Oleh: MAULA | Desember 6, 2007

Prof. DR. Kautsar Azhari Noer: Klaim Penyesatan itu Subjektif

islam_europe.jpg

Maula (M): Bagaimana pandangan Anda tentang internal umat Islam Indonesia dewasa ini?

Kautsar Azhari Noer (KAN): Kondisi sekarang belum lebih baik dari masa sebelumnya. Kita belum pernah lepas dari masalah sesat menyesatkan. Klaim penyesatan itu sendiri sebenarnya adalah subjektif. Sesat menurut siapa? Bagi kelompok yang sudah mapan, kehadiran kelompok baru tentu mudah dinilai sesat. Atau, bagi kaum mayoritas, minoritas itu bisa dituding sesat. Hegemoni mayoritas ini tidak hanya berlaku bagi yang baru muncul, tapi juga meliputi segala macam keyakinan terdahulu namun minoritas, seperti kebatinan, Syiah, Ahmadiyah, Konghucu, dll.

Saya melihat ada dua persoalan dalam hal ini. Yang pertama adalah siapa pihak yang berhak menyesatkan dan tidak menyesatkan. Ini subjektif. Apabila kita kembali ke Quran, setidaknya ada tiga unsur yang menentukan keabsahan suatu mazhab, agama, atau keyakinan apa saja, yaitu bahwa ia beriman kepada Tuhan YME, hari akhir, dan beramal saleh. Apabila mereka memiliki ketiga hal tersebut, saya tidak berani mengatakan mereka sesat. Quran juga menyebutkan, hanya Tuhan yang berhak mengadili. “Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya” (QS. 22:69).

Dalam sejarah Islam, persoalan sesat menyesatkan sudah berlangsung lama. Ibn Rusyd pernah disesatkan. Masalah kemakhlukan Quran juga pernah dipersoalkan Bani Abbasiyah karena penguasa saat itu berpaham Muktazilah. Juga Al-Hallaj, Bayazid al-Bustami dan Suhrawardi al-Maqtul disesatkan banyak ulama. Kenyataannya, pandangan dan karyanya dipuji-puji. Jalaluddin Rumi banyak memujinya. Jangan-jangan Anda juga menuduh Rumi sesat? Saya sendiri tentu lebih ikut Rumi daripada sejuta ulama biasa.

Sesat oleh sekelompok orang belum tentu sesat menurut kelompok lain. Saya tidak berani menilai. Apa yang kita anggap sesat bisa jadi lain di mata Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengadilinya.

Yang kedua adalah tentang kebebasan beragama. Masalah ini dijamin oleh Tuhan sendiri. “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. 2:256). Tidak ada yang berhak memaksakan. Walaupun di mata kita orang itu sesat, kita cuma bisa berdakwah sesuai dengan batas pengetahuan kita. Tidak boleh melakukan tindak kekerasan ataupun intimidasi dalam bentuk apa pun.

Al-Quran jelas-jelas mengatakan bahwa rasul itu cuma menyampaikan. “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Mahaesa dan Maha Mengalahkan” (QS. 38:65). Atau “Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)” (QS. 79:45).

Kalau mereka menolak atau berpaling dari rasul, ya tidak masalah. Kewajiban rasul pun telah usai. Dia hanya menyampaikan. Banyak ayat yang menyatakan bahwa ada orang yang yang sesat dan tidak mau beriman itu juga atas kehendak Tuhan. Tuhan yang bilang sendiri, kok kita yang repot?

M: Bukankah berdakwah itu wajib?

KAN: Berdakwah memang wajib. Tapi kalau orang tidak mau menerima, ya juga gak masalah, kan? Kenapa sih, kita lebih berkuasa dari Tuhan?

Inilah yang harus dipisah antara masalah keimanan dan kriminial. Orang bisa dihukum kalau berbuat kriminial atau merongrong kedaulatan negara.

Tuhan memberi kebebasan dalam beragama supaya iman itu tulus. Apabila seseorang beriman karena habis digebukin, itu namanya bukan beriman, tapi dipaksa. Nah, pemaksaan inilah tindakan kriminal.

Persoalan ini sebenarnya sederhana, hanya kita sendiri yang membuatnya rumit. Kita memang wajib berdakwah. Tapi orang tidak menerima ya sudah. Musailamah al-Kadzab dulu diperangi karena ia telah menyusun pasukan, bahkan sebelum dia proklamirkan diri sebagai nabi. Ini murni makar, pemberontakan, bukan masalah keagamaan. Apabila dia hanya mengaku sebagai nabi, biarkan saja, anggap saja dia itu orang gila.

M: Bagaimana prospek kerukunan antar mazhab dan agama ke depan?

KAN: Masih menyedihkan. Tapi kita mesti berjuang terus. Ini terkait erat dengan pendekatan hukum. Sampai saat ini, isu agama masih acap dijadikan komoditas politik. Saya kira ini tidak hanya terjadi di Indonesia aja, tapi juga tempat lain seperti di India untuk kasus Hindu-Islam, Pakistan dan Irak untuk Sunnah-Syiah.

Mengapa bisa terus terjadi? Karena orang menjadikan agama sebagai identitas, bukan sebagai kualitas sikap. Kita tidak akan ribut kalau melihat kualitas atau esensi setiap agama. Pandangan ini umumnya didukung oleh kaum esoterik. Kulit (agama formal) sih bisa macam-macam. Kita berantem karena kulit. Sampai kiamat pun kita akan berantem terus. Akhirnya, agama menjelma menjadi sumber kebencian, bukan sumber kasih sayang.[andito]

Iklan

Responses

  1. Perpecahan dalam satu agama adalah sesat sampai kiamat menurut Al Mu’minuun (23) ayat 53,54
    Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi
    Untuk jelasnya miliki dan baca
    Buku Panduan
    “Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika”
    Bonus ” Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesatuan Agam”
    Penulis Soegana Gandakoesoema
    Tersedia di
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A3,
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

    Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: