Oleh: MAULA | Mei 22, 2008

Inklusivisme Versus Eksklusivisme

Dalam buku Dahui dan Zhu-an, Chanlin Baoxun, Ajaran-ajaran berharga dari aliran Ch’an (Zen) diterjemahkan menjadi ‘Zen Lessons The Art of Leadership‘ oleh Thomas Clearly (Shambala, 1989), kemudian dialihbahasakan menjadi “ Dua Angin, Seni Kepemimpinan Zen“ (Karaniya, 1996) dikatakan:

“Jalan orang suci itu seperti Langit dan Bumi; Bermilyar mahluk hidup tidak ada yang tidak diliputnya. Jalan orang biasa, seperti sungai, laut, gunung, jeram, bukit dan lembah, tanaman, pepohonan dan serangga. Masing-masing memenuhi jalannya sendiri dan itulah semuanya! Mereka tidak mengetahui di luar itu, yang melengkapi semua hal. Namun bagaimana bisa ada dua jalan? Tidakkah mereka menjadi besar atau kecil karena kedalaman dan kedangkalan kesadaraannya?”

Masalah pertentangan antara kepentingan kelompok dan umum juga sudah ada di masa lampau seperti disinyalir oleh orang bijak di atas. Akar masalahnya terletak pada pemahaman antara kepentingan inklusif dan eksklusif yang selalu dipertentangkan. Dalam hidup bernegara, partai yang berkuasa memaksakan kepentingan kelompoknya dengan mengatasnamakan kepentingan seluruh rakyat sehingga minoritas merasa diabaikan. Dalam hubungan antar bangsa, negara adhidaya juga memaksakan kehendaknya. Konsep Hak Asasi Manusia hanya sampai pada menjamin supaya setiap orang menghargai Hak Asasi orang lain dan perbedaan pendapat.

Menurut Prof. Dr Fuad Hassan dalam tesisinya 40 tahun lalu, hal yang sama juga terjadi pada orang yang mengalami gangguan neurosis yang menurut pendapatnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembengkakan neuron, tapi sociosis atau ketidakmampuan seseorang dalam bersosialisasi. Perkembangan dirinya hanya sebatas berjuang untuk ‘ kami ‘. Dalam versi ‘ kamu ‘ menjadi ‘ kalian ‘ dan dalam versi ‘ dia ‘ menjadi ‘ mereka ‘. Orang/kelompok lain dianggap sebagai penghalang pertumbuhan saya/kami atau bahkan musuh. Lalu berkembang sikap yang tidak membantu kami dalam memerangi musuh, dianggap sebagai musuh. Yang berhubungan baik dengan musuh saya/kami, dianggap sebagai musuh. Inilah sumber masalah dunia saat ini yang intinya adalah kematangan pertumbuhan self/pribadi!

Sebaliknya konsep ‘Bhinneka Tunggal Ika‘ lebih maju karena ‘perbedaan adalah persatuan – persatuan adalah perbedaan‘. Atas dasar itulah maka bahasa Indonesia menjadi unik karena merupakan satu-satunya di dunia yang mempunyai kosa kata ‘ KITA ‘. Dalam ke kitaan, identitas ‘kami‘ justru harus ada. Karena ada berbagai versi kami, maka perlu pengertian tentang ‘kita‘; Jadi kami adalah kita – kita adalah kami! [jusuf sutanto]

Source: http://www.jusufsutanto.com/detailnews.php?id=31

Iklan

Responses

  1. Yang menjadi menjadi seorang yang inklusif pun tak mudah.
    Tentang itu pernah saya share di sini:

    http://kalipaksi.com/2007/08/11/menjadi-inklusif-ternyata-tidak-mudah/

  2. […] [2]https://maulanusantara.wordpress.com/2008/05/22/inklusivisme-versus-eksklusivisme/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: