Oleh: MAULA | Februari 28, 2008

Surat Garin Nugroho, WHYO, dan Opera Jawa

apsaawards.gif

 

Tanggapan terhadap Pernyataan Sikap World Hindu Youth Organization (WHYO) tentang Film Opera Jawa (Requiem from Java)

Himbauan Dialog Lintas Agama dengan Semangat Toleransi Sekaligus Dukungan terhadap Kebebasan Ekspresi :


Pernyataan Sikap Garin Nugroho

Sehubungan dengan pernyataan sikap World Hindu Youth Organization (WHYO) Nomor 83/WHYO/XII/2005 tanggal 1 Desember 2005 tentang himbauan untuk mengembalikan cerita film terbaru saya berjudul Opera Jawa (Requeim from Java) sesuai teks asli Ramayana dan meminta maaf kepada umat Hindu karena dianggap mengaburkan ajaran Hindu.

Sehubungan dengan pernyataan sikap WHYO yang sudah dipublikasikan di televisi, koran, dan surat, saya selaku sutradara, penanggung jawab kreatif, seniman, dan sebagai warga negara perlu menyampaikan beberapa hal.

Himbauan ini saya sampaikan kepada WHYO dengan semangat toleransi, dialog antar agama, dan kebebasan ekspresi. Himbauan ini didasari juga oleh kepercayaan tulus dan besar bahwa organisasi keagamaan beserta pejabatnya adalah manusia yang menjadi panduan publik dan memiliki kearifan dan keterbukaan sangat besar. Himbauan ini juga perlu saya sampaikan karena saya prihatin pada penurunan kualitas dialog antar agama akhir-akhir ini.

1. Saya menghimbau WHYO menarik kembali pernyataan sikap yang sudah dipublikasikan itu mengingat bahwa himbauan tersebut bersifat prematur karena lahir terlalu tergesa-gesa, parsial, dan reaksioner, mengingat :

a. Film itu belum selesai dibuat dan belum dipublikasikan, sehingga tidak ada alasan untuk mengganti atau merombaknya
b. Himbauan dan pernyataan dari pihak WHYO itu berdasarkan sumber kedua saja dan bukan merupakan sumber utama yaitu sutradara yang menjadi penanggungjawab kreatif, produser yang bertanggungjawab secara admnistrasi, serta film yang belum selesai dibuat itu sendiri.
c. Himbaun tersebut juga belum melalui proses klarifikasi langsung
kepada saya pribadi, padahal klarifikasi dan dialog langsung adalah menjadi kode etik publisitas dan kajian serta dasar dialog antar agama.
d. Dalam surat-suratnya, WHYO selalu menyebut saya sebagai produser dan sutradara. Padahal saya hanyalah sutradara yang bertanggungjawab pada konsep kreasi. Sedangkan produsernya adalah Peter Sellars (Amerika), Keith Griffiths (Inggris), Simon Field (Belanda). Merekalah yang bertanggungjawab pada aspek administrasi dan legal formal. Ini menunjukkan WHYO tidak cukup mencari tahu mengenai subyek yang dipersoalkan.

2. Saya menghimbau WHYO untuk menarik kembali pernyataan yang sudah dipublikasikan itu dan duduk bersama dalam semangat dialog dan anti kekerasan karena publisitas tersebut tidak lewat prosedur yang tepat termasuk, tidak memberitahu kepada saya secara langsung, tidak berdasar pada sumber pertama, dan prematur. Akibatnya, pernyataan sikap itu menjadi penghakiman sosial yang memiliki dampak sangat luas bagi dialog antar agama, proses kreatif, seniman yang bekerja, proses ekonomi pendanaan film, serta ketakutan partisipatif terhadap film ini . Baik ketakutan penonton, sumber dana, kajian, dan lebih penting lagi kemulian dari nilai kebebasan ekspresi. Ini sangat fatal karena film itu sendiri belum selesai. Kalaupun ada masukan, kami akan menerima dengan senang hati dan menjadi bahan pertimabangan. Tetapi publisitas itu telah menjadi penghakiman sepihak dengan dampak reaksi publik yang tak terkontrol.

3. Reaksi publik dari pernyataan sikap WHYO justru semakin memperburuk suasana dialog antar umat beragaman. Beberapa reaksi berupa surat fax ke kantor kami (terlampir) bernada kekerasan simbolik yang sangat tidak pada tempatnya.

4. Pernyataan sikap WHYO yang menganalisa cerita dan isi film saya bukan dari sumber utama itu, yakni film itu sendiri. Analisis itu sangat jauh berbeda dengan konsep, isi, dan misi dari film Requiem From Java, sehingga melahirkan disinformasi dan pencemaran nama baik bagi saya maupun seluruh pendukung film ini. Kami perlu memberi catatan sendiri terhadap materi film itu :

a. Film tersebut tidak berjudul Sita Obong tapi Opera Jawa (Requiem from Java)
b. Film itu diinspirasi oleh kisah Sita Obong Ramayana dari panggung wayang orang yang sangat populer di Jawa.
c. Film ini tidak mengisahkan Rama, Rahwana ,dan Sita seperti halnya dalam kisah Ramayana asli, tapi mengisahkan tiga orang manusia di sebuah desa yang pernah memerankan sebagai Rama dan Sita dalam wayang orang di Jawa. Film ini mengkisahkan kehidupan sehari-hari Ludiro, Siti dan Setyo yang bermimpi menjadi Rahwana, Sita dan Rama. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, mereka adalah manusia biasa yang penuh paradoks, dan melakukan tafsir yang ekstrem terhadap karakter Rama serta Rahwana. Karena tafsir kerdil manusia-manusia itu, yakni tokoh Ludiro dan Setyo, lahir berbagai bentuk kekerasan dan ladang pembantaian.
d. Film ini justru mengusung tema perdamaian, kasih, non kekerasan dan anti ekstrimitas yang justru menjadi dasar bagi dialog antar agama. Kalaupun kami memilih salah satu pemain dari Bali (I Nyoman Sura) dengan dialog bahasa Bali, itu justru sebagai wujud simpati kami untuk mendukung semangat anti kekerasan pasca Bom Bali I dan II.
e. Film ini justru berusaha mengkritisi kondisi dialog sosial budaya dan agama di Indonesia dalam lima tahun terakhir dan prediksi lima tahun ke depan, yaitu munculnya kekerasan fisik dan simbolik serta lahirnya tirani minoritas dan tirani mayoritas .Sekiranya nilai pluralisme dalam ekpresi serta hubungannya dengan dialog agama tidak dikelola dengan arif,kritis, terbuka terhadap upaya perbaikan dengan penuh kasih dan sesuai dengan prosedur demokrasi bernegara.
f. Film ini dipesan untuk ulang tahun 250 tahun komponis Wolfgang Amadeus Mozart bulan November 2006 di Wina, dengan tema yang sangat mulia yakni rekonsiliasi, remembrance, requiem untuk memuliakan kembali kemanusiaan. Jadi sangat tidak mungkin bertujuan menghina agama.
g. Sampai sekarang ini, film ini belum selesai dan baru 40% di proses
editing, karena masih kesulitan biaya penyelesainnya. Oleh karena itu, WHYO menyikapi film ini hanya berdasar proses penciptaan yang baru berjalan 30% yang masih penuh diskusi dan perubahan.
h. Himbauan WHYO tersebut tidak cukup menghormati proses kreatif jenis film seni semacam ini yang akan menjadi film musikal seni pertunjukan pertama kali dalam sejarah film dunia yang dalam proses kreatifnya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencari dana, mengolah ide, dan mengelola sumber daya. Di balik film ini terdapat nilai lapangan kerja yang luas, partisipasi berbagai kelompok budaya, dan agama serta semangat rekonsiliasi.
i. Produser film ini, Peter Sellars, seorang sutradara panggung Amerika dan direktur festival seni bergengsi dunia, adalah sosok yang dikenal menjunjung tinggi multikulturalitas baik dalam aspek agama, suku, dan ras. Karya-karyanya banyak melibatkan seniman-seniman dari India, Sri Lanka, Kamboja, Thailand, Indonesia, Amerika Latin, dll.

5. Saya menyayangkan surat pernyataan sikap dari WHYO karena tidak memenuhi syarat esensi kebebasan ekspresi dan publisitas, sehingga lebih tampak sebagai upaya pendiskreditan yang tidak semestinya dilakukan lembaga berbasis agama. Keberatan saya ini berdasar pada tiga syarat kebebasan ekspresi yaitu:
a. Pengetahuan utuh terhadap subjek yang ditanggapi. Hal ini tidak dipenuhi oleh WHYO karena terlalu prematur dan tidak bersumber dari dialog dengan sumber utama. Di sisi lain, kebebasan ekspresi harus menjamin adanya dialog yang adil. Dalam hal ini publisitas tanpa verifikasi apapun dari sumber utama tidak memenuhi syarat kebebasan ekspresi.
b. Kebebasan ekspresi mengandung nilai guna bagi keterbukaan dan pendalaman, sharing pengetahuan terhadap subyek. Oleh karena itu, publisitas yang prematur akan bertentangan dengan nilai tersebut, dan bisa melahirkan penghakiman sosial, kekeliruan komunikasi, disinformasi, stigmatisasi dan pembunuhan karakter pada seniman .
c. Kajian sebuah karya selayaknya juga melihat dan mengkaji track record seniman-seniman yang terlibat beserta karya-karyanya untuk menghasilkan pertimbangan yang komprehensif. Para pemain seperti Retno Maruti (peraih penghargaan Akademi Jakarta), I Nyoman Sura (Bali), Eko Supriyanto (Solo), Miroto, (Jogjakarta), Jecko (Papua), Slamet Gundono (peraih Prince Claus Award), dengan pencapaian dan pergulatan hidup mereka sangat mendukung toleransi antar agama. Tentu saja tidak mungkin mereka terlibat dalam karya yang bertujuan mengaburkan ajaran agama tertentu, namun pastilah mereka memilih terlibat dalam karya-karya yang kritis dan menumbuhkan kemanusiaan.

6. Berdasarkan empat butir himbauan dari saya selaku kreator di atas, maka momentum press conference ini selayaknya dijadikan media dialog antar agama sekaligus sebagai himbauan bagi organisasi agama dan massa untuk bersikap arif dan proporsional dalam menyikapi berbagai bentuk kebebasan ekspresi:
a. Organisasi-organisasi agama agar menjunjung kearifan religius dalam melakukan publisitas dan pernyataan sikap dari produk-produk kebebasan ekspresi tertentu dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Pertama, aspek sharing pengetahuan yang mendalam dan menghindari penghakiman massa dan sepihak Kedua, membuka dialog antar agama yang saling memperbaiki tanpa kekerasan baik fisik maupun simbolik. Ketiga, memahami prosedur demokrasi sebagai bagian dari proses berbangsa, termasuk proses pengembangan keilmuan dan proses kreatif.
b. Saya pribadi mendukung dan membuka ruang untuk melakukan dialog tentang kode etik penyiaran yang sesuai dengan prosedur demokrasi, memenuhi syarat yuridis, dan nilai dasar negara yaitu kebinekaan. Hal ini akan memunculkan masyarakat komunikatif yang terbuka dan kritis. Saya yakin, kesadaran ini telah menjadi kesadaran bersama sebagai suatu proses yang kita perjuangkan bersama agar tidak timbul suatu penghakiman sosial berdasarkan kepentingan kelompok organisasi agama, suku, ras, dan golongan yang jauh dari cita-cita masyarakat demokratis karena akan melahirkan masyarakat yang serba takut, khawatir, saling curiga dan kehilangan rasa jernih yang melahirkan toleransi semu yang mungkin berpuncak pada kekerasan sosial.
c. Saya mengundang dialog terbuka seluruh kelompok agama, budayawan, pengamat, untuk turut hadir dalam pemutaran perdana film Opera Jawa/Requiem from Jawa sebagai bagian dari proses dialog antar agama dan kebebasan ekspresi mengingat film ini didukung oleh seniman dari berbagai agama serta latar belakang budaya, baik itu dari Bali, Sumba, Papua, dan Jawa. Pemutaran perdana akan dilakukan sekitar bulan Agustus 2006.
d. Saya mengharapkan publisistas terhadap pendapat tentang suatu pelecehan agama, selayaknya dilakukan lewat diskusi yang mendalam dan keikutsertaan lembaga-lembaga tertinggi dan terhormat agama tersebut sekaligus mengajak lembaga lintas agama terlebih dahulu.

7. Himbauan ini juga kami kirim ke organisasi WHYO di seluruh dunia untuk mengkaji kembali cara kerja WHYO Indonesia dalam kasus ini dan beberapa kasus sebelumnya dalam bersikap terhadap kebebasan tafsir dan ekpresi yang saya anggap justru mengurangi nilai keterbukaan. Bagi saya pribadi, yang lahir di Jogjakarta di tengah kultur Hindu, selama ini agama Hindu di Indonesia telah menampilkan diri sebagai agama yang penuh toleransi, terbuka, penuh kesejukan dan penuh kreasi yang agung. Bahkan saya berencana untuk membuat film dengan setting budaya dan bahasa Bali.

8. Saya juga menghimbau keterbukaan pemuka dan organisasi agama terhadap tafsir bebas yang bersumber dari cerita agama namun sudah menjadi milik rakyat, selama tafsir tersebut menjadi tafsir pencerahan yang membuka pikiran cerdas dan kritis serta memanusiakan terus-menerus hubungan antar manusia.

9. Saya juga menghimbau agar organisasi-organisasi agama yang tumbuh subur dewasa ini dalam berbagai perspektif untuk tidak dengan mudah mengatasnamakan umat agama di seluruh dunia seperti WHYO yang menyatakan seluruh umat Hindu di dunia. Cara ini menjadi penghakiman massa yang menghilangkan nilai multikilturalisme yakni berbicara atas tanggung jawab kelompok atau organisasi untuk bisa dikaji berbagai perbedaan pendapatnya dan menjadi sharing pengetahuan serta nilai keutamaan hidup.

10. Saya menghimbau organisasi agama dan massa agar lebih arif dan berhati–hati melakukan publisitas penilaian terhadap sebuah produk ekspresi, sekaligus menghimbau agar tetap menjalankan proses prosedur demokrasi untuk menjaga nilai-nilai dialog antar agama yang dewasa ini dipenuhi kegoncangan.

Pernyataan sikap ini didasarkan pada kepercayaan penuh terhadap keterbukaan yang arif dari organisasi agama ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat, masukan, dan proses dialog. Dan pernyataan ini sekaligus bertujuan memunculkan masyarakat komunikatif dan berapresiasi budaya yang penuh toleransi dalam masyarakat plural.

Pernyataan sikap ini didasarkan pula pada proses perjuangan saya pribadi dalam memunculkan karya yang mendukung dialog antar agama, nilai multikultural, dan kode etik penyiaran lewat karya-karya saya sebelumnya baik buku, film, iklan layanan masyarakat, dan berbagai even lain, misalnya dukungan terhadap Art and Peace di Bali yang mengundang berbagai kelompok agama di Bali; film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja dengan latar belakang agama Katolik di Papua yang meraih penghargaan di Berlin karena karakter toleransinya; Children Choir dari berbagai agama di Balai Sidang Senayan; film Rindu Kami PadaMu berlatar Islam yang menawarkan toleransi dan mendapat pengargaan dari India; menjadi editor buku tentang multikulturalisme dan dialog antar agama; bekerjasama dengan kalangan LSM untuk membangun kode etik penyiaran; bersama Gus Dur membuat paket iklan layanan toleransi antar agama; dan yang terakhir membuat pesta peringatan Universitas Paramadina dan Prof. Dr. Nurcholis Madjid untuk mempromosikan pluralisme beragama.

Sebagai catatan khusus, Ketika muncul polemik mengenai film Buruan Cium Gue, saya pun menulis di media massa untuk mengkritisi sikap salah satu pemuka agama Islam (agama saya sendiri) untuk melakukan otokritik terhadap cara-cara yang tidak melahirkan sifat kritis dan sharing pengetahuan. Kritik saya itu lalu melahirkan kerjasama produktif dengan tokoh agama tersebut.

Demikian himbauan saya selaku sutradara dan penanggungjawab kreatif film Opera Jawa (Requiem from Java).

Sebagai catatan akhir, kami sudah mendiskusikan persoalan ini dengan banyak kalangan. Timbul dua pendapat. Pendapat pertama adalah munculnya rasa takut dan meminta berkompromi, dan pendapat yang kedua, menyarankan agar menggunakan momentum ini sebagai media dialog antar agama dan budaya. Saya memilih momen ini sebagai dialog antar agama, budaya dan kebebasan ekspresi, karena bagi saya:

“Ketakutan adalah awal dari ketidakjernihan berpikir. Ketidakjernihan berpikir adalah awal dari jatuhnya keadaban publik dalam kehidupan sehari-hari yang pada gilirannya hanya melahirkan produk-produk budaya berkait dengan agama yang simbolik. Di sisi lain kehidupan sehari-hari tetap dipenuhi oleh ketidakadilan.”

Terima kasih kepada berbagai pihak yang sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan saya untuk memecahkan masalah ini dengan semangat kebebasan ekspresi dan dialog antar agama, di antaranya : Bapak Agus Mantik, Bapak Nengah Dana (Parisadha Hindu Dharma Indonesia), teman-teman seniman dari Bali maupun seniman Indonesia lainnya, serta rekan–rekan dialog antar agama.

Saya membuka diri untuk masukan dan dialog bagi proses kreatif film ini yang sedang berlangsung dan akan selesai pada Agustus 2006. Silakan kirim lewat email di bawah ini.

Jakarta, 9 Desember 2005

Garin Nugroho
(Sutradara)

Sinopsis Film
Requiem dari Jawa
250 Tahun Mozart
Karya Garin Nugroho

Film ini berkisah tentang tiga manusia di sebuah desa di Jawa yakni sepasang suami istri bernama Siti dan Setyo yang juga bekas penari Rama dan Sita di wayang orang. Mereka bekerja sebagai pedagang keramik yang sedang bangkrut. Sementara di desa itu ada seorang pedagang kaya yang memiliki penjagalan sapi bernama Ludiro yang mengagumi tokoh Rahwana.

Ludiro diam-diam mencintai Siti dan ingin merebutnya dari Setyo dan ingin menguasai ekonomi seluruh desa itu. Kisah ini babak demi babak menjadi seperti dalam kisah cinta segitiga seperti dalam wayang orang Ramayana.

Namun kemudian, Ludiro dan Rama justru menjadi ekstrem dan dipenuhi ekspresi manusia yang kalap dan penuh kekerasan sehingga melahirkan berbagai bentrok massa dan ladang pembantaian.

Pada akhirnya Siti merasa bahwa dua laki-laki yang mencintainya adalah nafsu dan wujud kalap dari keingingan kepemilikan, kekerasan, kekuasaan, serta ketidakberdayaan. Siti bahkan kemudian berkata bahwa mereka bukanlah Rama, Sita, dan Rahwana dalam kisah Ramayana, tetapi manusia yang gagal menafsir kemanusiaan secara mulia dan hanya melahirkan fanatisme.

Daftar Pemain:
Artika Sari Devi sebagai Siti
Miroto sebagai Setyo
Eko Supriyanto sebagai Ludiro
Retno Maruti sebagai Ibu Ludiro
I Nyoman Sura sebagai Sura
Jecko Siompo sebagai sahabat Setyo Source: http://www.kapanlagi.com/clubbing/viewtopic.php?p=114459&sid=cbbb0c4171cb5308fa9b2378bf1817ae

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: