Oleh: MAULA | April 8, 2008

40 Tahun Tewasnya Martin Luther King Junior

Pendeta Harcourt Klinefelter dulu bertugas sebagai juru bicara pers Martin Luther King, serta merekam sejumlah pidatonya. Ia kini sudah tinggal selama 35 tahun di Belanda dan memberi pelatihan tentang perlawanan tanpa kekerasan.

“I Have a Dream”, judul khotbah Martin Luther King Junior pada tahun 1963, menjadi tonggak sejarah persamaan hak-hak warga kulit hitam Amerika Serikat. Sayang ia tidak berumur panjang. Empat April, 40 tahun lalu, sang pendeta dibunuh. King, saat itu berusia 39 tahun, tewas ditembus peluru ketika berdiri di balkon hotel di Memphis, negara bagian Tennessee. Ia tetap dipandang sebagai simbol perlawanan tanpa kekerasan di Amerika Serikat.

Damai
Harcourt Klinefelter mendengarkan pidato Luther King pertama kali tahun 1965. Ia langsung merasakan kedamaian dibalik pesannya. Bersama dengan teman kuliah theologia di Universitas Yale, ia menempuh perjalanan 1500 km demi mengikuti khotbahnya.

“Saya sangat terkesan dengan gerakan tanpa kekerasannya, demikian juga atas kepribadiannya. Itu karena ia setelah pidato, tidak langsung ke ruangan VIP, tapi menuju ke kami dan bertanya tentang perkuliahan teman saya. Saya anggap itu luar biasa.”

Klinefelter segera memutuskan ikut dalam gerakan hak-hak warga kulit hitam Martin Luther King. Ia mengikutinya ke mana saja dan merekam semua khotbah. “Saya jadinya bertanggung jawab untuk semua rekaman dan hubungan dengan pers,” kata Klinefelter.

Kasih
Tahun 1965 berlangsung unjuk rasa penting di Kota Selma, di mana seorang pendeta kulit putih dibunuh oleh kaum rasis. Martin Luther King meminta pendukungnya berunjuk rasa di sana.

“Suasana tampak mencekam ketika kami tiba di Selma. Terlihat polisi bersenjata berat dan sekumpulan orang murka.”

Klinefelter menceritakan bagaimana para pendukung Martin Luther King menyikapi situasi tersebut. Mereka berkumpul dan mulai menyanyi kata-kata seperti “saya cinta doktor King” dan “saya mengasihi semua orang”. Selain itu mereka juga menyanyi-nayi kalimat “saya cinta tentara nasional” dan juga “saya cinta George Wallace” gubernur Alabama yang rasialis. Hal tersebut benar-benar jiwa Martin Luther King. “Anda harus tidak hanya mengasihi kawan-kawan, tapi seperti Yesus katakan, juga musuhmu,” ujar Klinefelter.

Pengorbanan
Dalam unjuk rasa gerakan hak-hak warga, tak jarang terjadi bentrokan dengan kaum rasialis Amerika. Martin Luther King selalu mengingatkan agar memberikan reaksi tanpa kekerasan. Ia menggunakan prinsip Yesus dan teknik Gandhi, bila diserang tak perlu membalas, malah menyerahkan diri. Cara itu seperti menampar semua orang. King yakin penderitaan manusia dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Jika kita bisa membawa situasi tidak adil itu dalam benak manusia, maka dengan sendirinya perilaku mereka berubah.

Klinefelter tidak ada ketika Martin Luther King tewas ditembak tanggal 4 April 1968 di balkon Motel Lorraine di Memphis. Ia pada saat itu baru saja pulang ke Universitas Yale. Pembunuhan pendeta King mengakibatkan kerusuhan di 60 kota Amerika. Pemakamannya dihadiri sekitar 300 ribu orang. Bagi banyak orang, Martin Luther King tetap simbol gerakan hak-hak warga di Amerika Serikat. Setiap tahun, pada Senin minggu ketiga bulan Januari, diperingati sebagai hari Martin Luther King untuk menghormati pemikirannya.

Obama
Menurut Klinefelter kematian King bukan akhir perjuangan. Banyak idenya, sekarang, diwujudkan, seperti penghapusan diskriminasi rasial. “Dulu sama sekali tak terpikir, Oprah Winfrey menjadi presentator televisi terkenal dan Barack Obama menjadi bakal calon presiden AS,” tukasnya. Ia juga melihat keserupaan cara pandang dan sikap antara Dr. King dan Barack Obama. Pada masa lalu King ingin AS menarik pasukan dari Vietnam, sedangkan Obama merasa pasukan AS harus meninggalkan Irak. Keduanya berjuang untuk pemerataan kemakmuran dan memerangi kemiskinan sebagai cara penting untuk mencapai perdamaian dunia.

Pidato Obama ketika ia menang atas Hillary Clinton dalam prapemilu di Iowa juga terkesan memiliki kesamaan dengan pidato King terkenal “I Have a Dream”. Keduanya menggunakan teknik sama yaitu pengulangan kalimat-kalimat pendek, yang biasa dipakai di gereja kulit hitam. Mereka secara berkala menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk menggiring pada kesimpulan akhir. Obama berjuang dengan prinsip sama dengan pendeta King. “Keduanya ingin semua dapat hidup damai berdampingan,” ujar Klinefelter. Seperti dalam pidato Martin Luther King, itulah hari di mana singa dapat berbaring bersama domba.

Indonesia sulit
Aktivis hak-hak minoritas Indonesia, Ester Indahyani Yusuf, meragukan warga Indonesia bisa belajar dari ide-ide Martin Luther King. “Di Indonesia kita perlu banyak melakukan kombinasi karena ada ratusan etnis,” ujarnya. Ia memberi contoh etnis Tionghoa -selama rejim Suharto didiskriminasi-, terdiri dari berbagai kelompok dan masing-masing punya sikap berbeda-beda. Penyebab lain adalah pendidikan anti diskriminasi bukan perhatian utama. “Belum masuk kurikulum sekolah!” Jadi jangankan pendeta kulit hitam Amerika itu, pejuang persamaan hak Asia, Mahatma Gandhi asal India saja tidak banyak diketahui warga di pelosok-pelosok.

“Ada banyak tokoh yang bisa menjadi pelajaran. Ada Bong Kim Fa di Kalimantan. Dia seorang perempuan peranakan Tionghoa-Melayu, aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Banyak sekali tokoh lokal yang kita bisa angkat, bagaimana mereka menembus tirai-tirai diskriminasi ras dan etnis. Mereka berpengaruh bagi masyarakat setempat,” urai Ester. [disadur ulang Junito Drias]

Source: http://www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/40thn_tewas_mlk

Iklan

Responses

  1. Yg membuat lebih sulit lagi karena etnis yg terdiskriminasi juga melakukan diskriminasi pada waktu yg lain…
    Membuka luka lama, di masa penjajah Belanda, kalo anda tertangkap n dianiyaya itu belum seberapa. Tapi kalo anda tertangkap Pooh An Tui (Pasukan Buatan Belanda dari etnis Tionghoa) setidaknya mata atau telinga anda akan hilang sebelah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: