Oleh: MAULA | Juni 6, 2008

Kekerasan Agama yang Halus

Apabila diperhatikan dengan saksama, maka akan terasa bahwa masyarakat beragama

di Indonesia sedang atau telah mengalami berbagai bentuk kekerasan. Kekerasan

itu bisa terjadi dalam kalangan penganut salah satu agama, bisa juga terjadi

antaragama. Dari sifatnya, kekerasan agama itu bisa berupa kekerasan fisik,

kekerasan wacana, dan kekerasan dalam bentuk karya kesenian.

Masyarakat sudah sering mendengar atau menyaksikan kekerasan fisik yang terjadi

antarumat beragama. Peristiwa perusakan Kampus Mubarok milik Jemaat Ahmadiyah

di Bogor, atau peristiwa perebutan kepemimpinan gereja di Sumut yang terjadi

beberapa waktu lalu adalah contoh kekerasan fisik antarumat beragama. Sementara

penutupan paksa atau perusakan rumah-rumah ibadah suatu agama oleh penganut

agama lain adalah kekerasan antarumat beragama.

Sedangkan kekerasan yang bersifat wacana biasanya lebih banyak terjadi dalam

kalangan penganut salah satu agama. Wacana-wacana pemikiran baru yang menuntut

perubahan sering dikemukakan dengan berani di media massa oleh pemikir-pemikir

muda dari semua agama. Di kalangan umat Islam ada kelompok Jaringan Islam

Liberal (JIL), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), serta kelompok

lain di luar keduanya yang sering mewacanakan hal-hal sudah dianggap baku oleh

kaum tua.

Wacana yang sering dilontarkan oleh JIL jelas telah membuat banyak kalangan

Islam merasa ”dikerasi” karena pemikiran Ulil Absar Abdalla itu dianggap

membahayakan kemurnian Islam. Di kalangan NU, dari mana Ulil dilahirkan, juga

terjadi kegelisahan. Hal yang sama terjadi di kalangan Muhammdiyah. Kaum

konservatif dalam persyarikatan ini juga gerah terhadap pemikiran anak-anak

mereka yang tergabung dalam JIMM.

Banyak orang berpendapat kekerasan-kekerasan yang bersifat wacana bisa

memancing munculnya kekerasan fisik. Contohnya, kantor JIL di Utan Kayu,

Jakarta, hampir diserbu. Tidak mustahil–kalau semua pihak tidak mampu bersikap

dewasa–kekerasan fisik akibat adanya kekerasan wacana akan terjadi kelak.

Yang terakhir adalah kekerasan terhadap agama dalam bentuk karya seni. Pada

tahun 70-an, umat Islam Indonesia diresahkan oleh terbitnya sebuah cerpen yang

berjudul ”Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin. Kasusnya sampai ke

pengadillan, dan penanggung jawabnya, HB Jassin, dihukum. Sesudah itu muncul

kasus Salman Rushdie, pengarang India yang menulis novel The Satanic Verses.

Umat Katolik juga mendapat bagian kekerasan jenis ini. Akhir-akhir ini beredar

novel yang tentu tidak mereka sukai. Novel tadi adalah The Da Vinci Code karya

Dan Brown dari Amerika. Dalam novel ini ditulis seakan-akan Yesus Kristus punya

keturunan yang hidup hingga hari ini.

Kekerasan atas agama dalam karya sastra bisa dikatakan halus karena bersifat

nonfisik. Namun demikian, ada kekerasan dalam bentuk lain yang lebih halus,

yang kebanyakan muncul melalui tayangan ceritera di televisi. Misalnya, TVRI

Yogya pernah menayangkan sinetron Den Baguse Ngarso. Dalam suatu episode,

muncul gambar situasi ruang tengah sebuah rumah yang penuh dengan simbol-simbol

agama seperti kaligrafi Alquran dsb. Rumah siapakah itu? Tak lain adalah rumah

Den Baguse Ngarso yang mewakili tokoh buruk dalam cerita itu.

Dalam sinetron lain ada adegan ini: Audio terdengar suara azan. Dan, begitu

suara azan selesai, video memperlihatkan benturan dua kepala kambing jantan

yang berlaga. Benturan itu menimbulkan suara keras. Ada lagi: Audio

memperdengarkan suara anak membaca Alquran dengan syahdu. Tapi, begitu selesai

shadaqallahul adzim, terdengar suara gelas dibanting dengan keras. Sudah?

Belum, masih ada lagi. Dalam sebuah iklan tayangan sinetron, ada adegan ini:

Audio menyuarakan kata-kata ”Muhammad”. Pada saat yang nyaris bersamaan,

terlihat seorang gadis jatuh ke lantai karena dipukul dengan sangat keras.

Ah, kekerasan, betapapun sangat diperhalus, tetaplah kekerasan. Tidak ada

kekerasan yang tidak menyakiti pihak yang dikerasi. Jadi, sebelum semuanya

tambah keras, mari kita minta ampun kepada Tuhan. Cukuplah segala kekerasan

agama berhenti di titik ini. [Ahmad Tohari]

Source: REPUBLIKA, Senin 29 Agustus 2005

Iklan

Responses

  1. Kekerasan dalam bentuk apapun selalu tidak berguna.

  2. Kekerasan selalu dilakukan oleh orang2 yang berhati keras, marilah kita lembutkan hati dengan zikir kepada-Nya….
    Agama diturunkan oleh Tuhan untuk kedamaian, ketentraman..
    Agama akan menjadi seram di tangan orang2 jahil yang selalu salah menafsirkan ayat-ayat Tuhan…
    salam damai


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: