Oleh: MAULA | Juli 8, 2008

Awas, Bakteri E Coli pada Es Batu!

BOGOR – Anda yang gandrung konsumsi minuman atau makanan dengan menggunakan es batu yang dijual di pinggir jalan agar hati-hati! Kemungkinan besar minuman maupun makanan itu telah terkontaminasi bakteri Escherichia coli atau disingkat E Coli.

Lho kok begitu? Sebagai acuan, lihat saja hasil uji sampel yang dilakukan Iman Santoso Mphil dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA-UI) dan VitaCharm Multi Probiotic ABC yang mengadakan pengayaan materi ”Pengenalan Metode Pengujian Bakteri E Coli” (uji Coliform) kepada guru-guru biologi se-Bogor dan sekitarnya.

Dalam uji sampel yang dilakukan pada kegiatan seminar dan workshop, Kamis dan Jumat (15-16/5) itu, terungkap bahwa es buah yang dibeli peserta di pinggir jalan mengandung koliform setinggi 1.600 koloni/100 ml.

Padahal, dengan kandungan 200 koloni/100 ml dalam suatu perairan, sudah tidak layak dikonsumsi, sebab sangat berpotensi menyebarkan penyakit infeksi seperti demam typhoid, hepatitis, gastroenteritis, disentri, dan infeksi telinga.

“Memang dalam sampel es buah yang dibawa peserta seminar kita menemukan kandungan koliform yang cukup tinggi. Tapi kita belum bisa mengetahui kadar E colinya karena tidak tersedia alat untuk pengujiannya,’’ kata Iman saat ditemui SH di sela-sela kegiatan workshop, Jumat (16/5).

Selain pada es buah, kandungan koliform juga ditemukan dalam kelapa murni ditambah es batu, dan air tanah SMA Negeri 2. Tapi tidak setinggi kandungan es buah yang dijual pedagang di pinggir jalan.

Dalam penjelasannya, Iman mengatakan seminar sekaligus workshop yang diadakan di Ruang Serbaguna SMAN 2 Bogor Jalan Kranji Ujung 1–Budi Agung itu sebagai pengetahuan bagi tenaga pengajar mata pelajaran biologi dan kimia di sekolah dasar, SMP dan SMA.

Pengayaan materi ”Pengenalan Metode Pengujian Bakteri E Coli” (uji Coliform) diadakan guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan oleh kontaminasi bakteri patogen (bakteri jahat) bagi keselamatan jiwa manusia serta bagaimana cara yang paling efektif untuk mencegahnya.

Selain dilakukan uji bakteri E Coli, dalam workshop itu juga dilakukan uji efek antagonis bakteri baik Multi Probiotic ABC dalam menghambat bakteri patogen.

Didampingi PR Manager OT, Yuna Eka Kristina, pembicara Iman Santoso menjadikan hubungan antara bakteri E Coli dengan penyakit diare dan bagaimana pencegahan, sebagai isu pembahasan. Mengapa diare? Karena sekilas penyakit ini terkesan tidak berbahaya karena hampir setiap orang pernah mengalaminya. Padahal, diare merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian pada balita, khususnya di Indonesia.

Memang, kata Iman Santoso, E Coli bukan penyebab utama penyakit diare. Namun, ditemukannya E Coli merupakan indikasi awal bahwa suatu medium telah terkontaminasi bakteri-bakteri strains E Coli yang bersifat patogen seperti Shigella, Salmonela, atau Yersinia. Bakteri-bakteri tersebutlah yang menyebabkan diare.

Tingginya tingkat penyakit diare berkaitan dengan pencemaran bakteri E Coli yang terdapat di air minum di Indonesia, khususnya di kota-kota kecil. Minimnya pengetahuan masyarakat awam tentang bahaya akan bakteri E Coli mengakibatkan kurangnya kesadaran untuk mendeteksi dan mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap bakteri tersebut.

Oleh karena itu, selain diberikan pembekalan materi mengenai bakteri E Coli, para guru itu juga diberi kesempatan melakukan Uji Bakteri Koliform di laboratorium untuk mengetahui keberadaan bakteri tersebut dari beberapa sampel makanan dan minuman yang mereka bawa dari rumah. Sehingga setelah dilakukan pengujian, diketahui higienitas dari makanan atau minuman yang mereka biasa konsumsi sehari-hari.

Bakteri Patogen

Iman Santoso menekankan jika jumlah koliform dalam suatu perairan terdiri lebih dari 200 koloni/100 ml maka kemungkinan besar perairan tersebut mengandung bakteri patogen. ”Kondisi perairan yang demikian, berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit infeksi. Salah satunya adalah penyakit saluran pencernaan seperti diare,” jelasnya.

Di sisi lain, PR Manager OT, Yuna Eka Kristina, mengatakan latar belakang VitaCharm mengadakan Program Pengayaan Materi Pengenalan Metode Pengujian Bakteri E Coli ini agar para guru dapat melihat secara langsung bagaimana wujud dan pergerakan dari bakteri E Coli. Dengan demikian, para guru diharapkan semakin sadar akan keberadaan bakteri E Coli dan dampak buruknya terhadap kesehatan sehingga mampu meneruskan pengetahuan tersebut kepada murid-muridnya.

”Tingkat pemahaman atau kepercayaan seseorang mengenai suatu wacana akan bertambah ketika ditunjang dengan bukti visual. Saya rasa, tingkat SMP dan SMA merupakan level edukasi yang membutuhkan lebih dari sekadar teori, tapi juga pengalaman langsung,” komentar Yuna.

Khalif, guru biologi SMA Al-Ghajaly Kota Bogor mengakui kalau seminar dan workshop tentang uji bakteri koliform itu sangat berguna. Dengan adanya penambahan pengetahuan yang didapatkan dari seminar itu, guru bisa membimbing siswanya dalam melakukan penelitian tentang E Coli. Melalui siswa itu kemudian diteruskan kepada masyarakat awam tentang bagaimana menghindari makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri E Coli. [Periksa Ginting]

Source: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0805/21/jab06.html

Iklan

Responses

  1. tp apa ada kmungkinan E.coli hidup dalam es yg bersuhu sangat rendah…???? misalnya pada es lilin yang dsimpan dlam freezer….

  2. Bagaimana dgn minuman yg mengandung pemanis buatan seperti aspartam, dan mengandung soda?? Kenapa tidak di lakukan uji coba terhadap minuman jenis tersebut? Mohon penjelasan Anda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: