Oleh: MAULA | September 17, 2007

Ibn ‘Arabi: Penjelmaan Kehidupan Spiritual

arabi.jpg

Di kalangan para sufi ada tradisi membaca manaqib. Dan tradisi ini sebenarnya sangat berpengaruh dalam perjanalan dan perkembangan spiritual para murid dan salik. Manaqib adalah semacam biografi yang menceritakan tentang jalan hidup seorang guru. Tetapi ia bukan sekadar biografi yang hanya mencatat tentang tempat lahir, tanggal lahir dan hal-hal yang berelasi dengan guru secara historis. Malah ia adalah catatan kehidupan spiritual seorang guru, yang bisa mempengaruhi murid dalam menghidupkan orientasi spiritual didalam diri mereka dan juga meningkatkan aspirasi mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Satu lagi tujuan membaca manaqib yang saya kira penting adalah memberi kesadaran kepada para murid bahwa “liqa’ Allah” adalah satu kenyataan dan semua manusia bisa bertemu dengan yang Maha Tunggal. Saya belum pernah lihat tulisan tentang manaqib Ibn ‘Arabi, tetapi ada beberapa tulisan tentang biografinya.

Walau bagaimanapun, ketika kita ingin membicarakan biografi beliau disini, tentu sekali tujuannya bukanlah sekadar untuk menambah informasi tentang beliau. Tetapi biografinya harus mewujudkan satu relasi antara kita dengan beliau. Biografinya harus menjadi sumber inspirasi kehidupan spiritual kita. Jika kita ingin mengenal Ibn ‘Arabi hanya melalui aspek “biografis”nya, saya rasa kita tidak akan memahami peribadi yang misterius ini sebagaimana yang seharusnya, dan kita juga tidak akan mendapat pencerahan spiritual. Ibn ‘Arabi harus dikenali melalui “biografis spiritual”nya.

Seyyed Hossein Nasr pernah menulis :
“Ibn ‘Arabi, whose complete name is Abu Bakr Muhammad ibn al-‘Arabi alHatimi al-Tai, was born in Murcia in southern Spain in 560/1165 in a family of pure Arab blood of the tribe of Tai. He is best known in the Islamic world as Ibn ‘Arabi and was entitled by posterity al-Shaikh al-akbar (Doctor Maximus) and surnamed Muhyi al-Din (the Revivifier of Religion). Like other great saints and sages, his greatest “masterpiece” was his own life, a most unusual life in which prayer, invocation, contemplation, and visits to various Sufi saints were combined with the theophanic vision of the spiritual world in which the invisible hierarchy was revealed to him. In studying his life, therefore, we gain a glimpse of the spiritual character and stature of the sage whose intellectual activity is visible in his many metaphysical works.”

Kata Hossein Nasr, “his greatest ‘masterpiece’ was his own life”, kehidupan Ibn ‘Arabi sendiri adalah sebuah karya “masterpiece” beliau. Kehidupan yang penuh dengan ibadah, dhikr, kontemplasi, dan ziarah serta pertemuan dengan berbagai para Sufi. Semuanya ini tergabung dengan musyahadah atau ‘penyaksian tajalli’ beliau terhadap alam spiritual. Dan dalam penyaksian tersebut, seluruh hierarki alam ghaib telah menjadi nyata kepada beliau.

Ibn ‘Arabi telah lahir pada tanggal 17, bulan Ramadan, tahun 560H (28 Juli 1165). Sejak itulah telah mulai satu kehidupan yang menjelmakan segala atas nama spiritualitas.

Kehidupan Ibn ‘Arabi : Spiritualas dalam Totalitas

Nama Ibn ‘Arabi sudah menjadi hampir “synonymous” dengan doktrin “ wahdat al-wujud. “Memang benar doktrin ini mempunyai peran sentral dalam metaphysic Ibn ‘Arabi, tetapi sepertinya pesan beliau bukan sekadar doktrin tersebut. Seluruh kehidupan beliau dan doktrin ajarannya ingin menyatakan bahwa “Esoterisme” adalah “the Principle” dan juga “the Way.”

Dengan kata lain, “the Principle of the Truth” dan juga “the Way to the Truth” adalah Esoterisme. Satu-satunya tujuan Ibn ‘Arabi adalah untuk mengenal Realitas malah untuk merealisasi Realitas. Beliau mempunyai “one-pointed attitude of passion for the Truth,” dan pernah menulis, “Semua yang telah ditinggalkan kepada kita oleh tradisi, hanyalah kata-kata. Dan semuanya terserah kepada kita untuk mencari apa artinya.”

Semasa remajanya, seperti remaja-remaja lain, beliau juga punya waktu untuk bersenang-senang selain dari waktu belajarnya. Pada satu masa ketika beliau lagi bersenang-senang di Seville, dia telah mendengar suara yang memanggil beliau, “Hai Muhamad, bukan untuk ini kamu diciptakan.” Beliau menjadi gelisah dan penasaran dengan pengalaman ini.

Dan dalam kegelisahan itu, beliau telah melarikan diri dan menyendiri untuk beberapa hari di sebuah tempat perkuburan. Di situlah beliau telah mengalami tiga mushahadat yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan spiritual masa depannya. Dia telah bertemu Nabi Isa, Musa dan Muhammad – yang telah memberi instruksi spiritual untuk beliau. Pertemuan spiritual ini, bisa dikatakan adalah titik permulaan perjalanan spiritual beliau.

Sejak itu beliau telah mendapat banyak pengalaman spiritual seperti ini. Malah sepanjang hidup beliau itu penuh dengan pengalaman mukasyafah dan musyahadat. Kehidupan Ibn ‘Arabi adalah satu kehidupan spiritual dan biografinya identik dengan “all that are spiritual and mystical.” Bahkan pertemuan beliau dengan para al-masyayikh al-sufiyyah didalam sepanjang pengembaraan, kesemuanya adalah pertemuan yang terpusat pada spiritualitas.

Pertemuan spiritual beliau dengan tiga Nabi besar yang mewakili tradisi Ibrahimiyyah, mempunyai arti “implicit” yang sangat fundamental dalam doktrin metaphysic Ibn ‘Arabi. Tradisi Ibrahimiyyah terpusat pada doktrin Al-Tawhid. Dan Al-Tawhid dalam perspektif Ibn ‘Arabi tidak lain dan tidak bukan adalah wahdat al-wujud. Doktrin ini adalah “the Principle of Esoterism”, dan merealisasi doktrin tersebut adalah “the way of Esoterism”.

Doktrin ini akan menjadi “the root of all things.” Dan lebih spesifik lagi ia akan mejadi “the root of his metaphysic.” Ketika al-wujud adalah “the one and only Real”, yang lain semuanya akan menjadi relatif atau manifestasi bagiNya. Dan sebagai manifestasi, setiap detik seluruh ma siwa Llah adalah “Dia dan tidak Dia”. Ini adalah apa yang Schuon sering istilahkan sebagai “the spiritual paradox.”

Paradoks inilah yang telah diceritakan begitu indah sekali dalam pertemuan bersejarah antara Ibn ‘Arabi dengan hakim Seville, seorang faqih dan filosof yang terkenal yaitu Ibn Rushd. Hampir semua yang menulis biografi Ibn ‘Arabi akan mengungkapkan pertemuan yang bersejarah ini.

“Aku pernah menginap sehari di Cordoba, di rumah Abu al-Walid Ibn Rushd. Dia telah menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan aku, karena dia pernah dengar beberapa ilham yang aku dapatkan semasa berkhalwah. Dan dia berasa sangat tertarik berkenaan ilham itu. Akhirnya bapaku, salah seorang teman dekatnya, telah membawa aku kepadanya dengan alasan ada urusan dagang, agar Ibn Rushd mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan aku.

Pada masa itu aku adalah seorang remaja yang masih belum berewokan lagi. Ketika aku memasuki rumahnya, filosof itupun menyambutku dengan penuh kemesraan dan keramahan, dan dia terus memeluk aku. Kemudian dia berkata kepada ku “Iya.” Dan kelihatan sekali kegembiraan di wajahnya karena aku faham apa yang dia maksudkan. Aku pula, yang tahu persis kenapa dia begitu gembira, menjawab “Tidak.”

Ketika itu, Ibn Rushd tiba-tiba mundur. Warna wajahnya berubah dan dia kelihatannya meragui tentang apa yang telah aku katakan. Kemudian dia melontarkan satu pertanyaan, “Solusi apa yang telah kamu ketemui dari hasil kasyaf dan ilham kamu?” Apakah ia sejajar dengan hasil pemikiran spekulatif?” Aku jawab, “Iya dan tidak. Di antara iya dan tidak ini, tidak ada arwah akan terbang jauh di atas ‘matter’ dan leher-leher akan terpisah dari tubuh-tubuhnya.”

Ibn Rushd menjadi pucat, dan aku lihat dia menggeletar ketika dia membisik “La hawla wa la quwwata illa bi Llah.” Ini adalah karena dia faham isyaratku.

Setelah itu, dia bertanya bapaku tentang diriku, supaya dapat membandingkan pendapat dia tentang aku dan ingin mengetahui apakah ia sama dengan pendapat bapaku, atau bertentangan degan pendapatnya. Tidak ragu lagi Ibn Rushd adalah seorang ahli fikir dan filsafat. Dia bersyukur kepada Tuhan karena dia telah bertemu dengan seorang yang telah memasuki khalwah, dalam keadaan jahil dan meninggalkannya sebagaimana yang aku lakukan.

Dia berkata, “ini adalah sesuatu yang aku sendiri telah membuktikan kemungkinannya tanpa pertemuan dengan orang yang telah mengalaminya. Subhana Llah, aku hidup pada masa adanya ahli pengalaman ini, seorang yang bisa membuka kunci pintu-pintu Nya. Subhana Llah yang telah menganugerahkan aku pertemuan dengan salah seorang dari mereka dengan mataku sendiri.”

Pertemuan ini mempunyai banyak arti “implicit” tentang peribadi spiritual Ibn ‘Arabi. Umur beliau pada waktu baru sekitar lima belas tahun, tetapi pengalaman spiritualnya tidak bisa ditandingi filsafat Ibn Rushd.

Dalam pertemuan keduanya Ibn ‘Arabi menceritakan;
“Aku ingin bertemu dengan Ibn Rushd sekali lagi. Rahmat Ilahi membuat dia tampak kepadaku dalam keadaan estasi hingga diantara dirinya dan diriku ada tirai yang tipis. Aku melihatnya lewat tirai itu tanpa dia melihatku atau menyadari bahwa aku berada disana. Sebenarnya dia terlalu tenggelam dalam tafakkurnya sehingga tidak sadar terhadapku. Kemudian aku berkata kepada diriku; “Tafakkurnya tidak akan mengarah dia pada mana aku berada sekarang.”

“Tirai tipis” ini adalah isyarat pada “transcendentness” metaphysic keatas filsafat. Metaphysic bisa menembusi tirai dan melihat filsafat, sementara filsafat masih buta terhadap metaphysic, namun ia hanya bisa menyerah secara filosofis didepan metaphysic.

Salah seorang sufi wanita yang dihormati Ibn ‘Arabi adalah Fatimah dari Seville. Ibn ‘Arabi menceritakan;

“Beliau tinggal diSeville. Ketika aku ketemu beliau, umurnya sudah sembilan puluhan. Secara lahiriah, orang akan sangkakan beliau adalah orang awam. Tetapi beliau akan menjawab, orang yang ttidak mengenal Tuhannya adalah awam. Beliau juga sering menyatakan: di kalangan mereka yang sering datang menemui aku, aku sangat kagum dengan Ibn ‘Arabi dibanding mereka semua.

Ketika ditanya apakah sebabnya begini, beliau menjawab, “kalian semuanya datang dengan sebagai diri kalian, membiarkan sebagian lainnya sibuk dengan urusan lain, sementara Ibn ‘Arabi adalah satu penenang bagiku, karena dia datang dengan keseluruhan dirinya. ketika dia berdiri, dia berdiri dengan keseluruhan dirinya, ketika dia duduk, dia duduk dengan keseluruhan dirinya, tidak membiarkan apapun dari dirinya ditempat lain. Inilah yang harus didalam perjalanan.”

Keseluruhan kehidupan Ibn ‘Arabi adalah spiritual.

Ibn ‘Arabi: Turning Point Tradisi Tasawwuf

Tasawwuf sebelum Ibn ‘Arabi banyak sekali terfokus pada bimbingan amali/praktis untuk para murid ataupun berbagai ungkapan Sufi yang mengekspresikan “al-ahwal” atau “al-maqam” atau pengalaman spiritual yang telah mereka alami. Tetapi dengan keberadaan Ibn ‘Arabi, tiba-tiba kita berahadapan dengan doktrin metafisik, kosmologi, termasuk psikologi dan antropologi yang sangat monumental, hingga menjadi “turning point” dalam tradisi tasawuf.

Ibn ‘Arabi telah mengekspresikan doktrin tasawwuf dalam bentuk dan formulasi teoretis. Doktrin Tasawwuf yang sebelumnya hanya secara “implicit” terkandung dalam kata-kata para masyayikh, ditangan Ibn ‘Arabi telah menjadi “explicitly formulated.” Ibn ‘Arabi telah menjadi “expositor” par excellence tasawwuf Islami.

Kata Seyyed Hossein Nasr;
“Through him the esoteric dimension of Islam expressed itself openly and brought to light the contours of its spiritual universe in such a manner that in its theoretical aspect, at least, it was open to anyone having sufficient intelligence to contemplate, so that he could in this way be guided toward the Path in which he could come to realize the metaphysical theories in an “operative” manner.”

Nasr melanjutkan lagi;
“The importance of Ibn Arabi consists, therefore, in his formulation of the doctrines of Sufism and in his making them explicit.”

Tetapi kemunculan Ibn ‘Arabi sama sekali tidak menandakan satu “kemajuan” dalam tasawwuf dengan menjadi lebih teoretis maupun “articulated.” Ia juga tidak menandakan kemunduran dari cinta Tuhan kepada satu bentuk panteisme. Malah dengan memformulasikan doktrin-doktrin Tasawwuf secara “explicit” oleh Ibn ‘Arabi, ia hanya menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu membutuhkan penjelasan dan klarifikasi yang lebih banyak, agar bisa memahaminya.

Poin yang ingin ditampakkan oleh Hossein Nasr adalah;
“..the need for explanation does not increase with one’s knowledge; rather, it becomes necessary to the extent that one is ignorant and has lost the immediate grasp of things through a dimming of the faculty of intuition and insight.”

Dengan kata lain, meng”eksplisitkan” doktrin metaphysic, hanya menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu sudah hilang akses pada fakultas intuisi dan batin. Maka itu mereka butuhkan penjelasan yang teoretis yang sangat elaboratif.

“The early generations needed only a hint or directive (isharah) to understand the inner meaning of things; men of later centuries needed a full-fledged explanation.”

Kata Nasr lagi;
“Through Ibn ‘Arabi Islamic esotericism provided the doctrines which alone could guarantee the preservation of the Tradition among men who were always in danger of being led astray by incorrect reasoning and in most of whom the power of intellectual intuition was not strong enough to reign supreme over other human tendencies and to prevent the mind from falling into error.”

Keberadaan doktrin metaphysic yang telah diformulasikan Ibn ‘Arabi bisa menjaminkan preservasi “authenticity” Tradisi Tasawwuf ditengah manusia-manusia yang sering berada dalam bahaya penyimpangan lewat pikiran yang tidak benar dan juga karena mereka sudah kehilangan akses pada intuisi intelektual.

“Through Ibn ‘Arabi, what had always been the inner truth of Sufism was formulated in such a manner that it has dominated the spiritual and intellectual life of Islam ever since.”

Melalui metafisik Ibn ‘Arabi, tasawwuf telah mendominasi kehidupan spiritual dan intelektual Islam sampai sekarang. Sekali lagi ingin ditegaskan disini, Ibn ‘Arabi telah menjadikan Esoterisme sebagai asas dan pusat dimensi fundamental malah esensial dalam Islam.

Karya-Karya Ibn ‘Arabi: Of Divine Origin

Ibn ‘Arabi tidak menulis seperti penulis biasa. Beliau pernah berkata;
“Apa yang telah aku tulis, tidak pernah tertulis dengan satu tujuan sebagaimana penulis-penulis yang lain. Sinaran-sinaran dari inspirasi Ilahi sering tersinar kepada aku dan hampir menyelubungiku, hingga aku hanya bisa mengekspresikannya dari pikiranku dan mencatat dikertas apa yang telah ditampakkan untuk aku. Jika tulisan ku tampak berupa sebuah komposisi, itu terjadi tanpa disengajakan.

Sebagian karyaku, telah aku tulis karena perintah dari Tuhan, yang telah disampaikan kepada aku di dalam mimpi atau melalui kasyaf. Qalbuku berpaut di pintu Hadarat Ilahi, menunggu dengan penuh kesadaran apa yang akan datang ketika pintu itu terbuka. Qalbuku faqir dan membutuhkan, kosong dari segala ilmu. Ketika sesuatu mulai tampak kepada qalbu dari balik tirai, qalbu segera mentaatinya dan mencatatnya dalam batasan yang sudah ditentukan.”

Karya Ibn ‘Arabi yang terbesar dan ensiklopedis adalah Futuhat al-Makkiyyah. Kitab ini mempunyai 560 bab yang membicarakan prinsip-prinsip metafisik dan berbagai ilmu sacral dan juga tercatat didalamnya pengalaman-pengalaman spiritual Ibn ‘Arabi. Futuhat, tegas Ibn ‘Arabi, bukanlah satu karya individualis, tetapi;

“Ketahuilah bahwa susunan bab-bab didalam Futuhat bukanlah hasil dari pilihanku sendiri maupun dari pikiranku. Sebenarnya, Tuhanlah yang telah mendikte kepadaku semua yang telah aku tulis lewat malaikat inspirasi.”

Nasr menjelaskan tentang isi Futuhat;
“the Futuhat contains, in addition to the doctrines of Sufism, much about the lives and sayings of the earlier Sufis, cosmological doctrines of Hermetic and Neoplatonic origin integrated into Sufi metaphysics, esoteric sciences like Jafr, alchemical and astrological symbolism, and practically everything else of an esoteric nature which in one way or another has a found a place in the Islamic scheme of things.”

Fusus al-Hikam, menurut Ibn ‘Arabi adalah pemberian dari Nabi sendiri.
“Amma ba’du, aku telah melihat Rasulu Llah shollahu ‘alaihi wa sallam, dalam satu “mubasysyirah”, yang telah diperlihatkan kepada aku disepuluh hari terakhir dibulan Muharram pada tahun 627 di kota Damisyq. Dan di tangan beliau, ada sebuah kitab. Beliau berkata kepadaku: Ini adalah kitab Fusus Al-Hikam. Ambillah ia dan sampaikanlah ia kepada manusia dan manfaatkannya. Dan aku berkata: Aku dengar dan aku taat Allah dan RasulNya dan Ulil Amr dari kalangan kami sebagaimana yang telah diperintahkan kepada kami.”

Jelas dari kalimat Ibn ‘Arabi, kitab Fusus al-Hikam bukanlah karya beliau sendiri. Tetapi “essentially” ia adalah kitab “of Divine origin.” Ibn ‘Arabi sekadar menyatakan kitab tersebut dalam bentuk tulisan.

“Maka aku pun mengaktualisasikan pesan tadi, dan mengikhlaskan niat, serta memfokuskan keinginan dan aspisari untuk menyatakan kitab tersebut sebagaimana yang telah ditentukan oleh Rasulu Llah shollallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa penambahan dan pengurangan.”

Tentang nama kitab ini, Qaysari menafsirkan ketika Ibn ‘Arabi memberitahu; “Ini adalah kitab Fusus al-Hikam”, ada kemungkinan disini beliau ingin memberitahu bahwa nama kitab tersebut disisi Allah adalah sebagaimana yang disebutkan, maka itu Nabi menamakan kitab itu sesuai dengan namanya disisi Allah. Dan sudah tentu antara “nama” (al-ism) dan “yang dinamakan” (al-musamma) akan ada munasibah atau relasi. Dan namanya menandakan bahwa “yang dinamakan” adalah “quintessence” hikmah-hikmah dan rahasia yang telah diturunkan kepada arwah para anbiya’ yang disebut dalam kitab itu.

Al-Fass juga berarti tempat terletaknya batu-cincin atau cap-cincin (seal). Karena qalbu insan kamil adalah tempat tertulisnya hikmah Ilahiyyah, maka itu qalbu diumpamakan sebagai al-fass. Dari itu kata “Fusus al-Hikam” berarti tempat terletaknya batu-cincin yang bernilai atau dengan kata lain, ia adalah qalbu-qalbu insan kamil yang terletak dan terkandung didalamnya hikmah dan rahasia Ilahiyyah. Dan insan kamil di sini direpresentasi dengan para anbiya’, yang mana qalbu mereka adalah ‘tempat’ termanifestasinya hikmah Ilahiyyah.

Metafora tentang tempat yang terletak didalamnya batu-batu bernilai, mengisyaratkan kepada kemanusiaan seseorang nabi sekadar mana dia adalah penerima (recepient) hikmah Ilahiyyah. Namun kata Titus Burckhardt;
“this aspect of symbolism, which corresponds to the human appearance of things, is to be found compensated and as if enlarged by the formula that Ibn ‘Arabi adopts for the titles of the various parts of his book: ‘The setting of the Divine Wisdom in the Word of Adam’, ’The setting of the Wisdom of Divine Inspiration in the Word of Seth’, ‘The setting of the Wisdom of Transcendence in the Word of Noah’ etc. According to these expressions, the setting, that is to say the individual form of the prophet, is in its turn contained in the Word (al-kalimah), which is the essential and Divine Reality of this same prophet; in fact by its ‘active’ identification with the Divine Wisdom, each prophet is an immediate determination of the eternal Word, which is the primordial ‘enunciation’ of God.”

Menurut kalimat Ibn ‘Arabi, hikmah Ilahiyyah ditempatkan di dalam al-fass atau qalbu nabi. Kemudian dengan kalimat “Fassu Hikmatin Ilahiyyatin fi kalimatin Adamiyyah”, mengisyaratkan bahwa seluruh al-fass pula terletak didalam al-kalimah. Ternyata ada dua ‘tempat’ disini. Satunya al-fass dan yang satu lagi adalah al-kalimah.

Menurut keterangan Titus Burckhardt al-fass adalah “the individual form of the prophet” sementara “al-kalimah” adalah “the essential and Divine reality of the same prophet.” Malah dalam identifikasi ‘active’ setiap nabi dengan Hikmah Ilahiyyah, atau dengan kata lain penyatuan aktif nabi dan Hikmah Ilahiyyah (secara ilmu hudhuri), setiap nabi adalah determinasi (al-ta’ayyun) Kalimat Ilahiyyah. Sementara Kalimat Ilahiyyah adalah dhikr primordial Tuhan.

“It is the ‘words’ which contain the ‘settings’, for it is the individual who is contained by the universal and not inversely, in spite of human appearances. Every prophet, as Perfect Man, ‘contains’, then, himself, since he ‘contains’ the Divine Wisdom, and in relation to his interior and ‘supra-individual’ reality he ‘is’ this Wisdom; now, this latter contains the perfect humanity of the Man-God, and it is this aspect of things which corresponds to the ontological reality, without annulling, however, the ‘reality’ which is apparent from the human point of view.”

Al-kalimah yang sebenarnya mengandungi al-fass, karena yang individual yaitu “al-juz’i” yang akan terkandung didalam yang universal yaitu “al-kulli” dan tidak sebaliknya. Dengan kata lain, manusia dalam derajat individual yang terkandung didalam manusia derajat universal. Ketika terjadi penyatuan antara manusia individual dengan Hikmah Ilahiyyah, manusia itu adalah determinasi Kalimat Tuhan. Maka itu setiap nabi sebagai Insan Kamil mengandungi dirinya sendiri yaitu diri individualnya karena ia mengandungi Hikmah Ilahiyyah. Dan berkaitan dengan diri universal dan esensialnya pula, dia adalah identik dengan Hikmah tersebut. Sekali lagi saya mahu menegaskan, secara lahiriah kelihatannya manusia yang mengandungi Hikmah Ilahiyyah tetapi sebenarnya Hikmah Ilahiyyah yang mengandungi manusia.

Selain dari dua kitab ini, Ibn “arabi telah menulis banyak sekali risalah-risalah tentang kosmologi seperti Insha al-Dawair (The Creation of the Spheres), ‘Uqlat al-mustawfiz (The Spell of the Obedient Servant), dan al-Tadbirat al-Ilahiyyah (The Divine Directions); mengenai metode praktis yang harus diikuti para murid dan salik tariqah, seperti al-Risalat al-Khalwah (Treatise on the Spiritual Retreat) dan al-Wasaya ( Spiritual Counsels); berkaitan berbagai aspek Al-Quran, termasuk simbolisme huruf-huruf, mengenai Asma’ dan Sifat Ilahiyyah, mengenai syariat dan hadith dan hampir semua yang berkaitan dengan urusan religius dan spiritual. Beliau juga pernah menulis syair sufi, seperti Tarjuman al-Ashwaq (The Interpreter of Desires) dan juga Diwan.
Menurut Osman Yahia, seorang intelektual Arab yang banyak mengkaji Ibn ‘Arabi, tulisan Ibn ‘Arabi terhitung sebanyak 850 yang dinisbahkan kepada beliau, 700 darinya masih ada tetapi sekitar 450 yang benar-benar asli.

Setelah mengembara selama hampir dua puluh tahun, menziarahi tempat-tempat seperti Jerusalem, Baghdad, Konya, Aleppo, Ibn ‘Arabi akhirnya menetap diDamaskus pada tahun 1223. Beliau telah menjadikan kota itu sebagai tempat permukimannya yang terakhir selama 17 tahun terkahir hidupnya.

Ibn ‘Arabi telah meninggalkan dunia ini pada tahun 1240 tanggal 10 November, (22 Rabi’u l-Tsani, 630 H), pada umur 76 tahun. Namun wilayah spiritualnya masih hidp dan tersebar luas didalam hati-hati para muridin dan salikin yang beraspirasi untuk bertemu dengan yang Maha Pengasih.

“Tuhan telah menyatakan Dirinya kepada batin diriku dan berkata kepadaku: “Nyatakanlah kepada hamba-hambaku apa yang telah kamu aktualisasikan tentang Kepemurahanku….kenapa hamba-hambaku harus putus asa dari RahmatKu sedangkan RahmatKu meliputi segala sesuatu.” [muhammad baqir]

Iklan

Responses

  1. Mas, teman saya lagi nyari kitab futuhat al makkiyah. Kira2 bisa beli di mana ya? mohon infonya..

  2. Selain anda bisa kunjungi perpustakaan UIN di seluruh Indonesia, coba anda hubungi Muhammad Baqir +6281586319928, atau Rahmat +628159700178.

  3. Saya jg mohon bantuan nya ,untuk minta tolong cari kan buku ibnu arabi Al futuhat makiyyah berterjemahn bahasa melayu/indonesia. Kalo berbahasa Inggris dan arab saya tau. Terima kasih atas bantuannya

    wassalam

  4. IBN ARABI WAS TRUE-VERY HIGH MAN OF GOD JUST LIKE RUMI-HAFIZ AND SHAMAS TABREZI-HIS “THEN ALL WAYS LEAD TO GOD” IS THE TRUTH-gfr.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: