Posted by: maulanusantara | Juni 10, 2008

Bergelimang dalam Budaya Kumuh

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan J.S. Badudu-Sutan Mohammad Zain (Jakarta: Pustaka Sinara Harapan, 1994), perkataan ”kumuh” mengandung tiga makna: 1. kotor; 2. kotor dan tidak teratur, tampak mesum; 3. keji. Untuk makna pertama, contoh kalimat yang diberikan adalah: ”mukanya kumuh benar, cucilah dulu”; kedua, ”perkampungan yang kumuh”; ketiga, ”kelakuan keji yang dipertunjukkannya sungguh memuakkan”. Rasanya ketiga makna yang mirip itu telah lama membebani kultur Indonesia modern, apakah itu dalam politik, ekonomi, sosial, dan moral. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 9, 2008

Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish

(Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University)

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda.
Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

CERITA PERTAMA: Menghubungkan Titik-Titik Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 6, 2008

Kekerasan Agama yang Halus

Apabila diperhatikan dengan saksama, maka akan terasa bahwa masyarakat beragama

di Indonesia sedang atau telah mengalami berbagai bentuk kekerasan. Kekerasan

itu bisa terjadi dalam kalangan penganut salah satu agama, bisa juga terjadi

antaragama. Dari sifatnya, kekerasan agama itu bisa berupa kekerasan fisik,

kekerasan wacana, dan kekerasan dalam bentuk karya kesenian. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 6, 2008

Kebenaranku, Kebenaranmu

Manusia hanya bisa menyingkap Kebenaran dengan anihilasi. Sepertinya Kebenaran memberitahu kepada manusia, tidak ada jalan yang lebih baik lagi untuk mengenal Diri-Nya kecuali manusia meleburkan eksistensinya ke dalam Realitas Kebenaran. Manusia bisa menemukan Kebenaran melalui agama dengan cara “interiorizing.” Manusia yang terputus dari agama akan terputus dari Kebenaran. Ketika manusia menyadari bahwa semua agama terhubung dalam satu substansi universal, segala pluralitas yang muncul tidak lagi dilihat sebagai entitas-entitas yang “distinct” dan “diverse” murni, tetapi akan terlihat dalam cahaya “ketunggalan.” Tentu perspektif ini tidak mengarahkan manusia meninggalkan form agama demi substansinya, tetapi manusia harus tetap dengan formnya sekaligus mempunyai penuh kesadaran kepada substansinya. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 5, 2008

Tekstualisme, Islamisme, dan Kekerasan Agama

Memang tidak semua bentuk dan jenis kekerasan keagamaan dapat dinisbatkan pada pemahaman agama yang tekstual dan Islamisme. Masih ada variabel lain yang turut menyumbang terjadinya perilaku kekerasan agama. Namun dibanding variabel lainnnya, kedua variabel ini paling signifikan dalam mendorong timbulnya perilaku kekerasan agama. Di samping mendorong perilaku kekerasan agama, tekstualisme dan Islamisme juga berkorelasi positif dengan perilaku kekerasan umum dan kekerasan negara. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 4, 2008

Iklan AKKBB: Mari Pertahankan Indonesia Kita

Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia-an kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 4, 2008

Pancasila dan Kekerasan Agama

PERINGATAN lahirnya Pancasila tahun 2008 dinodai dengan pengingkaran terhadap makna hakiki ideologi berbangsa yang inklusif ini. Penyerangan kelompok yang mengatasnamakan agama terhadap pihak lain yang berbeda adalah sebuah ironi di negara yang memuliakan kebersatuan dalam keragaman, Bhinneka Tunggal Ika. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 3, 2008

Petisi Pembubaran FPI

Republik Indonesia berdiri di atas landasan keberagaman dan  kemajemukan. Terdiri atas berbagai suku, agama, etnik, aliran  kepercayaan, juga pandangan politik. Walaupun berbeda tiap warganegara  bersatu-padu berjuang dan mempertahankan kemerdekaan dan kebebasan.  Inilah modal awal bangsa yang tak bisa dipungkiri keberadaannya bahkan  jauh sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Juni 3, 2008

Sejarah Kekerasan FPI (2001-2008)

Front Pembela Islam dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 (24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Makruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan.

FPI menjadi sangat terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998. Terutama yang dilakukan oleh laskar paramiliternya yakni Laskar Pembela Islam. Rangkaian aksi penutupan klab malam dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, ancaman terhadap warga negara tertentu, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massa.

Berikut adalah sebagian jejak kekerasan yang ditampilkan oleh FPI sejak tahun 2001 hingga 2008. Baca Lanjutannya…

Posted by: maulanusantara | Mei 30, 2008

Parmalim: “Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat”

“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.” -Pantun ni Ugamo Malim

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal. -Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori