Oleh: MAULA | April 30, 2008

Menepis Prasangka, Memupuk Toleransi Untuk Multikulturalisme

Oleh Yayah Khisbiyah

(Sebuah Dukungan Dari Psikologi Sosial)

Pada saat kita mengadakan seminar ini, selain berita bencana tsunami di Aceh yang meremukkan hati, kita masih terus dihujani headlines lain semacam berikut: korban Amerika Serikat dalam perang terhadap Irak terus berjatuhan, Kristen fundamentalis menyerang Islam setelah serangan teroris 9/11, kelompok militan Hindu dan Muslim saling bunuh di Ayodha-India, konflik antara Israel dan Palestina terus bergolak memakan korban, prasangka rasial kulit putih terhadap kulit hitam di Amerika Serikat menyulut kerusuhan berdarah, diskriminasi kekerasan terhadap minoritas Cina terjadi lagi di Pekalongan, penggunaan bangunan sebagai gereja di Depok diprotes keras warga Muslim, sebuah gereja di Palu dibom menjelang Natal, waspadai praktek adopsi anak korban tsunami di Aceh bermotif kristenisasi, workshop Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah dibubarkan paksa oleh kelompok yang mengatasnamakan KOKAM Muhammadiyah Kartasura.

Daftar contoh kekerasan dalam interaksi sosial bernuansa intoleransi dan permusuhan terhadap kemajemukan dan perbedaan ini –mulai dari skala inter-faith dan internasional sampai pada skala intra-faith dan lokal— masih bisa dibuat amat panjang. Banyaknya fenomena-fenomena seperti itu kian menegaskan bahwa kita hidup dalam dunia yang sangat majemuk, tetapi sebagian dari kita memiliki toleransi dan respek yang rendah terhadap kemajemukan tersebut. Akibatnya, ketegangan dan bahkan konflik sosial penuh kekerasan yang kerap destruktif pun terjadi.

Makalah ini mencoba menilik persoalan prasangka (prejudice) antarkelompok dari perspektif psikologi, khususnya psikologi sosial, untuk melengkapi kajian dari perspektif keilmuan lainnya mengenai multikulturalisme. Saya memilih topik prasangka sebagai pijakan dasar membincangkan multikulturalisme, karena banyak literatur psikologi sosial menengarai bahwa prasangka memiliki atribusi penting terhadap intoleransi, kebencian (hatred), permusuhan (enmity) dan kekerasan (violence) antar-kelompok dalam masyarakat multikultur. Saya juga akan lebih berfokus pada angle teoritis, karena menyadari bahwa seminar ini merupakan forum pematangan gagasan untuk merancang dan melaksanakan workshop, pelatihan pelatih, dan Serambi Kajian Multikultural yang akan diselenggarakan PSB-PS UMS dalam tahun ini juga.

Untuk sekedar mempersegar ingatan kita mengenai definisi cakupannya, psikologi sosial adalah disiplin yang mengkaji perilaku individual atau kelompok sebagaimana ia dipengaruhi  oleh  pikiran,  perasaan, dan  perilaku  orang-orang lain, komunitas serta masyarakatnya. Psikologi merupakan disiplin ilmu yang termasuk paling awal dalam mengkaji persoalan stereotip, prasangka, diskriminasi, konflik dan perdamaian. Namun perlu dicatat, pastilah psikologi hanya mampu menyediakan sebagian saja dari  penjelasan tentang persoalan prasangka maupun relasi antarkelompok multikultur yang kompleks ini –persoalan penting yang kian hari kian aktual dan relevan dikaji dalam masyarakat global dewasa ini.

Pengantar: Pseudo-speciation

Erik H. Erikson, seorang tokoh psikologi perkembangan-sosial terkemuka, mengintodusir terma pseudo-speciation. Species berarti klasifikasi mahluk hidup kedalam ciri-ciri biologis yang sama, dimana anggota kelompok yang sama dapat saling mengawini dan beranak-pinak, tetapi anggota kelompok yang  berbeda tidak bisa  melakukannya. Pseudo berarti  palsu atau semu. Berdasarkan spesiasi biologisnya (genetic-speciation), manusia adalah spesies yang sama. Tetapi menurut Erikson, secara sosial-budaya (psychosocial-speciation), spesies manusia yang satu ini lalu memecah diri menjadi ribuan bahkan ratusan ribu suku bangsa, kasta, kelas, agama, ideologi, dan seterusnya. Terma pseudo-speciation atau spesiasi-semu karenanya menunjuk pada fakta bahwa, meskipun umat manusia berasal dari satu jenis spesies, manusia terus-menerus membuat pemilahan-pemilahan kedalam berbagai kelompok berdasarkan proses dan kategori sosial, yang mewujud dalam kotak-kotak clan, suku, kebangsaan, kasta, kelas sosial, agama, dan ideologi.

Pengkotakan ini memberi sense of identity yang membuat para anggota suatu kelompok merasa berbeda dan memiliki kelebihan/ superioritas dibanding kelompok-kelompok lain. Setiap kelompok merasa bahwa kelompoknya adalah istimewa; merasa diciptakan untuk hadir ke tengah semesta oleh kehendak supranatural dengan tujuan paling mulia. Masing-masing mereka merasa memiliki lokus geografis, ekonomi, sosial-budaya dan teokrasi yang berbeda dan lebih unggul dari kelompok-kelompok lainnya. Perasaan ini pada gilirannya membuat setiap kelompok ingin mendapatkan ruang dan momentum yang tepat dalam berada (to exist) dan menjadi (to be) di tengah alam semesta. Perasaan menjadi “pusat alam semesta” (center of the universe) ini makin mengafirmasi superioritasnya di atas segala kelompok-kelompok lain.

Spesiasi-semu mendorong manusia untuk membekali diri, kelompok dan semestanya dengan peralatan dan senjata, peran dan aturan, legenda, mitos, dan ritus. Semua ini berfungsi untuk mengikat anggotanya dalam kebersamaan, dan memberi anggotanya identitas jadi diri sebagai individu yang superior, serta memiliki arti penting di dunia. Pada urutannya, secara positif  identitas jati diri mampu melahirkan loyalitas, heroisme, seni susastra. Pendek kata, identitas jati diri kelompok mampu memberi kontribusi penting dalam menggerakkan peradaban manusia. Ini adalah sisi terang dari spesiasi-semu.

Namun, spesiasi-semu juga memiliki sisi gelap. Sejarah menunjukkan bahwa hanya sedikit suku bangsa dan kelompok budaya yang berhasil menjalankan proses spesiasi-semu ini secara damai dalam kurun waktu lama. Ketika terjadi periode perubahan yang penuh goncangan, maka idea menjadi spesies paling unggul dipertahankan melalui ketakutan yang fanatis dan kebencian terhadap kelompok lain. Kelompok lain dianggap sebagai ancaman yang akan mengurangi kedigdayaan, kesejahteraan dan keunggulan kelompok sendiri, dan karenanya, harus dilemahkan atau dihilangkan dengan cara menyerang dan menaklukkan (perang), atau dengan membuat aturan, adapt, dan perundangan yang diskriminatif terhadap “kelompok lain” dan “orang asing”.

Dinamika survival dasar ini dimiliki oleh umat manusia secara universal. Sisi gelap spesiasi-semu dapat menjadi lebih intens dan dominatif di bawah pengaruh displasi sejarah dan deprivasi ekonomi, yang membuat idealisasi-diri (self-idealization) masing-masing kelompok lebih eksklusif dan defensif. Sejarah modern pun mencatat bahwa mentalitas spesiasi-semu tidak secara otomatis hilang, walaupun manusia telah banyak mengalami kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan. Bahkan negara-negara yang dianggap paling beradab dan “maju” pun dapat dicengkeram oleh mentalitas spesiasi-semu yang fanatik, brutal dan banal. Kemenangan cengkeraman mentalitas ini dicontohkan oleh Nazi Jerman di bawah kekuasaan Hitler. Sisi gelap spesiasi-semu semacam ini, sedihnya, kini semakin kerap terjadi dan menjadi obsesi resiprokal dari banyak kelompok, seiring dengan semakin berkurangnya sumberdaya yang mampu mencukupi kebutuhan semua umat manusia di bumi yang makin renta ini.

[bersambung ke halaman 2]

Laman: 1 2 3 4 5


Responses

  1. sebuah pikiran yang luar biasa untuk multikultural
    sering-sering aja tulisan kayak gini dimuat

  2. Selamat Pagi. Apa Anda punya sumber buku ini? Saya sedang membutuhkan sekali bukunya untuk penelitian saya. Mohon dengan sangat bantuannya. Terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: