Oleh: MAULA | Mei 13, 2008

Rekonsiliasi Keluarga Israel-Palestina: Tangisan dan Sakit yang Sama

Bagaimana reaksi seorang bunda Palestina yang anaknya tewas karena jantungnya tertembus peluru ? Apa yang dilakukan seorang putra Palestina setelah ibunya meninggal dalam peledakan bis? Kedua tragedi itu membuka jalan kebencian dan dendam. Tapi warga Palestina dan Israel yang kehilangan orang-orang tercinta, ternyata, masih bisa dipersatukan.

Naser meninggal saat ulang tahun ke 16. Semalam sebelum tewas, ia duduk di depan rumah dan menatap langit, tutur ibunya mengenang. Menurut Rahma, kini berusia 73 tahun, putranya waktu itu merasa akan segera berpulang: ‘Naser berkata kepada saya, langit begitu indah dan ingin sekali menggapai seluruh angkasa. Dunia begitu cantik, tukasnya’.

Berang
Semasa puncak Intifada pertama, Naser berang. Demikian cerita ibunya di rumahnya di kamp pengungsi Dheisheh, kota Betlehem, Tepi Barat Sungai Yordan. Naser marah karena bangsanya ditekan, marah karena kerabat keluarganya ada yang mati gara-gara tentara Israel, dan ia ingin melakukan sesuatu. Pas ulang tahun ke 16, dalam aksi turun ke jalan memperingati kawan satu desanya yang meninggal, ia melempari tentara dengan batu. Ia kemudian lari, tapi peluru menghentikan nyawanya.

Rahma mengenang Naser sebagai ‘anak yang ramah dan baik. Ia sayang kepada para abangnya dan adik-adik perempuannya, dan selalu membantu di rumah’. Sang ibu masih tinggal di kamp pengungsian. ‘Sekalipun mereka telah membunuh anak saya, saya tidak membenci mereka. Demi Allah, saya tidak membenci orang Israel. Karena mereka manusia seperti saya. Tapi saya benci tembok isolasi dan kekerasan. Saya yakin, kita bisa menyelesaikan masalah ini, jika kita menyikapi mereka sebagai manusia’.

Beberapa tahun lalu, untuk pertama kali, ia bertemu dengan seorang ibu Israel yang mengalami situasi serupa. Perjumpaan tersebut membantu pemulihan Rahma. ‘Ia menangis dan saya menangis. Dan saya merasakan tangisan dan sakit yang sama pada ibu Israel itu’. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Parents Circle (Lingkaran Orangtua) Forum Keluarga, PCFF. Organisasi Israel-Palestina ini memusatkan kegiatannya pada rekonsialiasi keluarga-keluarga Israel dan Palestina.

Aksi bunuh diri
Nir, 47 tahun, adalah kepala cabang Israel organisasi tersebut. Seperti kebanyakan anggota lainnya, ia pun kehilangan orang tercinta. Ibunya 12 tahun lalu tewas dalam serangan bom bunuh diri terhadap sebuah bis di Tel Aviv. Zeheva – keluarga memanggilnya Golda – adalah seorang perempuan luar biasa, penuh humor, kata Nir.
Ia kala itu baru saja pensiun dan hobi main akordeon. Semasa mudanya, si ibu juara nasional dan meraih hadiah ke Belanda, ikut dalam mars musik. Ia main akordeon bersama kelompoknya, keliling Belanda.

Sewaktu berusia 60 tahun, belum lama menjalani pensiun sebagai guru, ia pergi ke rumah temannya untuk bermain kartu dan ngobrol. Ia punya mobil, tapi karena alasan ekonomi, itulah dugaan Nir, hari tersebut tak dipakai. Nir bercerita di kantornya di Tel Aviv, bahwa ia masih ingat betul suasana ketika mendengar kabar tersebut. ‘Saya merasa marah dan murka. Saya ingat gejolak yang saya rasakan, tuntutan ingin melakukan sesuatu’.

Saling merasakan

Keluarganya hari itu juga dibanjiri politisi dan wartawan. Media mencoba memancing ucapan kutukan semacam ‘Bunuh semua orang Arab’. Tapi Nir dan keluarga memutuskan untuk tidak mengarahkan sakit hatinya kepada pihak lain. Bahkan tidak kepada otak yang mendalangi serangan yang belakangan ditangkap. ‘Saya tidak percaya pada dendam, ibu saya tetap meninggal,’ kata Nir. ‘ Saya merasa sulit melihat bagaimana orang lain mengejar dendamnya. Konfusius pernah berkata, jika Anda hidup dengan dendam, maka galilah terlebih dahulu dua liang kubur’.

Nir menyebut pertemuan pertama dengan warga Palestina senasib, sebuah pencerahan, karena mereka saling merasakan sakit itu. Nir berpendapat organisasinya membawa pengharapan dan meletakkan dasar untuk perdamaian di masa depan. Karena kedua pihak kini saling belajar mengenali sisi kemanusiaan, maka kelak ketika perdamaian tiba, akan lebih mudah, ujarnya menjelaskan.

Ibu Palestina, Rahma, yang menderita sakit jantung, berharap bisa melakukan sesuatu sebelum meninggal. ‘Saya mengetuk setiap pintu yang bisa membawa saya ke perdamaian. Tunjukkan pintu itu dan saya akan masuk ke dalamnya’.[]

Link:http://www.theparentscircle.org/

Source: http://www.ranesi.nl/arsipaktua/timurtengah/tangisan_sakit_sama080509

Iklan

Responses

  1. Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://berita-dunia.infogue.com/rekonsiliasi_keluarga_israel_palestina_tangisan_dan_sakit_yang_sama

  2. nice info… keep posting!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: