Mufti, Kristen, dan Rabi

 

Washington, DC – Di Barat, “Seorang mufti, seorang Kristen dan seorang rabi…” kerap merupakan pembuka lelucon antar-agama yang bagus. Tapi saya hidup dalam realitas ini. Saya seorang rabi dan kolega saya dari Syria, Hind Kabawat, adalah Kristen Arab. Kami sudah bekerja selama empat tahun dengan Mufti Agung Syria, Sheikh Ahmed Hassoun, di Damaskus dan Aleppo.

Selama empat tahun terakhir, kami bertiga, bersama banyak orang lain yang berani, telah membuat acara publik di Syria yang dianggap mustahil oleh semua orang. Tak ada yang percaya bahwa pendeta Protestan, Katholik, ulama Sunni, Syiah, dan pendeta Yahudi bisa duduk bersama di meja, di hadapan kamera, mengusahakan pondasi masyarakat sipil yang toleran dan membuat komitmen untuk perdamaian – di jantung Syria.

Kami melakukan ini tidak saja dalam bayangan upaya neo-konservatif Amerika untuk menyerang Syria tapi juga dikelilingi oleh militan di wilayah tersebut. Baik militan maupun ekstrimis di Amerika tidak ada yang percaya bahwa orang-orang di wilayah ini bisa datang bersama-sama dalam penghargaan dan persamaan.

Tapi kami membuktikan bahwa bahkan dalam lingkungan politik yang sulit kita bisa menggembleng orang-orang religius dan sekuler bersama-sama untuk memimpikan masa depan masyarakat sipil yang damai di Timur Tengah. Konferensi terakhir kami ditonton oleh lebih dari sejuta rumah tangga di Dunya TV dan AlJazeera, dan kami melakukannya tanpa bantuan dari yayasan atau donor utama.

Rahasia sukses kami adalah merangkul elemen-elemen positif dari semua budaya dan kelompok, serta membangun persahabatan. Ini adalah pekerjaan sulit, tapi kami diperkuat dan dibuat kagum oleh mereka yang datang dengan rasa syukur setelah setiap acara dan berterima kasih pada kami untuk apa yang telah kami simulasikan.

Kami mencintai Mufti karena dia menginspirasikan kami dengan harapan, mengingatkan kami dengan kata-kata dan perbuatannya bahwa perdamaian itu mungkin. Sheikh Hassoun dicintai oleh ribuan orang di Syria karena dia bekerja tanpa lelah untuk menyantuni masyarakat miskin. Dia juga mendorong permintaan maaf dan memberi maaf antara peradaban dan di antara Muslim.

Mufti memenangkan mereka yang berada di posisi rentan di Timur Tengah, dari wanita hingga Ismailis, yang membuat marah kaum ekstrimis. Beliau mengatakan kepada kami pada perjalanan terakhir bahwa dia semakin merangkul negara sekuler sebagai kendaraan yang tepat tempat agama yang baik seharusnya berjalan, pendirian yang juga diungkapkannya secara eksplisit di hadapan Parlemen Eropa bulan lalu.

Kami bertiga merasa bahwa agama punya kontribusi yang banyak terhadap moral sebuah bangsa, tapi hanya jika agama membatasi dirinya pada mengajar dan membantu orang lain, bukan mengontrol.

Apakah itu berarti bahwa kita semua percaya pada pengeboman militan religius daripada bicara kepada mereka dan bahkan mencintai mereka? Tentu tidak. Kami bukan pasifis tapi kita sudah melihat kekuatan kepedulian dari ketidakpedulian dan cinta dari benci, bahkan dengan ideologi politik dan religius garis keras.

Tugas kita sebagai manusia berkesadaran spiritual adalah untuk berbicara, terutama ketika peradaban dan negara modern mengecewakan kaum miskin, mengecewakan bumi, dan menggunakan agama untuk mengejar dan menghancurkan musuh. Kita melihat lingkaran setan balas dendam di wilayah ini atas nama Tuhan, dan menanyakan di mana hasil positifnya.

Mengapa tidak bekerja sama untuk menerapkan perjanjian Abraham berdasarkan penghargaan, penyesalan akan masa lalu, dan masa depan bersama di mana semua orang – Yahudi Israel dan Palestina, Kristen dan Muslim, Wahhabi dan Sufi – benar-benar sejajar?

Ini adalah pilihan yang telah dibuat oleh kita di keluarga Abraham, tepat di jantung perang dan konflik. Agama harus dilepaskan dari senjata, sehingga pesannya yang memuliakan hidup akhirnya bisa menang. Ketika nadi seorang mufti, seorang Kristen dan seorang rabi berdetak sebagai satu kesatuan, kami tahu di mana esensi keyakinan dan harapan terbentang, tapi kami berharap kami bisa menyampaikan pengalaman ini kepada jutaan orang lain.

Kami tidak dapat melakukannya tanpa dukungan para pemimpin politik. Presiden Bashar Assad dari Syria memberi kami kesempatan untuk memulai proses ini; mengapa presiden baru AS, pemimpin demokrasi mulia dari pluralisme agama, tak semaju mereka?

Para pemimpin politik global harus membantu upaya orang-orang di wilayah ini untuk membentuk visi baru akan budaya dan spiritual di masa depan. Inilah harapan kami, dan ketika saya memandang mata saudara saya, sang mufti, saya tahu ini semua akan tergapai suatu hari nanti. [Marc Gopin]

 

 

Marc Gopin adalah Profesor Agama Dunia James Laue, Resolusi Konflik dan Diplomasi di Universitas George Mason, Washington D.C. Dia bisa dihubungi di mgopin@gmu.edu. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa diakses di http://www.commongroundnews.org.

Source: Kantor Berita Common Ground, 11 Maret 2008, http://www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

 

Iklan

One comment

  1. Yang perlu adalah ketulusan, kalau menolong yg iklas jngn ditunggangi misi2 tertentu. Misalanya orang kristen membantu orang islam korban gempa, ya jangan memberi tas2 yg gambar salip, berikan tas gambar masjid, katakan ini dari saudara2 kristen. jangan mufti, rabi, pastur duduk bersama tapi misionaris gerilya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s