Oleh: MAULA | Maret 10, 2008

Astaunga Yoga: Delapan Langkah Menuju Sempurna

ashtanga-yoga.jpg 

Tujuan Tantra adalah kebahagiaan yang lengkap dan cara mencapainya adalah dengan mengembangkan tubuh dan pikiran secara penuh.  Meskipun kesempurnaan pikiran dan tubuh ini dapat diperoleh secara lambat secara alamiah, namun tersedia pula metode yang terinci untuk pengembangan diri dengan cepat.  Bagiannya ada delapan, dan karena latihan ini bertujuan mencapai kemanunggalan (yoga) dengan Kesadaran Kosmis, maka disebut juga Astaunga yoga, atau delapan cabang yoga.*)

Dua langkah pertama adalah Yama dan Niyama, yang merupakan tuntunan moral bagi pengembangan diri manusia.  Pemikiran moralitas dalam hal ini adalah perlu karena dengan mengendalikan budi pekerti kita dapat mencapai keadaan yang lebih tinggi.  Pelaksanaannya tidak sesederhana sekedar menuruti suatu aturan saja..  Tujuan sebenarnya adalah mencapai kesempurnaan pikiran.  Bila keadaan ini tercapai maka tak ada persoalan lagi mengenai “aturan” karena keinginan untuk melakukan sesuatu yang buruk bagi kesejahteraan kita sendiri dan orang lain sudah tak hadir lagi dalam pikiran, yang sudah dalam keadaan seimbang. 

I. Yama

Yama berarti “yang mengendalikan”, dan penerapan Yama berarti mengendalikan tingkah laku yang berhubungan dengan dunia luar diri kita.  Dalam bukunya A Guide to Human Conduct Shrii Sarkar dengan jelas memaparkan berbagai sudut mengenai Yama dan Niyama, sambil memberikan interpretasi yang jelas dan praktisi bagi masyarakat abad 20.  Disini kita akan membahas sepintas mengenai lima bagian Yama dan lima bagian Niyama, namun penjelasan rinci dapat dibaca dalam Guide of Human Conduct.

1. Prinsip pertama Yama adalah Ahimsa.
Ahimsa berarti tidak menyakiti pihak lain dengan pikiran, perkataan, maupun tindakan.  Sejauh kemampuan, kita tidak boleh sama sekali menyebabkan keberadaan lain menjadi sakit.  Asas ini sering diinterpretasikan selengkapnya sebagai tanpa kekerasan, namun kalau dilaksanakan sampai ekstrim menjadi sangat tidak praktis. 

Misalnya setiap kali kita bernapas terdapat banyak mikroba yang kita hirup dan bunuh! Untuk memecahkan masalah ini Anandamurti menganjurkan untuk memilih makanan yang kesadarannya masih kurang berkembang daripada membunuh makhluk yang telah jauh berkembang.  Persoalan lain adalah bela diri. 

Dalam hal ini Anandamurti mengatakan bahwa membela diri melawan penyerang atau melawan orang yang anti sosial adalah dibenarkan.  Bahkan bila anda menggunakan kekerasan, tujuan anda adalah menyelamatkan dan melindungi kehidupan, bukan untuk menyakiti atau menghalangi kemajuan mental, fisik maupun psikis dari orang itu.

2. Asas kedua Yama disebut Satya.
Pengertian Satya adalah “tindakan pikiran dan penggunaan kata-kata dalam semangat kesejahteraan”  Itu berarti mengungkapakan kebenaran dan bertingkah laku lurus dan dengan cara jujur demi meningkatkan kesejahteraan semua pihak.  Kalau terjadi bahwa menyampaikan kebenaran sebenarnya akan merugikan pihak lain, maka Satya berarti menyampaikan sesuatu yang paling baik bagi kesejahteraan yang lain dan bukannya menyatakan kenyataan yang sebenarnya.  Kesetiaan pada Satya akan sangat memperkuat pikiran dan sangat penting dalam mencapai keberhasilan rohani.

3. Asas ketiga adalah Asetya
Asetya
berarti tidak mengambil milik orang lain. Ini berarti tidak melakukan pencurian.  Juga pencurian yang dilakukan secara mental. Mereka yang ingin mencuri namun menahan diri karena takut tertangkap sesungguhnya secara “mental” telah mencuri. Asetya berarti menahan diri dari mencuri baik secara mental maupun fisik.

4. Asas keempat adalah Brahmacarya.
Ini berarti tetap melekat pada Brahma (Kesadaran Kosmis) dengan memperlakukan semua keberadaan dan benda sebagai perwujudan dari Kesadaran Kosmis.  Pikiran mengambil bentuk dari apa yang kita pikirkan.  Bila kita berpikir secara materialistis, melihat segala sesuatu hanya sebagai benda material, maka pikiran kita makin lama makin tumpul.  Bila kita dapat melakukan segala sesuatu dengan pikiran bahwa segalanya di dunia ini adalah Kesadaran Kosmis dalam keadaan alih rupa, maka pikiran kita akan bergerak menuju suatu keadaan kemenunggalan dengan Kesadaran Kosmis.  Dalam beberapa buku, Brahmacarya diartikan sebagai pantang hubungan seks.  Pengertian ini diajukan oleh pendeta-pendeta abad pertengahan yang ingin memperoleh pengaruh atas orang-orang biasa yang berkeluarga.

5. Unsur ke lima dari Yama adalah Aparigraha.
Ini berarti tidak menumpuk kekayaan yang berlebihan dari yang sebenarnya kita butuhkan.  Ini berarti hidup sederhana tanpa kekayaan fisik berlebih dari yang sebenarnya diperlukan.  Tentu jumlahnya bervariasi menurut waktu, tempat dan orang.  Ini adalah prinsip utama dalam hidup seseorang maupun bersama, karena kalau seseorang atau suatu negara menumpuk kekayaan, maka akan mengakibatkan kelaparan atau kesengsaraan bagi orang lain.  Ini juga merupakan bagian yang penting dalam jalan rohani, karena bila seseorang selalu terbenam dalam kebendaan, maka dia tak sempat memikirkan Kesadaran Kosmis.

II. Niyama

Bagian utama kedua dari Astaunga Yoga disebut NiyamaNiyama berarti pengendalian diri.  Tanpa pengendalian diri, tak mungkin seseorang mencapai kesadaran yang lebih tinggi.

1. Asas pertama dari Niyama adalah Shaoca.
Shaoca berarti kemurnian pikiran dan tubuh.  Ini termasuk kebersihan dunia eksternal seperti kebersihan tubuh, pakaian, llingkungan, namundan juga kebersihan dunia internal dalam pikiran.  Kebersihan eksternal dapat diperoleh dengan pembersihan tubuh dan lingkungan secara teratur, sedangkan kemurnian internal dari pikiran dapat dilakukan dengan sugesti diri.  Itu dapat dilakukan dengan menggantikan pikiran yang merusak dengan pikiran yang baik.  Misalnya, bila seseorang merasa kikir, dia harus selalu berpikir dan melakukan tindakan yang murah hati.

2. Bagian kedua dari Niyama adalah Santosa.
Ini berarti selalu menjaga kesentosaan pikiran.  Kalau pikiran lapar akan sesuatu, pikiran berada dalam keadaan tidak tenang.  Setelah keiinginannya terpenuhi, saat lega dan tenang yang diperoleh pikiran disebut tosa dalam bahasa Sansekerta.  Orang yang dengan mudah dapat terpuaskan dan dapat mepertahankan keadaan puasnya telah mengikuti Santosa.  Pencapaian Santosa berkaitan dengan Aparigraha (yang telah diuraikan di atas).

3. Asas ketiga Niyama adalah Tapah.
Ini berarti menjalani kekerasan hidup dalam jalan pengembangan diri maupun bersama.  Setiap tindakan yang dilakukan demi melayani orang lain tanpa mengharapkan imbalan adalah Tapah.  Pelayanan itu tentu harus diberikan kepada orang yang benar membutuhkan.  Kalau anda menjalani penderitaan untuk memberi makan seorang kaya tentu ini bukanlah pelayanan yang bermanfaat.  Di jaman dahulu peminat spiritual melakukan kekerasan pada dirinya dan matiraga (seperti berjalan di atas api) namun pati raga seperti itu tak bermanfaat bagi peminat spiritual, bagi masyarakat, maupun bagi Kesadaran Kosmis, jadi tidak mempunyai nilai apapun untuk perkembangan rohani.

4. Asas keemapt adalah Svadhayaya.
Ini berarti memiliki pengertian yang jelas dalam perkara spiritual.  Seseorang harus membaca dan mencernakan arti dari buku-buku bagus dan kitab suci yang ditulis oleh orang-orang yang maju secara spiritual.  Sekedar membaca tanpa mengerti bukanlah Svadhyaya.  Pentingnya Svhadhyaya adalah bahwa ini akan menghubungkannya dengan pribadi-pribadi besar dan yang memberikan inspirasi baginya untuk meneruskan jalannya menuju penyadaran diri.

5. Bagian kelima dari Niyama adalah Iisvara Pranadhana.
Ini menjadikan Kesadaran Kosmis tujuan hidup anda.  Hal ini dilakukan melalui proses meditasi, saat itu meditator memikirkan hanya satu pikiran, Kesadaran Kosmis.  Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dalam meditasi Tantra, meditator merapalkan mantra yang mengingatkannya pada hubungannya dengan Kesadaran Kosmis.  Proses meditasi ini mencakup pula langkah-langkah untuk melepaskan pikiran dari benda-benda lain dan memfokuskannya pada Kesadaran Kosmis.

III. Asana

Cabang ketiga dari Astaunga Yoga adalah AsanaAsana adalah sebuah sikap tubuh yang dipertahankan dengan enak. Asana merupakan bagian yang terkenal dari yoga, namun sering orang salah mengerti tentangnya. Asana bukanlah latihan yang biasa seperti senam atau olahraga. Asana adalah latihan khusus yang memberikan berbagai efek tertentu pada kelenjar-kelenjar endokrin, sendi-sendi, otot, urat, dan syaraf.

Ribuan tahu yang lalu para bijak serilng mengamati berbagai binatang di hutan.  Mereka memperhatikan bahwa setiap biantang memiliki sifat tertentu dan sering binatang mengambil sikap tertentu.  Dengan meniru berbagai sikap biantang, mereka mengenali efeknya pada tubuh manusia. Misalnya burung merak, seekor burung dengan sistim pencernaan yang kuat sekali bahkan mampu mencernakan ular beracun.  Para bijak masa lalu kemudian mengembangkan suatu sikap tubuh bagi manusia, menirukan burung merak, yang memperkuat sistim pencerenaan manusia. 

Berbagai sikap lain juga dikembangkan untuk melatih berbagai bagian tubuh lain dan kelenjar. Mereka mengembangkan ribuan sikap.  Namun, Shrii Shrii Anandamurti hanya memilih sekitar empat puluh sikap yang bermanfaat  untuk membantu baik untuk perkembangan spiritual dan juga untuk menyembuhkan atau menghindarkan berbagai penyakit.  (Lihat Carya Carya III dan Yogic Treatments and Natural Remedies).

Efek yang paling penting dari asana adalah pada kelenjar endokrin yang mengeluarkan hormon langsung ke dalam aliran darah.  Kelenjar endokrin adalah misalnya pankreas, timus, tiroid, paratiroid, adrenal, dan kelenjar reproduksi (testis dan ovarium).  Bila keluaran dari suatu kelenjar terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka akan terjadi salah kerja tubuh.  Misalnya bila kelenjar tiroid, yang terletak di leher, mengeluarkan terlalu banyak cairan, maka orang itu akan menjadi kurus.  Kalau kelenjar itu mengeluarkan cairan terlalu sedikit, maka orang itu akan jadi sangat gemuk.  Sebabnya adalah tiroksin, hormon yang dikeluarkan kelenjar ini, yang mengatur metabolisme atau keteraturan badan mengubah makanan menjadi enersi. 

Asana dapat memperbaiki salah kerja dari tiroid atau kelenjar lain dengan memberikan tekanan pada kelenjar, yaitu memberikan efek pemijatan pada kelenjar dan mengatur jumlah darah yang melalui kelenjar itu.Asana juga dapat mempertahankan tulang punggung menjadi fleksibel, karena hal ini sangat penting untuk memperlambat penuaan tubuh.  Kalau orang menjadi tua, tulang punggungnya biasanya menjadi kaku.  Latihan asana dapat mencegah proses ini.

Efek yang penting lain dari asana adalah bahwa berbagai organ tubuh lainnya terbantu agar bekerja dengan baik.  Misalnya ada beberapa asana yang memijat perut dan isinya serta organ-organ lain yang berkaitan dengan pencernaan dan pengeluaran kotoran.  Berbagai persoalan seperti pada pencernaan, sembelit, radang perut besar, gagal hati, dan lain lain dapat ditahan dan diperbaiki dengan melakukan beberapa asana tertentu dibantu dengan diet yang baik.

Menurut yoga Ananda Marga, berbagai sikap yoga itu harus dipilihkan oleh guru bagi muridnya agar sesuai dengan kebutuhan pribadi murid itu. Meskipun tersedia begitu banyak asana, setiap orang memiliki struktur fisiknya masing-masing dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing, sehingga asanai tertentu mungkin lebih sesuai untuk orang tertentu daripada untuk orang lain. 

Untuk memilihkan asana, guru yoga (Acarya) juga akan mempertimbangkan efek asana pada berbagai pusat syaraf dari tubuh – yaitu cakra-cakra. Ada dua jalur syaraf yang menelusuri badan dan saling bersilangan lima kali pada tulang punggung. Tempat jalur syaraf ini bersilangan di tulang punggung adalah pusat enersi psikis dan disebut cakra (atau chakra). Cakra-cakra ini bukan organ anatomi namun mengendalikan tugas berbagai organ yang berada dalam daerah sekitar cakra yang bersangkutan. 

Jadi seseorang yang menderita masalah pernapasan akan memerelukan beberapa asana yang memperkuat cakra pada pusat dada.  Untuk menanggulangi masalah pencernaan, diperlukan berbagai asana yang melatih cakra pada daerah pusar.  

Filsafat Tantra menerangkan bahwa dunia ini terdiri atas lima unsur dasar:  ether, udara, cahaya, cairan, dan padatan. Selain membantu meningkatkan kesehatan fisik, asana juga mempunyai peran yang penting untuk pikiran, bila berbagai kelenjar tubuh bekerja dengan baik maka ini akan membantu keseimbangan mental.  Dengan memperkuat pusat-pusat psikis, asana juga membantu mengendalikan berbagai kecenderungan mental yang dikontrol oleh pusat-pusat tersebut.  Ada lima puluh kecenderungan mental yang tersebar pada enam cakra sebelah bawah.

IV. Pranayama

Bagian keempat dari Astaunga Yoga adalah Pranayama atau pengendalian enersi hidup.  Pranayama merupakan latihan yang cukup terkenal dalam yoga, namun hal-hal yang mendasari latihan ini kurang dikenal dan perlu diperjelas berikut ini.

Tantra mendefinisikan hidup sebagai suatu gelombang fisik dan mental yang bergerak sejajar seirama dengan enersi hidup.  Enersi hidup dikenal juga sebagai Vayu atau “angin”.  Dalam tubuh manusia terdapat sepuluh vayu yang bertanggung jawab untuk kegiatan bergerak termasuk pernapasan, peredaran darah, pengeluaran kotoran, gerak anggota tubuh, dll. 

Titik pusat pengendali dari semua vayu ini adalah sebuah organ yang dikenal sebagai Pranendriya.  (Pranendriya, seperti halnya cakra, bukanlah organ anatomi.)  Pranendriya juga bertugas menghubungkan berbagai organ perasa dengan suatu titik di otak.  Pranendriya letaknya di tengah dada, dan berdenyut seirama dengan pernapasan. 

Bila denyut napas dan pranendriya menjadi cepat maka akan makin sulit bagi pikiran untuk menangkap rasa.  Misalnya setelah balapan lari 1000 meter anda tidak akan dapat segera makan sesuatu dan mengenali cita rasa yang dimakan karena cepatnya napas dan terganggunya pranendriya.  Selama pernapasan cepat juga akan makin sulit untuk melakukan konsentrasi pikiran.

Dalam pranayama terdapat suatu proses pernapasan sedemikian sehingga denyut pranendriya berhenti dan pikiran menjadi sangat tenang.  Tentu ini akan sangat membantu meditasi.  Pranayama juga mengatur ulang keseimbangan enersi hidup dalam tubuh.  Pranayama adalah latihan yang cukup rumit dan dapat berbahaya bila tidak diajarkan dan dituntun oleh guru yang mampu. 

Pelaku pranayama harus mempertahankan pikiran spiritual dalam pikirannya selama latihan – bila tidak maka pikirannya akan berfokus pada kecenderungan negatip (misalnya kemarahan) dan pikiran malah akan mundur tingkatnya bukannya maju.  Juga penting untuk mengetahui di bagian mana dari tubuh enersi hidup itu harus dikumpulkan. 

Karena rumitnya, pranayama biasanya diajarkan setelah masa persiapan saat murid telah dilatih membiasakan diri dengan proses dasar meditasi dan beberapa latihan lain.  Dalam sistim Ananda Marga yang dikembangkan oleh Shrii Shrii Anandamurti, pranayama adalah pelajaran keempat dari enam pelajaran teknik meditasi yang diajarkan secara pribadi kepada para murid setelah mereka siap untuk pelajaran-pelajaran berikutnya.

V. Pratyahara

Anggota kelima dari Astaunga Yoga dikenal sebagai Pratyahara yang berarti menarik pikiran dari keterikatannya dengan benda-benda luar.  Dalam Tantra, perapalan mantra didahului oleh suatu proses saat pelaku meditasi menarik pikirannya ke dalam menuju suatu titik.  Cerita-cerita para yogi yang berada dalam keadaan meditasi yang begitu dalam sehingga mereka tak merasa apapun waktu sebuah jarum ditusukkan ke badannya adalah sebagai contoh betapa ampuhnya latihan ini. 

Namun memang bukan persoalan yang mudah untuk mencapai keadaan penarikan perasaan yang demikian.  Secara perlahan, dengan latihan yang teratur dan tetap, seorang pelaku meditasi pemula akan berhasil dalam proses ini.  Bagian lain dari pratyahara adalah “persembahan warna”.  Setiap getaran di alam semesta memiliki warna yang berkaitan dengannya, dan untuk setiap benda dalam pikiran, terdapat getaran dan warna yang berkaitan. 

Selama meditasi, pikiran seseorang mungkin akan dipenuhi oleh berbagai benda.  Pada akhir meditasi, seorang meditator melakukan visualisasi dan secara simbolis mempersembahkan berbagai warna yang berkaitan dengan pengganggu meditasinya itu kepada Kesadaran Agung.  Dengan proses ini pikiran akan makin lepas dari kemelekatannya pada pikiran dan benda-benda itu.  Pelajaran mempersembahkan warna ini diajarkan sebagai bagian dari tahap ke dua dalam pelajaran pribadi Tantra Yoga sistim Ananda Marga.

VI. Dharana

Bagian keenam dari Astaunga Yoga adalah DharanaDharana berarti konsentrasi pikiran pada suatu titik tertentu.  Dalam latihan dasar meditasi Tantra, murid harus mengarahkan pikirannya pada suatu cakra tertentu yang merupakan pusat spiritual dan psikisnya.  Titik ini (disebut ista cakra) berbeda dari satu orang dengan orang yang lain, dan ditunjukkan oleh guru meditasinya saat inisiasi.  Setelah pikiran betul-betul berkonsentrasi pada titik itu, maka proses perapalan mantra dimulai.  Kalau konsentrasinya hilang, pelaku meditasi harus mengembalikan konsentrasinya pada titik itu. Latihan membawa pikiran ke suatu titik konsentrasi adalah suatu bentuk dharana.

Selain bentuk dharana ini yang dijumpai dalam pelajaran pertama meditasi, ada bentuk dharana lain yang disebut tattva dharana, yaitu pelaku meditasi berkonsentrasi pada berbagai cakra dan faktor-faktor khas yang diatur oleh cakra itu.  Pelajaran ini penting sekali karena membantu meditator untuk mengendalikan berbagai kecenderungan mental yang diatur oleh cakra itu dan juga untuk meningkatkan kemampuan konsentrasinya yang akan sangat berguna dalam pelajaran meditasi lainnya. 

Tattva dharana juga bertugas meringankan tekanan jalur syaraf ida dan pingala pada jalur susumna.  Dengan berkurangnya tekanan ini, maka enersi spiritual (kulakundalinii) akan dapat mengalir dengan lebih mudah ke atas.  Tattva Dharana meruapakan pelajaran ketiga dalam urutan Tantra Yoga.

VII. Dhyana

Setelah seseorang cukup ahli dalam dharana, maka dia dapat mempelajari anggota ketujun dari Astaunga Yoga, yaitu dhyana.  Dalam proses ini, pikiran pertama-tama diarahkan pada cakra tertentu dan kemudian diarahkan dalam suatu aliran tak terputus menuju Kesadaran Agung.  Aliran ini dipertahankan sampai akhirnya terserap ke dalam Kesadaran Agung.  Proses ini sulit dan hanya diberikan kepada peminat yang telah melatih semua tahap sebelumnya, khususnya dharana.

Ada beberapa bentuk dhyana, dan dengan mempelajari dhyana kita dapat mengerti hubungan Tantra dengan berbagai tradisi spiritual.  Tatkala para guru Tantra dari India pertama kali membawa model meditasi ini ke China, maka dikenal sebagai Chan, dan saat Chan dibawa ke Jepang melalui Korea, akhirnya dikenal sebagai Zen.  Meskipun terdapat cukup banyak perbedaan yang besar antara meditasi Zen sekarang dan Dhyana seperti yang dilakukan oleh para master di India, akar pengajarannya adalah sama.  Dhyana membantu menyempurnakan lapis paling halus dari pikiran dan menuntun orangnya menuju langkah terakhir dari Astaunga Yoga yaitu samadhi.

VIII. Samadhi

Samadhi tidak seperti tujuh langkah sebelumnya, karena tidak memiliki suatu metode atau latihan khusus tertentu, melainkan merupakan akibat dari latihan bagian-bagian lain dari Astaunga YogaSamadhi adalah menyerapnya pikiran ke dalam Kesadaran Agung.  Ada dua bentuk utama samadhi, nirvikalpa dan savikalpaSavikalpa adalah trance dalam penyerapan namun dengan distorsi atau ciri tertentu.  Dalam savikalpa samadhi orang itu akan merasa bahwa “aku adalah Kesadaran Agung”, namun dalam nirvikalpa samadhi tak ada lagi rasa “aku”.  Kesadaran pribadi secara menyeluruh luruh dalam Kesadaran Kosmis.

Mereka yang mengalami keadaan demikian tak dapat menceritakan atau menerangkannya kembali karena itu semua terjadi saat pikiran berhenti berfungsi.  Bahkan hanya ada satu cara untuk mengetahui bahwa mereka telah mengalami keadaan itu yaitu setelah pikiran meninggalkan keadaan trance dalam penyerapan itu.  Baru kemudian mereka merasa bahagia sebahagia-bahagianya dan dapat menganggap telah melalui keadaan nirvikalpa samadhi

Pencapaian samadhi ini diperoleh setelah latihan panjang dalam hidup ini, atau sebagai akibat dari latihan yang banyak dari hidup sebelumnya, atau dengan berkat Guru.  Saat itu merupakan puncak tertinggi setelah jutaan tahun berkembang dari bentuk-bentuk kehidupan yang rendah menuju bentuk manusia dan akhirnya melebur menyatu ke Sumber segala yang ada. [dicuplik dari buku The Wisdom of Yoga  karya Acarya Vedaprajinananda Avadhuta, Singapore: Ananda Marga Publications, 1990] 

Catatan: Astaunga Yoga dari Ananda Marga janganlah dirancukan dengan pemaparan Astaunga Yoga Patainjali. Yoga Patainjali adalah berdasarkan Veda sedangkan Ananda Marga berdasarkan Tantra.  

Source: http://anandamarga.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=151&Itemid=26 

Iklan

Responses

  1. EGP


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: