Oleh: MAULA | Juli 4, 2008

Perasaan dalam Berbahasa

KAMU’ adalah kata ganti orang kedua dalam bahasa Indonesia. Lalu Pak Rosihan Anwar mengusulkan untuk menggunakan kata ‘anda’ sebagai pengganti kata ‘kamu’, karena kata ‘kamu’ terdengar tidak pas digunakan dalam kegiatan sehari-hari terutama didalam tulisan di media.

Sejak itu koran, majalah, dan TV menggunakan kata ‘anda’ sebagai kata pengganti orang kedua, termasuk untuk iklan. Tetapi ternyata kata anda tidak bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan. Adakalanya kita merasa tidak pas menggunakannya. Atau orang lain yang menilai tidak pas.

Andy Noya dalam mewawancarai HB X menggunakan kata ‘Anda’. Sebaliknya HB X menggunakan kata ‘Bapak’. Kawan segenerasi saya, seorang Jawa, mengatakan bahwa Andy Noya tidak ngerti unggah-ungguh (sopan santun). Di sini kita lihat perbedaan rasa bahasa antara orang Jawa dengan non-Jawa dan generasi tua dengan generasi muda.

Memang masyarakat kita belum bisa (mungkin juga tidak perlu) mengikuti gaya lugas seperti bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘you’ untuk semua lapisan, termasuk untuk Presiden dan orang tua kita. Dulu dalam bahasa Inggris digunakan kata ‘thee’, tetapi kini tidak lagi. Bayangkan kalau kita memakai kata ‘anda’ kalau berbicara dengan orang tua kita atau dengan Presiden. Tentu dianggap tidak sopan.

Bagi orang Jawa yang lebih tua atau yang kita hormati, bisa digunakan kata ‘panjenengan’. Bagi orang Sunda, bisa digunakan kata ‘anjeun’. Kalau dia orang luar Jawa, bisa digunakan kata ‘bapak’ atau ‘ibu’. Bisa juga dengan kata ‘abang’. Kalau dengan kawan akrab, bisa memakai kata ‘elu’, ‘kamu’, ‘kau’, ‘anda’, atau ‘ente’.

Bagaimana sikap kita kalau menghadapi lawan bicara yang lebih muda atau bawahan, yang memakai kata ‘anda’ terhadap kita? Ada yang merasa tidak dihormati, tetapi ada juga yang merasa tidak jadi masalah. Terhadap orang tua atau merasa terhormat yang peka kalau kita menggunakan kata ‘anda’, kita juga harus peka kalau tidak ingin dapat masalah.

Dalam berdoa, saya menggunakan kata ‘panjenengan’ terhadap Allah dan kata ‘dalem’ untuk mengganti kata ‘saya’. Kata ‘anda’ dan ‘saya’ terasa tidak sopan. Sebenarnya untuk kata ganti orang pertama dalam bahasa Indonesia sudah tidak ada masalah. Kata ‘saya’ sudah diterima dengan baik. Cucu saya memakai namanya atau kata ‘aku’ untuk dirinya dan memakai kata ‘eyang’ terhadap saya. Untuk orang ketiga juga ada tingkatan, yaitu kata ‘dia’ dan ‘beliau’.

Bahkan untuk kata kerja dalam bahasa Jawa juga terhadap hirarki, misalnya kata minta dalam bahasa Jawa ada kata ‘njaluk’ dan ‘nyuwun’, yang halus. Jadi penggunaan kata ganti untuk orang pertama dan kedua dalam bahasa Indonesia membutuhkan rasa bahasa yang berdasar kepekaan.[Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng]

Source: Harian PELITA, 17 JUNI 2008

Iklan

Responses

  1. Indonesia memang majemuk, Keseragaman justru akan mematikan budaya kita yg beragam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: