Upacara Ksamayati (Pai Chan)

buddha_sunset_crop.jpg 

Banyak orang menganggap bahwa mengadakan kegiatan ritual Buddhis (upacara ritual agama Buddha) hanya ditujukan bagi orang yang telah meninggal saja (mendoakan orang yang telah meninggal). Tentu saja dugaan ini tidak benar sama sekali, tujuan utama ajaran Buddha adalah untuk menolong orang yang hidup, mengadakan upacara untuk mendoakan orang yang telah meninggal hanya merupakan salah satu upacara dalam agama Buddha. Oleh sebab itu kegiatan ritual Buddhis harus dilakukan selagi kita masih hidup.

Berbuat jasa, memupuk kebajikan, dan melakukan kegiatan ritual Buddhis tidak semata-mata untuk menolong orang yang telah meninggal, tetapi dapat memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi kita dalam kehidupan sekarang ini.

   Salah satu bentuk upacara ritual Buddhis yang sering diadakan untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan dalam kehidupan ini adalah Upacara Ksamayati.

   Pai Chan (Ksamayati) atau disebut juga Li Chan adalah bernamaskara (bersujud) kepada para Buddha dan Bodhisattva untuk menyatakan penyesalan atas segala karma buruk (kesalahan dan kejahatan) yang pernah dilakukan, dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Apabila diamati dengan teliti, boleh dikatakan orang awam selalu melakukan karma buruk. Kelahiran kembali (tumimbal lahir/ reinkarnasi) berlangsung terus sesuai dengan kekuatan karma masing-masing. Jika pada kehidupan lampau tidak melakukan karma buruk, maka sekarang tidak dilahirkan sebagai orang awam. Dan jika pada kehi-dupan sekarang menghapus dan memutuskan semua karma buruk, berarti sekarang juga dia sedang menuju ke jalan kesucian.

   Kehidupan orang awam penuh dengan keruwetan dan penderitaan, sehingga tidak berdaya terhadap karma buruk yang dibawanya dari kehidupan lampau dan juga dari kehidupan yang sekarang. Juga sangat sulit mengendalikan keinginan untuk menghindari perbuatan salah. Oleh karena itu, Sang Buddha yang Maha Agung dengan hati yang penuh cinta kasih dan welas asih telah menunjukkan jalan, yaitu dengan mengadakan Upacara Ksamayati (pertobatan).

   Pembacaan Sutra dan Mantram (Liam Keng) bertujuan untuk memeriksa diri pada cermin Buddha Dharma. Sedangkan Upacara Ksamayati (pertobatan) bertujuan untuk membersihkan kekotoran batin kita dengan Air Buddha Dharma.

   Jadi mengadakan Upacara Ksamayati dihadapan Sang Buddha bukan berarti memohon kepada Sang Buddha untuk menghapuskan karma buruk kita (mengampunkan dosa kita), tetapi memohon Sang Buddha untuk menjadi saksi atas penyesalan dan pertobatan kita. Di hadapan Sang Buddha kita berterus terang mengungkapkan karma buruk (kesalahan dan kejahatan) yang telah kita lakukan, dan kita berjanji dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Chan berarti merasa bersalah terhadap orang lain, dan Huei berarti mengakui kesalahan sendiri.

   Buddha dan Bodhisattva yang begitu maha welas asih dan suci bersih serta sempurna, mengharapkan kita juga menjadi suci bersih serta sempurna. Namun kita masih terus melakukan karma buruk yang semakin menjerumuskan kita jauh dari kesucian dan kesempurnaan, maka perlu diadakan Chan Huei atau Ksamayati, untuk membersihkan hati yang buruk dan kotor. Bagaikan orang mendulang emas dari pasir, sedikit demi sedikit pasirnya dibuang, hingga akhirnya baru diperoleh emas yang murni. Demikianlah kita dihadapan Sang Buddha mengadakan Ksamayati untuk membuang kekotoran batin sedikit demi sedikit, barulah akhirnya dapat memperoleh hati yang bebas, bersih, dan suci.

   Di Tiongkok, Upacara Ksamayati yang disusun oleh Para Sesepuh yang telah mencapai tingkat kesucian berdasarkan kitab suci agama Buddha, ada beberapa macam, diantaranya adalah : Liang Huang Pau Chan (Ksamayati Pusaka Raja Liang), San Mei Suei Chan (Ksamayati Air Samaya), Ta Pei Chan (Ksamayati Maha Karuna), Yau She Pao Chan (Ksamayati Bhaisajya-guru Buddha), Cing Thu Chan (Ksamayati Sukhavati), Ti Cang Chan (Ksamayati Kshitigarbha), Chien Fo Chan (Ksamayati Sahasra/ Seribu Buddha), dan lain-lain. Terdapat banyak catatan tentang manfaat dan kegaiban dalam pengalaman pelaksanaan Upacara Ksamayati, sungguh tidak sia-sia melakukannya.

   Upacara Ksamayati (pertobatan) biasanya dipimpin oleh Bhikshu/ Bhikshuni, tetapi yang paling baik sudah tentu kita sendiri harus hadir dan mengikutinya dengan sungguh-sungguh, penuh keyakinan, dan sujud kepada Sanghyang Adi Buddha/Tuhan Yang Maha Esa, Para Buddha dan Para Bodhisattva-Mahasattva.[UP Sudharma SL]Source: Warta Buddha Warman, edisi III/69 Februari 1998, http://www.geocities.com/Athens/Olympus/2532/Arsip/w-690298.htm 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s