Do You Really Want It?

telemarketing.jpg

Saya punya pengalaman menarik kemarin, saat dihubungi seorang Telemarketing, menawarkan kartu kredit. Berikut percakapan saya dengan dia, di mana saya, tidak seperti biasanya, meladeni dan benar-benar MENGUJI kemampuan dan determinasi sang penjual. Don’t get me wrong, saya bukannya iseng. Jika dia benar-benar menunjukkan dia ingin menjualnya ke saya, dan dengan effort yang mengagumkan saya, saya SUDAH MEMUTUSKAN untuk BELI!

AB : Kartu kredit kami mempunyai benefit demikian … Bla bla bla..
HN : Ok, begini, saya TIDAK BUTUH tambahan kartu kredit saat ini. Apakah ini pre-aprroved untuk saya atau apakah saya direpotkan lagi dengan keperluan administratif macam-macam?
AB : Oh, TIDAK, Pak! Bapak hanya butuh fotokopi kartu kredit Bapak dan KTP Bapak, dan hanya butuh tanda tangan formulirnya saja, saya akan isikan data untuk Bapak.
HN : Itu yang saya maksudnya dengan direpotkan. Bisakah hanya dengan saya SETUJU untuk dikirimkan, kartu langsung dikirimkan?
AB : Tidak bisa, Pak. Bapak tetap harus menantangani formulir aplikasinya, Pak. Dan kami harus punya fotokopi KTP dan Kartu Kredit Bapak
HN : Tapi saya tidak mau direpotkan oleh hal-hal seperti itu. Bukankah situ yang menawarkan ke saya? Tahu darimana data saya? Nama saya? Berarti sudah tahu kredibilitas saya, sehingga berani menawarkan ke saya kartu platinum?
AB : Saya hanya punya nama Bapak saja dan nomor telepon, Pak.
HN : Tapi kamu tahu status saya, atau data saya yang lain?
AB : Begini, Pak, apabila Bapak inginkan, kami bisa kirimkan kurir untuk mengantarkan dan menjemput formulir Bapak. Bisa Bapak sebutkan alamat Bapak?
HN : Begini, Mbak. Saya sudah katakan TIDAK MAU direpotkan urusan administratif. Dasarnya saya TIDAK BUTUH. Akan tetapi saya BISA SETUJU apabila Mbak mempermudah untuk saya.
AB : TAPI saya tidak punya alamat Bapak.
HN : Di kantor punya komputer, Mbak?
AB : Ya, Ada, Pak.
HN : Good. Ada sambungan Internet?
AB : Emh, ada, Pak. TAPI di bagian IT mungkin, dan saya tidak punya sambungannya.
HN : Saya tidak mau tahu itu, sekarang saya sudah membuka PELUANG untuk Mbak, dan saya mungkin MAU ambil kartu Mbak. Sekarang Mbak cari sambungan Internet, ketik nama saya di Google, Dan Boom! Nama dan alamat saya akan muncul di salah satu sumbernya! Kirimkan kurir Mbak ke alamat itu.
AB : Bapak sebutkan saja lewat telepon, Pak. Agar bisa langsung saya kirimkan.
HN : Mbak TIDAK MENDENGARKAN? Saya TIDAK MAU lakukan itu. Mungkin Mbak BISA LAKUKAN dari warnet selepas shift.
AB : Bagaimana kalau Bapak kasih alamat email saja, agar LEBIH MUDAH, Pak? Atau fax, agar saya bisa fax formulirnya dulu, sekarang?
HN : Mbak masih TIDAK MENDENGARKAN ………. dst.

Sampai di sini, mungkin para sahabat bisa menebak maksud saya. Kadang PELUANG ada di depan mata kita, tapi karena Kita sibuk mencari apa yang nyaman untuk kita sendiri, kita justru lebih MEMILIH mengambil resiko kehilangan PELUANG itu, daripada Kita direpotkan. Saya sudah tunjukan SINYAL MAU BELI, tapi si penjual terlalu sibuk mencari apa yang nyaman baginya untuk memproses account saya.

Saya akhirnya menutup pembicaraan dengan sedikit nasihat untuknya. Dan saya agak terkejut, ia menutup pembicaraan dengan SINYAL yang tidak gembira dari tone of voice-nya. Apakah dia akan lakukan apapun untuk mengejar account saya? Mungkin. Mungkin juga tidak.

Mungkin Kita perlu bertanya: “Apakah Kita BENAR-BENAR MENGINGINKAN yang Kita inginkan?” Karena kalau YA, apakah Kita bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkannya? Apakah Kita bersedia melakukan hal-hal di luar kebiasaan Kita untuk mencapainya? Apakah Kita mau mengeluarkan usaha ekstra? Apakah itu cukup berharga untuk Kita tambahkan usaha, waktu, dan uang?

Kalau YA, kenapa tidak Kita lakukan? S E K A R A N G ?

Saya teringat ungkapan Thomas Alfa Edison, yang kurang lebih seperti berikut. “Kesempatan muncul dalam wujud yang kelihatan oleh kebanyakan orang seperti pekerjaan tambahan”

So, do you really WANT it?

Source: http://imagejakarta.blog.co.uk/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s