Oleh: MAULA | Juni 6, 2008

Kebenaranku, Kebenaranmu

Manusia hanya bisa menyingkap Kebenaran dengan anihilasi. Sepertinya Kebenaran memberitahu kepada manusia, tidak ada jalan yang lebih baik lagi untuk mengenal Diri-Nya kecuali manusia meleburkan eksistensinya ke dalam Realitas Kebenaran. Manusia bisa menemukan Kebenaran melalui agama dengan cara “interiorizing.” Manusia yang terputus dari agama akan terputus dari Kebenaran. Ketika manusia menyadari bahwa semua agama terhubung dalam satu substansi universal, segala pluralitas yang muncul tidak lagi dilihat sebagai entitas-entitas yang “distinct” dan “diverse” murni, tetapi akan terlihat dalam cahaya “ketunggalan.” Tentu perspektif ini tidak mengarahkan manusia meninggalkan form agama demi substansinya, tetapi manusia harus tetap dengan formnya sekaligus mempunyai penuh kesadaran kepada substansinya.

SEMUA pemikiran, filsafat dan agama tidak akan mempunyai peran dan fungsi dalam masyarakat manusia ketika ia tidak berakar dalam Kebenaran. Inilah masalah yang paling fundamental dan esensial dalam pikiran semua manusia yang merindukan kebenaran. Kebenaran adalah segala-galanya untuk mereka bahkan untuk semua manusia. Kebenaran adalah asas dan akar pemikiran, agama, sosiologi, antropologi, kosmologi dan segala bentuk pengetahuan yang telah terbentuk dan masih terbentuk dalam sepanjang sejarah manusia. Semua aspek kehidupan harus dilihat dalam cahaya kebenaran dan harus ditegakkan dan direalisasikan dengan kebenaran.

Ketika manusia terpisah dari kebenaran atau kehilangan kebenaran maka segala kesengsaraan dan ketidakseimbangan akan mulai tersebar, seperti saat air bening mulai terkotori dengan warna yang menyebar dan halus cara masuknya. Dan sebelum manusia sempat sadar, air yang bening telah menjadi keruh. Akhirnya manusia generasi selanjutnya yang belum pernah melihat kebeningan air, akan senantiasa merasakan bahwa hakikat air adalah sebagaimana yang mereka lihat dan rasakan sekarang ini. Bagi mereka itulah kebenaran. Namun, bagaimana pun keruhnya air itu, ia tidak bisa terhapuskan; malah kekeruhan tidak akan bisa mengekalkan eksistensinya tanpa air yang selama ini telah menjadi esensi yang terselubungi.

Keadaan kebenaran sekarang ini adalah seperti air bening yang telah dikotori. Tetapi kehadiran dan eksistensi kebenaran tetap kekal dan aktif. Kebenaran tidak pernah tidak ada dan tidak mungkin tidak ada. Malah semua yang kita rasakan, saksikan dan pikirkan bahkan yang kita percayakan dan abdikan diri, semuanya berasal dari dan berakar dalam kebenaran. Kebenaran sama sekali tidak pernah terciptakan, dengan kata lain ia adalah “uncreated and uncreatable”. Ini berarti bahwa manusia tidak akan pernah bisa mencipta dan merekayasa kebenaran. Malah kebenaranlah selama ini yang telah mewujudkan manusia dan semua pemikiran serta keyakinannya.

Kebenaran adalah abadi. Ini adalah satu pernyataan yang amat penting difahami dengan baik dan dengan penuh perhatian. Keabadian Kebenaran berarti bahwa kebenaran tidak pernah tertakluki oleh waktu dan ruang, bahkan ia adalah “beyond time and space.” Dengan kata lain, ia adalah “non-temporal” dan juga “non-spatial.” Maka itu tidak akan pernah ada kebenaran kuno dan kebenaran baru. Kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran adalah immutable. Kebenaran tidak akan pernah mengalami sembarang perubahan. Dulu dan sekarang dan akan datang, adalah sama.

Manusia dan Kebenaran

Manusia tidak pernah berhenti dan lelah dalam mencari Kebenaran. Malah pencarian itu sendiri berasal dari hubungan intrinsik primordial antara manusia dan Kebenaran. Pencarian ini telah mewujudkan berbagai macam filsafat dan teologi yang menafsirkan Kebenaran. Tetapi kita tidak bisa menolak bahwa segala penafsiran tentang Kebenaran hanyalah satu gambaran dan lukisan pikiran tentang Kebenaran. Manusia mencipta satu imej rasional atau imajinal tentang Kebenaran. Akhirnya manusia mengkristalisasikan “kebenaran rasional” tersebut dan menyamakan ia dengan Realitas Kebenaran. Inilah permulaan satu reduksi atau satu pembatasan. Kebenaran yang Mutlak direlatifkan, Kebenaran yang Infinite dilimitasikan. Dan sebaliknya, yang relatif termutlakkan dan yang terbatas terhilangkan batasan.

Tetapi sebagian manusia yang bijaksana dan tajam dalam kontemplasinya, segera sadar bahwa segala bentuk penafsiran itu terbatas. Dan mereka tidak akan pernah bermimpi untuk memutlakkan apa yang mereka fahami. Tetapi mereka segera menyatakan bahwa “kebenaran rasional” hanyalah satu ekspresi atau simbol rasionalis tentang Kebenaran, tidak kurang dan tidak lebih.

Manusia hanya bisa menyingkap Kebenaran. tetapi bukan dengan fahaman dan pikiran. Penyingkapannya harus eksistensial. Memahami beda sekali dengan merealisasi. Pemahaman adalah satu ekspresi tetapi realisasi adalah anihilasi. Sepertinya Kebenaran memberitahu kepada manusia, tidak ada jalan yang lebih baik lagi untuk mengenal Diri-Nya kecuali manusia meleburkan eksistensinya ke dalam Realitas Kebenaran. Bahkan manusia adalah manusia saat dia mengenal dan merealisasikan Kebenaran.

Sampai di sini, Kebenaran sudah terlihat sebagai Alpha dan Omega. Kebenaran adalah asal dan sekaligus tujuan akhir. Kebenaran adalah asal segala-galanya dan segala-galanya akan terlebur dalam Kebenaran. Semuanya ini adalah “Sekarang” atau sering dinamakan sebagai “the Divine Now” atau “The Present.” Cuma manusia saja yang masih belum menyadari.

Kebahagiaan dan kesengsaraan

Berdasarkan penjelasan di atas, kebahagiaan dan kesengsaraan manusia sangat tergantung kepada sejauh mana manusia menyadari Kebenaran. Ketika manusia bisa mengatur kehidupannya dalam berbagai aspek dan dimensinya berdasarkan kesadarannya kepada Kebenaran, maka dia akan melihat dan merasakan kebahagiaan, keseimbangan dan keharmonisan. Tetapi ketika dia tidak sadar kepada Kebenaran, itulah titik permulaan segala kesengsaraan. Dan inilah krisis manusia modern. Krisis yang amat substansial. Manusia modern menyangka bahwa eksistensinya tidak pernah ada kaitan dengan yang Mahamutlak. Manusia tidak hanya memutlakkan fenomena yang selanjutnya mewujudkan saintisme (scientism, secara epistemologis berarti sains dijadikan tolak ukur bahkan satu-satunya tolak ukur kebenaran). Bahkan dia juga menjadikan eksistensinya sebagai tolak ukur kebenaran. Dengan kata lain, sebagian manusia memutlakkan kosmos dan sebagian lainnya memutlakkan eksistensi manusia. Manusia telah merelatifkan yang Mutlak dan memutlakkan yang relatif.

Cara pandang seperti ini telah menyebabkan manusia terpenjara dalam pemikirannya tersendiri dan terperangkap dalam relativitas. Apapun usaha manusia untuk mencari kebahagiaan dan menghapuskan kesengsaraan, tidak akan membawa manusia ke mana-mana pun. Seperti manusia yang berada di dalam penjara, dan berusaha sekuat-kuatnya untuk membahagiakan diri mereka, tetapi mereka tetap berada di dalam penjara. Maka itu, mereka harus meyakinkan diri mereka bahwa mereka sedang merasakan kebahagiaan. Padahal kebahagiaan sebenarnya adalah ketika mereka tidak terikat dan tidak terpenjara lagi.

Agama dan Kebenaran

Agama dalam bahasa Latinnya adalah religio yang berarti “sesuatu yang mengikat”. Agama mengikat manusia kepada Kebenaran, agar secara epistemologis dan ontologis, dia tidak terpisah dari Kebenaran. Agama berasal dari Kebenaran, bahkan ia adalah Kebenaran yang menjelma dalam kehidupan manusia secara temporal dan spasial. Maka itu agama adalah satu realitas “Divine” yang menjelma dan hadir di tengah-tengah manusia. Ia memberi pengharapan dan inspirasi untuk manusia supaya mereka bisa menjalani kehidupan ini dalam kebahagiaan dan penuh keseimbangan.

Di periode renaisans, manusia modern dengan segala keterbatasannnya telah memulai suatu serangan terhadap agama yang hingga kini masih berlangsung. Realitas agama mulai dipersoalkan hingga manusia merasakan mereka harus melakukan sesuatu yang fundamental terhadap agama. Mereka merekonstruksi malah mendekonstruksi agama, dan kemudian menggantikannya dengan ideologi-ideologi humanis yang mereka rasakan bisa merespon kepada semua kebutuhan manusia dari segi pemikiran, moral dan spiritual. Manusia modern terlalu obsesi dengan “dinamisme,” (dynamism) seakan-akan ia mengandung satu “categorical imperative” dan sebuah penawar universal (universal remedy) dan juga seakan-akan “dinamisme” mempunyai makna dan keberkesanan positif di luar Kebenaran. Akhirnya mereka tidak melakukan apapun kecuali hanya telah menggantikan satu kesalahan kepada kesalahan lainnya.

Agama bukanlah ideologi humanis yang bisa direkonstruksi seenaknya. Agama bukan filsafat dan bukan juga teologi. Agama tidak bisa dibatasi dalam satu pemahaman rasionalis filosofis maupun teologis. Agama adalah wahyu atau “revealation”. Dan wahyu adalah penyingkapan. Wahyu mengandung “Divine Truths” yang kemudian dibahasakan dalam berbagai bentuk yang bisa dikomunikasikan kepada manusia dalam semua level.

Dalam tradisi Hindu, agama dilihat sebagai satu “upaya” dari Kebenaran. Upaya adalah satu istilah khas yang mengandung arti sebagai “satu stratagem yang menyelamatkan” atau “satu wasilah yang disediakan untuk menyampaikan haqiqat-haqiqat yang tersimbolisasi.” Dengan kata lain yang lebih sederhana, upaya adalah usaha untuk menyelamatkan sebanyak mungkin dengan berkomunikasi secara maksimal. Dalam satu pengertian, agama mengulurkan tangannya kepada semua dan dalam berbagai cara.

Maka itu, Wahyu kadang-kadang membahasakan “Divine Truths” dalam bahasa kerja dan amal. Ia membahasakan ‘Divine Truths” dalam bahasa sentimen dan perasaan. Ia juga bisa membahasakannya dalam bahasa rasional. Semua ini untuk menarik manusia kepada satu komunikasi dan persepsi yang lebih esensial yaitu ketika Intelek-Qalbu manusia mulai menyingkap “the Divine Truths.” Intelek dan rasio tidak bisa disamakan. Karena intelek yaitu qalbu mengenali realitas dengan ilmu hudhuri (presential knowledge) sementara rasio memahami realitas dengan ilmu hushuli (conceptual knowledge). Maka itu manusia tidak seharusnya merekonstruksi agama tetapi dia harus menyelami agama dan tidak membatasi dirinya hanya kepada penafsiran filosofis atau teologis. Segala bentuk rekonstruksi adalah permainan rasional yang hanya bisa menggantikan satu pakaian-rasionalis-humanis dengan pakaian-rasionalis-humanis lainnya.

Kebanyakan manusia masih belum pernah menemukan substansi agama. Mereka hanya berinteraksi dengan form agama. Form inilah yang menggunakan berbagai bahasa untuk berkomunikasi dengan manusia. Tetapi bahasa dan ekspresinya tidak terlepas dari keterbatasan. Ekspresi tersebut walaupun berasal dari Kebenaran Mutlak tetapi karena ia telah memasuki dimensi relativitas ia juga akan kelihatan relatif. Dalam tradisi Hindu, keterbatasan dalam ekspresi ini dipanggil upadhi. Maka itu ia menjadi terbatas. Manusia berusaha untuk memahami form tersebut. Jelas sekali jika mereka hanya berhenti kepada pemahaman eksoteris sudah tentu ia akan terbatas. Di situlah muncul ide-ide terbatas tentang form agama. Tetapi sebagaimana sudah ditegaskan, manusia harus melampaui ide dan form agar bisa menyaksikan substansi. Maka itu solusi atas persoalan ini bukanlah rekonstruksi tetapi “esoterizing” atau “interiorizing.” Melalui esoterisme, manusia akan menemukan kembali hubungannya dengan Kebenaran. Hubungan yang tidak pernah putus tetapi cuma tidak disadari lagi.

Esoterisme dan Kebenaran

Agama tidak hanya memiliki dimensi ekstrinsik, tetapi ia juga mempunyai dimensi intrinsik. Manusia harus menyelami agama hingga bisa terhubung dengan “the Divine Truths” yang terkandung di dalamnya dan terekspresi di luar secara simbolis. Esoterisme adalah Kebenaran (the Truth) dan Jalan (the Way). Ketika manusia menyelami batin agama, dia sebenarnya sedang melampaui diri individualnya yang rasionalis dan sentimentalis termasuk juga sensualis. Akhirnya dia menyadari bahwa selama ini dia adalah Kebenaran. Kesadaran ini akan mengembalikan perspektif sebenarnya terhadap Realitas Kebenaran dan akan mengembalikan kebahagiaan serta keseimbangan dalam kehidupan.

Tetapi manusia tidak akan bisa mencapai Kebenaran itu tanpa bimbingan dari seorang “Divine Person.” Maka itu salah satu elemen penting dalam esoterisme adalah “the spiritual authority” yang bukan hanya dilihat sebagai “nabi” yaitu seorang manusia Ilahi yang membimbing manusia ke arah merealisasi Kebenaran, tetapi juga sebagai “avatara” yaitu Tuhan manusiawi atau Tuhan sebagai penjelmaan manusia.

Maka itu melalui agama manusia bisa menemukan Kebenaran tetapi harus melalui “interiorizing.” Dan karena agama adalah wahyu, jadi untuk menemukan Kebenaran manusia harus menerima wahyu melalui keimanan. Secara umum, manusia yang terputus dari agama akan terputus dari Kebenaran. Kami lagi membicarakan tentang “revealed religions” bukan “institutionalised religions.” Dengan kata lain, agama bukanlah satu institusi yang terbentuk dari filsafat atau teologis atau juga sosiologi. Agama sebagaimana sudah ditegaskan dan akan ditegaskan lagi di sini adalah “the Divine Revealation.”

Pluralitas form agama dan satu substansi

Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa Kebenaran adalah Mutlak. Dan kemutlakan melazimkan ketidakterbatasan atau “infinitude.” Dan “infinity” pula melazimkan keragaman dan pluralitas dalam manifestasi. Maka itu yang Mahamutlak sudah pasti akan termanifestasi banyak. Substansi agama adalah Kebenaran Mutlak Universal dan ia temanifestasi dalam berbagai form. Dengan kata lain, substansi agama adalah perennial dan universal. Justru itu semua agama akan menyatu secara transeden dalam substansi tersebut. Inilah yang sering dipanggil sebagai “the Heart of religions,” atau “religio perennis.”

Membataskan atau meng”equivalent”kan satu form agama dengan substansi agama, adalah satu kesalahan yang amat dalam. Karena manusia telah merelatifkan yang Absolut dan mengabsolutkan yang relatif. Agama dalam level formalnya, tidak mungkin Absolut bahkan ia hanya satu relatif yang termanifestasi dari Realitas Absolut.

Inilah aspirasi epistemologis dan sekaligus ontologis Nabi Muhammad ketika beliau bermunajat dan mengungkapkan: “Ya Allah perlihatkanlah kepada aku segala sesuatu sebagaimana ia adalah yang sebenarnya.” Realitas Absolut adalah Absolut dan relatif adalah relatif. Yang Absolut memanifestasikan Diri-Nya menjadi relatif dan yang relatif sebagai manifestasinya terhubung kepada Absolut dan menghubungkan kepada Absolut.

Ketika manusia menyadari bahwa semua agama terhubung dalam satu substansi universal, segala pluralitas yang muncul tidak lagi dilihat sebagai entitas-entitas yang “distinct” dan “diverse” murni, tetapi segala “distinction” dan “diversity” akan terlihat dalam cahaya “ketunggalan.” Semua perbedaan terlihat sebagai keistimewaan, bukan konflik dan kontradiksi. Tentu sekali perspektif ini tidak mengarahkan manusia meninggalkan form agama demi substansinya, tetapi manusia harus tetap dengan formnya sekaligus mempunyai penuh kesadaran kepada substansinya.

Religio Perennis (Perennial Religion) – satu perspektif primordial

Manusia modern atau manusia yang “religiously dogmatic” sudah tidak lagi mempunyai kesadaran kepada substansi agama-agama. Ini berarti bahwa mereka telah terputus dari Kebenaran. Justru itu manusia sekarang ini, harus kembali kepada “the Perennial religion” atau “the Heart of religions.”

Kadang-kadang “religio perennis” diistilahkan sebagai “philosophia perennis”, tetapi karena istilah “philosophia” sekarang ini lebih terlihat sebagai satu pemahaman rasionalis humanis dan ia juga tidak mengkonotasikan hubungan manusia dengan “the Divine”, maka itu para perennialis dalam konteks tertentu akan lebih memberatkan istilah “religio perennis.”

“Religio perennis” bukanlah satu ideologi baru yang muncul beberapa dekade dahulu, tetapi ia adalah ekspresi dan formulasi terkini setelah ada “rediscovery.” Substansi universalis agama-agama memang tidak bisa ditolak. Studi komparatif agama-agama akan membuktikan kehadiran elemental substansi tersebut.

Prinsip-prinsip Religio Perennis

Terutama sekali adalah perspektifnya tentang “the Principle” atau “al-Asl” yang sekaligus Absolut dan “Divine” Dan “Real.” Dan dari kemutlakan serta ketidakterbatasan-Nya akan muncul Maya atau “the relative.” Yang penting di sini adalah “discernment” yaitu satu kemampuan untuk melihat perbedaan halus antara “the Absolute” dengan “the relative.”

Elemen Sat (Being):

Kedua dalam konteks ontologis, Realitas adalah sebuah hierarki. Heirarkinya dimulai dari “Being” dan kemudian “existence” sebagai penampakan Being. Dan eksistensi pula dimulai dari “celestial” dan berakhir kepada “terrestrial.” Di atas semua derajat-derajat yang ada dalam hierarki ini adalah “Beyond Being” atau Para atma (dalam term Hindunya).

Elemen Chit (Consciousness):

Ketiga dalam konteks epistemologisnya, bahwa manusia mempunyai daya dan fakultas pengetahuan dari indera, imajinal, rasional dan pusat semuanya ini adalah Intelek (dalam arti sebenarnya). Manusia adalah satu keberadaan “multi-dimensional” yang mempunyai dimensi tubuh fisik (body), jiwa (soul) dan ruh (spirit). Religio perennis sangat mementingkan dan menegaskan agar perbedaan antara “Intelek” dan “reason/ratio” dijelaskan. Alam juga tidak terlepas dari derajat dan dimensi.

Elemen Ananda (Bliss):

Keempat, perspektif religio perennis tentang keindahan (beauty). Keindahan dalam alam dan keindahan pada manusia. Keindahan alam akan dilanjutkan kepada seni (arts). Seni pula termanifestasi dalam berbagai dimensinya; dari musik, lukisan, arsitektur, sastra dan lain-lainnya. Sementara keindahan dalam manusia adalah “virtues.”

Kelima adalah metode. Jalan yang menunjukkan manusia bagaimana dia bisa terhubung dan menemukan kembali Kebenaran dan selanjutnya bagaimana dia bisa memiliki kesadaran permanen dan perpetual terhadap Kebenaran. Dan bagaimana dia bisa melihat Kesatuan dalam keragaman.

Catatan akhir

Krisis manusia modern tidak terlepas dari masalah epistemologi dan ontologi. Kedua-dua ini pula mewujudkan satu perspektif. Dan perspektif yaitu “how we see things” itulah yang akan menentukan “how we live.” Manusia modern hanya bisa hidup melalui perspektif humanisnya yang terbatas dan “illusory.” Untuk mereka, epistemologi adalah “how I see things” atau “how my human mind sees things.” Sementara ontologi mereka kadang-kadang berdasarkan “the relative“ yang sudah diabsolutkan dan kadang-kadang beradasarkan “eksistensi dirinya.”

Epistemologi Religio perennis adalah “to see things as they are,” dan ontologinya adalah “the Real as it is.” Maka itu perspektifnya yang terbentuk dari epistemologi dan ontologi ini akan menentukan “how we live.” Segala-galanya “seberapa mungkin” harus dilihat melalui “the Divine perspective” dan harus direalisasikan berdasarkan “the Divine Reality.” Karena dari “the Divine Reality” ini akan terpancar “beatitude” atau rahmat yang tidak terhingga dan keindahan yang mengindahkan segala-galanya. [Muhammad Baqir]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: