Mistisisme dalam Iman Kristen

jesus.jpg

Oleh Sutjipto Subeno

Mistisisme merupakan gagasan filsafat Timur utama yang menjadi dasar pembentuk pikiran Gerakan aman Baru. Perkawinan dua filsafat Timur-Barat telah juga mempengaruhi iman Kristen. Ada beberapa hal yang menjadikan Kekristenan rentan terhadap pengaruh filsafat Gerakan Zaman Baru. Pertama, karena adanya ayat-ayat dalam Alkitab yang sepertinya bisa ditunggangi oleh Gerakan Zaman Baru (Yoh 15:1-8; 1 Yoh 2:6 dll.). Kedua, adanya sifat mistik juga di dalam kehidupan iman Kristen. Bahkan adanya pencetus pemikiran mistik di tengah-tengah tokoh-tokoh Kristen. Oleh karena itu, Kekristenan perlu secara khusus mempertimbangkan keberadaan Mistisisme di dalam sejarah dan pemikiran teologi Kristen sendiri.

PERKEMBANGAN MISTISISME DALAM KEKRISTENAN
Mistisisme di dalam konteks Kristen adalah suatu pikiran yang percaya bahwa pengenalan akan Allah atau bersekutu dengan Allah bukan melalui sarana-sarana tidak langsung (seperti melalui Alkitab), tetapi melalui relasi atau pengalaman langsung dengan Allah [George A. Mather dan Larry A. Nichols. “Mysticism” in “Dictionary of Cults, Sects, Religions and the Occult,” Grand Rapids, Michigan: Zonder van, 1993, hal. 200.]
Kekristenan tercemar oleh Mistisisme sejak dari awal timbulnya Kekristenan. Mistisisme masuk melalui pengaruh dari Neo-Platonisme. Mistisisme seringkali dikaitkan dengan istilah Misteri dalam iman Kristen, karena misteri dikaitkan dengan pengalaman mistis yang dihubungkan dengan hal-hal konkrit dan faktual.
Dalam pengembangannya, sifat mistik ini dikaitkan sampai penyatuan ekstasis dengan Realita Tertinggi. Struktur yang paling mendasar dari Misteri-Mistisisme Kristen ini dapat ditemukan dari sejak Bapa-Bapa Gereja sampai ke pemikiran Lady Julian dari Norwich, yang oleh Paul Tillich dikategorikan sebagai proses pewahyuan.
Di abad pertengahan, perkembangan Mistisisme terlihat kuat di arus Dominikan. tokoh-tokoh seperti Meister Eckhart, Henry Suso dll. telah mempengaruhi John Nider (meninggal 1438) dalam bukunya “Formicarus.” Nicholas Cusa (1401-1464) lebih banyak dipengaruhi oleh Neo-Platonisme. Di Itali, arus ini dikembangkan oleh Catherine dari Sienna (1374-1480). Di Inggris arus ini dikembangkan oleh Richard Rolle (1293-1349), Walter Hilton (meninggal 1396) dan Lady Julian Norwich.
Paul Tillich melihat ada dua elemen dasar dalam pengertian mistis ini, yaitu:
(1) pertama-tama adanya “peristiwa tanda-tanda” yang betul-betul terjadi di dalam sejarah (suatu situasi yang konkrit, khususnya berkaitan dengan manusia dengan obyek di luar); dan
(2) persepsi dari hal-hal khusus yang konkrit ini sebagai suatu tanda yang merupakan hasil dari ekstasis. Ekstasis ini bukan sekedar suatu pengalaman, realisasi antisipasi yang kuat untuk kebenaran tertentu, atau suatu analisa ilmiah. Tetapi suatu perubahan pikiran yang khusus dan memiliki cirinya sendiri yang kokoh.

BERNARD OF CLAIRVAUX
Bernard dari Clairvaux (1090-1153) dapat dianggap sebagai representatif Mistisisme Kristen. Dengan melawan Abelaard, Bernard menggeser Kekristenan dari sifat obyektif menjadi subyektif. Jika Abelaard menekankan akan peranan rasio, maka ia menekankan pengalaman mistis. Pengalaman ini didasarkan pada iman, dan iman dimengerti sebagai antisipasi kehendak. Iman diciptakan oleh Roh ilahi, dan pengalaman yang mengikuti mengkukuhkannya.
Bagi Bernard, ada tiga tahapan bagi seseorang melangkah masuk ke dunia Mistik, yaitu: (1) mempertimbangkan, dimana seseorang mulai melihat hal itu dari luar; hal-hal itu masih tetap menjadi obyek dari subyektivitas orang itu; (2) merenungkan, yaitu turut mengambil bagian di dalam “kuil”, masuk ke dalam kekudusan dari yang kudus; dan (3) excessus, yaitu keluar dari diri sendiri, suatu sikap melampaui keberadaan yang normal, sesuatu di mana manusia didorong melampaui dirinya sendiri tanpa kehilangan dirinya sendiri. Ini juga disebut sebagai “raptus”, yang artinya: “telah tergapai.” Pada tingkat ketiga ini manusia telah melompat masuk ke dalam keilahian, bagaikan setitik anggur yang jatuh ke dalam segelas anggur. Substansinya masih ada, tetapi bentuk dari tetesan pribadi itu telah menyatu ke dalam rangkulan bentuk ilahi. Ia tidak kehilangan identitas pribadinya, tetapi ia telah menjadi bagian dari realita ilahi. Gagasan Bernard ini sangat mirip, kalau tidak mau dikatakan sama, dengan pandangan filsuf Yunani Heraklitos (meninggal 480 BC) di dalam konsep Logos dan logikosnya.
Logikos adalah cipratan Logos yang akan menyatu kembali dengan Logos utama. Ide sejenis juga kemudian muncul di dalam pandangan Gotthold Wilhelm Leipniz (1646-1716) di dalam teori Monadologinya. Paul Tillich menganggap bahwa Mistisisme Konkrit dari Bernard masih berada di dalam batasan tradisi Kristen, karena ia melihat bahwa Paulus juga berasumsi sedemikian, yaitu bahwa Allah akan menjadi semua di dalam semua. Pikiran Bernard Clairvaux ini sedikit banyak mempengaruhi pikiran Martin Luther.

PERLAWANAN TERHADAP MISTIK KRISTEN
Selanjutnya, Tillich melihat adanya salah mengerti dari Ritschl tentang Mistisisme abad pertengahan. Mistisisme dalam teologi Kristen tidak bisa disamakan dengan Mistisisme Asia atau Mistisisme Neo-Platonis. Bagi tokoh-tokoh Skolastik, Mistisisme berarti pengalaman pribadi. Dogma dasarnya adalah kesatuan dengan yang ilahi melalui praktek-praktek ibadah, doa, perenungan dan asketisme. Dan ini merupakan ciri dari Skolastiksisme.
Sekalipun bagi Paul Tillich, Mistisisme Skolastik berbeda dari Mistisisme Asia dan Neo-Platonis, namun ciri-ciri Mistisisme Skolastik memiliki banyak kemiripan dengan keduanya, bahkan beberapa tokoh Kristen abad pertengahan juga dipengaruhi oleh Neo-Platonis. Oleh karena itu, banyak tokoh Kristen yang juga melawan masuknya Mistisisme di dalam iman Kristen.
Permusuhan terhadap Mistisisme ditimbulkan oleh beberapa alasan. Argumen-argumen bisa ditelusur mundur sampai pada pandangan Luther yang banyak dipengaruhi oleh Bernard dari Clairvaux, seperti yang telah diungkapkan di atas. Alasan-alasan utama menentang Mistiksime antara lain:
(1) terlalu bersifat doktrin karya, yaitu keselamatan seseorang merupakan kerjasama antara Allah dan manusia. Dalam gagasan ini seseorang bisa turut mempengaruhi keselamatan dan pencerahan dirinya;
(2) gagasan ini tidak melihat dosa sebagai kejahatan moral, tetapi sekedar hanyalah suatu kelemahan atau kekurangan-mengertian, sehingga penebusan tidak bergantung pada tindakan pendamaian Allah, tetapi pada suatu proses iluminasi atau pencerahan progresif;
(3) pikiran ini sangat jauh dari keterikatan dengan prinsip inkarnasi secara historis dan perkembangannya, Gereja dan sakramen-sakramen;
(4) Ia bersikap terbuka terhadap etika dan memegang sejenis asketisme, yang pada dasarnya merupakan penyangkalan terhada p doktrin penciptaan Kristen;
(5) ajaran Mistisisme Kristen ini juga tidak sesuai dengan eskatologi Kristen, karena sifat mistik berhubungan erat dengan sifat beatifik, yaitu penglihatan akan hal-hal yang akan datang di dalam pengalaman mistik seseorang secara pribadi. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka iman Kristen harus membedakan antara Mistisisme di dalam Kekristenan dengan sifat Misteri di dalam iman Kristen yang dimengerti oleh Bapa-Bapa Gereja.

KESIMPULAN
Iman Kristen harus sangat berhati-hati menghadapi perkembangan Mistisisme. Ungkapan “Misteri” dari Bapa Gereja, beberapa ayat-ayat di dalam Alkitab yang mengungkapkan imanensi Allah dan kesatuan mistis antara umat Allah dan Allah sendiri, tidak dapat dipersamakan dengan gagasan Mistisisme, baik Mistisisme Asia, Mistisisme Neo-Platonis, maupun Mistisisme Konkrit.
Alkitab mengajarkan bahwa Allah (dalam hal ini Roh Kudus) memang tinggal di dalam diri orang percaya, sehingga terdapat kesatuan antara Allah dan manusia (Yoh 15:1-8; Rom 8:9-17). Tetapi sekaligus ayat-ayat itu juga membedakan Allah dan manusia. Ketika terjadi persekutuan antara Allah dan manusia, manusia tidak pernah mendapatkan natur ilahi. Tidak pernah terjadi peleburan secara mistis antara Allah dan manusia.
Alkitab tidak pernah memberikan gagasan bahwa manusia akan melebur dengan Allah, bagaikan setetes anggur menyatu dengan anggur di dalam gelas. Peter Angeles di dalam kamusnya membedakan terminologi Mistisisme ke dalam dua bagian, yaitu: penyerapan total dan penyerapan bagian. Di dalam penyerapan total, maka “saya” terserap seluruhnya ke dalam Yang Semua (Yang Esa) itu, sehingga tidak lagi terdapat perbedaan subyek-obyek lagi. Di sini tidak lagi dibedakan antara pribadi yang mengalami dengan pengalaman itu sendiri.
Sedangkan pada penyerapan bagian, maka “saya” ini harus berhadapan dengan Yang Semua (Yang Esa) itu. Pada keadaan ini, maka pribadi itu berdiri dengan jarak tertentu di hadapan Yang Semua. Ada kesadaran perbedaan antara diri yang mengalami dengan pengalaman itu sendiri. Dalam kasus ini, pengertian Mistisisme bisa sangat dekat atau sama dengan pengertian “Misteri kesatuan antara Allah dan manusia” yang ada di dalam Kekristenan. Kesamaan terminologi dengan dua pengertian seperti ini perlu diperjelas.[Sutjipto Subeno]

DAFTAR PUSTAKA
Angeles, Peter A. Dictionary of Philosophy, New York, New York:
Harper & Row, 1981.
Dowley, Tim. The History of Christianity, Oxford: Lion Publ., 1990.
Flew, Anthony. A Dictionary of Philosophy, London: Pan Books, 1979.
Geisler, Norman dan Feinberg, Paul D. Introduction to Philosophy: A
Christian Perspective, Grand Rapids, Michigan: Baker, 1992.
Tinsley, E.J. “Mystery” in The Westminster Dictionary of Christian
Theology, ed. Alan Richardson dan John Bowden, Philadelphia,
Pennsylvania: Westminster Press, 1969.
Tinsley, E.J. “Mysticism” The Westminster Dictionary of Christian
Theology, ed. Alan Richardson dan John Bowden, Philadelphia,
Pennsylvania: Westminster Press, 1969.
Tillich, Paul. A History of Christian Thought, New York, New York:
Simon & Schuster, 1968.
=========================================================
Source: http://www.xs4all.nl/~noes/bahasa/mistik.htm

Iklan

One comment

  1. bagaimana membedakan bahwa bsisikan-bisikan yang kita terima itu berasal dari tuhan atau setan?
    bisa jadi ada orang yang mendapat bisikan atau penampakan dari jesus kemudian memerintahkan dia untuk merubah keyakinannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s