Oleh: MAULA | Desember 3, 2007

Karen Armstrong: Pluralisme adalah Agama Abad Ke-21

karen.jpg
Beberapa waktu lalu, Karen Armstrong memberikan kuliah umum di MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura), Singapura. Ia adalah pembicara seminar, kolomnis dan penulis terkemuka dalam bidang keagamaan yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Kajian awalnya adalah tentang Yudaisme, Kekristenan, dan Islam, yang kemudian berkembang ke kajian-kajian agama timur.

Kuliah umum Armstrong memberikan inspiratif bagi pendengarnya di Singapura, berlangsung kira-kira satu jam dan diikuti dengan sesi tanya jawab yang dilakukan sekitar setengah jam. Kuliah terfokus pada tiga tema utama.

1. Sekularisme dan Dampaknya pada Masyarakat Muslim
Di Eropa, pemisahan gereja dan negara –atau sekularisme, terjadi berabad-abad. Ia berlangsung dalam proses lambat, melibatkan banyak perubahan dalam pola pikir, mengecilkan pengaruh agama, dan kemunculan modernisasi —khususnya industrialisasi dan urbanisasi— yang membantu memperlemah ikatan-ikatan keagamaan.

Bagaimanapun, situasi tersebut di negeri-negeri Muslim sangatlah berbeda. Proses sekularisasi dipaksakan dengan keras karena kolonisasi dan dalam kurun waktu 50 tahun, sebagian besar negeri-negeri Muslim telah menjadi negara-negara sekuler. Orang-orang di negeri ini pindah dan meninggalkan proses modernisasi.

Mereka tidak melihat modernisasi dan sekularisasi sebagai kekuatan pembebas karena mereka dipaksa untuk menanggalkan kebudayaan dan jalan hidup mereka. Karena itu, menurut masyarakat tersebut sekularisasi dipandang sebagai mematikan.
Meski demikian, masyarakat sekular Barat mampu untuk mengembangkan nilai-nilai keadilan dan moralitas. Pada awal abad ke-20, Mufi Agung Muhammad Abduh berkunjung ke Paris. Ketika kembali, ia menyaksikan bahwa di Prancis, “Saya melihat Islam tapi tidak melihat Muslim. Di Mesir saya melihat Muslim tetapi tidak melihat Islam.”

Ini adalah observasi yang luar biasa. Ia mengingatkan kita bahwa tidaklah cukup untuk menekankan merek “Islam” pada sebuah negeri kecuali jika persoalan keadilan sosial, kemampuan orang untuk berikut serta dalam pemerintahan dan eksistensi ekonomi yang sejahtera yang merupakan fundamental bagi prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang ditegakkan.

2. Agama Abad 21 Menuju Pluralisme
Apakah bentuk agama dan spiritualitas di abad ke-21? Armstrong percaya bahwa berbagai orang akan membutuhkan cara-cara yang berbeda untuk mengekspresikan spiritualitas mereka, karena itu ide ‘agama dunia’ tunggal yang menyatukan seluruh sistem kepercayaan tidaklah tepat.

Sebaliknya, ia menyatakan bahwa pluralisme bisa menjadi jawaban atas agama di abad ke-21. Pluralisme mengimplikasikan pembentukan iman secara kuat pada seseorang sementara pada saat yang sama mempelajari dan menghargai jalan orang yang memiliki keyakinan lain, dan memahami bagaimana mereka ingin dipahami.

Yang menarik, al-Quran, imbuhnya, tepat untuk dunia pluralisme, tidak seperti agama lain. Ayat-ayat berikut melukiskan gambaran berikut.

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (QS 29:46)

Secara sejarah, Islam juga mempunyai catatan penghormatan yang bagus kepada keyakinan-keyakinan lain. Di Spanyol Muslim, hubungan antara tiga agama Ibrahim, secara unik berdampingan harmonis di Eropa pertengahan. Kerajaan Bizantium Kristen telah melarang Yahudi untuk tinggal di Yerusalem, namun ketika Khalifah Umar menaklukkan kota itu pada 638 Masehi, ia mengajak mereka kembali.

Tujuan pluralisme adalah mengkolaborasikan dan menghimpun kekuatan-kekuatan kita yang berbeda demi kepentingan yang mulia.

Karen Armstrong mengutip teladan bagaimana kaum Kristen bisa berharap untuk menarik pelajaran dari kaum Muslim untuk berfokus pada praxy—praktik—ketimbang doxy—teologi.

Di sisi lain, kaum Muslim bisa belajar dari antusiasme dan metodologi evangelikalisme Kristen. Dari perspektif ini, untuk dialog pluralisme yang efektif, orang-orang mesti memiliki keterbukaan pada kemungkinan menemukan keindahan dan kebenaran dalam agama-agama lain.

Hidup dengan Aturan Emas
Tema lainnya yang sering dilontarkan dalam tulisan dan kuliah Armstrong bernilai kasih sayang. Pada akhirnya, ia yakin, saripati spiritualitas dan agama adalah kemanusiaan dan kasih sayang. Ia menuturkan kisah Rabbi Hillel yang diminta untuk membaca seluruh isi Taurat dengan berdiri pada satu kaki. Ia menyatakan: “Apa yang kamu membuatmu benci, jangan kau lakukan kepada orang lain. Itulah inti Taurat, sisanya komentar.” Ini dikenal dengan Aturan Emas dan ini merupakan komponen kehidupan yang esensial dalam milenium ini.

Bagi Armstrong, uji religiositas terbaik adalah sederhana: jika keyakinan orang-orang menjadikan mereka agresif, intoleran, dan tidak ramah terhadap keyakinan orang lain, maka itu bukanlah agama yang benar. Di sisi lain, jika keyakinan mereka mengarahkan mereka untuk berlaku kasih sayang dan menghormati orang asing, maka ia adalah agama yang baik.

Islam berusaha membentuk suatu masyarakat yang adil dan bermoral sementara kesejahteraan orang papa dan lemah dilindungi. Armstrong mengingatkan kita untuk tidak membuat kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan orang—dengan memilih yang benar ketimbang kasih sayang dan menggunakan nama Tuhan untuk mendukung pandangan mereka.

Di dunia sekarang, yang secara cepat, mengecil, di mana kejadian-kejadian di Gaza berpengaruh ke New York dan London, kita perlu menerapkan kasih sayang sebagai suatu Aturan Emas jika kita ingin hidup bersama secara harmonis dan memiliki peradaban damai.[]

(Diterjemahkan oleh Arif Mulyadi dari Jamari Mohtar, “The Role of Religion in the New Millennium” dalam Nadi, vol. 03, th. 2007)

Iklan

Responses

  1. Karen Amstrong: Pluralisme adalah Agama Abad ke-21: cara pembahasannya disempurnakan oleh Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran acuan:
    SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. If you’re interested in Karen Armstrong, you might want to look at her latest interview on Pakistan, Islam and secularism in the Reuters religion blog FaithWorld — http://blogs.reuters.com/faithworld.

  3. Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388

  4. Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”

    Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal:
    P.T. BUKU KITA
    Telp. 021.78881805
    Fax. 021.78881860

  5. Soegana Gandakoesoema Telepon/Fax 02177884755 HP. 085881409050


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: