Oleh: MAULA | Mei 29, 2008

Ugamo Malim di Negara Demokratis

Desa Huta Tinggi, 4 km dari Laguboti dan sekitar 300 km dari Medan ke arah Pantai Barat. Matahari sedang menuju puncak klimaks ketika alunan lembut bunyi serunai dipadu dengan kecapi, garantung, hesek, alat musik khas Batak Toba mengawali prosesi upacara Sipaha sada di Huta Tinggi.

Ada perasaan yang sukar dilukiskan yang menyeruak dalam kalbu tatkala alat musik tradisional Batak Toba itu mengalun lembut. Sungguh, perayaan yang dihadiri ratusan orang pengikut ugamo malim itu sangat kental diwarnai oleh simbol-simbol budaya Batak Toba. Busana dan rias khas Batak Toba. Sebutlah para pria yang sudah berkeluarga menggunakan tali-tali (sorban putih yang tak berekor) dengan menyarungkan ulos seperti ragi hotang, sibolang atau ragidup. Para pria yang belum berkeluarga menggunakan busana bebas dan sopan dengan selempang ulos yang sama dan pakai sarung. Para perempuan dewasa baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah tampak dengan gulungan rambutnya yang dibenamkan ke dalam, yang biasa disebut sanggul Toba.

Seluruh rangkaian ritual upacara religius itu diiringi dengan gondang hasapi, tanpa ada nyanyian. Setiap orang hanya tunduk-khusyuk sambil tangan terkatup menyembah di dada mengekspresikan rasa hormat yang mendalam kepada Debata Mulajadi Nabolon. Tidak ada suara berisik atau berbisik. Semua dalam suasana khidmat dan tenang. Boleh dikatakan tampaknya salah satu kekuatan ugamo malim ialah mempertahankan simbol-simbol budaya Batak Toba dalam keasliannya.

Huta Tinggi adalah pusat ugamo malim sedunia. Secara historis Parmalim Huta Tinggi dirintis oleh Raja Mulia Naipospos (wafat 18 Februari 1956), lalu diteruskan oleh anaknya Raja U M Naipospos (wafat 16 Februari 1981) dan sekarang dipimpin oleh Raja Marnangkok Naipospos (usia 67 tahun). Sebagai tempat berkumpul dan beribadat di desa Huta Tinggi didirikan bangunan peribadatan yang disebut Bale Pasogit (arti hurufiahnya balai asal-usul).

Di Bale Pasogit dilaksanakan upacara religius ugamo malim. Tanggal 3 Agustus 1921 atas persetujuan WKH Ypes, Controleur van Toba waktu itu didirikanlah Bale Pasogit. Selain Bale Pasogit juga terdapat bangunan yang didesain secara khusus yakni bale partonggoan (balai doa), bale parpitaan (balai sakral atau penyucian diri), bale pangaminan (balai pertemuan atau mess, tepat menginap), dan bale parhobasan (balai dapur umum, tempat mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta). Di tempat itulah setiap tahun para penganut ugamo malim menyelenggarakan dua perayaan besar yakni upacara Sipaha Sada dan Sipahala Lima.

Memaknai upacara sipaha sada
Pada perayaan sipaha sada para penganut ogamo malim datang dari berbagai penjuru yang tersebar di 50-an komunitas dan sekitar 1500 KK. Dari jumlah itu mereka tidak sekedar hadir, tetapi mereka aktif-partisipatif dalam seluruh rangkaian upacara karena mereka meyakini bahwa Bale Pasogit adalah Huta Nabadia (Tanah Suci). Upacara Sipaha Sada dilaksanakan di dalam ruangan Bale Pasogit, sementara upacara Sipaha Lima diadakan di luar karena teknis pelaksanaannya besar dan berciri kosmis. Menurut Raja Marnangkok Naipospos, pimpinan umum ugamo malim saat ini upacara Sipaha Sada merupakan pembuka tahun dan hari yang baru bagi penganut parmalim Huta Tinggi. “Inti pesta Sipaha Sada ialah menyambut kelahiran dan kedatangan Tuhan Simarimbulu Bosi dan para pengikut setianya yang telah menderita dalam mengembangkan ajaran Ugamo Malim ini,” jelas Raja Marnangkok. Si Marimbulu Bosi bagi penganut parmalim adalah nama Tuhan bangsa Batak.

Menurut generasi ketiga dari keturunan perintis ugamo malim ini setiap aturan yang dilaksanakan di Bale Pasogit harus dihadiri oleh seluruh umat parmalim. Maka tidaklah mengherankan upacara tahun baru parmalim ini sungguh menjadi momen penting sebagaimana hari natal bagi penganut agama Kristen. Untuk itu, dua hari sebelum upacara Sipaha Sada, diadakan juga mangan napaet (makan sesuatu yang pahit) yakni menyantap makanan simbolik untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi, sang penebus mereka. Bahan-bahan makanan tersebut merupakan paduan antara daun pepaya muda, cabe, garam, dan nangka muda yang ditumbuk dengan halus. Ritus mangan napaet berlangsung sebagai pembuka dan penutup puasa yang mencapai waktu sampai 24 jam.

Itulah bagi penganut parmalim sebagai bulan permenungan, pertobatan dan bulan penuh rahmat. “Makna hakikinya, bahwa parmalim pada saat sebelum Sipaha Sada ini sudah melaksanakan upacara pengampunan dosa,” jelas Raja Marnangkok yang sudah mengemban kepemimpinan ugamo malim selama dua puluh lima tahun, sejak 1981.

Dengan demikian bisa dikatakan perayaan Sipaha Sada dapat dianggap sebagai jantung ritus dalam upacara keagamaan Parmalim Huta Tinggi. Perayaan itu memuncak dalam tonggo-tonggo (doa-doa) yang dilambungkan pada hari kedua. Ritus itu berlangsung selama lima jam, mulai jam dua belas siang hingga pukul lima sore. Upacara religius itu diselang-selingi oleh tonggo-tonggo, dengan iringan ritmis musik tradisional gondang hasapi, tortor, dan penyampaian persembahan.

Satu hal yang menarik ialah bahwa mereka tetap mempertahankan aturan-aturan ni panortoran. Sesuai dengan catatan Thomson Hs, seorang penyair dan penggiat budaya Batak Toba dan praktek pelaksanaan upacara religius Sipaha Sada baru-baru ini ada sepuluh jenjang doa yang disampaikan.

Dan setiap doa disertai dengan iringan musik tradisional Batak Toba. Doa-doa tersebut ialah:
1. Doa untuk Mulajadi Nabolon, Tuhan Pencipta langit dan bumi.
2. Doa untuk Debata Natolu, (Batara Guru, Debata sori, dan Bala Bulan).
3. Doa untuk Siboru Deak Parujar, yang memberi sumber pengetahuan dan keturunan.
4. Doa untuk Naga Padoha Niaji, penguasa di dalam tanah.
5. Doa untuk Saniang Naga Laut, penguasa air dan kesuburan
6. Doa untuk Raja Uti yang diutus Tuhan sebagai perantara pertama bagi manusia (Batak).
7. Doa untuk Tuhan Simarimbulu Bosi yang hari kelahirannya sekaligus menjadi momentum perayaan Sipaha Sada.
8. Doa untuk Raja Naopat Puluh Opat yakni semua nabi yang diutus Tuhan kepada bangsa-bangsa melalui agama-agama tertentu, termasuk Sisingamangaraja yang diutus bagi orang Batak.
9. Doa untuk Raja Sisingamangaraja, raja yang pernah bertahta di negeri Bakkara.
10. Doa untuk Raja Nasiak Bagi, yang dianggap sebagai penyamaran atau inkarnasi Raja Sisingamangaraja. Pseudonominya biasa disebut Patuan Raja Malim.

Jadi, secara “teologis” bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi Nabolon. Usai doa-doa itu dipanjatkan dilanjutkanlah “kotbah” atau renungan yang disampaikan oleh pimpinan, Raja Marnangkok Naipospos. Kemudian mereka manortor secara bergiliran mulai dari keluarga Raja sampai naposo bulung (muda-mudi).

Ugamo malim di negara demokratis
Undang-undang Dasar 45 pasal 29 menjamin setiap warga negara dalam kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaannya. Seyogianya undang-undang dasar itu menjadi landasan hukum bagi setiap warga negara dalam mengekspresikan kebebasan beragama. Di Republik ini sering terjadi tindakan di jalur luar akal sehat, tidak rasional. Katanya untuk menyejahterakan rakyat tetapi malah membuatnya makin sengsara. Hal yang sama terjadi dalam bidang kebebasan beragama. Parmalim, konon adalah salah satu kelompok di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang setia melakukan pergerakan dalam melawan kolonial Belanda. Itu berarti meski bertindak lokal dalam skop Tanah Batak tetapi paham mereka sudah pada nasionalisme.

Akan tetapi perjalanan sejarah menyatakan lain. Sesudah kemerdekaan, penganut Parmalim semakin terpinggirkan. Bahkan oleh penganut agama tertentu mereka dicitrakan sebagai si pelebegu (yang menyembah setan, hantu). Persepsi demikian tertanam karena klaim kebenaran agama yang masuk ke Indonesia. Tentu saja dampak dari klaim tersebut sangat fatal bagi penganut Parmalim.

Dalam negara secara administratif mereka tidak memperoleh hak yang sama dengan penganut agama lain misalnya. Kristen, Katolik atau Islam. Kenapa demikian? Negara yang katanya menjamin kebebasan beragama ini dan menganut paham demokrasi hanya mengakui lima agama ditambah dengan baru-baru ini satu agama lagi, yakni Kong Huju. Keberadan parmalim masih seperti duri dalam daging dalam pengelolaan negara dan kelompok agama lainnya. Bahkan barangkali ada persepsi dari agama lain bahwa penganut Parmalim masih perlu ditobatkan lagi. Cap si pelebegu atas parmalim tentu tidak mudah dihapus dari benak sebagian masyarakat kita yang sudah “bertobat” entah menjadi Kristen, Katolik, Islam, Budha atau Hindu.

Maka, dalam makalahnya yang berjudul, “Parmalim di Negeri Merdeka” pada Seminar Parmalim Batak Toba: Kekuasaan, Negara, dan Ekspresi Keberagamaan di Indonesia di Best Western Internasional Hotel, Medan 24 November 2005 lalu, Monang Naipospos, seorang penganut Parmalim Huta Tinggi mengatakan bahwa hambatan pertama dalam bernegara yang dihadapi oleh penganut parmalim adalah memperoleh hak pencatatan sipil, misalnya, mengurus akte perkawinan. Selain itu, dalam mengurus KTP (Kartu Tanda Penduduk) misalnya, seorang penganut parmalim akan mengalami kesulitan menuliskan agamanya. “Maka di KTP kami yang ditulis adalah-(garis) atau menganut agama tertentu seperti Islam atau Kristen”, tulis adik kandung dari Raja Marnangkok Naipospos. Kesulitan lain yang sering dihadapi oleh parmalim, tulis Monang, ialah keterkucilan dari adat karena penganut parmalim tidak makan daging babi. Dengan singkat kata persepsi bahwa “agama saya yang paling benar, agamamu tidak, kau masih sipelebegu” masih berdiam di hati sebagian masyarakat kita meski dengan jelas parmalim juga menyembah pada Tuhan yang sama.

Catatan akhir
Para pendiri bangsa ini telah dari dulunya menekankan pluralitas yang terdapat dalam masyarakat Indonesia.
Dengan indah pluralisme itu mereka patrikan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberbedaan, kemacamragaman dalam berbagai segi kehidupan, entah budaya, etnis, golongan, agama atau kepercayaan diharapkan tidak membawa perpecahan dan saling tuding melainkan membawa persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa dan negara.

Bhinneka Tunggal Ika secara simbolis menyatakan betapa warga negara Indonesia mesti dibangun dalam semangat demokratis, menghargai pandangan dan keyakinan orang atau kelompok lain. Perbedaan, kebhinnekaan atau kemacamragaman tidak menjadi halangan dalam mewujudkan keekaan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau demikian halnya Konghuju yang sudah resmi diterima sebagai agama resmi di Indonesia, apakah potensi kultural seperti ugamo malim harus terus diabaikan?

Di jaman yang kian menghilangkan batas-batas ruang dan waktu, batas-batas identitas kultural yang makin kabur bukanlah mengakar dalam budaya lokal itu mendesak tanpa ketinggalan jaman? Kiranya motto Parmalim yang inklusif-radikal (radix, Latin berarti akar) menjadi ruang masuk ke arah sana. Parbinotoan Naimbaru (menerima perkembangan ilmu dan teknologi demi peningkatan sumber daya manusia), Marngolu Naimbaru (Menerima perkembangan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan dan peradaban, tanpa melanggar etika sosial sesuai dengan tuntutan ugamo malim), dan Tondi Namarsihohot (tetap bertaqwa kepada Tuhan Debata Mulajadi Nabolon melalui ajaran Sisingamangaraja-Raja Nasiak bagi tanpa dipengaruhi ajaran keyakinan agama lain) berorientasi pada keterbukaan yang dialogis dengan setiap elemen masyarakat. [Norton G Manullang SAg, Redaktur Majalah “Menjemaat”, Medan koresponden UCANews, nortonmanullang@yahoo.com ]

Sumber : Harian SIB, http://www.silaban.net/2006/04/10/ugamo-malim-di-negara-demokratis/

Iklan

Responses

  1. Masyarakat sekitar Desa Hutatinggi sangat menghormati keberadaan Parmalim di kampung mereka. Masa kanak-kanak sampai remaja saya habiskan dengan pergaulan yang sangat intens dgn kelompok ugamo malim ini. Sekalipun saya terlahir sbg seorang Kristen dan jemaat HKBP Hutahaean, kami dapat saling menerima dan menghargai. Bahkan teman saya di SMEA Negeri Balige ada satu orang Parmalim yang justru bukan berasal dari Hutatinggi. Namanya Pitua Sianga (entah di mana kau sekarang berada Lae). Lucunya ketika pelajaran agama di kelas, kawan ini dengan suka rela ikut saja pelajaran agama meskipun seharusnya untuk siswa Kristen saja. Pernah suatu kali beliau ditunjuk memimpin doa di kelas, ternyata dia menutup doa yang dia lapalkan itu dalam Nama Yesus Kristus.
    Dengan guyon saya tanya, kenapa Lae berdoa dengan versi Kristen? Jawabannya sangat mengherankan saya, “Karena doa tersebut saya bacakan untuk teman-teman saya yang beragama Kristen”
    Pada kesempatan lain, saat upacara HUT RI di Balige, Camat setempat harus mendatangkan pembaca doa dari Ibukota Kabupaten di Tarutung karena konon “doa resmi” upacara bendera adalah doa Islam, sekalipun peserta upacara dan perangkat upacara lainnya beragama Kristen.
    Dalam hati saya berbisik, betapa lebih bijak kawan saya yang Parmalim ini ketimbang Camat Balige waktu itu.

  2. zetelah berjuang dari tahun 2005, akhirnya sebulan yang lalu, saudara kita meresmikan rumah parsantian di jalan air bersih untuk punguan medan dan sekitarnya. yang menjadi keprihatinan adalah kenapa justru yang tidak mau tanda tangan untuk setuju berdirinya parsantian itu adalah hanya satu keluarga yang berasal dari etnis batak sendiri. betul-betul terpinggirkan, tidak hanya dari dari negara akan tetapi dari sisi etnisitas….
    tapi itu maslah lalu yang sekarang mereka lupakan dengan sikap pasrah mereka terhadap keadaan dan sudah dibukakan hati saudara mereka olehMulajadi nabolon shg tersampaikanlah doa mereka dengan peresmian parsantian di medan. horas saudara-saudaraku di Parmalim.

    maaf, gambarnya itubukan sipaha sada, tetapi si paha lima, karena jalannya upacara sipaha sada itu di dalam parsantian, berbeda dengan upacara sipahalima yang ada di halaman depan parsantian…..
    mauliate….

  3. SEKILAS TENTANG UPACARA SIPAHA SADA
    Upacara Sipaha Sada adalah upacara yang dilaksanakan setiap awal tahun pada bulan. pertama (Sipaha Sada) menurut kalender batak (Parhaloan). Tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah sebagai ucapan syukur atas kelahiran Tuhan Simarimbulubosi ketengah-tengah umat parmalim untuk menebus segala dosa dan kesalahan sehingga mereka disucikan, dan pada saatnya nanti akan memperoleh kehidupan yang kekal (ngolu partondion) di tempat yang mahasuci (habangsa panjadian) di banua ginjang (benua atas). Sedangkan makna dari upacara ini adalah pertanda kemengan iman umat parmalim dalam melawan kuasa iblis (sibolis) kegelapan.
    Dalam pelaksanaan upacara Sipaha Sada, untuk berkomunikasi memohon berkat dari debata Mula Jadi Na Bolon dan penguasa alam roh lainnya, disampaikan melalui tonggo-tonggo (doa ritus) oleh Ihutan sebagai imam pemimpin upacara. Selain itu juga dalam setiap pelaksanaannya dihadirkan dupa, air pangurason, hio putih dan ulos jugia na so pipot. Dan tidak boleh ketinggalan adalah pelean (sesaji) yang terdiri dari kambing putih dan ayam “berwarna hitam campur putih” (jarumbosi) dan sesaji lainnya sebagai kurban untuk menyambut hari kelahirannya. Namun dalam pelaksanaannya praktek mamele (bersaji) dan martonggo (berdoa) di atas belumlah sempurna tanpa kehadiran parhinaloan atau Gondang Hasapi . Seluruh rangkaian permohonan melalui tonggo-tonggo dan pelean (sesajian) baru memperoleh kesempurnaan apabila gondang hasapi dipakai untuk mansahapon (mengesahkan) dan mengantarkan permohonan tersebut ke tujuan masing-masing dan yang paling menarik adalah disajikannya gondang khusus untuk memperingati hari kelahiran Tuhan Simarimbulubosi yang disebut dengan gondang pangharoanan (gondang menyambut kelahiran) dalam upacara Sipaha Sada.
    Ada sekitar 12 macam gondang khusus untuk memperingati hari kelahiran Tuhan Simarimbulubosi. Berikut ini adalah nama-nama gondang yang dimaksud:
    (1) Gondang untuk ibu yang melahirkan Simarimbulubosi
    (2) Gondang Hatutubu (gendang saat kelahiran)
    (3) Gondang Pangharoanan (gendang menyambut kelahirannya)
    (4) Gondang Didang-Didang-nya (gendang membuai-buainya)
    (5) Gondang Haposoon-nya (gendang waktu mudanya)
    (6) Gondang Ulaon-nya (gendang “kenabiannya”)
    (7) Gondang Habengeton (gendang ketabahan)
    (8) Gondang Panghonghopan-nya (gendang pembelaannya)
    (9) Gondang Hasiakbagion-nya (gendang penderitaannya)
    (10) Gondang Hamonangan (gendang kemengangannya)
    (11) Gondang Parolop-Olopan-nya (gendang merayakan kegembiraannya)
    (12) Gondang Hasahatan (gendang tempat yang dituju, penerima, dan perantara)

    Semua nama gendang yang dikemukakan di atas, wajib dipersembahkan pada setiap upcara Sipaha Sada. Bunyi masing-masing gendang itu sudah baku dan tidak boleh ditukar-tukar sampai kapan pun. Setiap gendang ini dibunyikan, maka harus disertai dengan tortor (tarian), tapi yang boleh menari adalah Ihutan sendiri di depan persembahan, sementara peserta lainnya hanya boleh mangatea (bersembah dengan sepuluh jari) dengan posisi tetap duduk.
    Ihutan-lah yang bertindak sebagai Pejabat (manghasuhutkon) dalam mempersembahkan sesaji sembahan itu. Peranan Ihutan disini adalah sebagai wakil dari Raja Nasiakbagi yang pertama kali mengisbatkan (menetapkan) upacara Sipaha Sada wajib diamalkan. Hal ini juga bermakna bahwa Ihutan-lah yang bertindak sebagai wakil seluruh warga parmalim dalam mempersembahkan sesaji sembahan itu.
    Demikian sekilas acara ritual Ugamo Malim dalam upacara Sipaha Sada untuk memperingati kelahiran Simarimbulubosi yang pelaksanaanya jatuh pada hari kedua dan ketiga setiap bulan kesatu menurut parhalaan (kalender) Batak di Huttatinggi Laguboti Toba Samosir Sumatera Utara.
    itulah kira-kira ringkasan upacara sipaha sada, serta gondang hasapi yang mengiringi tonggo-tonggo yang khusus hanya ada diupacara sipaha sada.
    untuk tingkatan 10 doa yang seperti diungkapkan oleh Thompson Hs tersebut di atas, selalu menjadi pengantar setiap pelaksanaan ibadah apapun pada Komunitas Ugamo Parmalim, yang selalu diiringi gondang sabangunan dan tortor pada upacara sipaha lima yang dilakukan di halaman depan parsantian, sedangkan pada upacara sipaha sada, 10 doa itu diiringi oleh gondang hasapi yag dilakukan di dalam parsantian, dan setelah itu dilanjutkan dengan 10 gondang untuk memperingati kelahiran simarim bulu bosi.
    horas….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: