Tuhan Akan Memelihara Sang Mesias

Seorang petani kaya lari masuk rumah di suatu hari dan berteriak-teriak dengan suara takut, “Rebecca, ada kabar menggemparkan di kota. Mesias ada di sini!”

“Apa yang menggemparkan?” tanya istrinya. “Aku berpendapat itu luar biasa. Engkau terkesima karena apa?”

“Terkesima karena apa?” seru si suami. “Setelah bertahun-tahun berjerih payah, kami akhirnya bisa makmur. Kami punya seribu ekor ternak, lumbung kami limpah gandum dan pohon-pohon penuh buah. Sekarang kami harus meninggalkan ini semua dan ikut dia.”

“Tenang dulu,” kata istrinya menghibur, “Tuhan kita itu Mahabaik. Ia tahu, betapa banyak kami orang Yahudi selalu harus menderita. Kami menghadapi Firaun, ada Haman, ada Hitler, selalu ada saja. Tetapi Tuhan yang baik tahu jalan untuk menangani mereka semua, bukan? Hanya percayalah suamiku tercinta. Ia akan tahu jalan menangani Mesias ini juga.”[]

APA YANG MENYEBABKAN ARTHRITIS

Seorang pemabuk dari desa itu dengan berjalan sempoyongan menemui pastor paroki. Dengan membawa surat kabar, ia memberi salam hormat. Pastor itu merasa terganggu dan mengabaikan salam itu karena orang itu sedang agak mabuk.

Namun ternyata ia datang dengan maksud tertentu. “Maaf, pastor,” katanya. “Tahukah pastor apa yang menyebabkan arthritis?” Pastor juga mengabaikan pertanyaan itu.

Tetapi ketika orang itu mengulangi lagi pertanyaannya, pastor itu dengan agak marah berpaling kepadanya dan berteriak, “Minuman keras menyebabkan arthritis! Berjudi menyebabkan arthritis! Pergi ke pelacuran menyebabkan arthritis …” Dan baru kemudian, sudah terlambat, ia bertanya, “Mengapa engkau tanyakan itu?”

“Karena dalam surat kabar ini dikatakan bahwa Paus menderita sakit arthritis!”[]

 

BERHATI-HATILAH

Imam mengumumkan, bahwa Yesus Kristus sendiri akan datang di Gereja Minggu berikutnya. Umat datang berbondong-bondong untuk melihat Dia. Setiap orang mengharapkan Ia akan berkhotbah.

Tetapi Ia hanya tersenyum, ketika diperkenalkan dan berkata: “Selamat.” Setiap orang mau menerima-Nya untuk bermalam, khususnya imam, tetapi Ia menolak dengan sopan. Ia berkata akan bermalam di gereja.

Memang wajar, pikir mereka semua.

Ia menghilang esok harinya, sebelum pintu gereja dibuka. Dan, ngeri rasanya, imam dan umat menemukan gereja porak-poranda. Tertulis di mana-mana pada dinding satu kata WASPADA. Tak ada bagian gereja yang terlewatkan, pintu dan jendela, pilar dan mimbar, altar. Bahkan pada Kitab Suci di atas standar: WASPADA. Coret-coret dengan huruf besar dan kecil, dengan pensil dan pena dan cat dalam berbagai warna. Ke mana mata memandang, orang bisa membaca. “WASPADA,”

waspada. Waspada, WASPADA, waspada, waspada.

 

Menjengkelkan. Buat marah. Mengacau. Menggelitik.

Menakutkan. Mereka diandaikan harus waspada apa? Itu tidak dikata. Hanya dikatakan, WASPADA. Dorongan pertama umat mau menghapus tiap bekas pengotoran ini, ini penghojatan. Mereka tertahan berbuat begitu, hanya karena berpikir bahwa Yesus sendiri yang melakukan perbuatan itu.

Kini kata misterius WASPADA mulai meresap dalam pemikiran umat, setiap kali mereka masuk gereja. Mereka mulai waspada terhadap Kitab Suci, hingga mereka bisa mengambil manfaat dari Kitab, tanpa jadi fanatik. Mereka jadi waspada terhadap sakramen, jadi mereka disucikan tanpa jatuh dalam kesia-siaan. Imam mulai waspada terhadap kekuasaannya atas umat, maka ia bisa menolong tanpa menguasai. Dan setiap orang jadi waspada terhadap agama, yang membuat orang tanpa sadar menjadi munafik. Mereka jadi waspada terhadap Hukum Gereja, lalu jadi patuh pada hukum, tetapi berbelas kasih terhadap si lemah. Mereka mulai waspada terhadap doa, hingga mereka berhenti mengandalkan diri sendiri. Mereka bahkan waspada terhadap pengertian mereka tentang Allah, maka mereka mengenali-Nya juga di luar batas-batas kesempitan Gereja sendiri.

Sekarang mereka malah menuliskan kata haram itu pada pintu masuk gereja. Dan kalau Anda lewat di waktu malam, Anda melihatnya gemerlapan di atas gereja dalam terang lampu neon berwarna-warni.[]

 

HATIKU TELAH MENCAPAI GUNUNG TERLEBIH DAHULU

Seorang pengembara tua sedang dalam perjalanan menuju pegunungan Himalaya pada musim dingin yang menggigit saat mulai hujan.

Seorang pengurus rumah penginapan berkata kepadanya. “Bagaimana engkau dapat sampai di sana dalam cuaca seperti ini, saudaraku?”

Pengembara tua itu menjawab dengan gembira: “Hatiku sudah lebih dulu sampai di sana, sehingga mudah bagi saya yang tersisa ini kemudian mengikutinya.”[]

TANDA SALIB ATAU CINTA

Seorang uskup memeriksa kelayakan kelompok calon untuk dibaptis.

“Dengan tanda apa orang bisa mengenal anda sebagai Katolik?” tanyanya.

Tidak ada jawab. Jelas tidak ada yang menantikan pertanyaan itu.

Uskup mengulangi pertanyaannya. Lalu ia mengatakannya sekali lagi, kali ini dengan membuat Tanda Salib, untuk menunjukkan kepada yang lain jawaban yang benar.

Tiba-tiba salah satu calon menangkapnya. “Cinta” katanya.

Uskup agak kecewa. Hampir saja ia berkata, “Salah,” tetapi tepat waktu ia masih menguasai dirinya.[]

 

 

Source: Anthony de Mello SJ, Doa Sang Katak, Yogyakarta: Kanisius, Cetakan 12, 1996.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s