tengah yang masih merupakan keturunan Rasulullah bernama: Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq dinikahkan dengan Makhdum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi, raja negeri Perlak yang merupakan keturunan Persia. Syahir Nuwi masih keturunan bangsawan Sassanid yang dahulu pada masa sebelum kelahiran Islam adalah dinasti yang pernah memerintah kekaisaran Persia. Dari pernikahan antara Ali Bin Muhammad dan adik dari Syahir Nuwi, yaitu Makhdum Tansyuri ini lahirlah kemudian: Alaidin Syed (Sayyid) Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama Kerajaan Perlak. Sultan mengubah ibukota Kerajaan, yang semula bernama Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah, sebagai penghargaan atas Nakhoda Khalifah. Sultan dan istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, dimakamkan di Paya Meuligo, Perlak, Aceh Timur.
Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham Syiah. Aliran Syi?ah datang ke Indonesia melalui para Syed (baca: Sayyid, merupakan orang yang masih keturunan Rasulullah) dari Persia. Mereka masuk ke Nusantara dan mengislamkan Kesultanan Perlak yang juga masih keturunan Persia/Arya.
Sampai dengan pemerintahan Sultan kedua, aliran Islam Sunni belum memasuki wilayah Nusantara. Baru pada masa Sultan yang ketiga: Sultan Alaiddin Syed (Sayyid) Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Nusantara. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), kaum Islam Sunni memberontak kepada Kesultanan Syiah Perlak. Terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni selama dua tahun. Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (913 M), Sultan Alaiddin Syed (Sayyid) Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni.
Pada masa Sultan ketujuh Kerajaan Perlak masih merupakan kerajaan Islam mazhab Syiah. Kemudian setelah meninggalnya Sultan ketujuh pada tahun 362 H (956 M), penggantinya: Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan merupakan seorang Sultan yang bermazhab Sunni. Sejak itu Perlak menjadi kerajaan yang dipimpin oleh sultan-sultan yang bermazhab Sunni. Hal ini menimbulkan peperangan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni. Perang ini berakhir dengan perjanjian damai dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian, kerajaan Perlak Pesisir dan kerajaan Perlak Pedalaman. Kerajaan Perlak Pesisir merupakan kerajaan Islam bermazhab Syi?ah, dan dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed (Sayyid) Maulana Shah (986 ? 988). Sedangkan kerajaan Perlak Pedalaman merupakan kerajaan Islam bermazhab Sunni, dan dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan (986 ? 1023).
Kemudian pada tahun 988, kerajaan Sriwijaya menyerang Perlak. Peperangan ini menyatukan Perlak pesisir dan pedalaman bersatu. Dalam pertempuran melawan Sriwijaya tersebut pasukan Perlak yang dikerahkan untuk melawan Sriwijaya kebanyakan berasal dari Perlak Pesisir. Bahkan rajanya sendiri yaitu Sultan Alaidin Sayyid Maulana Syah terjun langsung ke dalam pertempuran. Akibat dari pertempuran itu Sultan Alaidin Sayyid Maulana Syah gugur dalam pertempuran. Bersamaan dengan itu pupuslah pula kerajaan Perlak Pesisir, Sultan-sultan yang menguasai wilayah Aceh pada masa setelahnya bermazhab Islam Sunni. Tapi pengorbanan kerajaan Perlak Pesisir dalam peperangan melawan Sriwijaya tidak sia-sia. Sejak saat itu kerajaan Sriwijaya menjadi lemah dan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menyerang Perlak. Walaupun kerajaan Perlak yang masih tersisa merupakan kerajaan Islam yang bermazhab sunni akan tetapi bagi orang-orang Perlak Pesisir hal tersebut tidak menjadi masalah. Yang terpenting bagi orang-orang Perlak Pesisir adalah tegaknya kalimat syahadat di bumi Perlak tanpa melihat perbedaan mazhab.
Dari uraian diatas menunjukkan bahwa kesultanan Perlak yang terletak di Aceh berasal dari orang-orang Persia yang belum memeluk Islam. Yaitu Meurah Perlak Syahir Nuwi dan adiknya Makhdum Tansyuri. Makhdum Tansyuri kemudian dinikahkan dengan Ali Bin Muhammad Ja?far Shadiq. Berarti Ali adalah ayah dari sultan Perlak pertama. Dari namanya ayah Sultan Perlak pertama ini yaitu Ali sudah menunjukkan bahwa dia penganut mazhab Ahlul Bayt dan juga besar kemungkinan adalah keturunan nabi. Karena pemakaian nama itu pada tahun-tahun itu di timur tengah bisa mendatangkan ancaman yang berasal dari penguasa. Penganut sunni yang di timur tengah waktu itu adalah pengikut Bani Abbas dan tidak akan menggunakan nama tersebut. Pengikut sunni baru mulai menggunakan nama-nama bernuansa ahlulbayt setelah runtuhnya kesultanan Bani Abbas pada tahun 1258. Selain bermazhab syiah besar kemungkinan Ali ini juga keturunan nabi. Karena selain dia yang menggunakan nama berbau syiah, ayahnya pun juga mempunyai nama yang berbau syiah, nama ayahnya yaitu Muhammad Ja?far Shadiq. Keluarga Ali menggunakan nama-nama bernuansa Syiah secara terus-menerus/turun-temurun. Menunjukkan keberanian yang terjaga terus-menerus. Pada masa itu selain penganut sunni, pengikut syiah yang biasa-biasa saja juga tidak berani menggunakan nama-nama itu.

D. Hijrahnya Musafir Perlak Pesisir yang Bermazhab Islam Syiah ke Pulau Jawa.

Kemudian timbul pertanyaan: ?Apakah akibat dari serangan Sriwijaya kepada kerajaan Perlak yang menyebabkan hancurnya Perlak Pesisir tersebut secara serta merta menyebabkan punahnya orang-orang syiah di Nusantara? Menurut kami jawabannya adalah: “Tidak”. Pada tesis sebelumnya disimpulkan bahwa Islam pertamakali masuk ke Aceh baru kemudian Jawa, dari Jawa baru kemudian Islam menyebar ke seluruh Nusantara. Aceh dan Jawa adalah dua simpul yang terhubung langsung. Sedikit banyak makam Fatimah Binti Maimun menunjukkan simpul itu. Makam itu bernuansa Persia, sama dengan keadaan kerajaan Perlak yang dipimpin oleh orang keturunan Persia. Nama Fatimah juga merupakan nama Perlak awal yang sangat bernuansa mazhab Syiah pada masa itu. Pada masa itu nama tersebut merupakan nama yang bermakna bahwa pemakai nama tersebut adalah seorang muslimah yang menjadi penganut Islam mazhab Syiah. Orang yang selain bermazhab Syiah tidak berani memakai nama itu. Maka suatu kemungkinan sekali terdapat aliran migrasi dari Perlak ke Jawa. Oleh karena itu kemungkinan sekali bahwa orang-orang Perlak yang bermigrasi ke Jawa adalah orang Perlak pesisir, Perlak pesisir bermazhab Syiah. Bahkan di Aceh sendiri secara jelas terlihat dari psikografi masyarakat Aceh pada masa sekarang, Secara umum orang Aceh pada masa ini mempunyai bawaan karakter yang rendah hati dan mengalah sebagai dua karakter yang paling menonjol. Hal ini tidak menunjukkan adanya persamaan karakter antara mereka dengan masyarakat Perlak Pedalaman pada masa dulu kala yang bermazhab Sunni. Karakter rendah hati dan mengalah ini lebih sesuai dengan fakta karakter yang dimiliki oleh Masyarakat Perlak Pesisir yang bermazhab Syiah. Orang-orang Perlak Pedalaman yang Sunni yang kemudian memberontak pada masyarakat Syiah Perlak bersatu yang dulunya hanya bermazhab Syiah dengan cara kekerasan, padahal mereka datang ke Aceh belakangan, jelas menunjukkan bahwa mereka (kaum Perlak Pedalaman yang Sunni) tidak mempunyai sifat ini (sifat mengalah dan rendah hati). Dari tesis ini dapat ditarik sintesis bahwa karakter dan moyang orang Aceh saat ini bukanlah berasal-usul dari masyarakat Perlak Pedalaman yang bermazhab Sunni tetapi berasal dari masyarakat Perlak Syiah yang pada serangan Sriwijaya berusaha membela kedua kerajaan Perlak baik Sunni maupun Syiah. Tentunya tidak semua kelompok besar Syiah yang dipukul hancur oleh Sriwijaya berhasil hijrah ke Pulau Jawa. Ada diantra mereka yang tetap tinggal di Aceh untuk membantu perlawanan terhadap masyarakat Islam secara keseluruhan dari kemungkinan-kemungkinan serangan Sriwijaya atau pihak-pihak yang beraliansi dengan Sriwijaya. Tentunya masyarakat Syiah yang masih tinggal di Aceh/Perlak dan tidak ikut hijrah terpaksa harus beradaptasi dengan masyarakat Islam Sunni. Pada masa yang lama mereka berangsur-angsur membaur pada masyarakat Perlak Pedalaman yang Sunni yang setelah perang melawan Sriwijaya kemudian menjadi mazhab Islam yang dominan. Hal ini kelamaan menggerus keyakinan mereka (masyarakat Syiah) melalui pemaksaan, perkawinan atau yang lainnya, hal ini akhirnya yang membuat mereka kehilangan keyakinan awal mereka yang Syiah. Hal ini pula yang menjelaskan dari mana asal-usul sifat mengalah masyarakat Aceh berasal. Mereka bahkan mengalah dalam hal keyakinan mazhab demi suatu hal yang lebih penting lagi. Seperti telah diurai diatas mengenai geopolitik Perlak yang mana Perlak pedalaman dikuasai Islam mazhab Sunni. Sedangkan dakwah mazhab Sunni ke arah selatan wilayah yang dihuni oleh orang-orang selatan pulau Sumatera mengalami kemacetan. Macetnya dakwah Sunni ke arah selatan pulau Sumatera secara otomastis menyebabkan perkembangan Perlak pedalaman macet dan akibatnya dakwah perluasan Perlak pesisir ke selatan juga menjadi macet. Oleh karena itu kemungkinan besar bahwa orang-orang Perlak yang masuk ke Jawa adalah orang-orang Perlak pesisir yang kemudian memutuskan untuk mengambil jalan laut menuju daerah baru. Oleh karena hal ini maka terdapat kemungkinan kuat orang-orang yang mengislamkan penduduk Jawa untuk pertamakali adalah orang-orang Islam yang bermazhab Syiah. Uraian-uraian pada sejarah Islam masuk ke Jawa pada pembahasan sejarah Demak dan Mataram di bawah ini sedikit banyak berusaha mengungkap keadaan masyarakat di Jawa yang kemungkinan sekali adalah masyarakat syiah.

ISLAM DI TANAH JAWA

A. Majapahit, Demak dan Mataram
Pada pembahasan sebelumnya sedikit-banyak telah diuraikan bahwa kaum pelarian Perlak Pesisir setelah perang dengan Sriwijaya kemudian hijrah ke pulau Jawa. Dinamika kehidupan mereka setelah sampai di pulau Jawa sangat penting untuk diuraikan melalui analisa menurut antropologi budaya karena merupakan fragmen sejarah yang membentuk peradaban dan sikap pada umumnya masyarakat Jawa. Untuk memulai pembahasan sejarah kehidupan masyarakat Jawa pada masa peralihan Majapahit-Demak menurut sudut pandang antropologi budaya maka akan dimulai dengan fakta-fakta yang telah ada dalam sejarah umum populer. Maka analisa akan dimulai dari masyarakat Jawa pada jaman Demak dan Majapahit. Dengan analisa melalui sudut pandang antropologi budaya masyarakat ini diharapkan akan memunculkan alternatif tafsiran baru akan pembacaan fakta sejarah Nusantara di Jawa yang ada, khususnya berkenaan dengan dinamika sejarah Majapahit dan Demak, serta perpindahan keyakinan masyarakatnya dari Hindu ke Islam. Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara-Jawa. Hal ini memang benar adanya. Tapi ada pula ditemukan riwayat yang simpang siur bila akan mengungkap fakta awal sejarah pendirian kerajaan ini. Terdapat tiga sumber berita utama mengenai Demak, yaitu berita dari babad tanah jawi, berita China, berita orang barat yang meliputi Suma Orientalnya Tomy Pires dan berita Portugis. Di antara berbagai sumber itu berita China dan babad tanah jawi banyak memiliki kemiripan. Yang jelas dua sumber berita yaitu berita China dan babad tanah jawi mengungkapkan bahwa antara pendiri Demak dan penguasa Majapahit terdapat hubungan kekerabatan, tapi kedua sumber berita juga mengungkapkan adanya perang antara Demak dan Majapahit. Perang dimulai dengan Demak yang menyerang kerajaan Majapahit. Kedua sumber berita juga mengungkapkan kekalahan Majapahit dalam perang itu. Suatu hal yang sangat aneh apabila tidak ada penjelasan dari sudut pandang antropologi masyarakat, adalah bahwa kerajaan Demak berani menyerang Majapahit hanya satu tahun lebih setelah berdirinya kerajaan itu! dalam serangannya ini pun kerajaan Demak langsung mengalami kemenangan! Memang terdapat pendapat yang menyatakan bahwa kerajaan Majapahit pada masa itu telah mengalami kemunduran. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah sebab kemundurannya. Pada suatu bangsa yang menganut sistem pemerintahan kerajaan, kemajuan atau kemunduran kerajaan tersebut tergantung pada dukungan rakyat. Oleh karena itu sering terjadi fenomena pada sejarah-sejarah kerajaan, bahwa suatu kerajaan secara mendadak menjadi kerajaan yang besar, atau suatu kerajaan secara mendadak mengalami kemerosotan. Hal ini bisa terjadi tergantung pada adanya seorang pemimpin yang cakap atau tidak. Apabila seorang pemimpin didukung oleh rakyatnya maka kerajaan tersebut kuat. Kecakapan seorang pemimpin atau raja adalah kemampuannya dalam mengaspirasi kehendak rakyatnya. Oleh karena itu kemunduran kerajaan Majapahit di masa menjelang akhir riwayatnya disebabkan oleh lemahnya dukungan rakyat di Nusantara Jawa ketika kerajaan Hindu tersebut diserang Demak. Pola yang dialami Majapahit ini dalam sejarah Jawa kuno tidak dialami oleh kerajaan-kerajaan Hindu sebelumnya. Kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa sejak dari Mataram kuno oleh wangsa Sanjaya, wangsa Syailendra, kerajaan Medang Kamulan, Daha, Kahuripan, Singasari, yang berakhir riwayatnya tidak melalui peperangan atau serangan dari luar (faktor eksternal). Kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha sebelum Majapahit runtuh atau berganti nama kerajaan dan letak pemerintahannya karena adanya konflik internal, perebutan kekuasaan, pembagian kerajaan dan hal-hal sejenis. Kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha di Jawa sebelum Majapahit terbukti mampu melawan serangan dari luar, seperti sikap bermusuhan dari kerajaan besar seperti Sriwijaya atau serangan dari tentara Mongol pimpinan Kubilai Khan. Fenomena ini bisa terjadi apabila pemimpin kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha Jawa pada masa itu tidak mendapatkan hambatan dari rakyat ketika melawan aggresor asing yang sama-sama non-muslim seperti ketika mereka menghadapi serangan dari Sriwijaya yang berkeyakinan Budha dan Mongol yang berkeyakinan pagan. Namun ketika melawan serangan luar dari kerajaan Islam seperti Demak yang baru berumur satu tahun, kerajaan Majapahit dengan segera mengalami keruntuhan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pertentangan antara kerajaan Hindu dan kerajaan Islam ini, rakyat di pulau Jawa tidak terlalu ambil perhatian memikirkan kelangsungan hidup kerajaan Hindu Majapahit. Apabila rakyat masih berkeyakinan Hindu, mereka pasti akan merasa terancam oleh serangan kerajaan Demak kepada kerajaan Majapahit, dan dengan segera melupakan segala konflik diantara mereka bila ada, untuk segera saling bahu-membahu dengan penguasa mereka melawan aggresor asing. Upaya untuk menguak kejadian sebenarnya dari fakta sejarah yang sangat terbatas, maka akan dicoba dengan mengkonfrontir antar fakta sejarah. Selain itu diupayakan untuk menemukan suatu konsep yang tidak bertentangan dengan segala fakta. Juga metode untuk menemukan konsep tersebut. Karena keterbatasan riwayat maka konsep yang dipakai adalah informasi tentang antropologi dan keadaan kesadaran masyarakat jaman itu.

Berkaitan dengan hubungan Demak dan Majapahit maka simpul antropologi yang terpenting adalah fakta interaksi antar dua keyakinan, yaitu hubungan antara peradaban Islam dan peradaban Hindu pada masyarakat di pulau Jawa pada masa itu.
Untuk itu maka yang akan dijadikan simpul utama antropologi adalah fakta arkeologi shahih, seperti misalnya artefak arkeologi tentang makam Tralaya; yaitu pemakaman Islam di jantung Majapahit yang berangka tahun 1307 Masehi. Angka tahun pada nisan makam menunjukkan bahwa Islam bisa eksis di Jawa pada saat penguasanya yang Hindu yaitu Majapahit sedang berada di masa kejayaannya. Jumlah nisan makam orang Islam disitu cukup banyak. Selain itu penduduk Majapahit juga menggunakan mata uang yang bertuliskan simbol-simbol Islam diantara mata uang-mata uang lainnya. Berdasar fakta itu terbentuk hipotesa bahwa penduduk Islam Jawa telah masuk wilayah pedalaman, telah tinggal di kawasan pusat pemerintahan, mampu beradaptasi dengan penguasa Hindu dan terlibat dengan kehidupan bernegara.
Menjelang runtuhnya Majapahit tidak terdeteksi adanya proses pengislaman terhadap masyarakat Jawa oleh para mubaligh Islam. Oleh karena kemungkinan sekali mayoritas penduduk Majapahit telah memeluk Islam menjelang keruntuhan Negara itu. Serangan Demak kepada Majapahit menjelang keruntuhannya itu sebenarnya tidak produktif bila benar rakyat Majapahit masih menganut agama Hindu. apabila dilihat dari segi politik dakwah Islamiyyah (jika benar Demak menyerang Majapahit untuk tujuan dakwah), serangan Demak di Jawa kepada Majapahit justru dapat membangkitkan semangat perlawanan orang-orang Hindu (jika benar rakyat Jawa pada saat itu masih beragama Hindu) kepada penyebaran Islam. Tapi situasi ini tidak terjadi di Nusantara Jawa pada jaman Majapahit. Masyarakat Hindu Nusantara tidak teriwayatkan kemudian membalas serangan muslim pada masa-masa sesudah hancurnya Majapahit dengan suatu gerakan bawah tanah apapun, baik militer maupun sosial politik. Bahkan agama Hindu setelah itu tidak tedeteksi lagi di pulau Jawa, seolah lenyap di telan bumi! Hal ini menandakan terdapat suatu kemungkinan besar bahwa masyarakat Jawa sudah hampir menjadi muslim semuanya pada saat itu.
Kita bisa membandingkannya dengan situasi di belahan bumi lain di wilayah yang terdapat interaksi antara Islam dan Hindu, seperti di India misalnya. Yaitu di masa Mughal India ketika dipegang oleh Aurangzeb. Pada masa itu Aurangzeb memaksakan kehendaknya dan bertindak keras terhadap pemeluk Hindu. Akibat dari tindakannya itu potensi dakwah Islam kepada masyarakat Hindu India menjadi benar-benar semakin sempit. Rakyat Hindu India kemudian memboikot ajaran Islam dari segala sisi kehidupan. Tapi Demak yang merupakan representasi Islam di Jawa tidak mengalami seperti yang dialami Mughal dengan Aurangzeb sebagai pemimpinnya pada masa-masa setelahnya. Padahal Demak juga melakukan tindakan keras pada Majapahit yang merupakan representasi Hindu.
Sejarah perkembangan Islam dilihat secara keseluruhan sejak dari masa Rasulullah sampai sekarang tampak bahwa perkembangan atau perluasan kekuasaan Islam dengan pendekatan militer akan menyisakan sedikit peninggalan riak-riak konflik dimasa depan. Kemelut yang terjadi antara lain konflik antara penduduk yang dulunya bukan penganut Islam dengan penguasa Islam. Atau konflik antara Negara tetangga wilayah perluasan Islam dengan daerah Islam yang baru. Tercatat ketika Konstantinopel berhasil ditaklukan pasukan muslim, maka pada masa-masa setelahnya terdapat rongrongan terhadap kekuasaan Islam Turki yang dikomandoi oleh Vlad, dibutuhkan tenaga dan kesabaran untuk menumpasnya. Demikian pula Andalusia selalu dirongrong oleh tetangganya yang Nasrani. Bahkan jika dilihat secara keseluruhan maka perebutan sebagian besar wilayah Romawi oleh Islam yang meliputi Afrika Utara, Syam dan Eurasia sampai sekarang masih menyisakan jejak konflik. Yaitu perseteruan urat syaraf yang tak kentara antara dunia barat dan dunia Islam.
Dunia barat modern sekarang ini dapat dibilang merupakan reinkarnasi kekaisaran Romawi yang pada jaman dahulu diruntuhkan kebesarannya oleh Islam. Pola ini terjadi dimana saja peradaban Islam berinteraksi dengan peradaban non-Islam, yaitu jika menggunakan pendekatan militer, maka pada waktu di masa depan akan menyisakan jejak konflik. Hal itu menimpa dinasti Mughal, dinasti Turki Usmani, Andalusia dan yang lainnya. Hal ini juga terjadi di Persia pada masa awal penaklukannya. Bahkan khalifah Umar dibunuh oleh seorang Persia. Persia akhirnya berhasil memantapkan diri sebagai kekuatan Islam tapi hal ini terjadi setelah sebagian besar penduduknya pada abad ke 9 beralih menjadi pemeluk Syiah. Suatu mazhab Islam yang notabene lebih dimusuhi lagi oleh penguasa Islam di timur tengah pada saat itu daripada musuh-musuhnya yang lain, bahkan musuh-musuhnya yang non-muslim sekalipun.
Dalam perang-perangnya, Rasulullah tidak pernah memulai suatu serangan kepada pihak musuh. Apabila beliau menyerang musuh Islam maka dapat dipastikan bahwa pada masa sebelumnya musuh tersebut pernah secara nyata merugikan kaum muslimin atau merugikan dakwah Islam. Hal ini menyebabkan menjelang beliau wafat, Islam telah sukses dipeluk masyarakat di seluruh jazirah Arab.
Apabila pola alasan umum peradaban Islam di dunia dalam melancarkan serangan kepada pihak asing adalah seperti yang telah diuraikan diatas. Lalu untuk apakah tujuan yang sebenarnya dari kerajaan Islam Demak menyerang Majapahit? Sejarah tidak menunjukkan adanya persinggungan antara umat Hindu dan Islam sebelum kelahiran kerajaan Demak. Sepertinya sangat sukar dipercaya jika tujuan Demak menyerang Majapahit adalah dakwah Islam kepada masyarakat Majapahit yang masih memeluk Hindu. Jika benar melalui jalan kekerasan maka lebih besar kemungkinannya bahwa rakyat Nusantara yang berkeyakinan Hindu akan memboikot, sehingg dakwah Islam akan mengalami kemacetan seperti yang dialami Aurangzeb. Situasi dakwah dengan kekerasan selalu tindak membuahkan hasil di pulau Jawa, masa penjajahan Belanda menunjukkan hal itu. Walaupun Belanda sudah ratusan tahun menduduki pulau Jawa, akan tetapi penduduknya tetap saja memeluk Islam sampai sekarang. Oleh karena itu keberanian penguasa Demak ketika memutuskan untuk menyerang Majapahit sedikit banyak menunjukkan bahwa rakyat Jawa sudah Islam di masa itu.
Serangan Demak ke Majapahit kemungkinan sekali bukan karena dakwah Islam kepada masyarakat Hindu Jawa. Akan tetapi ?dakwah lain? dengan sasaran ditujukan kepada ?keyakinan lain? Diskusi tentang masuknya Islam di Nusantara maka situasi perkembangan Islam yang terjadi di Jawa tentunya memiliki keterkaitan dengan sejarah sebelumnya yang terjadi di Aceh (Perlak). Sedikit banyak sejarah Perlak telah mencantumkan adanya konflik internal sesama muslim beda mazhab pada wilayah kepemimpinan kerajaan tersebut. Konflik sesama Islam beda mazhab ini pula kemungkinan besar fenomena yang ?mengikuti? orang-orang Perlak yang hijrah ke Jawa, berupa ?interaksi? antara Demak dengan penduduk Jawa. Apabila hal diatas merupakan peristiwa yang sebenarnya maka pola di Nusantara akan sesuai dengan berbagi pola penyebaran Islam lainnya di belahan lain dunia.

Dinamika Sosial-Politik yg Terjadi di Jawa Stelah Kaum Islam Syiah masuk ke pulau itu

Dari sudut pandang psikologi para musafir Perlak, kita dapat menyelami atau membayangkan kesadaran mereka ketika hendak berhijrah ke Jawa. Apabila kehidupan awal mereka diselami akan didapat sedikit gambaran suatu keadaan yang sesuai dengan situasi sosial politik masyarakat di Jawa pada abad ke 11. Setelah hijrah ke pulau Jawa, pastilah para musafir Perlak ini hendak memantapkan posisinya di tempat yang baru supaya tidak terulang lagi konflik horizontal antara mereka sendiri (kaum Islam Syiah) dengan kaum Islam Sunni (yang pastinya di masa depan nanti akan menyusul mereka lagi), seperti sebelumnya, yang menyebabkan mereka harus meninggalkan tempat asal. Mereka tidak mau terperosok ke lubang yang sama dua kali.
Jelas bahwa perpindahan para musafir dari Perlak Pesisir yang hijrah ke Jawa disebabkan karena tidak berkembangnya lagi sumber-sumber penopang hidup mereka di tempat asalkarena sebab luar, atau karena perang. Praktis setelah wilayah pedalaman dikuasai muslim Sunni, potensi perkembangan wilayah mereka melalui jalur darat terhenti, sementara mereka juga memahami bahwa wilayah di Nusantara yang potensi menjadi sasaran dakwah masih terbentang luas. Selain itu dengan dikuasainya pedalaman oleh Perlak Sunni yang mempunyai akses ke daerah-daerah penghasil beras di selatan Sumatera, maka orang-orang Perlak Pesisir jadi tergantung sumber penghidupannya kepada orang-orang Perlak Pedalaman. Terutama ketergantungan mereka pada bahan makanan pokok pada masyarakat Perlak Pedalaman. Walaupun hasil perdagangan dari menguasai wilayah pesisir lebih tinggi, tapi untuk hidup orang tetap butuh makanan pokok. Upaya mereka menuju Jawa dan bukannya ke daerah Nusantara yang lain juga menunjukkan bahwa wilayah sasaran perpindahan mereka adalah daerah sumber penghasil bahan makanan pokok. Minimal mereka pasti berpikir bahwa kesinambungan dakwah penyebaran Islam ini dapat dicapai jika support sumber penopang kehidupannya terjamin.
Oleh karena itu seperti pepatah: ?Tidak akan terperosok ke lubang yang sama dua kali,? berlaku bagi para keturunan musafir Perlak Pesisir yang hijrah ke pulau Jawa. Setelah menetap di pulau tersebut, mereka ini tidak puas dengan mengelola wilayah pantai dan hanya mempunyai sebatas hubungan administrative (upeti) dengan penguasa yang lebih dahulu eksis di daerah tersebut (pada situasi lama di Perlak adalah hubungan mereka dengan Sriwijaya). Tapi ketika dulu masih di Perlak, barangkali tujuan mereka hanya lebih menguasai wilayah pesisir karena mereka juga mempertimbangkan masih adanya kemungkinan mereka akan menempuh jalur darat menuju Jawa. Jadi hijrah mereka ke Jawa merupakan suatu strategi jangka panjang. Hal ini juga suatu hal yang sangat mungkin. Tapi kedatangan audara mereka Sunni membuyarkan hal itu. Tapi saat ini mereka sudah sampai juga ke pulau Jawa dengan kondisi yang lain, yaitu sebagai musafir yang hijrah karena suatu masalah di tempat asal. Kemudian setelah sampai di Jawa para musafir Perlak melihat bahwa pulau tersebut merupakan ujung dunia, mereka tidak bisa pindah kemana-mana lagi. Maka pastilah kemudian mereka mengalihkan strategi dengan merubah diri dengan menjadi masyarakat agraris untuk memantapkan posisinya lebih permanen di pulau Jawa. Skenario ini suatu hal yang sangat mungkin terjadi.
Dalam berinteraksi dengan penguasa Jawa (Majapahit) sebagai daerah tujuan baru, para musafir Perlak berupaya terlibat lebih dalam penyelenggaraan negara. Mereka juga menyesuaikan diri dengan pola kerajaan Majapahit yang agraris dengan berupaya mendapatkan daerah-daerah subur di pedalaman. Mereka paham bahwa menguasai sumber penopang penghidupan berarti kelangsungan tujuan serta ketahanan menghadapi pihak yang mengancam misi-misi mereka. Pola hidup lebih teratur dan disiplin sebagai syarat kesuksesan masyarakat agraris juga harus segera mereka kondisikan. bermasyarakat yang lebih komunal, kerjasama dan gotong royong harus lebih mereka upayakan.
Selain membaharui pola hidup dan sumber mata pencaharian, juga memperbaharui strategi hubungan mereka ketika berinteraksi dengan pihak lain. Pada awalnya di Perlak hubungan imbal balik strategi dan politik perdagangan merupakan dasar dari pola hubungan mereka dengan pihak lain. Setelah berada di Jawa yang agraris, mereka paham bahwa frekuensi hubungan sosial antar segmen dan elemen masyarakat akan lebih intens, kemampuan sosial, diplomasi dan politik lebih ditingkatkan. Secara otomatis hal ini akan meningkatkan kepekaan antar manusia diantara mereka. Sifat tenggang rasa, empati dan toleransi dengan cepat segera mereka miliki. Sepertinya para musafir Perlak di Jawa berhasil menguasainya, jejak-jejak peninggalan arkeologi Islam yang banyak terdapat di pusat Majapahit ketika berhasil mencapai masa keemasan membuktikan hal itu.
Kelompok musafir Perlak pesisir yang hijrah ke Jawa juga mengubah kebijakan politiknya. Waktu masih di Perlak mereka mendirikan kerajaan secara otonom atau mandiri tapi masih berada di bawah kemaharajaan Sriwijaya. Ketika hubungan antara mereka dengan Sriwijaya harmonis maka keamanan Perlak akan terjamin. Tapi ternyata mereka tidak bisa memastikan bahwa hubungan mereka dengan penguasa Sriwijaya akan baik terus. Setelah Sunni masuk ke Perlak dan memecah Perlak menjadi dua; pedalaman dan pesisir, mereka tidak bisa mengontrol kebijakan daerah pedalaman lagi. Ketika Sriwijaya mungkin menganggap Perlak pedalaman sebagai ancaman dan menyerangnya. Mereka tidak bisa mencegah kerusakan hubungan ini. Hal ini menyebabkan mereka terpaksa juga harus melibatkan diri dalam peperangan untuk membantu kerajaan Perlak Pedalaman. Karena mereka sesama muslim dan bagaimanapun harus saling membantu. Pastinya Sriwijaya tidak akan ambil pusing bahwa Perlak sebenarnya telah pecah dan mereka adalah orang-orang Perlak Pesisir yang dulu mampu menjalin hubungan baik dengan Sriwijaya. Sriwijaya akan tetap menyerang Perlak secara keseluruhan, baik pedalaman maupun pesisir. Peristiwa serangan Sriwijaya ini menyebabkan kehancuran Perlak Pesisir. Orang-orang Perlak Pesisir sebagai pihak yang membela saudaranya dengan mengorbankan segalanya termasuk jiwa Sultannya, yaitu Sultan Maulana Syah yang gugur dalam pertempuran melawan Sriwijaya.
Pengalaman masa lalu itu membuat mereka merasa bahwa mendirikan kerajaan di tempat baru yang sudah ada penguasanya bukanlah suatu tindakan efektif. Apabila mereka mendirikan kerajaan di tempat baru (Jawa), sementara di wilayah tersebut juga masih berdiri kerajaan non-muslim yang kuat (kerajaan yang kuat bermakna bahwa kerajaan tersebut mendapatkan dukungan rakyatnya), maka nanti apabila terjadi suatu konflik diantara mereka dengan kerajaan lama dan terjadi perang, maka mereka akan musnah oleh serangan Non-Muslim, seperti kasus yang telah terjadi di Perlak. Para musafir Perlak memahami bahwa mereka sebagai penganut syiah memang mempunyai kemampuan adaptasi dengan penguasa yang berlainan keyakinannya dengan mereka. Ketika di timur tengah, moyang mereka terbiasa hidup dibawah penguasa yang sangat memusuhi mereka. Hal ini membentuk kemampuan adaptasi yang luar biasa hidup berdampingan dengan penguasa memusuhi mereka. Kemampuan ini diturunkan pada anak keturunannya. Akan tetapi keadaan para musafir Perlak syiah di Nusantara ini lain dengan situasi moyang mereka dahulu di timur tengah. Di timur tengah moyang mereka menghadapi penguasa yang sesame muslim, walaupun permusuhannya kepada mereka terkadang lebih sengit daripada pemusuhan yang ditunjukkan oleh non-muslim sekalipun, akan tetapi mereka sesama pengikrar syahadat, dan harus tetap menjaga kehormatan dan keselamatan sesama muslim. Oleh karena itu mereka lebih sering melancarkan gerakan taqiyyah, suatu gerakan menjauhi benturan dan konflik kalau perlu dengan cara menyembunyikan keyakinannya.
Berbeda dengan keadaan di Timur Tengah dimana kaum syiah kedudukannya jauh lebih lemah, di Nusantara kaum musafir Perlak Pesisir yang bermazhab syiah mempunyai cukup kekuatan sehingga dapat mengimbangi dan hidup berdampingan dengan saudaranya sunni, dan mereka tidak perlu melakukan taqiyyah. Hal inilah yang terjadi di Perlak. Akan tetapi tidak seperti keadaan di Timur Tengah, di Nusantara terdapat pihak ketiga, yaitu penguasa non-muslim seperti kerajaan Sriwijaya yang kedudukannya kuat, sedangkan di Timur Tengah pihak ketiga yaitu kaum non-muslim yang menjadi pesaing Daulah Islamiyah kedudukannya lebih lemah.

Kaum Islam Syiah Perlak Pesisir akan berusaha selalu mampu menjaga supaya tidak terjadi benturan dengan Sriwijaya yang lebih kuat ketika mereka masih sendirian. Akan tetapi ketika saudaranya kaum Islam Sunni mulai datang ke wilayah Perlak mereka tidak mampu menjaga hubungan harmonis dengan Sriwijaya lagi. Akibatnya mereka mengalami kehancuran ketika membela saudaranya kaum muslimin Sunni supaya tetap utuh.
Hal inilah yang menyebabkan para musafir kaum Islam Syiah Perlak Pesisir enggan mendirikan kerajaan lagi di pulau Jawa. Mereka lebih memilih berdakwah secara non-formal dan damai dibawah kekuasaan penguasa Majapahit. Mereka yakin akan potensinya untuk menyebarkan agama Islam secara damai di pulau Jawa, karena sebelumnya mereka terbukti berhasil berdakwah secara terbuka dan damai di masa lalu kepada kaum Non-muslim di Perlak. Para musafir Perlak Pesisir tidak berusaha menyaingi atau menumbangkan kerajaan Majapahit, bahkan berusaha turut berpartisipasi di dalam kerajaan tersebut. mereka mengambil langkah dakwah secara damai dengan suatu maksud tidak lepas satu tujuan akan mengalami keberhasilan dari dua kemungkinan tujuan. Kemungkinan tujuan yang pertama adalah bahwa dengan cara membaur menjadi rakyat Majapahit, mereka akan dapat mengislamkan seluruh pulau Jawa secara damai dengan cara menyusup di tengah masyarakat bahkan kalau perlu menyusup ke dalam lingkungan penguasa Majapahit walaupun secara perlahan-lahan.
Seandainya pengislaman tidak dapat berlangsung secara cepat, maka setidaknya mereka berusaha supaya diterima dengan baik oleh penguasa Majapahit untuk tinggal di wilayahnya, menjadi rakyat, dan mengembangkan keturunan di kerajaan tersebut. Kemungkinan tujuan yang kedua adalah bahwa apabila saudara muslim mazhab Islam Sunni pada akhirnya dapat menyusul masuk ke pulau Jawa, maka mereka akan mendapatkan satu dari dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah bahwa kerajaan Hindu Majapahit yang masih kuat akan berhadapan dengan kaum Muslimin mazhab Sunni. Atau kemungkinan kedua; kaum muslimin mashab Sunni akan berhadapan dengan kerajaan Majapahit yang telah lemah karena tidak mendapatkan dukungan rakyat yang sudah banyak beralih ke Islam Syiah oleh kaum musafir Perlak Pesisir sebelumnya. Kedua kemungkinan ini lebih baik bagi mereka (kaum musafir Perlak Pesisir). Apabila kaum muslimin Sunni berhadapan dengan kerajaan Hindu Majapahit yang masih mempunyai kekuatan, maka besar kemungkinan peperangan kedua belah pihak akan berlarut-larut, karena kaum muslimin Sunni mempunyai dukungan yang kuat dari daerah Aceh atau Perlak Pedalaman, dan Timur Tengah. Hal ini akan menguntungkan mereka. Apabila situasi konflik antara kaum muslimin Sunni dan kerajaan Majapahit ini benar-benar terjadi, maka posisi kaum musafir Perlak Pesisir di pulau Jawa akan tetap aman.
Situasi politik kaum Syiah pelarian musafir Perlak Pesisir di pulau Jawa yang berada dibawah kekuasaan penguasa Hindu Majapahit berbeda dengan situasi mereka ketika masih di Perlak dahulu yang berada dibawah persemakmuran Sriwijaya. Pada situasi di Perlak dahulu, kerajaan Sriwijaya tidak ambil pusing pihak Perlak Pesisir atau Perlak Pedalaman yang akan mereka perangi, kedua Perlak tetap diperangi. Kaum Perlak Pesisir memang menghormati kerajaan Sriwijaya ketika mereka masih berdiri sendirian (sebelum kedatangan kaum muslim Sunni yang memecah kerajaan menjadi dua), akan tetapi mereka memiliki kekuasaan sendiri sehingga tidak membaur dan menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. Penguasa kerajaan Sriwijaya tidak terlalu mengenal mereka dan ambil pusing terhadap apapun yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh kaum Perlak Syiah. Termasuk apabila terdapat kemungkinan bahwa suatu konflik sebenarnya berasal dari pihak lain yang secara formal tampak sebagai satu wilayah dan keyakinan dengan kaum Perlak Pesisir, akan tetapi sebenarnya memiliki kebijakan politik yang berlainan.
Penguasa Sriwijaya tidak melihat kaum Perlak Pesisir sebagai pihak yang berbeda dengan kaum Perlak Pedalaman. Kehancuran kerajaan Perlak Pesisir tampak jelas disebabkan karena terjadinya konflik antar negara, dengan mereka sebagai salah satu pihak yang bersengketa mempunyai rekan koalisi. Dalam hal ini pihak yang berkoalisi adalah kerajaan Perlak Pedalaman dengan Perlak Pesisir. Akan tetapi kekuatan gabungan koalisi tersebut tidak cukup untuk mengimbangi musuh yang lebih besar dan kuat, sehingga untuk menghentikan kekuatan musuh yang besar dan kuat tersebut salah satu pihak yang berkoalisi harus berinisiatif mengorbankan diri untuk menyelamatkan rekan koalisinya. Kerajaan Perlak Pesisir memang punah di pulau Sumatra, tapi akibat dari pengorbanan tersebut kerajaan Sriwijaya menjadi lemah dan tidak mampu mengusik kaum muslimin di sekitar wilayah Aceh untuk selamanya.
Sedangkan keadaan politik kaum syiah musafir Perlak Pesisir yang merantau ke Jawa merupakan bagian dari masyarakat kerajaan Majapahit, dan hidup di tengah-tengah kerajaan tersebut. Sehingga apabila terjadi benturan antara kaum muslimin Sunni yang datang ke Jawa dengan penguasa Majapahit, dan kaum Perlak Pesisir merasa bahwa kedudukan mereka belum cukup kuat untuk membantu saudaranya kaum muslim Sunni, sehingga mereka terpaksa mengambil posisi netral, maka penguasa Majapahit akan dapat melihat bahwa kaum Syiah bekas pelarian Perlak berada pada pihak yang netral. Dan apabila mereka berhasil dalam misinya mengislamkan sebagian besar masyarakat pulau Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit, maka kerajaan tersebut akan lemah dengan sendirinya. Sehingga ketika kaum muslim sunni memasuki pulau Jawa, maka rakyat pulau Jawa yang telah Islam tinggal mencabut dukungan kepada penguasanya sendiri. Hal ini yang terjadi di pulau Jawa.
Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pihak yang melemahkan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit yang berakibat kepada keruntuhan dua kerajaan besar Nusantara tersebut adalah kaum muslimin Perlak Pesisir dan keturunannya yang bermazhab Syiah. Pada waktu menghadapi Sriwijaya mereka menggunakan strategi perang frontal sampai rajanyapun terbunuh dalam peperangan. Sedangkan ketika menghadapi kerajaan Majapahit mereka menggunakan strategi yang bertolak-belakang dengan strategi yang ditempuhnya ketika menghadapi Sriwijaya. Ketika menghadapi Majapahit, keturunan kaum Perlak Pesisir menggunakan strategi kehalusan dan kelembutan. Mereka menggembosi dan mengalihkan dukungan rakyat Jawa kepada kerajaan tersebut dengan cara mengislamkan penduduknya.
Yang perlu diobservasi lebih lanjut adalah alasan kerajaan Demak untuk menyerang Majapahit. Pada uraian sebelumnya telah dipaparkan sebuah argumentasi yang menyatakan bahwa kecil sekali kemungkinannya bahwa Demak menyerang Majapahit dengan tujuan dakwah Islam kepada masyarakat Hindu, karena sebagian besar masyarakat kerajaan Majapahit telah memeluk Islam. Maka salah satu kemungkinan alasan kuat bagi kerajaan Demak untuk menyerang penguasa Majapahit adalah ?dakwah? Islam mazhab sunni kepada masyarakat Majapahit yang beraliran Syiah, seperti yang telah sering terjadi di daerah timur tengah. Bila dilihat dari sudut pandang manajemen konflik tindakan penguasa Demak tersebut sangat masuk akal. Apabila mereka membiarkan saja masyarakat Jawa yang telah menjadi muslim syiah dibawah penguasa Majapahit yang berkeyakinan Hindu, maka lambat laun penguasa Majapahit juga akan menjadi pemeluk Islam mazhab syiah. Hal ini akan menyulitkan perkembangan dakwah mereka, apalagi jika dilakukan dengan cara berdakwah Islam mazhab sunni secara langsung kepada masyarakat di pulau Jawa yang telah menganut Islam syiah, argumentasi ajaran Islam mazhab Sunni tidak akan mampu untuk menundukkan argumentasi ajaran Islam mazhab Syiah. Secara historis, sejak dari kelahirannya di timur tengah, ajaran Islam mazhab Sunni dalam penyebaran ajarannya selalu membutuhkan kehadiran penguasa yang memiliki kekuatan materi dan fisik untuk mendukung dakwahnya.
Oleh karena itu untuk berdakwah di pulau Jawa, kaum muslim Sunni tidak akan mampu meniru saudaranya Syiah yang memulai dakwah dari bawah, menyusup, berbaur di tengah-tengah masyarakat Majapahit. Masyarakat kalangan bawah sudah menjadi muslim Syiah dan sulit untuk mensunnikan mereka melalui argumentasi logis. Kaum muslim Sunni harus mendirikan sebuah kerajaan kemudian menyingkirkan pesaing-pesaingnya, setelah semua hal itu dilaksanakan maka dakwah Islam mazhab sunni di pulau Jawa baru dapat mereka mulai. Penguasa kerajaan Majapahit harus disingkirkan terlebih dahulu. Maka tidak seperti kaum muslim syiah keturunan musafir Perlak Pesisir yang lebih mengutamakan rakyat kebanyakan sebagai sasaran dakwah, kaum muslim Sunni berdakwah dengan sasaran para bangsawan, keluarga raja dan anak keturunannya. Oleh karena itu media-media yang digunakan oleh kaum muslim Sunni di pulau Jawa adalah media-media elit/khusus yang hanya digunakan oleh masyarakat kalangan atas seperti misalnya pertunjukan wayang. Pada masa itu hanya kalangan bangsawan dan keluarga raja Majapahit yang mampu menyelenggarakan serta menonton pertunjukkan wayang.
Setelah posisi kaum muslim Sunni sudah cukup kuat di pulau Jawa dengan masuk Islamnya raden Patah, putra prabu Brawijaya yang terakhir (Brawijaya V), maka mereka harus segera mengambil alih kekuasaan di pulau Jawa. Hal ini penting jika kaum muslim sunni hendak mencegah kalangan penguasa di pulau Jawa dikuasai oleh kaum muslim syiah. Selain itu dengan jatuhnya kekuasaan di tangan mereka (kaum muslim sunni), maka situasi politik yang seperti situasi politik di timur tengah akan dapat dikondisikan pula di Nusantara Jawa. Maka setelah mendirikan kerajaan Islam di Demak, kaum muslim sunni segera menyerang Majapahit.

Pada uraian-uraian sebelumnya telah dipaparkan argumentasi yang menyatakan bahwa serangan Demak tersebut bukanlah perang yang bertujuan dakwah Islam kepada masyarakat Jawa yang beragama Hindu, akan tetapi lebih kepada persiapan ?dakwah? untuk menghadapi persaingan antar mazhab dalam Islam. Salah satu peristiwa sejarah yang dapat dijadikan indikasi bagi argumentasi diatas adalah adanya suatu fenomena bahwa pada waktu peperangan antara Demak dan Majapahit berlangsung, panglima angkatan perang Majapahit saat itu dipegang oleh seorang muslim bernama raden Kusen (raden Husain). Nama panglima perang Majapahit itu pada konteks masanya mengindikasikan bahwa ia seorang muslim yang bermazhab ahlul bayt. Hal ini menandakan bahwa kaum muslim Syiah sudah mempunyai pengikut yang jumlahnya besar di pulau Jawa ketika para walisanga datang ke pulau tersebut.
Lalu bagaimana masyarakat Islam syiah keturunan musafir Perlak Pesisir di Jawa mengambil sikap ketika dihadapkan pada situasi peperangan antara Demak versus Majapahit. Apakah mereka lebih condong kepada Demak atau kepada Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah tempat mereka mendapatkan penghidupan. Kerajaan Majapahit tidak mengusik perbedaan keyakinan, bahkan memberikan ruang bagi kaum syiah keturunan musafir Perlak untuk berkembang. Sementara kerajaan Demak adalah kerajaan Islam, oleh karenanya mereka adalah saudara dalam keimanan. Sejarah sedikit-banyak telah menunjukkan bahwa kaum muslimin syiah keturunan para musafir Perlak lebih condong untuk membela saudara seimannya, yaitu kerajaan Demak.
Ketika diserang oleh Demak, kerajaan Majapahit langsung mengalami keruntuhan, apabila masyarakatnya melakukan pembelaan kepada kerajaan tersebut tentu situasinya akan lain. Hal ini sedikit banyak menunjukkan sikap masyarakat muslim syiah keturunan para musafir Perlak Pesisir di Jawa ketika dihadapkan dengan situasi peperangan antara Demak versus Majapahit. Tentunya tidak semua masyarakatnya mempunyai persamaan pendapat dan sikap yang mutlak identik. Satu atau dua orang pasti mempunyai pendapat politik yang berbeda, seperti sikap yang diambil oleh raden Kusen yang malah menjadi senopati perang bagi kerajaan Majapahit untuk melawan Demak.
Tokoh seperti raden Kusen kemungkinan sekali memiliki pendirian bahwa kerajaan Majapahit telah memberi ruang kepada kaum syiah keturunan Perlak Pesisir untuk berkembang dan memperoleh penghidupan, sehingga ia merasa berhutang budi kepada Majapahit. Atau kemungkinan sekali bahwa ia juga khawatir bahwa apabila kerajaan Demak mengalami kemenangan, maka masa depan perkembangan kaum syiah di pulau Jawa akan suram. Kemungkinan bagi kekhawatiran raden Kusen ini sebenarnya sangat masuk akal atau beralasan, jika ia melihat sejarah masa lampau hubungan kedua mazhab Islam tersebut, baik di timur tengah maupun di Perlak. Selain raden Kusen tampaknya ada satu atau dua orang lagi yang berpendapat sama dengan beliau. Salah satu diantaranya adalah Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar tampaknya juga memiliki pendapat yang sama dengan raden Kusen.
Yang mengherankan adalah sikap yang diambil masyarakat muslim syiah keturunan musafir Perlak Pesisir untuk lebih memilih membela kerajaan Demak yang bermazhab sunni. Walaupun mereka memahami sejarah masa lampau di timur tengah maupun di Perlak, yaitu apabila kerajaan Demak mengalami kemenangan maka timbul suatu kemungkinan kuat bahwa kehidupan kaum syiah akan mengalami tekanan keras dari kaum sunni. Apa yang mendasari masyarakat muslim syiah keturunan para musafir Perlak Pesisir mengambil pilihan untuk membela saudaranya yang sunni walaupun terdapat kemungkinan bahwa apabila mengalami kemenangan kerajaan Demak akan menekan mereka.
Sejarah masa lalu sedikit-banyak menunjukkan bahwa kaum muslimin syiah selalu lebih mengutamakan keselamatan peradaban Islam secara keseluruhan daripada kelompok atau mazhab. Mereka juga terlihat selalu piawai dalam menyusun berbagai strategi untuk mencapai tujuannya. Tampaknya strategi yang diambil oleh kaum muslimin syiah keturunan para musafir Perlak Pesisir di pulau Jawa pun berdasarkan pada pemikiran yang sangat mendalam. Apabila melihat sejarah pada masa setelahnya, maka terlihat bahwa kehidupan Islam yang damai di pulau Jawa hanya mengalami masa yang tidak begitu lama. Aksi penjajahan oleh penjajah Belanda segera tiba dalam waktu yang tidak begitu lama setelah keruntuhan kerajaan Majapahit. Gelagat dari karakter orang-orang Eropa terutama karakter penjajahannya di masa depan tentu terbaca juga oleh masyarakat diseluruh dunia. Walaupun arus informasi dunia di jaman Majapahit lebih lambat apabila dibandingkan dengan arus komunikasi di jaman sekarang. Tapi di jaman dahulu arus informasi global juga sudah terbentuk, apalagi bagi negara-negara yang terletak di pinggiran samudera Hindia yang arus perpindahan manusianya lebih cepat dari pada di bumi belahan lain. Berita tentang keadaan di Eropa, termasuk tabiat dan kecenderungan masyarakatnya juga akan sampai ke daerah Nusantara.
Dalam menghadapi keadaan dunia di masa depan, terutama ancaman dari kecenderungan bangsa Eropa yang akan bersikap agresif terhadap bangsa-bangsa lain tentu sudah dilakukan suatu usaha prediksi oleh bangsa-bangsa lain di dunia saat itu, termasuk diantaranya kaum muslimin syiah keturunan musafir Perlak Pesisir. Terlihat suatu usaha menggerakkan persatuan antar sesama muslim oleh mereka. Masyarakat muslimin syiah keturunan para musafir Perlak Pesisir sudah tidak ambil pusing lagi dengan perbedaan mazhab. Mereka tampaknya rela kehilangan identitas mazhabnya dan menerima Islam sunni dipeluk oleh sebagian besar masyarakat di pulau Jawa. Tapi yang penting inti dari ajaran Islam mazhab syiah tetap dipegang oleh masyarakat Jawa keturunan para musafir Perlak Pesisir. Jejak tersebut terlihat setelah mereka mendirikan kerajaan Islam sufistik di pedalaman pulau Jawa paska keruntuhan kerajaan Demak. Jejak peninggalan kaum syiah akan dibahas pada uraian nanti. Sekarang akan dibahas jejak langkah-langkah dalam sejarah yang ditempuh kaum muslimin syiah keturunan Perlak Pesisir di pula Jawa dalam berinteraksi dengan kaum muslim sunni di pulau Jawa.

Budaya Kejawen sebagai Metamorfosis Ajaran Islam Syiah di Pulau Jawa

Kaum muslim Syiah telah mempersiapkan sebuah kemasan baru untuk menghindari konflik dengan kaum muslim Sunni. Mereka atampaknya akan menerapkan kembali suatu strategi yang sering mereka praktekkan di timur tengah. Strategi itu disebut dengan taqiyah. Setelah di timur tengah, mereka tidak mempraktekkannya lagi ketika di Perlak. Tetapi di pulau Jawa ini tampaknya mereka harus menerapkannya lagi. Hal tersebut perlu karena persatuan diantara syiah dan sunni harus segera dilaksanakan secepatnya sebelum orang-orang barat datang ke Nusantara untuk melakukan penjajahan. Tetapi taqiyah yang mereka terapkan di pulau Jawa akan jauh lebih ekstrim daripada yang pernah mereka terapkan di timur tengah. Karena berdasarkan pada pengalaman sebelumnya bahwa adanya segitiga kepentingan, yaitu; syiah, sunni, dan non-muslim, kaum muslim sunni sukar menerima suatu koalisi dengan kaum syiah untuk menghadapi non-muslim seperti Sriwijaya atau Majapahit, tanpa menimbulkan kerugian pada kaum muslim syiah. Padahal lawan non-muslim yang akan dihadapi kaum muslimin di masa depan adalah orang-orang Eropa yang lebih kuat.
Oleh karena itu kaum Islam Syiah keturunan para musafir Perlak harus mengakselerasi persatuan kaum muslimin secepatnya di pulau Jawa. Mereka akan mengeliminir simbol-simbol ajaran syiah, dan memakai symbol-simbol Islam mazhab sunni, akan tetapi inti ajaran tauhid dari ajaran syiah tetap dipertahankan. Kaum muslimin syiah keturunan para musafir Perlak akan menampakkan diri mereka di depan kaum muslim sunni seolah-olah telah keluar dari Islam mazhab syiah dan menganut peradaban yang berbeda dengan peradaban syiah yang sebelumnya mereka anut. Mereka akan menampilkan kepada saudaranya kaum muslim sunni, bahwa peradaban yang mereka anut tersebut telah ada dan diyakini oleh pribumi pulau Jawa sebelum kedatangan mereka di pulau tersebut. Kaum muslim syiah keturunan musafir Perlak di pulau Jawa memahami bahwa saudaranya kaum muslim sunni tidak akan terlalu mengusik jika mereka terlihat seperti telah keluar dari mazhab syiah yang dianut sebelumnya.
Pertanyaannya adalah apakah peradaban baru yang dibuat oleh orang-orang keturunan para musafir Perlak pesisir ke Jawa tersebut? jawabannya adalah: Budaya Kejawen. Budaya Kejawen mengandung nilai KeTuhanan dan kemanusiaan yang amat tinggi dan adiluhung, jadi tidak mungkin budaya tersebut secara mandiri dibentuk oleh suatu kearifan yang baru berumur beberapa ratus tahun saja. Budaya tersebut pastilah mempunyai kesinambungan dengan suatu peradaban manusia yang telah maju dari masa yang telah lama. Budaya manusia yang masih muda akan membentuk peradaban yang sederhana, seperti budaya-budaya penduduk primitifyang tinggal di pedalaman Guinea dan Australia. Pada tesis di uraian sebelumnya ditarik sebuah hipotesa bahwa budaya monotheisme yang bernilai keTuhanan tinggi dan membentuk budaya Kejawen adalah budaya Islam Syiah.
Lalu mungkin akan timbul suatu pertanyaan, yaitu; kapankah kaum syiah keturunan kaum musafir Perlak mengubah keyakinannya menjadi peradaban kejawen? Secara historiologi, waktu pembuatan budaya baru ini kurang jelas. Akan tetapi kita bisa mendapatkan data melalui antropologi budaya masyarakat Nusantara/Jawa. Yaitu intensitas budaya Kejawen yang dipeluk masyarakat Jawa dan berita masa lalunya santer sampai sekarang. Berita tertulisnya tampak secara tersirat pada serat-serat sastra jawa kuno yang mengandung nilai-nilai keTuhanan yang tinggi. Berdasarkan berita santer masa lalu ini mudah kita untuk membayangkan bahwa budaya kejawen pernah secara masif mendominasi keyakinan masyarakat pulau Jawa. Yang kita berusaha lacak adalah periodisasinya. Budaya Kejawen memiliki persamaan yang menakjubkan pada ajaran sisi esoteris Islam mazhab Syiah. Pada keduanya terdapat kandungan pengajaran hikmah, filsafat wujud, tauhid dan akhlak yang benar-benar identik. Tidak pernah ditemukan persamaan antara dua peradaban yang begitu identik di dunia ini sebagaimana identiknya budaya Kejawen dan ajaran esoteris Islam mazhab Syiah.
Dilihat dari kuatnya pengaruh budaya kejawen yang masih terasa sampai sekarang, maka kemungkinan sekali periodisasi budaya kejawen ini sudah cukup lama. Periodisasinya juga jauh lebih tua dari ?Islamnya masyarakat Jawa menurut ?versi Dr Snouck? yang dimulai pada abad 15.? Islam menurut Dr Snouck masuk ke Jawa melalui Gujarat di Aceh dan masuk dari Hadramauth ke Jawa oleh para walisanga.
Jika periodisasi peninggalan tertulis budaya kejawen berasal dari abad ke 15 sampai dengan abad ke 19, maka budaya lisannya kemungkinan sekali berasal dari waktu yang jauh lebih awal dari abad ke 15. Bisa berasal dari abad ke 10 sampai abad ke 14. Dalam ilmu antropologi masyarakat, sering suatu pola budaya dalam masyarakat bermula dari nilai-nilai sosial yang bersifat non-formal. Kemudian semakin maju masyarakat tersebut maka menjadi budaya formal. Pada awalnya monotheisme Jawa berjalan atas penyebaran yang berbasis budaya lisan. Demikian pula ajaran monotheisme Kejawen. Makin lama monotheisme lisan kejawen tersebut mengambil bentuk budaya kompleks dan tertulis, seperti tertulis pada serat-serat sastra kuno jawa yang mengandung nilai-nilai esoteris monotheisme. Pada awalnya monotheisme esoteris adalah budaya keyakinan rakyat yang bersifat lisan. Kemudian dimasa Syekh Siti Jenar ketika peradaban manusia sudah semakin kompleks maka monotheisme esoteris masuk ke periode tertulis seperti dalam serat-serat sastra kuno jawa.
Oleh karena itu masa keemasan budaya Kejawen di pulau Jawa berlangsung jauh lebih awal dari kedatangan para Walisanga dari Hadramauth ke pesisir utara pulau Jawa. Karena dari anggapan sejarah awam bahwa sejak masa Islam masuk ke Jawa oleh walisanga sampai dengan masa sekarang ini, budaya kejawen belum pernah mengalami masa keemasan. Padahal secara antropologi masyarakat sudah jelas bahwa pada suatu masa lampau, budaya Kejawen pernah mengalami masa keemasan di pulau Jawa. Oleh karena itu masa keemasan budaya kejawen pastilah terjadi sebelum masa para walisanga berdakwah di Jawa.
Para Walisanga justru pihak yang berusaha menghapus budaya Kejawen. Hal diatas tampak pada konflik antara Walisanga dengan Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar dengan paham Wahdatul Wujudnya memiliki kesamaan paralel dengan paham Manunggaling Kawula Gustinya budaya Kejawen. Syekh Siti Jenar lebih cenderung mengangkat sisi esoteris islam daripada para walisanga yang lebih mementingkan sisi material atau mengangkat simbol-simbol luarnya saja. Dan ternyata sisi esoteris islam Syekh Siti Jenar ini memiliki kesamaan dengan keyakinan Kejawen.
Memang Syekh Siti Jenar dalam ungkapan-ungkapannya seolah-olah seperti tidak menekankan sisi syariat Islam. Akan tetapi jika dicermati lebih lanjut sebenarnya maksud beliau bukanlah demikian. Maksud Syekh Siti Jenar adalah bahwa pengamalan syariat apabila tidak disertai dengan kesadaran dan niat yang sungguh-sungguh kepada Allah dan dengan tujuan kebaikan dari orang-orang yang melaksanakannya, maka makna dari amalan-amalannya akan sia-sia. Maksud dari Syekh Siti Jenar ini tentunya juga dipahami oleh seluruh kaum muslimin pada saat itu dan tentunya juga dipahami pula oleh para Walisanga. tapi kenyataannya para Walisanga tetap menjatuhkan vonis kepada Syekh Siti Jenar. Berdasarkan hal tersebut di depan maka hanya ada satu kemungkinan alas an bagi para Walisanga untuk bersikap keras kepada Syekh Siti Jenar, alasan tersebut adalah alasan perebutan pengaruh dan simpati dari masyarakat muslimin di pulau Jawa secara keseluruhan, atau dengan kata lain alasan para Walisanga tersebut lebih bermakna politis.

Kerajaan Mataram Islam Pewaris Inti Irfan dam Akhlak Mazhab Ahlulbayt

1.      Patut diingat bahwa masyarakat Jawa sebelum memeluk agama Islam besar kemungkinan telah berperadaban tinggi dan banyak yang memahami filsafat tingkat tinggi yang mereka peroleh dari peradaban sebelumnya, seperti peradaban Zoroaster ataupun monotheisme rakyat lapisan bawah Elam. Oleh karena itu ungkapan-ungkapan Syekh Siti Jenar berkenaan dengan paham Manunggaling Kawula Gusti sebenarnya merupakan ungkapan filosofis yang sangat mudah dicerna kaum muslimin di Nusantara pada saat itu, daripada kaum muslimin di Nusantara pada saat sekarang ini.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah darimana asalnya perbedaan kesepahaman ?ajaran? antara Syekh Siti Jenar dengan para walisanga? yang kedua belah pihak dinyatakan dalam riwayat adalah sama-sama mubaligh islam. Darimana Syekh Siti Jenar mendapatkan ajaran Wahdatul Wujud? Apakah dari luar Nusantara ataukah memang sudah ada paham monotheisme di Jawa sebelum beliau menjadi ulama yang mempunyai nilai-nilai yang sama dengan sisi esoteris islam? Ada dua kemungkinan besar tentang asal-usul Syekh Siti Jenar mendapatkan nilai-nilai esoteris Islam. Kemungkinan pertama adalah bahwa Syekh Siti Jenar mendapatkannya dari budaya asli masyarakat. Kemudian beliau menampilkannya dengan bentuk nilai-nilai budaya Kejawen. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah budaya asli masyarakat tersebut, pada uraian selanjutnya nanti akan dibahas pendapat Nancy Florida, seorang asing yang mencermati budaya kejawen pada suluk dan wirid, dan dia berkata bahwa budaya Kejawen bukan berasal dari Hindu. Apabila kemungkinan pertama ini benar, maka Syekh Siti Jenar mendapatkan pemahaman hikmah manunggaling kawula Gusti itu dari orang syiah keturunan kaum musafir Perlak Pesisir yang hijrah ke pulau Jawa.
Kemungkinan kedua adalah bahwa Syekh Siti Jenar mendapatkan ilmunya secara utuh dari peradaban Islam di timur tengah. Apabila hal ini merupakan kebenaran maka pada masa itu mazhab dalam Islam yang sangat menonjolkan sisi esoterisnya hanya Islam dari mazhab syiah. Mazhab syiah mengalami perkembangan di daerah Persia dan saat ini menjadi mayoritas di wilayah-wilayah Iran dan Irak. Jumlah yang signifikan dijumpai di Pakistan dan Afghanistan. Beberapa pengamat budaya Kejawen berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar adalah orang yang berkebangsaan Persia. berdasarkan pendapat para ahli sejarah budaya Kejawen tersebut maka besar pula bahwa kemungkinan kedua adalah kebenaran sejarah budaya Kejawen.
Apapun kebenaran dari dua kemungkinan tersebut, hasilnya tetap sama saja, yaitu memperkuat argumentasi bahwa pengaruh Islam syiah dari Persia sangat kuat di Nusantara Jawa sebelum kaum muslim Sunni masuk wilayah tersebut. Karena keturunan kaum musafir Perlak yang merantau ke pulau Jawa sebenarnya juga merupakan keturunan Persia, dan kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam Syiah.

Situasi sosial-politik masyarakat dan penguasa Islam di pulau Jawa yang seperti tergambar pada deskripsi diatas, sedikit banyak menunjukkan situasi sebelumnya bahwa dakwah para Walisanga ke Nusantara lebih bermotifkan politis. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena wilayah Nusantara pernah menjadi basis kuat Islam mazhab Syiah di dunia. Keadaan di timur tengah sendiri pada masa itu penuh dengan nuansa persaingan antara dua mazhab Islam, Islam Sunni dan Islam Syiah, dimana penguasa Islam di timur tengah pada masa itu adalah kaum muslimin yang bermazhab Islam Sunni. Kekuasaan yang saat itu berada di tangan Bani Umayyah maupun Bani Abbasyah berusaha untuk menghapus Islam mazhab Syiah. Maka juga merupakan suatu kemungkinan bahwa dakwah para walisanga adalah skenario yang didatangkan oleh penguasa Bani Abbas untuk men-Sunni-kan masyarakat Syiah di Nusantara. Karena pada saat itu syiah yang di Persia sendiri dianut secara sembunyi-sembunyi justru sangat kuat posisinya di Nusantara. Dalam sejarah memang dakwah para wali lebih banyak berafiliasi dengan penguasa, baik penguasa Majapahit yang pada awalnya belum memeluk Islam maupun penguasa Demak (Majapahit Islam).
Apabila teori diatas adalah situasi sebenarnya di Nusantara. Maka semakin memperkuat argumentasi bahwa budaya kejawen sebenarnya adalah keyakinan masyarakat Islam Syiah yang terdesak oleh dakwah Islam Sunni pimpinan Walisanga. Mereka kemudian menyamarkan keyakinan mazhabnya itu. Apabila tekanan ini berlangsung terus-menerus maka simbol-simbol fisik maupun ritual mazhab ini pasti akan hilang. Yang masih bertahan adalah nilai spiritualnya saja. Inti nilai spiritual Islam Syiah yang di masa selanjutnya menjadi budaya kejawen. Sepertinya masyarakat spiritual Kejawen terdesak ke pedalaman pulau Jawa dan mendirikan kerajaan Islam yang bernuansa Sufistik.
Kerajaan Islam pedalaman tersebut adalah kesultanan Mataram. Secara spiritual kebatinan sebenarnya kerajaan ini sangat menonjolkan sisi islam esoterik yang identik dengan irfani pada Islam mazhab Syiah. Bisa dikatakan kerajaan Mataram Islam pulau Jawa identik dengan kerajaan Islam dinasti Safawi di Persia yang tahun berdirinya nyaris bersamaan dengan berdirinya kerajaan Mataram yaitu pada abad ke 16. Kerajaan dinasti Safawi di Iran bernuansa esoteris Islam. Bahkan di timur tengah bersama kerajaan Fatimiyyin Mesir, pemerintahan dinasti Safawi Iran merupakan satu-satunya kerajaan bernuansa sufi/irfani yang pernah berdiri.
Apabila tidak ada kerajaan Mataram Islam di pulau Jawa, maka kesultanan dinasti Safawi, kesultanan Perlak dan kesultanan dinasti Fatimiyyin Mesir merupakan kesultanan Islam bernuansa sufi/irfani yang pernah berdiri dalam sejarah Islam. Kesultanan Mataram juga kesultanan islam sufisme. Maka pada abad ke 16 terdapat 4 kekhalifahan Islam yang berdiri nyaris bersamaan, yaitu kesultanan Usmani di Turki yang lebih awal berdirinya, Safawi Sufi di Persia, Mughal di India dan Mataram islam di pulau Jawa. Dua kerajaan bernuansa sufi/irfani yaitu Safawi dan Mataram. Sedangkan dua kerajaan lainnya yaitu kerajaan Usmani dan Mughal lebih menonjolkan sisi eksoteris dengan merasa cukup berpegang pada simbol-simbol syariat.
Jika Mataram benar merupakan kerajaan Islam Sunni dan bukannya sebuah kerajaan berasal dari masyarakat Syiah yang kemudian berubah kulit karena pada masa setelahnya kehilangan simbol-simbol kesyiahannya, maka hanya kerajaan tersebut saja yang merupakan kerajaan Islam bermazhab Sunni yang punya kecenderungan irfani/sufistik di dunia ini. Suatu pola yang sangat tidak lazim dan amat sukar dipercaya. Tradisi sufi jarang sekali dijumpai pada masyarakat Sunni bahkan di timur tengah. Di timur tengah, para sufi yang memiliki nama besar pun kesulitan mempunyai pengikut, apalagi sampai mampu mendirikan kerajaan. Usaha maksimal para sufi di tengah masyarakat Sunni hanya mendirikan tarekat-tarekat tradisional yang proporsinya masih jauh dibawah pesantren-pesantren Sunni dan kurang mendapat apresiasi dari masyarakat Sunni sendiri, baik di Nusantara maupun Timur tengah. Karena hal diatas maka suatu kewajaran apabila pemerhati sejarah Islam di pulau Jawa kemudian menyimpulkan bahwa terdapat kontribusi ajaran keyakinan Islam dari mazhab lain yang membentuk kerajaan Islam Mataram, sehingga kerajaan tersebut bernuansa sufistik. Suatu hal yang bahkan di pusat Islam Sunni di timur tengah sendiri suatu hal yang belum pernah terjadi.
Hanya ada satu atau dua orang sufi saja dari tengah-tengah masyarakat Sunni timur tengah yang mampu menonjol ajarannya hingga sampai mempunyai murid atau pengikut yang dapat dilacak sampai sekarang. Diantaranya adalah Rumi dan Ibn Arabi. Tapi Rumi juga seorang sufi yang berasal dari Persia, ia berada di Khurasan awal abad ke abad 13 yang kemudian setelah banyak belajar kemudian melancong ke barat. Pada saat itu Persia sudah bermazhab Syiah sehingga kajian esoteris Islam sudah diajarkan kepada masyarakat. Akan tetapi di wilayah barat Daulah, kajian esoteris merupakan sesuatu pencerahan luar-biasa yang belum pernah didapatkan oleh orang-orangnya. Kemungkinan kuat sekali bahwa Rumi mendapatkan kajian esoteris Islam dari para ulama Syiah di Khurasan. Tapi kehebatan Rumi dan Arabi di dunia Sunni juga tidak mendapatkan apresiasi yang besar. Ajaran mereka pada masyarakat Sunni ternyata terhenti di masa depan. Jejak Peninggalan-peninggalan Irfanisme Kerajaan Mataram Islam.

Mataram Islam mempunyai nilai-nilai ajaran irfan/sufisme yang maju dan tidak hanya bersifat lisan akan tetapi juga telah tertuliskan. Nilai-nilai sufisme Mataram tertulis dalam serat-serat sastra jawa kuno. Nilai-nilai spiritual jawa kuno ini di Mataram adalah budaya tertulis Kejawen dan sama sekali tidak bernuansa Hindu atau Budha. Seperti yang dikatakan oleh Nancy Florida seorang ahli serat-serat sastra jawa kuno dalam sebuah interview tanya jawab yang dimuat oleh Kompas, 22 Maret 2009.
Dalam buku Membaca Post-Kolonialitas Nancy menulis,
?Saya ingin merenggangkan gambaran ?fiksi? yang melukis tembok kraton Mataram sebagai benteng kukuh (seolah-olah tanpa pintu) yang melestarikan dibaliknya suatu kebudayaan asli Hindu-Budha yang bertentangan dengan islam.? ?Waktu tembok keraton itu didirikan (lengkap dengan pintunya) dunia intelektual keraton dan intelektual pesantren tidak hidup dalam pertentangan binaris.?
Kemudian penanya: ?Jadi, sebenarnya dimana pengaruh Hindu pada suluk ataupun wirid? Selama ini selalu ada pandangan pengaruh Hindu sangat kuat pada Jawa?
Nancy menjawab: ajaran tasawuf yang berbentuk puisi itu disebut suluk, sedangkan yang dalam bentuk prosa disebut wirid. Dalam budaya jawa lebih banyak suluk. Banyaknya karya suluk ini menandakan bahwa pengajaran sastra Jawa sangat kuat pada abad ke 16.
Ya pengajaran tasawuf sangat kuat dan sophisticated di abad ke 18 dan 19. Suluk itu lebih kuat karena pengaruh islam, bukan Hinduisme.?
Kemudian penanya: ?Bagaimana dengan wayang? juga ritual-ritual Jawa yang dianggap Hindu??
Nancy menjawab: ?Kalau kita lihat wayang, wayang itu telah disambung-sambungkan dengan dunia islam. Kita lihat juga Ajisaka. Menarik sekali itu cerita legenda awal tanah jawa. Ajisaka kan belajar ke Mekkah, itu yang mendirikan Hindu Jawa?.. Yang dianggap oleh awam sebagai Hindu itu sebenarnya adalah tasawuf Islam. Tidak seperti islam dipraktekkan sekarang.?
Kemudian penanya: ?jadi ada suatu politik kolonial yang mencoba mengkorting pengaruh islam, terutama setelah perang Diponegoro?
Nancy menjawab: ?Menurut saya begitu. Dari 500 naskah di kraton Surakarta, hanya 17 yang berbau Hinduisme. Selebihnya Islam. Ini kan menarik. Jadi, kalau kraton di Jawa terutama diwakili oleh kraton Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta selama ini dicitrakan sebagai Hinduistik, itu sama sekali salah. Kalangan berpengaruh di dalam kraton, termasuk para penasehat spiritual dan pujangga bahkan umumnya mendapatkan pendidikan agama di pondok pesantren. Di masa lalu, islam (di kraton) lebih fleksibel karena lebih cenderung pada tarekat.?
Pengajaran tasawuf dikatakan oleh Nancy marak pada abad ke 18 sampai abad ke 19. Tentunya pengajaran di masa itu sudah sistematis disertai dengan diktat-diktat budaya tertulis yaitu suluk dan wirid. Lembaganya juga sudah formal yaitu lembaga-lembaga pesantren. Akan tetapi pasti terdapat masa-masa panjang sebelumnya yaitu masa pembentukan budaya tertulis kejawen di pulau Jawa itu sendiri. Yaitu budaya lisannya. Periode ini semestinya mengambil masa yang lebih panjang. Bisa 5 sampai 6 abad sebelumnya.
Sedikit-banyak wawancara dengan Nancy diatas telah menunjukkan bahwa spiritual Kejawen bukanlah berasal dari Hindu akan tetapi berasal dari Islam. Wilayah Jawa adalah titik kedua monotheisasi Nusantara oleh peradaban Islam setelah wilayah Aceh yang merupakan wilayah dakwah Islam pertama. Islam adalah simbol monotheisme yang sangat sukses dianut oleh masyarakat di pulau Jawa. Akan tetapi anehnya peninggalan riwayat-riwayat pengislaman masyarakat hampir tidak ditemukan. Kalau berdasar sejarah komunitas Islam awal pertama di Nusantara, Perlak/Lamuri adalah wilayah islam pertama. Maka ada kemungkinan masuknya orang-orang Islam Perlak ke Jawa dan mengislamkan masyarakatnya adalah setelah tahun 988 Masehi. Karena pada tahun tersebut terjadi perang saudara di Perlak yang memecah kesultanan Perlak menjadi dua Negara yaitu Perlak pedalaman yang beraliran Sunni dan Perlak pesisir yang beraliran Syiah.

Jejak Peninggalan Antropologi Budaya Masyarakat dan Arkeologi yang Mengindikasikan Adanya Pengaruh Islam Syiah dari Persia di pulau Jawa pada masa awal penyebaran Islam di Nusantara
Dugaan kuat pengaruh Islam syiah Persia di pulau Jawa sesuai dengan fakta yang tertera pada batu nisan atas nama Fatimah Binti Maimun. Nama tersebut untuk ukuran situasi pada jaman dahulu yang tertera pada angka tahun yaitu tahun 1086 Masehi sangat kental bernuansa Syiah. Huruf dan pola prasasti nisan tersebut juga memiliki pola Persia. hal tersebut semakin memperkuat argumentasi bahwa agama Islam yang masuk ke Nusantara pada masa awalnya dan mampu mengislamkan sebagian besar penduduk Nusantara adalah agama Islam yang bermazhab syiah.
Tauhid mazhab Islam syiah mempunyai kesamaan dengan Spiritual Kejawen, bahkan identik. Paham pandangan dunia Ilahiah-nya mazhab Syiah identik dengan manunggaling kawula Gusti-nya Spiritual Kejawen dan paham Wahdatul Wujud-nya Syekh Siti Jenar.
Oleh karena itu besar sekali kemungkinan bahwa Spiritual Kejawen berasal muasal dari Tauhid mazhab Islam syiah. Karena kalau berdasarkan sejarah masuknya Islam di Nusantara maka sejak kehadirannya oleh walisanga, Islam tidak pernah mengalami dimana pengajaran nilai-nilai sisi esoteris menonjol. Para walisanga adalah mubaligh Islam yang kental dengan kultur Arab Islam Sunni. Dan kultur Islam Hadhramauth cenderung menampilkan sisi eksoteris atau sisi luar yang simbolik dari Islam seperti kajian fiqih dan syariat saja hingga sampai masa sekarang ini. Apabila kita mengacu kedatangan Islam di Nusantara berasal dari dakwah Walisanga sebagai sebuah kebenaran, maka sama saja dengan kita menganggap bahwa sisi esoteris islam (spiritual kejawen) tidak pernah mengalami masa keemasan di Nusantara Jawa ini.
Kemudian apabila dilihat dari peninggalan-peninggalan simbol-simbol ritual terdapat satu kesamaan antara spiritual Kejawen dengan Islam Syiah yang luar biasa tepat. Yaitu suatu tradisi ritual Kejawen yang berlangsung pada bulan Muharram. Bulan Muharram mempunyai nilai khusus bagi masyarakat Kejawen. Sebenarnya bulan ini juga mendapatkan perlakuan khusus dalam tradisi Islam, baik Islam Sunni maupun Islam Syiah. Akan tetapi perlakuan khusus untuk bulan Muharram pada tradisi spiritual kejawen lebih mirip dengan tradisi Islam Syiah daripada perlakuan khusus terhadap bulan Muharram pada Islam Sunni. Muslim Sunni menganggap bulan Muharram sebagai bulan kegembiraan dan penuh kemenangan karena peristiwa hijrah. Oleh karena itu Islam Sunni menyambut bulan Muharram dengan perayaan-perayaan yang mengekspresikan kegembiraan.
Sedangkan spiritual Kejawen dan Islam Syiah sama-sama menetapkan bulan Muharram sebagai bulan yang penuh dengan kesedihan dan keprihatinan. Islam Syiah menjadikan bulan Muharram ini sebagai bulan kesedihan karena pada bulan tersebut terjadi peristiwa tragedi yang mengenaskan. Yaitu tragedi pembantaian Al-Husein cucunda nabi di padang Karbala. Peristiwa tersebut juga disebut dengan peristiwa Asyura (baca: Asyuro). Orang-orang spiritual Kejawen pada bulan ini juga masyarakatnya dilarang bersenang-senang, dilarang menikahkan anak, dilarang mengadakan pesta. Bulan Muharram harus diisi dengan penuh keprihatinan dan menempuh asketisme yang serius.
Darimana orang-orang spiritual Kejawen mendapatkan pengetahuan akan kekhususan bulan Muharram yang penuh keprihatinan? Yang jelas bukan dari Hindu, karena penanggalan kejawen adalah sama dengan penanggalan Islam dan bukan penanggalan Hindu. Jadi apabila peringatan kesedihan Muharram itu dilaksanakan setiap tahunnya atas dasar penanggalan Jawa maka hari tragedinya akan bergeser menurut bulan pada tahun Saka yang merupakan sistem penanggalan Hindu.
Kemudian orang-orang spiritual Kejawen juga menamai nama bulan Muharram dengan nama Kejawen yaitu dengan nama: Syuro. Pertanyaannya adalah: darimana orang-orang spiritual Kejawen menamai bulan Muharram dengan nama Syuro? Betapa miripnya nama bulan Kejawen ini dengan nama tragedi umat muslim syiah yang terjadi di bulan Muharram yaitu tragedi Asyuro. Yang jelas tidak ada peringatan tragedi Asyuro pada bulan Muharram pada umat muslim Sunni. Bahkan nama Asyuro sama sekali tidak dikenal dalam khasanah perbendaharaan kata pada umat muslim Sunni.

Babad Diponegoro: Fakta Takterbantahkan Akan Akar Kesyiahan Kraton Yogya di Masa Awal

Terdapat sebuah babad (cerita sejarah) Mataram terbitan terakhir yang khusus. Babad terbitan terakhir ini khusus karena isinya merupakan biografi si penulis. Selain itu juga karena si penulis membuatnya di luar wilayah Mataram. Si penulis ini adalah Pangeran Diponegoro. Beliau menulis buku babad yang kemudian disebut dengan babad Diponegoro ini di pengasingan. Buku babad ini masih asli, tidak sempat di’modifikasi’ oleh tangan-tangan ‘ahli’ budaya asia tenggara pemerintah Hindia Belanda.
Penulis babad tersebut, adalah Pangeran Diponegoro sendiri merupakan putra Mataram, beliau putra sulung Sultan HB III. Walaupun secara umum pada masa muda Pangeran Diponegoro. masyarakat mengenal beliau sebagai pengikut tarekat Sattariyyah, akan tetapi menjelang awal perjuangannya yang tertulis pada uraian beliau sendiri dalam babadnya, mengindikasikan bahwa beliau adalah pengikut ahlul bayt. Terdapat sepenggal kisah dalam babad tersebut yang mengisahkan suatu perintah oleh seseorang kepada Pangeran Diponegoro. Dalam babad tersebut perintah yang turun kepada beliau adalah perintah perang melawan Belanda. Perintah itu turun dari seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dari beliau, yaitu suatu perintah dari Ratu Adil. Melihat penyampaian bahasa sastra puisi oleh beliau dalam babad yang menggambarkan suatu sejarah (Puisi sekaligus prosa), sepertinya wacana Ratu Adil adalah suatu hal umum di masyarakat Mataram pada saat itu. Babad tersebut menampilkan bahwa seolah-olah masyarakat Mataram pada awal abad ke 19 telah terbiasa dan familier dengan terminologi konsep Ratu Adil, bukanlah sesuatu hal yang asing dan khusus bagi mereka sehari-hari. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa Ratu Adil memanggil beliau (Pangeran Diponegoro). Kemudian terjadi juga dialog antara Ratu Adil dengan Pangeran Diponegoro.
Konsep tentang Ratu Adil terdapat dalam hampir semua budaya besar yang pernah eksis di dunia ini. Konsep tersebut terdapat dalam Islam, Hindu, Kristen, Yahudi, Zoroaster dan budaya-budaya lainnya. Akan tetapi apabila kita membaca buku babad, konsep dan ciri dari Ratu Adil yang digambarkan dalam babad Diponegoro tersebut hanya mempunyai persamaan bahkan identik dengan terminologi Ratu Adil menurut Islam mazhab Syiah. Pada babad digambarkan Ratu Adil memakai surban hijau. Dalam syiah surban hijau merupakan identitas Sayyid (keturunan Rasulullah) yang mempunyai kedudukan tinggi. Cerita pada babad melukiskan bahwa Ratu Adil wajahnya mengeluarkan cahaya yang kemilau. Demikian pula dalam riwayat-riwayat orang-orang syiah yang mengalami penyaksian berjumpa dengan Imam Mahdi (Ratu Adil) di Persia, mereka mengatakan bahwa beliau (Imam Mahdi) bercahaya wajahnya. Kemudian persamaan yang paling penting bahwa dalam mazhab syiah Imam Mahdi diyakini telah hadir (telah dilahirkan). Konsep Mahdiisme yang mana figur Al-Mahdi diyakini sudah eksis di dunia ini hanya memiliki persamaan dengan cerita pada babad Pangeran Diponegoro tersebut. yang mana dalam babad diceritakan bahwa beliau berdialog dengan Imam Mahdi. Secara tidak langsung cerita dalam babad itu mendeskripsikan bahwa Imam Mahdi sudah eksis (sudah lahir), sama dengan konsep Mahdiismenya mazhab syiah. Pada budaya-budaya lain termasuk dalam terminologi Islam sunni, figur juru selamat akhir zaman ini (Al-Mahdi) diyakini belum lahir.

NB:

Patut diketahui, perang Diponegoro yang merupakan perintah Imam Mahdi kepada Pangeran Diponegoro ini bukanlah perang remeh. silahkan dilihat di wikipedia, perang ini berskala internasional. Perang ini membawa korban 8000 orang asli kulit putih Belanda. Hal ini menjadikannya Perang Diponegoro atau perang Jawa sebagai perang kolonial dengan korban dari pihak penjajah kulit putih Eropa terbesar di dunia sepanjang sejarah kolonialisme. Tidak sebuah perang koloniaolisme-pun baik di Amerika Utara, Afrika, Amerika Tengah, Asia Tenggara, Amerika Selatan, Asia Selatan yang membawa korban dari pihak penjajah Eropa yang berkulit putih sebanyak perang Diponegoro. Penduduk negeri Belanda sendiri di masa itu belum mencapai 1 juta jiwa.
kemudian patut diketahui pula bahwa Belanda dengan bantuan keuangan yang misterius pada abad ke 17 itu disponsori membentuk angkatan darat terkuat di dunia untuk mensukseskan kolonialisme di pulau Jawa. Hal ini diakui oleh kerajaan Inggris yang menyatakan bahwa Belanda pada abad ke 17 mempunyai angkatan darat terkuat di dunia.

Selain itu berdasarkan sumber babad Diponegoro itu dapat disimpulkan bahwa tujuan Perang Diponegoro tersebut bukanlah mengusir penjajah Belanda, akan tetapi mempertahankan keislaman masyarakat Jawa, dan tujuan tersebut berhasil. terbukti dengan setelah masa perang usai, Belanda mempergiat aksi misionaris di pulau Jawa. Selain itu digalakkan pula aksi indianisasi (berusaha menghapus sumber-sumber sejarah budaya masyarakat Jawa dengan gubahan mereka, yang kemudian menampilkan kepada masyarakat bahwa seolah2 masyarakat Jawa pada awalnya beragama Hindu). Tapi praktik Indianisasi ini juga gagal, hanya berhasil di lingkungan istana/keraton. Tapi perjuangan P. Diponegoro lebih ke pedesaan, sehingga resistensi masyarakat pedesaan kuat menghadapi serangan ‘budaya’ atau indianisasi dari pihak Belanda.

Salah satu ‘karya’ Indianisasi yang sekarang ‘sukses’ adalah kitab babad tanah jawi, Buku Babad ini diciptakan setelah Perang Diponegoro usai. dibalik digubahnya kitab ini sangat jelas bahwa isi kitab ini sangat bernuansa Indianisasi Belanda berkenaan dengan silsilah keturunan raja-raja Mataram Islam kepada raja-raja Majapahit. pada buku babad ini ditampilkan cerita yang sangat ‘maksa’ bahwa Ki Bondan Kejawan sebenarnya adalah keturunan Prabu Brawijaya V.

Source

About these ads

Responses

  1. Ingin mengomentari pada bagian hipotesis bahwa masyarakat Jawa telah menganut islam pada waktu Demak menyerang Majapahit dan tiadanya serangan balik dari Majapahit ke Demak. Kalau kita lihat dari sifat dasar ajaran hindu dan buda (sanatana darma) sulit rasanya bagi rakyat Majapahit untuk mengibarkan bendera perang karena itu merupakan pelanggaran dalam agama tsb. Bahkan, kegiatan dakwah bagi agama hindu dan buda di anggap sebagai aktivitas kekerasan. Yang saya tidak pahami ( dan tidak diindikasikan dari kitab negarakretagama) adalah apakah semua rakyat jelata memahami bahasa kakawin saat itu, bahasa para penyair yang ditulis dalam Kavi? Wawasan Majapahit (baik rakyat maupun pemimpin) sangat di pengaruhi dari ajaran agamanya ( maka itu di sebut negara-Kerta-Agama), termasuk pemahaman mereka akan periodesasi/kala ( dalam kitab negarakretagama di sebut dua diantaranya: Dwapara dan kali). Ada kemungkinan ketika majapahit mengalami kemunduran karena pertentangan internal, seluruh rakyat memahami bahwa zaman kali (kerusakan kehancuran keboborokan moral) telah datang ( ada periodisasinya dalam kitab veda). Jadi, untuk apa menentang kehendak alam yang merupakan siklus karma. Dan ini yang mungkin mengembangkan aliran Kejawen ( yang merupakan kompromi antara islam, hindu, buda dengan nilai-nilai asli peradaban Jawa- yang oleh ahli sejarah peradaban dikategorikan sebagai sub peradaban). Jadi, saya ragukan lagi bila Islam syiah yang memberi inisiatif tsb. Akan tetapi, memang bangsa Persia dulunya adalah penganut zoroastria sebelum islam ( mereka selalu merasa lebih beradab dibanding umat islam yang dianggap kaum nomadik). Dan bangsa Persia berperan besar sebagai perantara antara Nusantara dan Peradaban Rowami kuno (terutama asia minor) dalam perdagangan rempah-rempah dari Nusantara ke Kerajaan romawi lebih dari 2000 tahun silam. Wajar jika terjadi asimilasi dan akulturasi budaya sepanjang wilayah yang sekarang kita sebut sebagai Timur Tengah-India-China-Nusantara. Bangsa Veda sendiri, sebagai asal muasal dua agama ini (yang berkembang ke india menjadi hindu, ke cina menjadi buda) ke Nusantara menjadi synkretistik (hindu-buda) mungkin berasal dari wilayah antara India-china, termasuk Nepal.

    • @pipmarian

      itu ajarannya. prakteknya amat jauh sekali dari itu

      bahkan sejarah antar agama Hindu dan Budha itu sendiri begitu diwarnai oleh pertumpahan darah yang masif dan amat sadis antar keduanya

      sriwijaya yang budha saling serang dengan mataram hindu, banyak kisah peperangan dalam konteks kerajaan hindu dan konteks kerajaan Budha. apa yan dilakukan oleh Chandra Gupta, Rajendra Cola, Kertanegara, Ken Arok, Tunggul Ametung dan lain-lain, hal itu membuktikan bahwa pada orang-orang yang notabene beragama Hindu dan Budha ketika mereka ada kekuasaan maka mereka amat haus darah peperangan dan penyerbuan serta dendam-dendam kesumat

  2. @pipmarian

    itu ajarannya. prakteknya amat jauh sekali dari itu

    sriwijaya yang budha saling serang dengan mataram hindu, banyak kisah peperangan dalam konteks kerajaan hindu dan konteks kerajaan Budha. apa yan dilakukan oleh Chandra Gupta, Rajendra Cola, Kertanegara, Ken Arok, Tunggul Ametung dan lain-lain, hal itu membuktikan bahwa pada orang-orang yang notabene beragama Hindu dan Budha ketika mereka ada kekuasaan maka mereka amat haus darah peperangan dan penyerbuan serta dendam-dendam kesumat

  3. pembantaian2 dan peperangan antar sesama penganut hindu, atau antar sesama kerajaan, bangsawan hindu, perebutan kekuasan yang berdarah-darah baik dari hindu atau dari budha, antar sesama budha, antar hindu-budha, antar hindu sama keyakinan lain, antar budha sama keyakinan lain , sudah tidak bisa diungkapkan lagi saking banyaknya pertumpahan darah yang disebabkan oleh dua agama ini ( Hindu dan Budha ),

  4. sangat menarik. memang isinya sangat mengguncang, dan anda perlu mencatat sumber-sumber dari apa yang anda tulis. sebetulnya apa yg berlaku di Jawa (kejawen) berlaku juga di wilayah Eropa. baru-2 ini saya juga sedang asyik membaca bagaimana Islam tetap bertahan di wilayah seperti Bosnia, Albania, Georgia, Rusia, dll? Sebetulnya itu karakter ke-Islamannya sama dengan karakter yg di Nusantara, mistik. pengikut Ahlulbayt yg mampu bertahan di sana pun akhirnya mampu beradaptasi dan bertahan dan berkembang sampai hari ini karena melalui tarekat sufi yang di-blend sedemikan rapinya dengan kebudayaan Eropa yg lebih akrab dengan budaya Kristiani dan Yahudi (terutama di wilayah2 dekat Rusia dan Turki) sehingga peneliti asing tak jarang dengan gegabah memandang mereka sebagai sinkretisme Islam-Kristen-Yahudi, dsb. Bektashi, Alevi-Bektashi, Rifai, adl di antaranya. Penjajahan komunisme yang terlalu lama, pensekularisasian, dst menyebabkan semakin semrawut dan samarnya benang merah dalam simpangsimpang ini. Di zaman sekarang kita sudah terhubung dengan cepatnya utk menemukan kesadaran ini. Ketika ditanya apakah Alevi yang digebyah uyah semuanya liberal itu sebagai umat Muslim atau bukan, Imam Khomeini menjawab ya, mereka tetap Muslim. Artinya tidaklah mungkin Eropa di barat, dan Nusantara di timur tidak memiliki pasukan-2 yang akan siap untuk menyongsong Imam Mahdi afs di akhir zaman nanti. mereka yg mencintai ahlulbayt dgn sepenuh hati dan terpisah oleh jarak waktu yg begitu panjang karena penjajahan,kezaliman,dsb sehingga tampil satu sama lain begitu berbeda seakan tak ada kaitan satu sama lain, padahal tidak mungkin demikian. InsyaAllah Imam Mahdi afs ada dimana2 utk membimbing siapa saja yg dipilih Allah baginya dlm masa kegaibannya saat ini utk menyambutnya nanti. wallahualam bissawab.

  5. Yah smg saja syiah benar2 menganggap sunni sbg saudaranya…smg sholawat & salam senantiasa terlimpah utk Rosululloh Muhammad saw, Ahlul bayt serta seluruh sahabat beliau… Amiin

  6. Boleh jadi, karena nama-nama asli para Wali seperti Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) seperti nama Ahlul Bayt Rasulullah Saw Imam Ja’far shadiq bin Muhammad Al Baqir as. begitu pula kakek para wali yg makamnya ada di Sulawesi Selatan dimana Gus Dur pernah ziarah ke sana yakni Syek Jamaluddin Akbar Al-Huseini. Salam.

  7. Tiada lah sesuatu kajian mengenai penyebaran dan pertumbuhan Islam di Nusantara itu lengkap dan tepat kecuali ada di nyatakan peranan Kerajaan Kesultanan Melayu Islam Melaka dalam kurun ke 15. Kerajaan Islam Melaka yang telah melemahkan kerajaan Majapahit dan wilayah-wilayah di Sumatera dimana Islam berkembang pesat langsung tidak di perkatakan. Ini adalah aneh dan tidak betul. Saya cadangkan bapak kaji dengan merujuk juga kepada bahan-bahan sejarah internasional dan juga bahan-bahan bukti yang lain yang jelas menonjolkan peranan kerajaan Kesultanan Melaka sebagai champion agama Islam yang membendung pengaruh Hindu di awal kurun 15, yaitu dari sekirat 1402 hinggalah 1511 da nseterusnya di bawah kerajaan Sultan2 Melayu di semenanjung.

  8. Bismillâh ar-Rahman al-Rahîm.

    Segala puji Allah Tuhan sekalian alam. Dia tidak menyerupai apapun dari makhluk-Nya. Dia tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Dan siapapun dari makhluk-Nya selalu membutuhkan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, Nabi pembawa wahyu dan kebenaran.

    Dalam peta Indonesia, paling tidak ada tiga hal yang membuat penyebaran agama Islam cukup unik untuk dikaji.

    Pertama; Secara geografis wilayah nusantara sangat jauh dari negara-negara Arab sebagai pusat munculnya dakwah Islam. Jaringan informasi dari satu wilayah ke wilayah lain saat itu sangat membutuhkan waktu dan tenaga. Namun demikian perkembangan Islam di Nusantara pada awal kedatangannya sangat pesat, mungkin melebihi penyebaran ke wilayah barat dari bumi ini. Metodologi dakwah, kondisi wilayah dan masyarakat Indonesia, materi-materi dakwah dan berbagai aspek lainnya dalam dakwah itu sendiri adalah di antara hal yang perlu kita pelajari.

    Kedua; “Tangan-tangan ahli” dalam membawa misi dakwah Islam saat itu sangat terampil dan pleksibel. Padahal sejarah mencatat bahwa wilayah Nusantara ketika itu diduduki berbagai kerajaan yang dianggap cukup kuat memegang ortodoksi ajaran leluhur mereka. Dominasi ajaran Hindu dan Budha saat itu, hingga keyakinan-keyakinan animisme cukup mengakar di berbagai tingkatan masyarakat. Bagaimanakah olahan tangan-tangan terampil tersebut hingga membuahkan hasil yang sangat menakjubkan?!

    Ketiga; Persentuhan budaya yang sama sekali berbeda antara budaya orang-orang wilayah Nusantara (Melayu) dengan umunya orang-orang timur tengah menghasilkan semacam budaya baru. Budaya baru ini tidak sangat cenderung ke timur tengah juga tidak sangat cenderung kepada ortodoksi wilayah setempat. Namun kelebihan yang ada pada budaya baru ini ialah bahwa nilai-nilai –terutama akidah– ajaran Islam telah benar-benar berhasil ditanamkan oleh para pendakwahnya.

    • • •

    Di wilayah Aceh, pada sekitar permulaan abad sebelas hijriah datang salah seorang keturunan Rasulullah, yang sekarang nama beliau diabadikan dengan sebuah Institut Agam Islam Negeri (IAIN), Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Beliau bernama Muhammad ibn ‘Ali ibn Hasan ibn Muhammad al-Raniri al-Qurasyi al-Syafi’i. Sebelum ke nusantara beliau pernah belajar di Tarim Hadramaut Yaman kepada para ulama terkemuka di sana. Salah satunya kepada al-Imam Abu Hafsh ‘Umar ibn ‘Abdullah Ba Syaiban al-Hadlrami. Ditangan ulama besar ini, al-Raniri masuk ke wilayah tasawuf melalui tarekat al-Rifa’iyyah, hingga menjadi khalifah dalam tarekat ini.

    Tarekat al-Rifa’iyyah dikenal sebagai tarekat yang kuat memegang teguh akidah Ahlussunnah. Para pemeluknya di dalam fikih dikenal sebagai orang-orang yang konsisten memegang teguh madzhab asy-Syafi’i. Sementara dalam akidah sangat kuat memegang teguh akidah Asy’ariyyah. Terhadap akidah hulûl dan wahdah al-wujûd tarekat ini sama sekali tidak memberi ruang sedikitpun. Hampir seluruh orang yang berada dalam tarekat al-Rifa’iyyah memerangi dua akidah ini. Konsistensi ini mereka warisi dari perintis tarekat al-Rifa’iyyah sendiri; yaitu al-Hasîb al-Nasîb as-Sayyid al-Imam Ahmad al-Rifa’i.

    Ketika kesultanan Aceh dipegang oleh Iskandar Tsani, al-Raniri diangkat menjadi “Syaikh al-Islâm” bagi kesultanan tersebut. Ajaran Ahlussunnah yang sebelumnya sudah memiliki tempat di hati orang-orang Aceh menjadi bertambah kuat dan sangat dominan dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut, juga wilayah Sumatera pada umumnya. Faham-faham akidah Syi’ah, terutama akidah hulûl dan ittihâd, yang sebelumnya sempat menyebar di wilayah tersebut menjadi semakin diasingkan. Beberapa karya yang mengandung faham dua akidah tersebut, juga para pemeluknya saat itu sudah tidak memiliki tempat. Bahkan beberapa kitab aliran hulûl dan ittihâd sempat dibakar di depan Majid Baiturrahman.

    Dengan demikian dapat diketahui bahwa di bagian ujung sebelah barat Indonesia faham akidah Ahlussunnah dengan salah satu tarekat mu’tabarah sudah memiliki dominasi yang cukup besar dalam kaitannya dengan penyebaran Islam di wilayah Nusantara.

    • • •

    Di Palembang Sumatera juga pernah muncul seorang tokoh besar. Tokoh ini cukup melegenda dan cukup dikenal di hampir seluruh daratan Melayu. Dari tangannya lahir sebuah karya besar dalam bidang tasawuf berjudul Siyar al-Sâlikîn Ilâ ‘Ibâdah Rabb al-‘Âlamîn. Kitab dalam bahasa Melayu ini memberikan kontribusi yang cukup besar dalam perkembangan tasawuf di wilayah Nusantara. Dalam pembukaan kitab yang tersusun dari empat jilid tersebut penulisnya mengatakan bahwa tujuan ditulisnya kitab dengan bahasa Melayu ini agar orang-orang yang tidak dapat memahami bahasa Arab di wilayah Nusantara dan sekitarnya dapat mengerti tasawuf, serta dapat mempraktekan ajaran-ajarannya secara keseluruhan. Tokoh kita ini adalah Syaikh ‘Abd ash-Shamad al-Jawi al-Palimbani yang hidup di sekitar akhir abad dua belas hijriah. Beliau adalah murid dari Syaikh Muhammad Samman al-Madani; yang dikenal sebagai penjaga pintu makam Rasulullah.

    Kitab Siyar al-Sâlikin sebenarnya merupakan “terjemahan” dari kitab Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, dengan beberapa penyesuaian penjelasan. Hal ini menunjukan bahwa tasawuf yang diemban oleh Syaikh ‘Abd ash-Shamad adalah tasawuf yang telah dirumuskan oleh Imam al-Ghazali. Dan ini berarti bahwa orientasi tasawuf Syaikh ‘Abd al-Shamad yang diajarkannya tersebut benar-benar berlandaskan akidah Ahlussunnah. Karena, seperti yang sudah kita kenal, Imam al-Ghazali adalah sosok yang sangat erat memegang teguh ajaran Asy’ariyyah Syafi’iyyah.

    Tentang sosok al-Ghazali, sudah lebih dari cukup untuk mengenal kapasitasnya dengan hanya melihat karya-karya agungnya yang tersebar di hampir seluruh lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non formal di berbagai pelosok Indonesia. Terutama bagi kalangan Nahdliyyin, al-Ghazali dengan karyanya Ihyâ’ Ulûm al-Dîn adalah rujukan standar dalam menyelami tasawuf dan tarekat. Secara “yuridis” hampir seluruh ajaran tasawuf terepresentasikan dalam karya al-Ghazali ini. Bagi kalangan pondok pesantren, terutama pondok-pondok yang mengajarkan kitab-kitab klasik (Salafiyyah), bila seorang santri sudah masuk dalam mengkaji Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn berarti ia sudah berada di “kelas tinggi”. Karena sebenarnya di lingkungan pesantren kitab-kitab yang dikaji memiliki hirarki tersendiri. Dan untuk menaiki hirarki-hirarki tersebut membutuhkan proses waktu yang cukup panjang, terlebih bila ditambah dengan usaha mengaplikasikannya dalam tindakan-tindakan. Materi kitab yang dikaji dan sejauh mana aplikasi hasil kajian tersebut dalam prilaku keseharian biasanya menjadi tolak ukur untuk melihat “kelas-kelas” para santri tersebut.

    • • •

    Wali songo yang tidak pernah kita lupakan; Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati adalah sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Tokoh-tokoh melegenda ini hidup di sekitar pertengahan abad sembilan hijriah. Artinya Islam sudah bercokol di wilyah Nusantara ini sejak sekitar 600 tahun lalu, bahkan mungkin sebelum itu. Sejarah mencatat bahwa para pendakwah yang datang ke Indonesia berasal dari Gujarat India yang kebanyakan nenek moyang mereka adalah berasal dari Hadlramaut Yaman. Negara Yaman saat itu, bahkan hingga sekarang, adalah “gudang” al-Asyrâf atau al-Habâ’ib; ialah orang-orang yang memiliki garis keturunan dari Rasulullah. Karena itu pula para wali songo yang tersebar di wilayah Nusantara memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Rasulullah.

    Yaman adalah pusat kegiatan ilmiah yang telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ulama sebagai pewaris peninggalan Rasulullah. Kegiatan ilmiah di Yaman memusat di Hadlramaut. Berbeda dengan Iran, Libanon, Siria, Yordania, dan beberapa wilayah di daratan Syam, negara Yaman dianggap memiliki tradisi kuat dalam memegang teguh ajaran Ahlussunnah. Mayoritas orang-orang Islam di negara ini dalam fikih bermadzhab Syafi’i dan dalam akidah bermadzhab Asy’ari. Bahkan hal ini diungkapkan dengan jelas oleh para para tokoh terkemuka Hadlramaut sendiri dalam karya-karya mereka. Salah satunya as-Sayyid al-Imam ‘Abdullah ibn ‘Alawi al-Haddad, penulis ratib al-Haddad, dalam Risâlah al-Mu’âwanah mengatakan bahwa seluruh keturunan as-Sâdah al-Husainiyyîn atau yang dikenal dengan Al Abi ‘Alawi adalah orang-orang Asy’ariyyah dalam akidah dan Syafi’iyyah dalam fikih. Dan ajaran Asy’ariyyah Syafi’iyyah inilah yang disebarluaskan oleh moyang keturunan Al Abi ‘Alawi tersebut, yaitu al-Imâm al-Muhâjir as-Sayyid Ahmad ibn ‘Isa ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn al-Imâm Ja’far ash-Shadiq. Dan ajaran Asy’ariyyah Syafi’iyyah ini pula yang di kemudian hari di warisi dan ditanamkan oleh wali songo di tanah Nusantara.

    • • •

    Suatu hari wali songo berkumpul membahas hukuman yang pantas untuk dijatuhkan kepada Syaikh Siti Jenar. Orang terakhir disebut ini adalah orang yang dianggap merusak tatanan akidah dan syari’ah. Ia membawa dan menyebarkan akidah hulûl dan ittihâd dengan konsepnya yang dikenal dengan “Manunggaling kawula gusti”. Konsep ajaran al-Hallaj tentang ittihâd dan hulûl hendak dihidupkan oleh Syaikh Siti Jenar di kepulauan Jawa. Al-Hallaj dahulu di Baghdad dihukum pancung dengan kesepakatan dan persetujuan para ulama, termasuk dengan rekomendasi al-Muqtadir Billah; sebagai khalifah ketika itu. Kita tidak perlu mendiskusikan adakah unsur politis yang melatarbelakangi hukuman pancung terhadap al-Hallaj ini atau tidak?! Secara sederhana saja, sejarah telah mencatatkan bahwa yang membawa al-Hallaj ke hadapan pedang kematian adalah karena akidah hulûl dan ittihâd yang dituduhkan kepadanya.

    Setelah perundingan yang cukup panjang, wali songo memutuskan bahwa tidak ada hukuman yang setimpal bagi kesesatan Syaikh Siti Jenar kecuali hukum bunuh, persis seperti yang telah dilakukan oleh para ulama di Baghdad terhadap al-Hallaj. Di sini kita juga tidak perlu repot memperdebatkan apakah latar belakang politis yang membawa Syaikh Siti Jenar kepada kematian?! Terlebih dengan mencari kambing hitam dari para penguasa saat itu atau dari para wali songo sendiri yang “katanya” merasa dikalahkan pengaruhnya oleh Syaikh Siti Jenar. Pernyataan semacam ini jelas terlalu dibuat-buat, karena sama dengan berarti menyampingkan nilai-nilai yang telah diajarkan dan diperjuangkan wali songo itu sendiri. Juga dapat pula berarti menilai bahwa keikhlasan-keikhlasan para wali songo tersebut sebagai sesuatu yang tidak memiliki arti, atau istilah lain melihat mereka dengan pandangan su’uzhan (berburuk sangka). Tentunya, jangan sampai kita terjebak di sini.

    • • •

    Pasca wali songo, pada permulaan abad ke tiga belas hijriah, di salah satu kepulauan di wilayah Nusantara lahir sosok ulama besar. Di kemudian hari tokoh kita ini sangat dihormati tidak hanya oleh orang-orang Indonesia dan sekitarnya, tapi juga oleh orang-orang timur tengah, bahkan oleh dunia Islam secara keseluruhan. Beliau menjadi guru besar di Masjid al-Haram dengan gelar “Sayyid ‘Ulamâ’ al-Hijâz”, juga dengan gelar “Imâm ‘Ulamâ’ al-Haramain”. Berbagai hasil karya yang lahir dari tangannya sangat populer, terutama di kalangan pondok pesantren di Indonesia. Beberapa judul kitab, seperti Kâsyifah al-Sajâ, Qâmi’ al-Thughyân, Nûr al-Zhalâm, Bahjah al-Wasâ’il, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq, Nashâ’ih al-‘Ibâd, dan Kitab Tafsir al-Qur’an Marâh Labîd adalah sebagian kecil dari hasil karyanya. Kitab-kitab ini dapat kita pastikan sangat akrab di lingkungan pondok pesantren. Santri yang tidak mengenal kitab-kitab tersebut patut dipertanyakan “kesantriannya”.

    Tokoh kita ini tidak lain adalah Syaikh Nawawi al-Bantani. Kampung Tanara, daerah pesisir pantai yang cukup gersang di sebelah barat pulau Jawa adalah tanah kelahirannya. Beliau adalah keturunan ke-12 dari garis keturunan yang bersambung kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon. Dengan demikian dari silsilah ayahnya, garis keturunan Syaikh Nawawi bersambung hingga Rasulullah.

    Perjalanan ilmiah yang beliau lakukan telah menempanya menjadi seorang ulama besar. Di Mekah beliau berkumpul di “kampung Jawa” bersama para ulama besar yang juga berasal dari Nusantara, dan belajar kepada yang lebih senior di antara mereka. Di antaranya kepada Syaikh Khathib Sambas (dari Kalimantan) dan Syaikh ‘Abd al-Ghani (dari Bima NTB). Kepada para ulama Mekah terkemuka saat itu, Syaikh Nawawi belajar di antaranya kepada as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (mufti madzhab Syafi’i), as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Syaikh ‘Abd al-Hamid ad-Dagestani, dan lainnya.

    Dari didikan tangan Syaikh Nawawi di kemudian hari bermunculan syaikh-syaikh lain yang sangat populer di Indonesia. Mereka tidak hanya sebagai tokoh ulama yang “pekerjaannya” bergelut dengan pengajian saja, tapi juga merupakan tokoh-tokoh terdepan bagi perjuangan kemerdekaan RI. Di antara mereka adalah; KH. Kholil Bangkalan (Madura), KH. Hasyim Asy’ari (pencetus gerakan sosial NU), KH. Asnawi (Caringin Banten), KH. Tubagus Ahmad Bakri (Purwakarta Jawa Barat), KH. Najihun (Tangerang), KH. Asnawi (Kudus) dan tokoh-tokoh lainnya.

    Pada periode ini, ajaran Ahlussunnah; Asy’ariyyah Syafi’iyyah di Indonesia menjadi sangat kuat. Demikian pula dengan penyebaran tasawuf yang secara praktis berafiliasi kepada Imam al-Ghazali dan Imam al-Junaid al-Baghdadi, saat itu sangat populer dan mengakar di masyarakat Indonesia. Penyebaran tasawuf pada periode ini diwarnai dengan banyaknya tarekat-tarekat yang “diburu” oleh berbagai lapisan masyarakat. Dominasi murid-murid Syaikh Nawawi yang tersebar dari sebelah barat hingga sebelah timur pulau Jawa memberikan pengaruh besar dalam penyebaran ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ajaran-ajaran di luar Ahlussunnah, seperti faham “non madzhab” (al-Lâ Madzhabiyyah) dan akidah hulûl atau ittihâd serta keyakinan sekte-sekte sempalan Islam lainnya, memiliki ruang gerak yang sangat sempit sekali.

    • • •

    Di wilayah timur Nusantara ada kisah melegenda tentang seorang ulama besar, tepatnya dari wilayah Makasar Sulawesi. Sosok ulama besar tersebut tidak lain adalah Syaikh Yusuf al-Makasari. Agama Islam masuk ke wilayah ini pada sekitar permulaan abad sebelas hijriah. Dua kerajaan kembar; kerajaan Goa dan kerajaan Talo yang dipimpin oleh dua orang kakak adik memiliki andil besar dalam penyebaran dakwah Islam di wilayah tersebut. Saat itu banyak kerajaan-kerajaan kecil yang menerima dengan lapang dada akan kebenaran ajaran-ajaran Islam. Tentu perkembangan dakwah ini juga didukung oleh kondisi geografis wilayah Sulawesi yang sangat strategis. Di samping sebagai tempat persinggahan para pedagang yang mengarungi lautan, daerah Sulawesi sendiri saat itu sebagai penghasil berbagai komuditas, terutama rempah-rempah dan hasil bumi lainnya.

    Di kemudian hari kelahiran Syaikh Yusuf menambah semarak keilmuan, terutama ajaran tasawuf praktis yang cukup menjadi primadona masyarakat Sulawesi saat itu. Syaikh Yusuf sendiri di samping seorang sufi terkemuka, juga seorang alim besar multi disipliner yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu agama. Latar belakang pendidikan Syaikh Yusuf menjadikannya sebagai sosok yang sangat kompeten dalam berbagai bidang. Tercatat bahwa beliau tidak hanya belajar di daerahnya sendiri, tapi juga banyak melakukan perjalanan (rihlah ‘ilmiyyah) ke berbagai kepulauan Nusantara, dan bahkan sempat beberapa tahun tinggal di negara timur tengah hanya untuk memperdalam ilmu agama.

    Perjalanan ilmiah Syaikh Yusuf di kepulauan Nusantara di antaranya ke Banten dan bertemu dengan Sultan ‘Abd al-Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa), yang merupakan putra mahkota kerajaan Banten saat itu. Dengan orang terakhir ini Syaikh Yusuf cukup akrab, bahkan dengannya bersama-sama memperdalam ilmu agama. Selain ke Banten, Syaikh Yusuf juga berkunjung ke Aceh dan bertemu dengan Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Darinya, Syaikh Yusuf mendapatkan ijazah beberapa tarekat, di antaranya tarekat al-Qadiriyyah. Walaupun sebagian ahli sejarah mempertanyakan kebenaran adanya pertemuan antara Syaikh Yusuf dengan Syaikh Nuruddin ar-Raniri, namun hal penting yang dapat kita tarik sebagai benang merah ialah bahwa jaringan tarekat saat itu sudah benar-benar merambah ke berbagai kepulauan Nusantara. Dan bila benar bahwa Syaikh Yusuf pernah bertemu dengan Syaikh Nuruddin al-Raniri serta mengambil tarekat darinya, maka dapat dipastikan bahwa ajaran-ajaran yang disebarkan Syaikh Yusuf di bagian timur Nusantara adalah ajaran Ahlussunnah; dalam akidah madzhab Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan dalam fikih madzhab Imam Muhammad ibn Idris as-Syafi’i.

    Kepastian bahwa Syaikh Yusuf seorang Sunni tulen juga dapat dilihat dari perjalanan ilmiah beliau yang dilakukan ke Negara Yaman. Di negara ini Syaikh Yusuf belajar kepada tokoh-tokoh terkemuka saat itu. Di negara ini pula Syaikh Yusuf mendapatkan berbagai ijazah tarekat mu’tabarah. Di antaranya tarekat al-Naqsyabandiyyah, tarekat al-Syatariyyah, tarekat al-Sadah al-Ba’alawiyyah, tarekat al-Khalwatiyyah dan lainnya.

    Latar belakang keilmuan Syaikh Yusuf ini menjadikan penyebaran tasawuf di di wilayah Sulawesi benar-benar dilandaskan kepada akidah Ahlussunnah. Ini dikuatkan pula dengan karya-karya yang ditulis Syaikh Yusuf sendiri, bahwa orientasi karya-karya tersebut tidak lain adalah Syafi’iyyah Asy’ariyyah. Kondisi ini sama sekali tidak memberikan ruang kepada akidah hulûl atau ittihâd untuk masuk ke wilayah “kekuasaan” Syaikh Yusuf al-Makasari.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: