Oleh: MAULA | Oktober 29, 2008

Kami Ingin Pemakaman Yang Layak


PROSES penyiksaan dan pembunuhan para jenderal merupakan satu dari sekian adegan mengerikan film Indonesia: Pengkhianatan G 30 S PKI. Dalam cuplikan diperlihatkan para petinggi angkatan darat ditusuk-tusuk, disayat-sayat mukanya, dihajar dengan kayu, matanya dicongkel dan dipotong penisnya. Sejak tahun 1984, film berdasar kejadian 30 September 1965 tersebut menjadi suguhan wajib, dan baru berhenti 15 tahun kemudian, setelah Soeharto jatuh dari kursi kepresidenan Indonesia. Sesudahnya, sejumlah pemerhati sejarah dan aktivis hak-hak azasi manusia, mengeluarkan hasil penelitian bahwa isi sajian sinema tersebut tidak benar.

Dokumen hasil otopsi mencatat para jenderal tidak dicongkel matanya, ataupun dipotong alat kelaminnya. Sumber lain menyebutkan, sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda penyiksaan kecuali luka tembak dan bekas popor senapan. Demikian juga soal keterlibatan sayap perempuan Partai Komunis Indonesia, Gerwani, di tempat kejadian. Saksi mata menyatakan tidak melihat warga sipil. Semuanya militer.

Dari semua dusta, menurut Budi Irawanto, pengajar Semiotika Film di FISIPOL Universitas Gadjah Mada, paling parah adalah penggambaran komunis sebagai setan jahanam.

“Ada imej penyerangan orang-orang PKI ke sebuah langgar atau masjid kecil di Kanigoro Blitar. Seolah-olah mereka ateis dan anti agama. Upaya pengiblisan PKI termasuk terhadap aktivis perempuan yang digambarkan sangat haus darah. Dipropagandakan sampai memutilasi genetalia para jenderal. Ini cara memojokkan gerakan perempuan. Gerwani adalah gerakan perempuan di Indonesia yang cukup progresif, menentang poligami, memperjuangkan hak-hak perempuan.”

Bangun opini

Propaganda-propaganda sendiri dimulai jauh sebelum film dibuat. Misalnya, pidato Soeharto tanggal 4 Oktober 1965, berusaha membangun opini keterlibatan organisasi komunis Indonesia.

“Kita bersama-sama dengan mata kepala masing-masing telah menyaksikan suatu pembongkaran dari penanaman enam jenderal dan perwira utama dalam satu lubang sumur lama. Jenderal dan perwira kita menjadi korban daripada tindakan biadab dari petualang yang dinamakan Gerakan 30 September. Kalau kita melihat tempat ini adalah Lubang Buaya, dekat dengan sumur ini telah menjadi pusat latihan daripada sukarelawan dan sukarelawati, para anggota-anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani…”

Ucapan Soeharto, kala itu berpangkat Mayor Jenderal, diikuti kebohongan publik lain. Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha mempublikasikan laporan tidak berdasar tentang kekejaman dan keterlibatan Partai Komunis Indonesia. Sementara fakta bahwa Letnan Kolonel Untung, komandan gerakan 30 September tersebut, ternyata dekat dengan Soeharto, tidak muncul. Yang menonjol justru persepsi Soeharto sebagai pahlawan.

Tak lama kemudian, penangkapan-penangkapan dan pembredelan media berhaluan kiri mulai dilakukan. Anggota organisasi komunis ditangkapi, tanpa mengetahui duduk perkara sebenarnya, ungkap Umi Sardjono, mantan ketua Gerwani, Gerakan Wanita Indonesia.

“Nggak ngerti betul. Malah kita mau bikin pernyataan bela sungkawa atas gugurnya para jenderal. Waktu itu kita malah bagi pekerjaan, urus yang ditangkap supaya dibebaskan. Karena mungkin itu salah paham. Waktu itu sudah mulai ditangkap. Kita nggak ngerti, betul nggak ngerti. Karena merasa nggak bersalah ya nggak lari. Kita dituduh memberi perintah silet-silet, pukul-pukul jenderal. Ya enggak, nggak pernah ada perintah seperti itu.”

Soeharto dan militer pendukungnya terus menggelorakan semangat anti komunis, termasuk melarang lagu Genjer-Genjer. Musik berbahasa Jawa tersebut sebetulnya mengisahkan situasi kemiskinan saat pendudukan Jepang atas Hindia Belanda pada tahun 1942. Genjer merupakan tanaman parasit, karena kelaparan diolah jadi makanan oleh masyarakat. Lagu asal Banyuwangi, Jawa Timur ini digubah seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat, sebuah organisasi berideologi komunis.

Saat pergulatan Oktober 1965, lagu Genjer-Genjer oleh kubu pro Soeharto, dipropagandakan macam-macam. Dari plesetan lirik sampai isyu menyebutkan perempuan komunis menganiaya para pimpinan angkatan darat sambil menari telanjang dan menyanyi lagu itu. Cerita-cerita semakin didramatisir, jauh dari fakta, hanya memanas-manasi penduduk supaya ikut dalam operasi pembersihan komunis yang dilakukan tentara.

Truk penuh manusia

Mbah Priyo, salah satu korban selamat dari gelombang pembunuhan massal orang-orang komunis Indonesia. Ia ditangkap pada bulan Oktober 1965 dan dipaksa menunjukan warga kiri lainnya.

“Ada surat panggilan menghadap kantor militer kecamatan. Di sana saya ditanya, berapa kawanmu? saya jawab, hanya saya sendiri. Dada saya sampai ditodong pistol berpeluru. Saya lalu disuruh pamit sama keluarga karena akan dibunuh. Tapi mendadak pistol kembali disarungkan, dan saya diminta naik truk. Katanya tidak lama hanya ditahan tiga hari. Padahal itu sampai enam tahun tidak dipulangkan.”

Priyo dipenjara tanpa melalui proses hukum. Dibui, ia menyaksikan truk penuh membawa manusia untuk dieksekusi.

“Semua yang dipenjara harus di interogasi, dan hasilnya ada tiga macam warna. Merah, putih dan biru. Saya hasilnya merah, itu artinya dibawa ke luweng(gua vertikal) Gunung Kidul, di mana terdapat sungai bawah tanah. Orang dilempar ke situ. Orang mati tidak ketahuan bekasnya. Setiap jam dua pagi ada truk datang. Semua yang ditahan bangun dan cuma bisa menggumam doa supaya tidak dibawa ke luweng. Mbah Priyo sudah dinaikkan. Pasrah. Tapi kemudian disuruh turun karena dianggap ketuaan. Truk itu penuh manusia.”

Yang dilihat Mbah Priyo adalah proses pembunuhan massal di mana sampai sekarang tak pernah ketahuan berapa jumlahnya. Versi tentara setelah pembantaian berlangsung menyebut 78 ribu. Laporan Kopkamtib, satuan pemulihan keamanan bentukan Soeharto, merevisinya dengan mencantumkan angka satu juta manusia. Para peneliti independen melakukan penghitungan silang berbagai data dan mendapatkan total kurang lebih 500 ribu orang. Sayangnya jumlah-jumlah ini sulit mencerminkan kondisi sesungguhnya, termasuk rentetan korban lain seperti pemerkosaan, sakit dibiarkan mati dan mereka yang dibuang ke sungai, laut ataupun ke gua vertikal.

Budayawan kiri Pramoedya Ananta Toer memperkirakan, 500 ribu sampai tiga juta orang binasa.

“Di satu kabupaten Blora, tempat saya, ditemukan 5000 korban. 10 persen dari penduduk dibunuh. Itu baru satu kabupaten. Menurut pers Barat, 500 ribu sampai satu juta orang. Menurut Sudomo -panglima Kopkamtib- 2 juta orang. Menurut Sarwo Edhie, komandan yang melaksanakan program pembunuhan atas perintah Harto, 3 juta! Dia ngomong begitu dengan bangga.”

Jumlah jutaan masuk akal, sebab anggota organisasi-organisasi komunis di Indonesia pada tahun 1960an mencapai 12 juta orang. Anggota partai sendiri tercatat 2 juta orang. Hampir semua korban dieksekusi tanpa proses hukum. Militer membiarkan, bahkan mendorong dan memaksa warga sipil ikut dalam aksi pembunuhan. Albertus Suryo Wicaksono, koordinator peneliti kuburan massal dari organisasi Kasut Perdamaian, menuturkan pola eksekusi di salah satu lokasi di Jawa Tengah.

“Pada akhir tahun 1965, ditempat ini dilakukan eksekusi terhadap 360 orang dilakukan dengan tembakan. Peristiwa berlangsung beberapa hari. Ada petugas yang mencatat. Banyak saksi menyatakan, mereka melihat kehadiran Sarwo Edhie, waktu itu berpangkat kolonel. Malam hari para korban diposisikan berbaris, si pembidik dipandu lampu sorot. Begitu dimatikan penembakan langsung dimulai. Setelah itu langsung dikubur. Jadi gali lubang, ditembak, kemudian dikubur. Begitu seterusnya.”

Pembinasaan dahsyat ini membuat beberapa ahli menjulukinya sebagai genosida terbesar setelah pemusnahan Yahudi dalam perang dunia kedua di Eropa.

Pemakaman layak

Penjelasan atas Gerakan 30 September 1965, yang dianggap pemicu bumi hangus kelompok kiri di Indonesia, tak pernah tuntas. Sejauh mana Partai Komunis terlibat? Sang ketua terlanjur mati sebelum bisa membela diri. DN Aidit di-extrajudicial killing pada bulan November 1965. Pentolan lainnya juga bernasib sama. Sementara Soeharto, memilih membawa rahasia ke liang kubur saat wafat akhir Januari 2008.

Tapi bagi keturunan dan kerabat korban, berapa jumlah sesungguhnya? apakah PKI terlibat atau tidak? bukan tuntutan utama. Permintaan terpenting mereka sederhana: hak untuk memperoleh pemakaman yang layak.

“Saya juga belum tahu apakah betul nanti saya bisa menemukan secara utuh jenazah ayah saya. Tapi apapun juga yang saya dapatkan, biarpun cuma secuil tulang ayah saya, itu juga sudah kebahagiaan. Saya sedih sekaligus senang. Karena bisa membawa pulang, walaupun cuma sepotong tulang ayah saya. Saya bahagia. Meskipun prosesnya harus seperti ini.” [Junito Drias]

Laporan disusun berdasarkan bahan dari Kantor Berita Radio 68H, Film Pengkhianatan G 30 S PKI, Film dokumenter Mass Grave produksi OffStream dan LSM Kasut Perdamaian.

Source: http://www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/pemakaman_layak_pki

Iklan

Responses

  1. ntar ketahuan kok mana yang benar mana yang salah tuhan maha tau sgalanya.

  2. Selama ini kita termakan isu bualan Soeharto,bukti yang mengarah bahawe PKI adalah partai yang bertolak pada UUD45 n agama juga tidak jelas sebagaimana dibuat atau dpertunjukan dalam film tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: