Oleh: MAULA | Maret 11, 2008

Terowongan

Zenkai, putera seorang samurai, melakukan perjalanan ke Edo 
dan di sana menjadi pelayan seorang pejabat tinggi. 
Ia jatuh cinta dengan isteri pejabat itu dan ketahuan. 
Sebagai usaha perlindungan diri, ia membunuh  pejabat  itu. 
Kemudian, ia melarikan diri dengan isteri pejabat itu.
 
Keduanya kemudian menjadi pencuri. 
Akan tetapi, wanita ini sedemikian rakusnya sehingga 
Zenkai menjadi jijik melihatnya. 
Akhirnya, ia meninggalkan wanita itu, 
melakukan perjalanan jauh ke propinsi Buzen. 
Di sanalah ia menjadi seorang pengemis yang berkelana.
 
 
Untuk menghapuskan kesalahan masa lampaunya, 
Zenkai bertekad untuk melakukan beberapa kebajikan selama hidupnya. 
Karena tahu bahwa ada sebuah jalan yang berbahaya 
di sebuah tebing yang telah mengakibatkan kematian dan 
kecelakaan bagi banyak orang, ia memutuskan untuk menggali 
sebuah terowongan menembusi gunung di sana.
 
Siang hari mengemis makanan, pada malam harinya 
Zenkai bekerja menggali terowongan. Setelah tiga puluh tahun berlalu, 
terowongan yang berhasil digalinya itu telah mencapai 
sepanjang 2280 kaki, dengan tinggi 20 kaki, dan lebamya 30 kaki.
 
Dua tahun sebelum tugas ini diselesaikan, putera dari pejabat 
yang telah dibunuhnya, yang merupakan seorang serdadu yang trampil, 
menemukan Zenkai dan datang untuk membunuhnya sebagai pembalasan dendam.
 
"Aku akan memberikan kepada anda nyawaku secara rela," 
kata Zenkai. "Tapi, biarkanlah aku selesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu. 
Pada saat terowongan ini telah selesai, kamu boleh membunuhku."
 
Dengan demikian, serdadu itu menunggu waktu. 
Beberapa bulan berlalu dan Zenkai masih saja tetap menggali. 
Anak muda tersebut menjadi bosan menunggu dan mulai membantu menggali. 
Setelah  membantu  selama  lebih dari satu tahun, 
ia menjadi kagum atas tekad kuat dan karakter Zenkai.
 
Akhirnya  terowongan itu pun jadi dan orang-orang bisa 
menggunakannya serta berjalan melaluinya dengan aman.
 
"Sekarang penggallah kepalaku," kata Zenkai, "Pekerjaanku telah tuntas."
 
"Bagaimana bisa saya memenggal kepala  guru  saya  sendiri?" 
tanya anak muda itu dengan tetes air mata di matanya.[]
 
Source: Daging ZEN Tulang ZEN, Bunga Rampai Karya Tulis Pra-Zen dan Zen
Dikumpulkan oleh: Paul Reps, Edisi Keenam Oktober 1996, 
Yayasan Penerbit Karaniya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: