Menengarai Psikopat

APA yang ada di benak Anda kalau mendengar kata psikopat? Jawabannya tak akan jauh beranjak dari nama-nama, entah fiktif (karena begitu populernya di layar perak), entah riil.

Sebutlah Hannibal Lecter dalam film The Silence of the Lambs, pembunuh sadis berpenampilan ”sempurna”. Juga para tokoh dalam film-film lain seperti Goodfellas, Sleeping with The Enemy, Cape Fear, In a Child’s Name, dan berbagai cerita film yang mengambil kisah nyata sebagai inspirasi.

Sebut saja Jeffrey MacDonald, seorang dokter yang membunuh istri dan dua anaknya pada tahun 1970, menjadi perhatian media dan tokoh dalam buku serta film Fatal Vision.

Atau John Gacy, kontraktor dari Des Planes, Illinois, anggota muda Kamar Dagang yang mendapat predikat ”Man of the Year”, si penghibur anak-anak ”Pogo Sang Badut”, yang difoto bersama Rosalyn, istri Presiden Charter, sebelum ketahuan ia telah membunuh 32 anak muda dan mengubur jasad korbannya di sekitar rumahnya.

Juga Charles Sobhraj, warga negara Perancis, lahir di Saigon, yang disebut ayahnya sebagai ”si penghancur”. Ia adalah ’legenda’ dalam kejahatan internasional; penyelundup, penjudi, dan pembunuh yang meninggalkan jejak dompet kosong, perempuan-perempuan kebingungan, wisatawan keracunan, dan begitu banyak mayat di sekitar Asia Tenggara pada tahun 1970-an.

Atau Diane Downs yang menembak mati anaknya untuk menarik perhatian laki-laki yang tidak menginginkan anak dan menggambarkan dirinya sebagai korban yang sesungguhnya.

Clifford Olson, pembunuh beruntun dari Kanada yang meminta pemerintah membayarnya 100.000 dollar AS untuk menunjukkan di mana ia menguburkan para orang muda korbannya dan melakukan apa saja agar tetap menjadi pusat perhatian.

Lalu, Richard Ramirez, membunuh 13 orang dan melakukan 30 jenis kejahatan lain termasuk perampokan, pencurian, pemerkosaan, sodomi, dan percobaan pembunuhan.

Dr Robert D Hare menyebut beberapa nama ini karena tingkat kejahatannya yang menonjol sehingga terjaring hukum untuk memperlihatkan spektrum kejahatan orang-orang (dengan berbagai identitas) yang ditengarai sebagai psikopat.

Profesor di bidang psikologi dari University of British Columbia, Kanada, penulis buku Without Conscience: the Disturbing World of the Psychopaths Among Us (1999) itu adalah narasumber utama dalam seminar besar mengenai psikopat di Jakarta, akhir bulan Januari 2006.

Di Indonesia?

Psikolog Sartono Mukadis dari Pusat Studi Perilaku menyebut dua dari begitu banyak kasus kriminal yang pelakunya memenuhi sebagian kriteria dalam psychopathy checklist-revised (PCL-R) untuk mengukur derajat keparahan psikopat yang dikembangkan Dr Hare.

Sartono menyebut kasus Grh dari Medan, Iptu Polisi, berpendidikan S-1 di bidang Hukum, yang membunuh enam korban, tetapi diduga lebih dari itu, sejak tahun 1998. Para korbannya tersebar dari Jambi sampai Sumatera Utara, bahkan, masih dalam penyidikan polisi, juga di Batam.

Pembunuhan dilakukan tanpa pola tetap. Korbannya laki, perempuan, tua, setengah baya. Dia bahkan sempat ikut melakukan penyidikan atas kasus pembunuhan itu karena ia memang bekerja di bagian penyidikan.

Ketika akhirnya diketahui bahwa dialah pelakunya, ia sama sekali tidak menampakkan rasa sesal atau bersimpati pada nasib keluarga korban,. Ia juga tidak terkesan merengek atau minta dikasihani. Bicaranya cerdas, terkesan cerdik dan dipikirkan dulu. Walau sesekali terkesan emosional, tetapi segera mampu menguasai diri.

Kata Sartono yang mewawancarainya dalam satu program di stasiun televisi swasta, cerita yang dikemukakan pelaku polanya jelas; menggabungkan fakta, alibi, argumentasi, dan khayalan dengan baik. ”Kalau tidak dilakukan cross check, kita akan melihatnya sebagai kebenaran dan kejujuran yang utuh,” ujar Sartono.

Karier Grh tidak luar biasa, tetapi di atas rata-rata sejawatnya dan memperoleh banyak kepercayaan dari atasan. Karena itulah, ketika pertama kali Kepolisian Resor Sekayu tempat mayat terakhir ditemukan di daerah Musi, Banyuasin, beberapa atasannya di Jambi meragukan ia sebagai pelakunya.

Kasus lainnya yang disebut Sartono adalah kasus Oji (20-an), sopir angkot, lulusan SMA, yang membunuh dua gadis kecil di Bekasi. Penampilan fisik Oji dapat dikatakan di atas rata-rata sejawat kelas sosialnya. Aksentuasinya baik dan lancar, terkesan ia cukup banyak membaca dan mau tahu, meskipun hanya sepotong- sepotong, bahkan bercerita tentang Jack the Ripper. Tidak ditemukan riwayat pedofilia. Pelaku mengaku menikmati hubungan seks dengan perempuan dewasa.

Terdakwa menyatakan penyesalannya, tetapi mengatakan kematian korban disebabkan faktor nasib yang di luar kendalinya: mengapa korban mau saja ikut dan tak mencurigai orang asing.

Setelah membunuh Rina, korbannya yang kedua, pelaku merasa kasihan pada ibu korban dan berniat menikahinya.

Menurut Sartono, pelaku tampak sangat menikmati proses shooting dan akan tampil di televisi. Oji menyusul nama-nama ”terkenal” sebelumnya karena tindak kriminal yang mencengangkan, seperti Robot Gedek dan Sumanto.

Tidak selalu kotor

Lebih mudah menengarai ciri-ciri psikopat dari orang- orang yang berada di penjara karena melakukan kejahatan ekstrem dibandingkan dengan mereka yang berada di luar. Seperti dikemukakan Dr Hare, ”Semakin tinggi derajat keparahan psikopatnya, semakin canggih ia menyembunyikan kejahatannya. Malah bisa jadi, orang lain yang harus menanggung kesalahan yang ia lakukan.”

Dr Hare memprediksi tiga dari 10 laki-laki di Amerika Serikat dan satu dari 30 laki-laki di Inggris adalah psikopat. Prediksi ini didasarkan pada penelitiannya, yang sebagian besar respondennya adalah laki-laki.

Psikopat ditemukan di berbagai profesi dan kelas sosial, laki- laki dan perempuan. Karena yang dirugikan oleh kejahatannya tak hanya individu tetapi juga masyarakat luas, banyak ilmuwan menggunakan istilah sosiopat. Diperkirakan satu persen penduduk dunia memenuhi sebagian besar ciri-ciri psikopat.

Di dalam ceramahnya, Dr Hare mengatakan hanya dua persen psikopat yang melakukan pembunuhan, dan seperempat dari jumlah itu melakukan bunuh diri. Ia menyebut jenis psikopat kerah putih, yang melakukan kejahatan pada orang dan lembaga tanpa kekerasan. Seperti John Grambling Jr. Laki-laki berpendidikan tinggi dari kelas menengah atas itu melakukan penipuan di banyak bank dan dengan leluasa meminjam uang sampai jutaan dollar tanpa jaminan.

Atau Brad, pengacara, berusia 42 tahun yang berada dalam peringkat atas daftar para psikopat kerah putih karena menyalahgunakan posisi profesionalnya untuk kepentingan pribadinya. ”Salah satu ciri paling jelas dari psikopat adalah gila kekuasaan,” ujar psikiater dr Yul Iskandar.

Banyak koruptor memenuhi sebagian kriteria dalam PCL-R. ”Tingkah laku psikopat tampak jelas ketika wajah koruptor, teroris, pemerkosa, dan pembunuh di televisi tidak menyiratkan penyesalan, rasa bersalah, dan malu,” ujar Dr Akhyar Yusuf, Ketua Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

”Fenomena ini menunjukkan apa yang disebut dengan kekacauan itu ada di lingkungan kita, dan boleh jadi kita, dalam kadar yang berbeda-beda, kita juga termasuk di dalamnya.”

Dalam karya klasiknya, The Mask of Sanity, Hervey Cleckly menggambarkan secara jelas dokter dan psikiater yang psikopat.

Sebagian besar psikopat berkeliaran di luar, mungkin di sekitar kita, dan melakukan kejahatannya secara sempurna. Kejahatannya tidak tercium hukum, tetapi menyebabkan korbannya sangat menderita baik secara psikologis maupun finansial.

”Ada rekan kerja di kantor yang sangat jahat. Ia memfitnah, membalik-balik fakta, mengadu domba. Ia tidak merasa bersalah, ketika akhirnya ketahuan. Tidak ada satu orang pun percaya dia melakukan hal-hal buruk karena wajahnya lembut dan tutur katanya sangat halus,” ujar dr Tri, sebut saja begitu, mengenai temannya, atau lebih tepat bawahannya, di sebuah organisasi internasional di bidang kemanusiaan.

”Akhirnya saya tidak tahan juga dan memutuskan keluar karena ulah atasan saya yang hampir tidak masuk akal dalam memanipulasi fakta, menjilat atasannya, dan menginjak bawahannya,” sambung Abi, juga bukan nama sebenarnya, penulis lepas, yang sebelumnya bekerja di sebuah media massa.

Banyak orang dengan ciri-ciri yang memenuhi sebagian kriteria PCL-R malah merasa aman dalam perlindungan keluarganya. Kejahatannya ditutup rapat oleh orang-orang terdekat yang mencintainya. Sartono menyodorkan contoh seorang laki-laki muda yang terlihat sangat sopan dan lembut yang ditemui di ruang konsultasinya.

”Penampilannya yang sempurna itu mengelabui, kalau orangtuanya tidak bercerita bagaimana anak itu mengancam ayahnya, memukul ibu dan adiknya dan memaksa keluarganya menyetujui semua kehendaknya,” papar Sartono.

Atau kisah Ny Paulina, sebutlah begitu, yang harus menghadapi anak laki-laki sulungnya yang terus merongrongnya secara finansial. Laki-laki itu sudah berusia di atas 50 tahun, berwajah tampan, tampak sopan, lembut, mengesankan pribadi yang penuh welas asih dan berhati mulia.

Ia pernah bercerai dan menuduh istrinya menyeleweng, meski pada saat yang sama ia berselingkuh dengan perempuan lain yang kemudian ia nikahi. Ia melakukan kekerasan psikologis yang luar biasa terhadap istrinya, termasuk perselingkuhan yang terus- menerus, dan meninggalkan utang tak terbayar di mana- mana.

”Sebagian besar pelaku kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, adalah psikopat,” ujar psikolog Dra Tieneke S Arief.

Pertanyaannya kemudian, apakah psikopati adalah penyakit? [Maria Hartiningsih]

Source: Kompas, Jumat, 24 Februari 2006

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0602/24/muda/2462380.htm

Iklan

4 comments

  1. Walau demikian, kasus yg terjadi baru2 ini, ternyata si sr itu tdk terindikasi psikopat. Sehat wal afiat. Mayat dipotong untuk memudahkan mengangkut, agar ga ketauan. Cara memotong diinspirasi dr ryan, dan dia sendiri tukang motong ayam. Waktu berantem sama misuanya, die bw pisau, jadilah pembunuhan itu. Makanya klo berantem jangan suka bw2 pisau , bawa korek api sm bensin aj…

  2. Tidak ada seorang pun yang terlahir dalam keadaan psikopat. Kalau begitu,apa yang membuatnya menjadi psikopat ? Itu adalah pola asuh yang salah,lingkungan yang tidak baik sehingga membangun karakternya dari yang normal menjadi sadis,kasar,penipu dll. Semua orang juga berpotensi menjadi psikopat. Bahkan anak berusia 5 tahun sekalipun. Karena yang seperti kukatakan,seseorang menjadi psikopat membutuhkan ‘proses’ yang panjang yang ia dapat dari lingkungan sekitarnya. Semakin buruk pola asuh orang tua dan lingkungan sekitarnya,maka semakin buruk pula sifat (psikopat) yang ia miliki. Dan semakin buruk sifat psikopatnya,maka semakin lihai ia menyembunyikan ‘dirinya yang sebenarnya’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s