Oleh: MAULA | Februari 28, 2008

Kontroversi Dapat Membawa Perubahan

supportdenmark2dk.png 

Kopenhagen – Sekitar sepuluh tahun lalu, seorang fotografer Swedia mengadakan sebuah pameran berjudul “Ecce Homo”, sebuah koleksi foto-foto provokatif yang menggambarkan Yesus sebagai seorang homoseksual. Sebagian pemuka gereja konservatif langsung bereaksi keras: “Ini tindakan barbar, tidak biblikal,” demikian salah satu tajuk harian, dan sebuah pembahasan yang panas mengikutinya.

Sang fotografer mengatakan bahwa rangkaian foto tersebut diilhami oleh kematian teman-teman homoseksualnya akibat AIDS, dan oleh terbitan-terbitan gereja yang menegaskan bahwa penyakit tersebut merupakan hukuman Tuhan. Koleksi seni “ofensif” tersebut bukan diciptakan untuk menyakiti siapapun, tetapi terutama untuk mendorong dialog dan mencerahkan masyarakat tentang AIDS dan homoseksualitas, kata sang artis.

Homoseksual di Swedia sesungguhnya dibenarkan untuk melakukan pernikahan secara sipil dan meminta hibungan mereka diberkati di gereja, sementara para pasien AIDS sekarang dapat berbicara secara tebuka tentang penyakit mereka.

Demikian juga, kartun-kartun Denmark yang menggambarkan Nabi Muhammad sesungguhnya memang merupakan sebuah provokasi, dan pada akhirnya, media memusatkan perhatian hanya terhadap tanggapan-tanggapan dari kalangan Muslim ultra-konservatif, banyak dari mereka yang merupakan ulama-ulama otodidak. Perdebatan antara kedua belah pihak yang berusaha mensensasionalisasi masalah tersebut bukanlah sesuatu yang membangun.

Sebuah pendekatan yang lebih produktif seharusnya adalah menggali konteks ketika peristiwa ini terjadi, khususnya dengan mempertimbangkan peristiwa-peristiwa seperti penahanan mereka yang ditengarai merencanakan pembunuhan kartunis Denmark, Kurt Baratergaard. Dan langkah selanjutnya adalah mengatasi rasa frustrasi kalangan Muslim yang terpinggirkan, yang merasa tidak mampu menyuarakan kemarahan dan kekecewaan mereka melalui saluran-saluran yang semestinya, seperti media atau pemerintah.

Sebelum 1980-an, masyarakat Denmark tidak membuat perbedaan terhadap kelompok-kelompok imigran. Namun belakangan, rasa kebangsaan dan keyakinan agama semakin sering digunakan untuk membedakan pendatang baru, mungkin karena orang-orang ini semakin kuat menampilkan jati diri mereka di tanah baru dibandingkan sebelumnya. Dalam tahun-tahun sebelum kontroversi kartun tersebut, masyarakat-masyarakat imigran utama dari Pakistan dan Timur Tengah secara bersama disebut sebagai “Muslim”; negara asal mereka tidak menarik perhatian, dan begitulah mereka dibedakan dari orang-orang Denmark baru lainnya.

Setelah 9/11 dan diikuti upaya-upaya Presiden Bush melawan Al Qaeda, pemerintah Denmark menjadi salah satu sekutu paling gigih mendukung perang di Irak dan Afghanistan. Tidak lama kemudian, Muslim merasa dikepung dalam harian-harian Denmark dan oleh pemerintah berkuasa, yang mengeluarkan perundang-undangan imigrasi yang lebih keras. Ini bukan merupakan hasil langsung dari sebuah serangan global terhadap terorisme, tetapi lebih merupakan puncak dari pembahasan tentang imigrasi selama bertahun-tahun, yang bertepatan dengan 9/11 dan semakin meminggirkan minoritas Muslim di Denmark. Kontroversi kartun boleh jadi merupakan pendorong bagi dialog di seluruh negeri tentang isu-isu penting ini tetapi sebaliknya malah menjadi sebuah peluang yang hilang.

Kartun tersebut dipandang sebagai sebuah serangan intelektual dan emosional yang kejam ke jantung orang-orang Denmark Muslim. Kalangan Muslim ultra-konservatif seluruh dunia memanfaatkan insiden ini untuk mewujudkan agenda-agenda mereka.

Reaksi-reaksi kekerasan yang menyusul di beberapa negara Muslim mungkin dapat diredakan kalau saja perdana meneteri Denmark memilih jalan dialog, bukannya menolak bertemu dengan delegasi duta besar dari berbagai negara Timur Tengah. Mungkin dengan melibatkan diri dalam pembahasan pada waktu itu, dapat mencegah kontroversi tersebut meluas, mengurangi kekerasan yang terjadi setelahnya, dan menghasilkan sebuah wacana antar kebudayaan yang konstruktif.

Beberapa tahun sebelum kartun provokatif tersebut diterbitkan, sebuah perusahaan Denmark mulai menjual sandal musim panas dengan gambar Perawan Maria. Hal ini menyebabkan protes keras di Denmark dan sepatu tersebut ditarik dari pasaran. Kali ini masyarakat menyensor dirinya untuk mencegah penghinaan dan protes lebih jauh.

Butuh beberapa initiatif dari kelompok-kelompok domestik dan internasional untuk menenangkan atmosfir pasca kartun, yang memungkinkan beberapa hasil positif. Penerbitan kartun tersebut pada akhirnya membawa kepada perdebatan yang hidup dan nyata di Denmark, dan tumbuhnya ketertarikan terhadap Islam di kalangan penduduk Denmark. Mata rakyat Denmark dibukakan terhadap isu-isu di seputar penduduk Muslim dan imigran. Lebih jauh, kalangan Muslim arus utama dalam masyarakat Denmark diyakinkan akan perlunya memasuki politik, tidak hanya untuk berbicara bagi Muslim, tetapi juga untuk mendidik yang lain tentang Muslim di tanah air baru mereka. Ketika dihalanginya jalur ke media atau saluran-saluran politik tempat orang dapat mengeluarkan rasa frustrasi mereka, orang-orang yang dilucuti hak-haknya terkadang membuat pendapat mereka diketahui dengan cara-cara kekerasan atau destruktif. Daripada menyorot peristiwa-peristiwa yang sensasional, sebaliknya media dapat memusatkan perhatiannya untuk mengisi kesenjangan ini, dengan memberikan sebuah forum yang rasional untuk mendiskusikan peristiwa-peristiwa atau seni kontroversial.

Hak seseorang menyatakan pendapat secara bebas tidak harus berarti menggunakan sesuatu yang benar. Dialog sendiri dapat membawa kepada diskusi-diskusi yang menarik dan menantang antara sensor-sensor dan sasaran-sasaran mereka, mengilhami pemikiran lebih dalam dan mungkin pemahaman lebih besar. Namun, terkadang kita juga membutuhkan kalangan avant-garde – mereka yang memancing kita dan mendorong kita untuk bercermin dan berpikir melalui seni mereka, tulisan mereka dan/atau musik mereka – untuk menyemarakkan perdebatan konstruktif dalam forum-forum yang sehat, di saat perubahan dan pertumbuhan begitu dibutuhkan bagi pengertian antar kebudayaan.[Marie Korpe]

* Marie Korpe adalah direktur eksekutif Freemuse (Kebebasan Ekspresi Musik, http://www.freemuse.org). Artikel ini merupakan bagian dari seri tentang kebebasan berekspresi yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 19 Pebruari 2008, http://www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: