Oleh: MAULA | Maret 6, 2008

Nyepi: World Silent Day

nyepi.jpg 

Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa.Kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi ini ada dua macam yaitu:1. Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru).2. Pada hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi.

 

Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian yang berlaku mulai dan hingga sebelum matahari terbit (ngedas lemah), yaitu: 

1. Amati Geni, berpantang menyalakan api

2. Amati Karya, menghentikan aktivitas kerja

3. Amati Lelanguan, berpantang menghibur diri / menghentikan kesenangan

4. Amati Lelungan, berpantang bepergian. 

Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, segenap isi rumah keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan. 

Nyepi di Bali

Selama Nyepi, rakyat Bali dilarang menghidupkan api, bekerja, memuaskan nafsu dan keluar rumah. Pada hari yang sama, semua pelabuhan dan bandara udara di Bali ditutup.Rakyat Bali telah memulai tradisi Nyepi sejak tahun 78 SM, sebagai bentuk penghormatan pengangkatan Raja Kaniska I dari Dinasti Kusana, India. Tradisi ini berkelanjutan hingga sekarang di Pulau Dewata, yang penduduknya 90 persen beragama Hindu.

Kebudayaan Bali memiliki beberapa kerifan lokal yang berkaitan erat dengan alam. Selain Nyepi, kearifan lainnya berupa Sapta Kala, dimana penduduk dilarang mengambil dan mengolah apapun yang berada di dalam bumi. Menggali minyak bumi atau pertambangan dianggap akan membawa limbah yang merusak dunia. Agama Hindu Bali yang percaya reinkarnasi, menganggap pelestarian alam sebagai keharusan. 

Menuju World Silent Day

Belakangan ini ketika isu perubahan iklim akibat pemanasan global semakin gencar dibicarakan beberapa pengamat lingkungan melihat keuntungan dari sisi ekologis kegiatan perayaan Nyepi di Bali ini. Bayangkan jika dalam sehari semua kegiatan yang menggunakan sumber energi dihentikan. Hal ini tentu berarti penghematan energi. Di sisi lain juga merupakan pengurangan total emisi gas buang ke udara.  

Beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) antara lain: Walhi Bali, Bali Organic Association (BOA), Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Yayasan Wisnu, dan Third World Network (TWN) yang tergabung dalam Bali Colaboration Climate Change (BCCC) mengeluarkan hasil penelitian mereka yang menyatakan pada saat hari Raya Nyepi, pengurangan emisi karbon ke udara mencapai 20.000 ton.

Seperti yang umum diketahui orang bahwa emisi karbon di udara ini menjadi penyebab utama pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim ini. Jadi dengan pengurangan emisi karbon, kerusakan akibat perubahan iklim bisa diminimalisir.  

Bayangkan saja di Bali sendiri jumlah sepeda motor diperkirakan mencapai satu juta unit. Jika diasumsikan satu unit sepeda motor mengonsumsi 4 liter bensin sehari, total bensin yang dikeluarkan 4 juta liter per hari bagi seluruh sepeda motor. Sementara itu, konsumsi bahan bakar avtur dari minimal 80 pesawat yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai per hari mencapai 1.600 kiloliter. Karena semua penggunaan angkutan tersebut diistirahatkan dalam sehari maka sedemikian besarlah penghematan yang didapat.  

Melihat keuntungan yang didapat dari perayaan hari Nyepi ini, BCCC mengkampanyekan agar hari Nyepi bisa diperingati di seluruh dunia sebagai langkah nyata pengurangan emisi karbon. Gagasan ini didukung oleh anggota DPD yang berasal dari Bali, tokoh-tokoh masyarakat, kaum intelektual serta pemuka-pemuka agama di Bali. Untuk mempermudah pemahaman masyarakat internasional istilah Hari Nyepi diterjemahkan menjadi World Silent Day 

Beberapa kalangan menanyakan apakah konsep ini akan diterima masyarakat luas mengingat hari Nyepi kental dengan budaya Hindu Bali. Ida Pedanda Sri Begawan Dwija Nawa Sandi, salah satu tokoh spiritual Bali, menyatakan, harus dibedakan Nyepi yang selama ini sudah dilakukan masyarakat Bali dengan World Silent Day yang dikampanyekan. “Kalau Nyepi dimaknai sebagai aspek spiritual agama Hindu, World Silent Day tidak menyinggung aspek spiritual, tetapi ekologi.” katanya dalam sebuah diskusi.

Secara teknis pun dua hal ini berbeda meski memiliki tujuan yang sama. Nyepi di Bali dilakukan dengan rangkaian kegiatan seperti catur brata penyepian, World Silent Day tidak akan persis seperti itu.  Terlepas dari diterima atau tidak diterimanya tawaran World Silent Day ini, seluruh aktivis MAULA mengucapkan selamat hari raya Nyepi bagi yang merayakannya. Mohon maaf atas segala kesalahan yang terjadi di tahun Saka sebelumnya.[] 

Source:

http://www.babadbali.com/piodalan/nyepi.htm

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7025

http://www.climatemediapartnership.org/spip.php?article61   

Iklan

Responses

  1. Apa yang dilakukan dengan niat baik pasti akan diberi jalan keluar oleh Tuhan Yang Maha Esa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: