Oleh: MAULA | Juni 19, 2008

Gambang Kromong dan Tradisi Cina Benteng

SEJAK usianya masih belasan tahun, Ong Gian (47) sudah mengenal gambang kromong. Petani di Neglasari, Tangerang, ini termasuk salah satu pemain gambang kromong dan sering tampil dalam acara-acara pesta perkawinan masyarakat Cina Benteng Tangerang.

Pada malam Imlek 2554, Ong Gian dan kelompoknya, “Sinar Harapan”, yang asal Desa Jelupang, Serpong, tampil di Khongcu Bio (tempat peribadatan masyarakat Khonghucu) di kawasan Pasar Lama, Tangerang.

“Keahlian ini warisan turun-temurun dari ayah dan kakek,” kata Ong Gian seusai pementasan, Sabtu (1/2) dini hari. Di Sinar Harapan, juga ada saudaranya, yakni Ong Kiong.

“Sehari saja tidak mendengar musik gambang kromong, hidup rasanya hampa, seperti sayur tanpa garam,” katanya.

Bagi masyarakat Cina Benteng-sebutan bagi komunitas Cina Tangerang-gambang kromong adalah bagian dari kesehariannya. Kesenian tradisional ini sangat populer. Setiap pesta perkawinan bisa dipastikan diramaikan dengan gambang kromong sebagai hiburan utama.

Menurut pengurus Majelis Agama Konghucu Tangerang, Joko Santosa, penampilan gambang kromong di Khongcu Bio Pasar Lama merupakan salah satu usaha mengenang perayaan Imlek tempo dulu.

Lagu-lagu yang dibawakan sebagian merupakan lagu klasik, seperti Cinte Manis Berdiri, Semar Gurem, Gula Ganting, dan Pecah Piring. Disebut lagu klasik karena lagu-lagu itu jarang dapat dimainkan oleh pemain musik yang masih muda. Tak heran bila pada malam Imlek lalu, penyanyi yang membawakan lagu-lagu klasik itu usianya sudah lanjut, 77 tahun.

Meski usianya sudah uzur, Ny Masnah (77) yang mengaku sudah menyanyi sejak 60 tahun lalu terlihat masih segar saat tampil di panggung. Tidak heran, dia memang sering tampil dalam berbagai pesta perkawinan masyarakat Cina Benteng di Curug, Tigaraksa, Legok, Serpong, Teluknaga, dan Batuceper.

Meski penghasilannya tak seberapa, Masnah menganggap gambang kromong adalah bagian penting hidupnya. Kesenian tradisional itu pula mata pencariannya.

Ia pula satu-satunya penyanyi lagu klasik gambang kromong yang masih hidup di Tangerang. Memang ada dua penyanyi muda lagi di Sinar Harapan, tetapi mereka baru belajar dan belum bisa menyanyikan lagu-lagu klasik.

Saat ini tercatat sekitar 20 kelompok musik gambang kromong di Tangerang. Mereka biasa menerima pesanan manggung untuk menghibur tetamu dalam pesta perkawinan dengan tarian cokek dan pesta keluarga masyarakat Cina Benteng tradisional, khususnya di pedesaan.

Para pemain musik pada umumnya orang-orang Cina Benteng, yang memperoleh keahlian secara turun-temurun.

Go Jin (45) yang biasa memainkan alat musik teh yan mengaku sudah 20 tahun bergabung dalam grup-grup gambang kromong yang berbeda dan sering tampil di kampung-kampung Cina Benteng di Legok, Tangerang. Lelaki yang sehari-harinya pengojek ini termasuk pemain langka karena tidak sembarang orang bisa memainkan teh yan, semacam rebab berukuran kecil yang berasal dari Cina.

GAMBANG kromong yang cikal-bakalnya dari etnis Cina itu memang merupakan contoh musik yang sudah beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut sinolog Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto, tidak ada yang tahu pasti kapan gambang kromong mulai disukai masyarakat Cina Benteng.

Di Jakarta, gambang kromong saat ini sering ditampilkan dalam berbagai acara yang diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun yang diadakan masyarakat Betawi, Meski para pemain musiknya bukan orang-orang Cina seperti di Tangerang, itu menegaskan adanya pembauran yang harmonis antara unsur Indonesia dan unsur Cina seperti terlihat pada peralatan musiknya.

Selain teh yan, sejumlah alat musik yang berasal dari Cina adalah kong an yan (semacam rebab berukuran sedang) dan shu kong (semacam rebab berukuran besar). Sedangkan alat musik khas Indonesia, selain kromong, juga ada gambang, alat musik yang memiliki 18 sumber suara dari bilah, terbuat dari kayu, berasal dari Jawa dan Sunda. Juga kemong, semacam gong kecil berasal dari gamelan Jawa dan Sunda.

Sementara kendang, semacam tambur dengan dua permukaan, juga merupakan perangkat gamelan Jawa, Sunda, dan Bali yang fungsinya memberi irama.

Di tengah gencarnya serbuan budaya pop di Jakarta, gambang kromong masih bertahan dalam masyarakat Betawi meski usaha lebih banyak dilakukan pemerintah melalui beragam acara yang diselenggarakannya.

Tapi, di Tangerang, gambang kromong betul-betul hidup dan masih eksis dalam masyarakat tradisional Cina Benteng yang menganggap kesenian ini bagian penting dari kebudayaan dan tradisi mereka.

Beberapa lagu lama yang terkenal antara lain Pobin Kong Ji Lok, Pobin Pe Pan Tau, Gula Ganting, Lopan Ce Cu Teng, dan Pobin Pe Pan Tau, sedangkan lagu modern antara lain Balo-balo, Stambul Bila, Onde-onde, dan Stambul Lama. Sebagian lagu itu sudah direkam untuk konsumsi orang-orang asing dalam compact disc (CD) berjudul Music from the Outskirts of Jakarta oleh Smithsonian Folkways Recordings. [ksp]

Source: Kompas, Senin 3 Februari 2003


Responses

  1. Terakhir ketemu Masnah 4 tahun yang lalu. Mudah2an beliau tetap sehat dan berkarya

  2. Dimana bisa mendapatkan kumpulan lagu-lagu gambang kromong yang sudah dalam bentuk CD ? mohon bantuannya. Terima kasih.

    • buat abang coba deh mampir ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan…lokasinya di jagakarsa jktSel’ dsana banyak tuh yg jual……dr yg lagu klasik spt balo2, stambul, cente manis, persi sampe lagu2 gambamg kromong modern!!!
      kl mau lg mampir deh ke sanggar kita….. saya pribadi punya banyak lagu2 gambang kromong asli….. info http://www.betawisinarmuda.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: