Oleh: MAULA | Desember 11, 2007

Tuhan dan Roti

child-pray.jpg

 

Ibu: “Tahukah engkau bahwa Tuhan ada di sana ketika engkau mencuri roti dari dapur?”

“Ya”

“Dan Ia mengawasimu sepanjang waktu?”

“Ya”

“Kaupikir, apa yang Ia katakan kepadamu?”

“Ia berkata, ‘Tidak ada orang lain di sini, hanya kita berdua – ambillah dua’.”[]

 

Gereja Hutan

Pada suatu waktu dulu, ada hutan, di mana burung-burung bernyanyi di waktu siang, dan serangga di waktu malam. Pepohonan tumbuh segar dan bunga-bunga berkembang dan segala macam mahkluk berkeliaran dalam kebebasan.

Dan semua orang, yang masuk di dalamnya, masuk dalam kesunyian, tempat kediaman Tuhan, yang bersemayam dalam keheningan dan keindahan alam.

Tetapi kemudian tiba masa ketidak-sadaran, ketika menjadi mungkin bagi orang untuk membangun gedung seribu kaki tingginya dan merusak sungai dan hutan dan gunung dalam sebulan. Lalu rumah-rumah ibadat dibangun dari kayu-kayu hutan dan dari batu-batu di bawah tanah hutan. Kubah, menara dan puncak menara menjulang tinggi di langit. Udara penuh dengan suara dan lonceng, dengan doa dan nyanyian dan khotbah.

Dan Tuhan tiba-tiba tak punya rumah.[]

 

Naik ke Surga Atau Mati

Seorang pastor masuk ke tempat minum dan menjadi marah karena ada banyak sekali anggota jemaahnya yang ada di sana. Ia mengumpulkan mereka dan membawa masuk ke gereja.

Kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Semua yang ingin masuk surga, maju ke sebelah kiri.” Semua maju ke sebelah kiri, kecuali satu orang yang tetap tinggal di tempatnya.

Pastor memandang orang itu dengan galak dan berkata, “Engkau tidak ingin masuk surga?” “Tidak,” kata orang itu.

“Apakah engkau bermaksud tetap berdiri di situ dan mengatakan kepada saya bahwa engkau tidak ingin masuk surga kalau engkau mati?”

“Tentu saya ingin masuk surga kalau saya mati. Saya pikir pastor mau ke surga sekarang!”[]

Putra Seorang Rabbi Menjadi Kristen

Rabbi Abraham hidup sebagai teladan. Dan ketika tiba waktunya, ia meninggalkan dunia ini, diiringi puji berkat jemaahnya, yang telah menganggap dia sebagai orang suci dan sumber penyebab utama semua berkat, yang mereka terima dari Tuhan.

Tidak lain di seberang sana, sebab para malaikat keluarga menyongsong dia dengan sambutan puji-pujian. Selama pesta itu rabbi nampak menunduk dan sedih. Ia memegang kepala di tangannya dan tidak mau dihibur. Ia akhirnya dibawa di hadapan Tahta Pengadilan, di mana ia merasa diliputi Cintakasih agung yang tanpa batas dan ia mendengar Suara lembut-mesra tiada taranya berkata, “Apakah yang membuat engkau sedih, putraku?”

“Tuhan Yang Tersuci,” jawab rabbi, “Aku tidak layak akan semua kehormatan, yang dilimpahkan padaku ini. Meski aku dianggap teladan bagi umat, tentu ada sesuatu yang keliru di dalam hidupku, sebab anakku tunggal, tak peduli teladan dan ajaranku, meninggalkan kepercayaan kami dan menjadi seorang Kristen.”

“Jangan ini merisaukan engkau, anakku. Aku tahu betul bagaimana perasaanmu, sebab aku punya anak, yang berbuat hal yang sama.”[]

 

Awas, Kalau Kulihat Kau Berdoa

Gereja atau Sinagoga itu harus mengumpulkan dana untuk bisa berjalan. Nah, ada sebuah sinagoga Yahudi di mana orang tidak mengedarkan peti dana seperti di gereja-gereja Kristen. Cara mereka mencari dana dengan menjual karcis tempat pada hari Pesta-pesta besar, sebab di situ jemaat yang datang banyak dan orang bersikap murah hati.

Pada hari seperti itu anak kecil datang ke Sinagoga untuk mencari ayahnya, tetapi petugas tidak mengizinkannya masuk, karena ia tidak punya karcis.

“Tetapi,” kata si anak, “ini perkara penting sekali.”

“Semua berkata begitu,” jawab petugas, tak tergerakkan.

Anak jadi putus-asa dan mulai mendesah: “Maaf tuan, biar aku masuk. Ini soal hidup atau mati. Hanya satu menit saja.”

Petugas melunak! “Yah, sudah, kalau penting sekali,” katanya. “Tetapi awas, kalau kulihat engkau berdoa.”

Agama teratur tertib, sayangnya punya banyak kelemahan juga.[]

+++

Source: Anthony de Mello SJ, “Doa Sang Katak 1”, Yogyakarta: Kanisius, Cet. 12, 1996).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: