Oleh: MAULA | Maret 18, 2008

Merayakan Nabi

yusufislam_wideweb__430x313.jpg 

Di sebuah dunia di mana orang-orang dikepung oleh kegelapan, kebodohan, dan ketakutan. Peristiwa ini merupakan suatu tanda harapan untuk merayakan pesan Islam yang damai dan penuh pancaran cahaya, dan Rasul agung yang terbesar, lahir dan terpilih menyampaikan pesan damai dan cahaya kepada semua umat manusia.

Alasan utama kita bisa menikmati karunia ini adalah melalui kehidupan dan teladan seseorang—yang pamungkas dari rangkaian para nabi—yang diutus untuk memandu dan membimbing umat manusia ke jalan Firdaus, rahmat bagi semesta alam, Muhammad, shallallahu ‘alayhi wa sallam.  

Pandangan terhadap Islam dan Muhammad

Saya seperti kebanyakan orang di Barat, yang dilimpahi dengan kemajuan-kemajuan material tak terukur, teknologi hebat, dan sistem politik yang sangat canggih, tetapi dibesarkan dan diasuh hampir dalam keadaan kemiskinan yang memalukan akan pengetahuan dan informasi tentang Islam.

Gambaran-gambaran kaum Muslim sebagai aliens rasial, dengan kebiasaan-kebiasaan agama yang aneh, jin-jin, permadani-permadani sihir, bulan dan bintang, peperangan dan penumpahan darah, dan perang salib, mendominasi pandangan saya. Apa-apa yang disajikan kepada saya nyaris tak ada yang bisa dikatakan sebagai mewakili Islam, sampai saya benar-benar menemukannya ketika diberi sebuah kitab al-Quran yang dilengkapi dengan terjemahan Inggris pada 1976.
 

Kitab yang menyatukan manusia di bawah satu Tuhan

Pelajaran pertama yang saya pelajari dari al-Quran, adalah pesan kesatuan dan perdamaian. Ini bukanlah agama yang gelap dan asing yang saya duga. Pertama-tama, ia membicarakan kepercayaan pada Satu Tuhan yang mengatur seluruh manusia, makhluk, dan kejadian di alam semesta yang tanpa tanding ini, membicarakan tentang kita sebagai keturunan Adam secara alami, anak-anak umat manusia dari orangtua yang sama, Adam dan Hawa, milik satu keluarga.  

Ayat-ayat tersebut membicarakan para nabi lain sebagai saudara-saudara yang menyampaikan kitab umat manusia yang sama, mempertunjukkan kepada semua lelaki dan perempuan jalan-jalan ke surga. Saya melihat nama-nama Isa, Musa, Ibrahim, Yakub, Nuh dan tentu saja, nama dari Nabi yang terakhir ini, Rasul Allah yang terakhir,  Muhammad saw.

Tidak ada perpecahan yang bisa saya lihat antara ajaran pokok semua nabi dan para orang bijaksana agama. Al-Quran menunjuk suatu pernyataan universal yang menggambarkan tentang keimanan dan agama yang hakiki.

Al-Quran mengatakan, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan  (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 177)

Saya menemukan kata “Islam” berarti memasuki ‘kedamaian’ dengan Allah dan dengan semua ciptaan-Nya. Karena tidak ada tanda rasialisme atau pemisahan antara Nabi, saya mengetahui bahwa kitab ini benar-benar suatu Wahyu dari Tuhan Yang Satu. Dari saat itu, saya menyadari bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang perlu saya lakukan kecuali menjadi seorang Muslim. Itulah yang saya lakukan pada waktu dua puluh delapan tahun yang lalu. 

Setelah menerima Islam, pencarian saya atas sunah, teladan hidup dari Nabi

Salah satu hal yang paling mengagumkan setelah memeluk Islam adalah menemukan kehidupan dan kisah yang unik tentang Nabi saw dalam menjelaskan dan mempertunjukkan contoh praktis dari kata-kata dan ajaran-ajaran al-Quran suci, dan juga sunah.

Dalam sejarah manusia, ada ribuan orang yang telah mempengaruhi keadaan umat manusia. Mereka semua sudah meninggalkan jejak mereka di halaman-halaman zaman. Raja-raja, para prajurit, ahli filsafat, para penulis, penyair…

Tetapi berapa banyak orang yang berlalu tanpa meninggalkan catatan apa pun dan gambaran permanen dari kepribadian atau contoh mereka; berapa banyak yang sudah meninggalkan kita dengan dokumentasi perkataan-perkataan dan perilaku mereka yang sempurna, yang terus memberikan kontribusi untuk saat ini dan masa depan manusia?

Inilah alasan kenapa hari ini, di Madinah, di Jazirah Arab tempat kita dikumpulkan saat ini, kita menemukan satu arus manusia yang tak ada akhirnya mengunjungi dan menyampaikan salam kepada Nabi saw dan memohon kepada Allah untuk memberkati utusan kasih-sayang, Muhammad al-Musthafa, shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari bagaimana ia menyisir rambutnya hingga bagaimana ia berjalan, dari rincian momen-momen intimnya dengan keluarganya hingga pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan Nabi yang berhubungan dengan wacana antara agama-agama dan bangsa-bangsa, setiap detik kehidupan dan ajaran kenabiannya telah disimpan dengan teliti, setia untuk ditulis, dan diiikuti. Warisan terbesar adalah sesuatu yang memberikan manfaat paling luas kepada umat manusia hingga waktu yang amat panjang tanpa batas penilaian. Tak seorang pun kecuali Nabi Muhammad saw yang diberi peran itu sebagai penutup risalah Allah.

Al-Quran menyatakan, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut (nama) Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Salah satu yang paling utama dari kehidupan dan misinya adalah seruan kepada umat manusia menuju kesatuan tujuan dari alam semesta. Fakta bahwa Nabi peduli kepada setiap manusia dan berusaha sebaik-baiknya untuk memastikan keselamatan mereka di akhirat, seharusnya menjadi yang paling banyak diceritakan ihwal karakteristik-karakteristik kemurahhatian dan welas-asihnya.  

Suatu ketika, Rasulullah saw berkata, “Tiada seorang yang menyatakan kesaksian secara ikhlas bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah, kecuali bahwa Allah akan menyelamatkannya dari api neraka.” Sahabatnya, Muadz, berkata, “Wahai Rasulullah, haruskah aku kabarkan kepada orang-orang tentang itu sehingga mereka mendapatkan kabar  gembira?” Beliau menjawab, ‘(Barangkali) ketika mereka mendengar tentang itu, mereka hanya tergantung kepadanya (yakni kepada ucapan dua syahadat itu).’” (Shahih Bukhari, jil.1, hal.130)

Sekalipun Islam diproyeksikan hari ini sebagai hal yang membahayakan dan memusuhi Kristen, Yahudi, dan agama-agama lain, faktanya bahwa Nabi adalah seorang pendidik yang agung, mengajarkan kepada manusia pengertian dan penjelasan agama mereka sendiri, mengoreksi dan membantu mereka dalam mengikuti jalan yang benar, seperti yang diajarkan oleh para nabi dan utusan-utusan (Tuhan) sebelumnya.

Al-Quran menyatakan, “Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’” (QS. Ali Imran [3]: 64)  

Cinta dan kasih-sayang

Saya akan menutup pembicaraan ini dengan suatu kesimpulan, bahwa Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada mereka yang ingin mempelajari Islam dan mengambil manfaat dari kasih-sayang yang Nabi bagi-bagikan kepada semua orang. Beliau berkata, “Kalian tidak akan masuk ke surga sampai kalian beriman; dan kalian tidak akan beriman sampai kalian mengasihi satu sama lain. Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu yang jika kalian melakukannya, itu akan menambah kecintaan di antara kalian? Sebarkan kedamaian.”  

Agar kalian selamat

·          “Kalian tidak akan memasuki surga selama kalian tidak membenarkan keimanan; dan kalian tidak akan beriman sepanjang kalian menyayangi satu sama lain. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, akan menambah kecintaan di antara kalian: memberi sedekah dengan dengan ucapan assalamu ‘alaikum.” (Sebuah perkataan Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih Muslim).[Cat Stevens / Yusuf Islam]

Diterjemahkan dari “Celebrating the Prophet”, ceramah Cat Stevens di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 21 April 2005.

Source: http://www.mountainoflight.co.uk/talks_celebrating.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: