Bulan: Mei 2008

Parmalim: “Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat”

“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.” -Pantun ni Ugamo Malim

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal. -Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. (lebih…)

Iklan

Parmalim

Parmalim sebenarnya adalah identitas pribadi, sementara kelembagaannya disebut Ugamo Malim. Pada masyarakat kebanyakan, Parmalim sebagai identitas pribadi itu lebih populer dari “Ugamo Malim” sebagai identitas lembaganya. (lebih…)

Dialog Peradaban dan Globalisasi Spiritualisme

Dialog peradaban adalah kemestian ketika globalisasi juga menyatukan spiritualitas masyarakat dunia. Ia harus merekatkan antara klaim merasa benar sendiri yaitu bahwa kita sendiri yang merepresentasikan nilai-nilai demokrasi dan menghormati kebebasan individu, dengan klaim masa lalu dan kurang terlibat secara kreatif memikirkan isu-isu yang kita hadapi saat ini. Dialog yang diperlukan hari ini bukanlah tentang pembagian wilayah iman dan kekafiran melainkan antara orang-orang yang berdiri di sisi kemanusiaan sejati dan orang-orang yang berada dalam Jahiliyah murni hari ini. Di akhir tulisan penulis mengharapkan, akan muncul Islam yang mengejawantahkan kesucian dan fleksibilitas, tanggung jawab, keadilan dan kasih sayang, menggantikan imaji sistem yang berat, legalistik, dan tidak toleran. (lebih…)

Mengurai Tumpang-Tindih Pluralisme dan Relativisme

Prolog

Dalam percaturan teologis, pluralisme lazim disandingkan dengan eksklusivisme dan inklusivisme (Alan Race, 1983: 10-105). Bagi eksklusivisme, pemahamannyalah yang “paling benar”. Buat inklusivisme, pemahamannyalah yang “paling ideal”. Pluralisme beranggapan bahwa kedudukan setiap pemahaman tentang kebenaran adalah sederajat. Tidak ada yang “paling ideal”, apalagi “paling benar”. “Paling ideal/benar” hanya bisa digunakan jika dibarengi dengan “menurut (siapa)”. (lebih…)

Inklusivisme Versus Eksklusivisme

Dalam buku Dahui dan Zhu-an, Chanlin Baoxun, Ajaran-ajaran berharga dari aliran Ch’an (Zen) diterjemahkan menjadi ‘Zen Lessons The Art of Leadership‘ oleh Thomas Clearly (Shambala, 1989), kemudian dialihbahasakan menjadi “ Dua Angin, Seni Kepemimpinan Zen“ (Karaniya, 1996) dikatakan: (lebih…)